Di Benua Tianyuan, kekuatan adalah segalanya. Namun, Ren Zhaofeng hanyalah seorang murid pelayan buta di Sekte Awan Hijau yang bertugas menyapu halaman. Tanpa penglihatan dan tanpa latar belakang, ia dianggap tidak lebih dari debu di bawah kaki para jenius yang berlomba mengejar keabadian.
Namun, dunia tidak tahu bahwa di balik kain penutup matanya, Zhaofeng memiliki "Hati Pedang Tanpa Cela". Ketika orang lain hanya melihat wujud, ia mendengar napas semesta.
Di bawah bayang-bayang Monumen Daftar Naga Langit yang agung, Zhaofeng memulai langkah pertamanya. Bukan untuk melihat puncak dunia, tetapi untuk memaksa dunia mendengarkan gema pedangnya. Dari penyapu hina menjadi legenda yang membelah langit—inilah kisah asal mula Sang Pedang Buta.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Baldy, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Peti Mati Besi dan Pecahan Ketiga
Hujan malam bercampur dengan darah kera yang berbau amis.
Ren Zhaofeng bergerak di antara kekacauan itu seperti hantu pencabut nyawa. Tangan kirinya mendekap Xiao Yu erat-erat ke dadanya, sementara tangan kanannya mengayunkan Pedang Hitam dengan presisi mematikan.
"Gema Penolak!"
WUUUNG!
Zhaofeng memukulkan sisi pedangnya ke udara. Gelombang kejut meledak, melemparkan tiga ekor Kera Iblis yang mencoba menerkamnya dari samping. Tulang rusuk mereka remuk seketika oleh tekanan udara.
"Tuan... di belakang!" jerit Xiao Yu.
Seekor Raja Kera Iblis setinggi tiga meter melompat dari atas pohon. Ia membawa batang pohon besar sebagai gada. Aura monsternya setara dengan Pengumpulan Qi Tahap 1.
Zhaofeng tidak menoleh. Dia mendengar desingan angin berat di atas kepalanya.
"Berat," gumam Zhaofeng.
Dia menghentakkan kakinya, mengaktifkan Medan Gravitasi di area sekitar tubuhnya.
DUMMM!
Raja Kera yang sedang melayang di udara tiba-tiba merasa tubuhnya menjadi sepuluh kali lebih berat. Ia jatuh lebih cepat dari yang diperkirakan, kehilangan keseimbangan, dan menghantam tanah dengan wajah duluan tepat di depan kaki Zhaofeng.
BRAK!
Sebelum Raja Kera itu sempat bangkit, Zhaofeng sudah menusukkan Pedang Hitam-nya ke tengkuk monster itu.
JLEB!
Pedang Hitam berdenyut merah, menghisap vitalitas monster level Pengumpulan Qi itu dalam sekejap. Tubuh Raja Kera yang kekar menyusut menjadi kulit dan tulang kering.
Melihat pemimpin mereka mati dengan cara mengerikan, sisa Kera Iblis lainnya menjerit ketakutan dan lari kembali ke dalam hutan kegelapan.
Hening kembali menyelimuti perkemahan karavan. Hanya suara rintihan korban luka dan api unggun yang mendesis terkena hujan.
Zhaofeng menurunkan Xiao Yu. Gadis kecil itu gemetar, menatap Zhaofeng dengan mata terbelalak—bukan karena takut padanya, tapi kagum.
"Kau aman sekarang," kata Zhaofeng datar.
Nyonya Gu merangkak keluar dari bawah kereta mewahnya yang terbalik. Hiasan emas di rambutnya berantakan. Dia menatap mayat Raja Kera yang kering kerontang, lalu menatap pedang hitam di tangan Zhaofeng.
"Tuan Pendekar..." suara Nyonya Gu bergetar. "Terima kasih... terima kasih telah menyelamatkan aset saya..."
Zhaofeng tidak menjawab. Dia berbalik dan berjalan lurus menuju kereta barang di depan yang tadi dia perhatikan.
Kereta itu setengah hancur dihantam kera, tapi peti besi besar di atasnya masih utuh, meski segel kertasnya sedikit robek.
DUM... DUM...
Suara detak jantung dari dalam peti itu semakin keras di telinga Zhaofeng. Pedang Hitam di tangannya bergetar liar, seolah bertemu saudara yang hilang.
"Jangan!" Nyonya Gu berteriak panik saat melihat Zhaofeng mendekati peti itu. "Tuan! Anda boleh minta apa saja! Emas? Wanita? Budak? Tapi jangan buka peti itu!"
"Kenapa?" tanya Zhaofeng tanpa menoleh.
"Itu... itu barang pesanan khusus untuk Tuan Kota Perbatasan Barat! Itu barang terkutuk yang ditemukan di tambang kuno! Siapapun yang menyentuhnya akan gila!"
"Barang terkutuk?" Zhaofeng menyeringai tipis. "Cocok untukku."
Dia menebas gembok peti besi itu. TRANG!
Zhaofeng menendang tutup peti hingga terbuka.
Cahaya kelabu yang suram memancar keluar.
Di dalam peti, terbaring sebuah objek logam yang aneh. Itu bukan batangan besi, melainkan sebuah Pecahan Bilah Pedang bagian tengah. Bentuknya bergerigi dan seolah-olah "buram".
Saat Zhaofeng (telinganya) fokus pada benda itu, dia merasa pusing. Suara benda itu tidak konsisten. Kadang terdengar ada di sana, kadang terdengar jauh, kadang tidak terdengar sama sekali.
Benda itu bergetar antara dimensi nyata dan dimensi hantu.
Pedang Hitam di tangan Zhaofeng tiba-tiba terlepas dari genggamannya, melayang sendiri ke arah peti itu.
CLANG!
Kedua pecahan itu bertabrakan. Cahaya kelabu meledak, menelan seluruh karavan dalam kegelapan sesaat.
Ketika cahaya mereda, Pedang Hitam itu telah berubah lagi.
Bilahnya kini utuh dua pertiga bagian. Warnanya tidak lagi hitam pekat, tapi memiliki pola asap kelabu yang bergerak-gerak di permukaannya.
Dan sebuah pemahaman baru mengalir ke dalam benak Zhaofeng.
"Seni Pedang Tanpa Wujud: Bab Hantu - Fase Tak Berwujud."
Zhaofeng meraih gagang pedangnya.
Tangannya... menembus gagang itu seolah itu asap.
"Hah?"
Dia memfokuskan pikirannya. Pedang itu memadat kembali, dan dia bisa memegangnya.
"Luar biasa," batin Zhaofeng. "Pedang ini bisa berubah menjadi non-fisik untuk menembus pertahanan, lalu memadat kembali di dalam tubuh musuh."
Ini adalah mimpi buruk bagi siapa pun yang mengandalkan baju zirah atau perisai Qi.
Zhaofeng menoleh ke Nyonya Gu yang menatapnya dengan horor.
"Kau bilang ini pesanan Tuan Kota?"
Nyonya Gu mengangguk kaku. "Ya... Tuan Kota Duanmu. Dia adalah... sekutu dekat Aliansi Ular Hitam."
"Bagus," kata Zhaofeng. "Kalau begitu, aku baru saja merampok hadiah mereka."
Zhaofeng menyarungkan pedang barunya. Dia melihat ke arah Xiao Yu dan budak-budak lain yang selamat.
"Nyonya Gu," kata Zhaofeng dingin. "Karavanmu hancur. Pengawalmu mati. Kau tidak bisa melanjutkan perjalanan ke kota sendirian."
"B-benar..." Nyonya Gu menyadari posisinya. Di tengah hutan buas ini, tanpa pengawal, dia hanyalah daging segar.
"Aku akan mengawalmu sampai ke Kota Perbatasan," kata Zhaofeng. "Sebagai bayarannya..."
Zhaofeng menunjuk Xiao Yu dan sisa budak.
"Mereka semua bebas. Dan peti ini... aku ambil."
Nyonya Gu tidak punya pilihan. Menolak berarti mati di sini. "S-setuju. Sepakat, Tuan Pendekar."
Zhaofeng berjalan mendekati Xiao Yu. Dia berlutut, mensejajarkan tingginya dengan gadis kecil itu.
"Mulai sekarang, kau bukan budak. Kau adalah pelayan pribadiku sampai kita tiba di kota. Setelah itu, kau bebas pergi ke mana saja."
Xiao Yu menangis, lalu bersujud. "Terima kasih, Tuan! Hamba akan melayani Tuan seumur hidup!"
Zhaofeng berdiri, menatap ke arah barat. Kota Perbatasan tinggal satu hari perjalanan lagi.
Dengan Pecahan Ketiga di tangan, dia siap menghadapi apa pun yang menunggu di sarang ular itu.
"Tuan Kota Duanmu..." gumam Zhaofeng. "Maaf pesananmu hilang di jalan."
💪