Di Benua Sembilan Awan, takdir seseorang ditentukan oleh Pusaka Jiwa yang mereka bangkitkan. Li Tian, seorang murid luar yang gigih namun miskin, menjadi bahan tertawaan seluruh sekte ketika ia membangkitkan pusaka berupa sarung tangan perunggu kusam yang dianggap sampah tak berguna.
Namun, dunia buta akan kebenarannya. Di balik karat itu bersemayam Zu-Long, Roh Kaisar Naga Primordial yang pernah menguasai langit. Pusaka itu bukanlah sampah, melainkan Cakar Naga Pemutus Takdir, satu dari Sembilan Pusaka Kaisar legendaris dengan kemampuan mengerikan: melipatgandakan kekuatan penggunanya tanpa batas.
Menolak menyerah pada nasib sebagai "sampah", Li Tian bangkit. Dengan bimbingan Naga Purba yang angkuh dan tekad baja, ia bersiap menampar wajah para jenius sombong, melindungi orang-orang terkasih, dan mendaki puncak kultivasi untuk menjadi Dewa Perang Terkuat.
Legenda seekor Naga yang membelah langit baru saja dimulai.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Baldy, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Membebani Takdir
Angin di Dimensi Hampa berhenti berhembus. Tekanan dari dua aura yang berbenturan—Hijau Zamrud dan Putih Perak—menciptakan medan statis yang membuat reruntuhan batu di sekitar pulau melayang ke udara.
Ye Chen berdiri dengan tenang, sayap cahayanya mengepak pelan. Di matanya, Li Tian hanyalah gangguan kecil yang keras kepala.
"Kau menginginkan bulu itu?" tanya Ye Chen, menunjuk ke altar. "Itu adalah bagian dari Sayap Rembulan-ku. Mengambilnya sama saja dengan pencuri yang mencoba mengambil tangan pemilik rumah."
"Pusaka Kaisar tidak memiliki pemilik abadi," balas Li Tian, mengangkat Pedang Hitam Tanpa Mata ke bahunya. "Mereka memilih yang terkuat. Dan saat ini, kau terlihat terlalu kurus untuk memegang beban seberat itu."
"Mulutmu besar untuk seseorang yang selemah semut," suara Bai-Long terdengar dingin dari sayap Ye Chen. "Zu-Long, kau benar-benar memilih wadah yang menyedihkan. Seorang manusia tanpa bakat elemen?"
"Tutup mulutmu, Kadal Putih!" raung Zu-Long di benak Li Tian. "Wadahku memiliki sesuatu yang tidak kau miliki: Nyali untuk menghajar wajah sombongmu!"
Ye Chen mendengus. "Cukup basa-basinya."
Dia menghilang.
WUSH!
Kecepatan Ye Chen di dimensi ini bahkan lebih mengerikan. Tanpa hambatan udara, dia bergerak seperti teleportasi.
"Kanan!" teriak Zu-Long.
Li Tian tidak sempat melihat, tapi tubuhnya bereaksi mengikuti insting naga. Dia memutar tubuhnya dan mengayunkan pedang hitamnya ke sisi kanan sebagai tameng.
DANG!
Kaki Ye Chen yang dilapisi cahaya menghantam bilah pedang hitam itu.
Li Tian terseret mundur lima langkah, kakinya membajak tanah pulau.
"Kurangi."
Ye Chen menyentuh pedang Li Tian dengan ujung kakinya.
Zettt!
Seketika, berat pedang itu berkurang setengahnya. Tenaga Li Tian juga terkuras.
"Kau lambat," kata Ye Chen. Dia melancarkan rentetan tendangan di udara. Setiap tendangan melepaskan gelombang kejut cahaya.
Li Tian terdesak. Dia hanya bisa bertahan menggunakan lebar pedangnya yang besar.
Bam! Bam! Bam!
"Sialan! Dia terlalu cepat!" batin Li Tian. "Dan setiap kali pedangku bersentuhan dengannya, tenagaku disedot!"
"Jangan main di permainannya!" instruksi Zu-Long. "Kekuatannya adalah Pengurangan. Tapi pengurangan itu butuh proses. Dia tidak bisa membagi 'Nol'. Dan dia tidak bisa membagi sesuatu yang 'Tak Terhingga' secara instan."
"Maksudmu?"
"Jangan beri dia energi untuk dibagi. Beri dia Beban."
Mata Li Tian berkilat.
Ye Chen melesat lagi untuk serangan berikutnya, kali ini mengincar kepala Li Tian dengan tangan yang membentuk pisau cahaya.
Li Tian tidak menangkis. Dia melepaskan gagang pedangnya sejenak, membiarkan pedang raksasa itu jatuh bebas.
Lalu, dia menangkapnya kembali di dekat tanah dengan posisi uppercut.
"Gandakan... Empat Kali!"
[GANDAKAN x4!]
Otot Li Tian membesar. Tapi kali ini, dia tidak mengarahkan tenaganya ke musuh. Dia mengarahkannya ke Pedang Hitam.
"Gravitasi: Bintang Jatuh Terbalik!"
Li Tian mengayunkan pedang itu ke atas.
Bukan untuk memukul Ye Chen, tapi untuk menciptakan Anomali Gravitasi.
WUUUUUNG!
Berat pedang itu mendadak meningkat menjadi puluhan ribu jin berkat manipulasi gravitasi dan Qi Li Tian. Ayunan itu begitu berat hingga merobek ruang hampa di sekitarnya.
Ye Chen, yang sedang melesat turun, tiba-tiba merasakan tubuhnya menjadi sangat berat. Sayap cahayanya berkedip.
"Apa?!" Ye Chen kaget. Dia merasa seolah-olah ada planet kecil yang menariknya jatuh.
"Kurangi!" teriak Ye Chen, mencoba mengurangi berat gravitasi itu.
Tapi gravitasi bukanlah energi Qi murni. Itu adalah hukum alam. Ye Chen bisa mengurangi Qi Li Tian, tapi dia butuh waktu lebih lama untuk membatalkan distorsi.
Jeda sepersekian detik itu fatal.
Pedang Hitam Li Tian (yang kini dikelilingi aura distorsi hitam) menghantam perut Ye Chen.
BUAGH!
Suara hantaman itu tumpul dan menyakitkan.
Ye Chen tidak terpotong (karena pedang itu tumpul), tapi dia terlempar ke atas seperti bola bisbol yang dipukul homerun. Tulang rusuknya berderak.
"Ugh!" Ye Chen memuntahkan darah di udara.
"Rasakan itu!" teriak Li Tian. "Bagaimana rasanya dipukul gravitasi?!"
Ye Chen menstabilkan dirinya di udara, wajahnya pucat dan marah. "Kau... berani melukaiku?"
Sayap di punggungnya bersinar menyilaukan.
"Dimensi Setengah!"
Ye Chen merentangkan tangannya. Area di sekitar Li Tian tiba-tiba menyusut.
"Guru, apa ini?!"
"Dia mencoba membagi ruang di sekitarmu! Lari!"
Li Tian melompat menjauh. Tempat dia berdiri tadi tiba-tiba lenyap—tanah, batu, dan udara di sana menyusut hingga hilang menjadi ketiadaan.
"Mengerikan," keringat dingin Li Tian menetes. Jika dia telat sedetik, tubuhnya akan hilang separuh.
Ye Chen tidak memberi ampun. Dia terbang menukik ke arah altar.
"Tujuanku adalah Bulu itu," kata Ye Chen.
"Jangan harap!"
Li Tian berlari. Dia tidak bisa terbang, tapi dia bisa melompat.
"Xiao Yu! Berlindung!"
Li Tian melompat ke atas salah satu pilar runtuh, lalu meluncurkan dirinya ke arah altar seperti peluru.
Ye Chen dan Li Tian tiba di altar pada saat yang bersamaan.
Tangan kiri Ye Chen terulur meraih bulu. Tangan kanan Li Tian (Cakar Naga) terulur meninju wajah Ye Chen.
"Kurangi!" teriak Ye Chen. "Gandakan!" raung Li Tian.
BLARRRR!
Bentrokan energi terjadi tepat di atas altar.
Tangan Ye Chen berhasil menyentuh Bulu Putih itu. Tinju Li Tian berhasil menghantam pipi Ye Chen.
Cahaya putih meledak.
Ye Chen terpental mundur sambil memegang bulu itu erat-erat. Wajahnya lebam, rahangnya mungkin retak. Tapi dia tersenyum sinis.
"Aku mendapatkannya."
Li Tian mendarat di sisi lain, napasnya memburu. Dia gagal merebutnya.
Namun, bentrokan energi barusan terlalu besar untuk pulau kecil itu. Pondasi pulau melayang itu retak. Altar hancur berkeping-keping.
KRAK... DUM!
Pulau itu mulai terbelah dua.
"Waktunya pergi," kata Ye Chen. Bulu di tangannya mulai bersinar, menyatu dengan tubuhnya. Sayap di punggungnya membesar dua kali lipat, memancarkan aura yang jauh lebih agung. Evolusi Tahap 1.
Ye Chen menatap Li Tian dengan tatapan merendahkan.
"Kau lumayan untuk ukuran samsak tinju. Karena kau memberiku hiburan, aku biarkan kau hidup hari ini. Cobalah bertahan hidup di runtuhnya dimensi ini."
Ye Chen berbalik, sayap barunya mengepak kuat.
ZOOM!
Dia melesat pergi, menembus langit hampa, meninggalkan Li Tian di pulau yang runtuh.
Li Tian mengumpat. "Sialan! Dia kabur setelah bertambah kuat!"
Pulau itu mulai hancur. Batu-batu berjatuhan ke dalam kekosongan tanpa dasar.
"Kakak Naga!" teriak Xiao Yu dari balik pilar yang miring.
Li Tian berlari menyambar Xiao Yu.
"Pegang erat-erat! Kita harus melompat ke pulau lain!"
"Jaraknya terlalu jauh!" kata Zu-Long.
"Kalau begitu kita buat jembatan!"
Li Tian melihat pecahan besar pulau yang melayang di dekat mereka.
"Gandakan!"
Dia menendang pecahan batu itu sekuat tenaga ke arah pulau terdekat.
"Naik!"
Li Tian dan Xiao Yu melompat ke atas batu yang sedang melayang itu, menjadikannya kendaraan darurat. Mereka meluncur di ruang hampa, meninggalkan kuil yang hancur di belakang.
Saat mereka mendarat kasar di pulau yang lebih stabil, Li Tian berbaring telentang menatap langit ungu.
Dia kalah dalam perebutan harta. Tapi dia berhasil memukul wajah Ye Chen.
"Satu sama," gumam Li Tian, menyentuh pipinya yang juga lebam.
"Jangan sedih, Bocah," kata Zu-Long. "Kau memaksanya menggunakan teknik dimensi. Untuk ukuran Bangkit Jiwa Tingkat 1 melawan monster itu, kau sudah melakukan keajaiban."
Li Tian tersenyum tipis. "Lain kali... aku akan mematahkan sayapnya."
Di kejauhan, sebuah cahaya biru menyala. Itu sinyal Su Yan.
"Ayo, Xiao Yu. Kita jemput Kakak Es-mu. Petualangan di gurun ini baru saja dimulai."