Ia pernah menjadi Monarch—penguasa yang berdiri di puncak segalanya. Namun pengkhianatan merenggut tahtanya, menghancurkan kerajaannya, dan memaksanya mati berulang kali dalam siklus reinkarnasi yang panjang. Selama ratusan kehidupan, ia menunggu. Menunggu para bawahannya yang tersebar, tertidur, atau tersesat di berbagai dunia. Di kehidupan terakhirnya, saat tubuhnya menua dan kematian kembali mendekat, sebuah system akhirnya terbangun—bukan ciptaan dewa, melainkan jelmaan dari salah satu rekan lamanya. Dengan kematian itu, sang raja kembali terlahir, kali ini di dunia yang sama… namun telah berubah drastis dalam beberapa ratus tahun.
Dunia yang ia kenal telah runtuh, kekaisaran bangkit dan jatuh, gereja menguasai kebenaran, dan para dewa mengawasi dari kejauhan. Dengan system yang setia di sisinya dan ingatan dari kehidupan-kehidupan sebelumnya, sang Monarch memulai perjalanannya sekali lagi: membangkitkan bawahan yang tersisa, membangun kekuatan dari bayang-bayang, dan menuntut balas atas pengkhianatan lama yang belum lunas. Ini bukan kisah pahlawan yang diselamatkan takdir—ini adalah kisah seorang raja yang menolak mati sebelum dunia membayar hutangnya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Sughz, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Ch.19. Marek and The General's Son
Dua hari sejak pertemuan di kedai, Theo berkumpul dengan kelompok prajurit bayaran yang akan berangkat untuk pembersihan bandit—kelompok itu tampak santai.
Di sisi lain satu kelompok dengan lima orang berdiri dengan tegap, meski sekarang mereka memakai pakaian prajurit bayaran. Mereka tak bisa menyembunyikan aura pelatihan dari prajurit kerajaan.
Kelompok ini lumayan besar hanya untuk pembersihan bandit.
Theo mengamati mereka semua.
“Jadi kau teman dari Calder?” suara berat mendekati dari belakang.
Theo menoleh sumber suara itu, tampak pria berotot dengan dua kapak di pinggangnya menatap Theo.
“Benar,” jawab Theo singkat.
Pria itu tersenyum lebar.
“Kau bisa memanggilku Marek, siapa namamu bocah?”
“Ash,”
“Seperti yang dikatakan Calder, kau memang cukup unik,” ucap Marek. “Kenapa kau mau ikut dengan kontrak ini bocah?”
“Bukankah sudah pasti karena uang,” jawan Theo.
“HAHAHAHAHA!!!” Marek tertawa keras mendengar jawaban Theo. “Kau memang bocah yang unik, Ash” menepuk pundak Theo.
“KAPTEN DATANG!!!” teriak seseorang dari jauh.
Theo dan Merik menoleh sumber suara.
Seorang pria yang memakai pakaian prajurit bayaran cukup megah untuk seorang prajurit bayaran.
“Lihatlah bocah itu, apa dia sedang pamer!!” hardik Marek kesal.
“Siapa dia?” tanya Theo.
“Halvar Rein, anak sang jenderal,” jawab Merik.
“Apa dia yang akan memimpin misi ini?” tanya Theo lagi.
“Yah, dia yang membuat kontrak dengan kita, pria muda yang cukup berani,” Merik tersenyum.
“Kenapa kau mau di pimpin pria muda yang ceroboh itu?” tanya Theo.
“HAHAHAHA!!”
Marek tertawa, merangkul Theo. “Seperti katamu, kan. Ini hanya masalah uang,”
Theo hanya diam mendengar itu.
“Baiklah semuanya... kita akan mendengar strategi dari kapten kita dulu” ajak Marek, melangkah mendekat pada prajurit kerajaan.
Halvar memberitahu pada semua orang tentang strategi yang akan di pakai untuk penyerangan kali ini, semua orang akan di bagi menjadi dua kelompok. Kelompok yang menyamar menjadi pedagang dan sebagai pengawal. Lalu saat Halvar bertanya siapa yang akan menjadi kusir untuk kereta, tak ada satu pun yang bersedia—semua orang diam.
Wajah Marek menghitam.
“Apa kalian tak ada yang mau karena tak bisa kabur saat ada penyerangan!!!” hardik Marek kesal, menatap semua orang.
Dari belakang, Theo mendengus lalu mengangkat tangannya.
“Biar aku yang mengemudikan keretanya,”
Pandangan semua orang tertuju pada Theo.
Marek menutupi wajahnya.
“Apa kalian tak malu dengan anak kecil, dasar para sampah!!!”
Halvar menatap Theo.
“Apa kau yakin?”
“Yah,” jawan Theo singkat.
“Bukankah tak aman kalau menyerahkannya pada anak kecil?” ucap seseorang dari prajurit kerajaan.
Marek menatap tajam.
“Lalu... apa kau mau mengendarai kereta itu??” tanya Marek, urat lehernya menonjol karena kesal.
Prajurit itu diam, hanya menggelengkan kepalanya.
“Baiklah, sekarang kita bersiap untuk berangkat!!” ucap Halvar.
Setelah itu semua bergerak cepat.
Theo dan beberapa prajurit bayaran akan menyamar memakai pakaian biasa, dan yang lainnya akan menjadi prajurit yang mengawal.
Saat sudah duduk di kursi kusir Theo melihat Calder dan Oren di barisan samping dengan kuda mereka, mengacungkan jempol kepada Theo.
Terlihat Marekk mendekati Theo dengan kudanya.
“Apa kau yakin bisa mengendarai kereta ini, bocah?” tanya Marek.
“Yah, kurasa aku bisa.” jawab Theo singkat. “Tapi kau harus membayarku lebih untuk tugas ini, aku hanya mendaftar menjadi porter bukan pembawa kereta.”
“HAHA!! Baiklah bocah, aku akan membayarmu lebih saat semua selesai” Marek melangkah ke depan.
“Baiklah, KITA BERANGKAT SEKARANG!!!” teriak Marek.
Theo dan semua orang memacu kuda mereka masing-masing menuju Grayma.
.
Hari-hari perjalanan berjalan tanpa gangguan, mereka sudah setengah jalan untuk sampai ke desa Grayma.
Pasukan kerajaan bergerak dengan disiplin kaku—waktu istirahat diukur, barisan dijaga rapi, dan setiap perintah Halvar yang diikuti cepat tanpa sanggahan. Terlalu sempurna untuk jalur yang disebut berbahaya.
Berbeda dengan prajurit bayaran. Mereka berbicara pelan, tertawa sesekali, namun mata mereka terus bergerak, menghitung jarak hutan, lereng, dan jalur keluar.
Theo duduk di kursi kusir, memegang kendali kereta dengan tenang. Dari posisinya, ia melihat semuanya—dan mendengar lebih banyak daripada yang disadari orang lain.
Tapi ada satu hal yang menggangu Theo. Perjalanan ini sangat lancar—teramat lancar.
Theo melihat Calder berjalan di samping dengan kudanya.
“Hei, Calder. Apa jalan ini tak pernah di lewati?” tanya Theo.
“Yah, ini adalah jalur baru yang di buat setelah banyak penyerangan,” jawab Calder.
“Apa kau tahu, kalau kita menggunakan jalur biasa harusnya sejak kemarin kita sudah sampai di desa,” jelas Calder.
“Butuh berapa hari lagi kita akan sampai?” tanya Theo.
“Entahlah, aku juga belum pernah melewati jalur ini. Mungkin tiga hari lagi,”
Theo terkejut. “Tiga hari?”
“Kita sudah berjalan hampir satu minggu. Bukankah saat kita sampai di desa, semua bandit sudah pergi?”
Theo sedikit kesal, merasa melakukan pekerjaan yang sia-sia.
“Yah, kuharap juga begitu. Kita akan mendapat bayaran tanpa melakukan apa pun,” Calder tertawa setelah mengatakan itu.
Theo mendengus kesal. Sedetik kemudian pandangannya melihat pada kedalaman hutan.
‘Lily, apa kau juga bisa merasakannya?’ tanya Theo.
[TING]
“Yah, tuan. Beberapa orang mengawasi kita dari jauh.”
‘Kurasa ini tak akan berakhir baik,’
.
.
.
Langit gelap mengambang di atas, asap tipis mengepul dari beberapa rumah yang bekas terbakar. Aroma daging terbakar masih menempel di udara. Suara teriakan dan isak tangis masih terdegar di sudut-sudut desa.
Dari gerbang desa, seorang pria dengan pedang berlari kencang masuk ke bagian terdalam desa.
“Bos.. Boss...” teriak pria itu.
Pria dengan perut besar tanpa baju menoleh mendengar itu.
“Dasar brengsek!!! Apa kau tak tahu aku sedang bersenang-senang sekarang!!!” hardik pria itu dengan kesal. Di belakangnya ada dua wanita yang sudah telanjang tanpa pakaian—menangis menahan sakit.
Pria yang berlari tadi sedang mengatur napasnya.
“Mereka... mereka datang boss!!!”
“Mereka siapa maksudmu?” tanya pria gemuk.
"Para pedagang, mereka juga membawa banyak pengawal.” jawabnya.
Mendengar itu pria gemuk itu tersenyum.
“Berapa lama lagi mereka akan sampai sini?”
“Kalau mereka tak berhenti untuk istirahat, besok mereka akan sampai.”
“HAHAHA!!!” pria gemuk itu tertawa dengan keras, membuat perutnya berguncang. “Baguslah, dengan begini aku tak akan dimarahi oleh pemimpin.”
Lalu membalikkan badan, menatap dua wanita di belakangnya.
“Kau, suruh semua orang bersiap. Kita akan menyambut tamu kita dengan meriah.”
“Baik, bos” ucap pria itu, lalu berlari pergi dengan cepat.
Pria gemuk itu memandang dua wanita itu penuh nafsu.
“Baiklah, saatnya kita bersenang-senang manis,” melangkah mendekat.
.
.
.