Riko Permana, demi gadis yang dicintainya, rela meninggalkan cita-cita menjadi seorang polisi. Melepas beasiswa yang diberikan negara. Ia mundur, sengaja mengalah. Sengaja membiarkan nilainya menjadi buruk demi memuluskan jalan calon kakak iparnya.
Profesor pembimbing kecewa dan ia merasa bersalah. Hanya satu yg membuat ia bahagia: bisa menikah dengan wanita yang sangat dicintainya.
Akan tetapi, apa yang terjadi kemudian? Dirumah mertua ia diperlakukan layaknya budak, dihina dan dipermalukan. Istri yang dicintai tidak membela malah ikut merendahkan.
Puncaknya adalah ketika ia mengetahui bahwa sang istri berselingkuh secara terang-terangan di hadapannya.
Pria yang menertawakan kebodohannya sendiri. Istri yang selama satu tahun pernikahan tidak mau disentuh, kenapa dia tidak sadar sama sekali?
"Cukup sudah! Seluruh cintaku sudah habis. Aku akan tunjukkan pada semua, aku bukan orang yang bisa mereka hina begitu saja. Mereka yang telah menghinaku, akan bertekuk lutut di hadapanku."
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mama Mia, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
03: Keputusan Pahit.
.
Mentari pagi menyelinap masuk melalui celah-celah jendela kamar Riko , namun kali ini sinarnya tak mampu membangkitkan semangatnya. Semalam suntuk ia bergulat dengan pikiran, antara mimpi dan pengorbanan, antara Laras dan dirinya sendiri. Kepalanya terasa berat, matanya perih karena kurang tidur.
Hari ini, hari penentuan itu tiba. Hari di mana ia harus mengambil keputusan yang akan mengubah jalan hidupnya. Hari di mana ia harus memilih antara menjadi seorang polisi, atau mengalah demi cinta Laras.
Riko keluar dari kamar. Ibunya sudah tidak berada di rumah. Pasti ibunya sudah pergi ke pasar. Ada nasi goreng dengan telur mata sapi di meja makan. Riko memakannya dengan tanpa gairah. Nasi goreng tak ubahnya pasir yang menyangkut di tenggorokan.
Ia telah membuat ibunya kecewa. Walaupun ibunya tak berkata sepatah katapun, namun, justru itu yang membuatnya sakit. Senyum ibunya, ketulusan wanita tua itu telah ia balas dengan pengkhianatan.
Dengan langkah gontai, Riko bersiap-siap untuk mengikuti tes praktik terakhir di Akademi Kepolisian. Ia mengenakan seragam yang seharusnya membuatnya bangga, namun kali ini terasa hambar dan kosong. Setiap jahitan seragam itu seolah mengingatkannya pada mimpi yang mungkin akan segera ia tinggalkan.
Sesampainya di sana, ia melihat Laras sudah menunggunya di depan gerbang. Laras tampak cemas dan khawatir. Matanya sembab karena menangis.
"Riko bagaimana? Apa kamu sudah memutuskan?" tanya Laras dengan nada penuh harap, menggenggam erat tangannya.
Riko menatap Laras dengan tatapan yang lembut namun tegas. Ia menarik napas dalam-dalam sebelum menjawab, "Aku sudah memutuskan, Laras."
Laras menahan napas, menunggu jawaban Riko dengan jantung berdebar.
“Aku akan melakukan ini untukmu." Riko mencoba tersenyum.
"Terima kasih, Sayang. Aku jadi makin cinta sama kamu!” Serta Merta Laras memeluk Riko.
Riko membalas pelukan Laras sambil tersenyum. Ia yakin, bersama Laras, hidupnya akan bahagia karena mereka saling mencintai.
.
Di tempat latihan, para peserta seleksi sudah berkumpul. Suasana tegang dan penuh persaingan terasa begitu kuat. Riko mencoba mengabaikannya, namun pikirannya terus berkecamuk. Seakan ada batangan Laras berdiri di kejauhan, menatapnya dengan tatapan penuh harap. Hatinya mencelos.
Tes praktik dimulai. Para peserta diuji dalam berbagai kemampuan, mulai dari menembak, bela diri, hingga simulasi penangkapan penjahat. Riko , yang selama ini selalu unggul dalam setiap tes, kali ini merasa sangat kesulitan. Pikirannya tidak fokus, gerakannya kaku, dan semangatnya hilang entah ke mana.
Saat tiba gilirannya untuk melakukan simulasi menembak, Riko menarik napas dalam-dalam. Ia mencoba menenangkan diri, namun pikirannya terus membayangkan wajah Laras dan permohonannya. Ia memegang pistol dengan tangan gemetar.
"Fokus, Riko ! Fokus!" bisiknya pada diri sendiri.
Ia membidik target dengan ragu-ragu. Dalam kondisi normal, ia akan dengan mudah mengenai sasaran. Namun kali ini, ia sengaja mengarahkan pistolnya sedikit melenceng.
Dor!
Suara tembakan memecah keheningan.
Riko menatap target dengan tatapan kosong. Ia tahu, tembakannya meleset. Ia sengaja melakukannya. Ia ingin mengabulkan keinginan Laras meskipun dadanya terasa sakit.
"Berikutnya!" suara instruktur membuyarkan lamunan Riko Ia dengan lesu melangkah mundur, menyerahkan gilirannya pada peserta lain.
Tes praktik terus berlanjut. Riko dengan sengaja melakukan kesalahan demi kesalahan. Ia gagal dalam simulasi bela diri, ia melakukan kesalahan dalam simulasi penangkapan penjahat. Ia sengaja membuat nilainya menjadi buruk.
Di akhir tes praktik, Riko merasa sangat lelah dan hancur. Ia telah mengorbankan mimpinya, mengalah demi cinta.
Saat ia berjalan menuju ruang ganti, seseorang memanggil namanya. Riko menoleh dan melihat Profesor Rahmat, dosen yang paling ia hormati, berjalan menghampirinya.
"Riko , bisa bicara sebentar?" tanya Profesor Rahmat dengan nada serius.
Riko mengangguk dan mengikuti Profesor Rahmat menuju tempat yang lebih sepi.
"Saya melihat apa yang kamu lakukan tadi," ucap Profesor Rahmat dengan tatapan kecewa. "Kamu sengaja melakukan kesalahan, kan?"
Riko terdiam. Ia tidak tahu bagaimana harus menjawab pertanyaan Profesor Rahmat. Ia merasa malu dan bersalah.
"Kenapa, Riko ? Kenapa kamu melakukan ini?" tanya Profesor Rahmat dengan nada yang lebih lembut. "Kamu adalah salah satu peserta terbaik di akademi ini. Kamu memiliki potensi yang luar biasa untuk menjadi seorang polisi yang hebat. Kenapa kamu menyia-nyiakannya?"
Riko menundukkan kepalanya. Ia tidak berani menatap wajah Profesor Rahmat.
"Maafkan saya, Pak," ucap Riko dengan suara lirih. "Saya punya alasan pribadi."
"Alasan pribadi apa? Apakah alasan itu lebih penting daripada mimpimu? Apakah alasan itu lebih penting daripada pengabdianmu kepada negara?" tanya Profesor Rahmat. Tidak membentak, tapi suaranya yang berat seakan memukul keras jantung Riko.
Riko terdiam. Ia tidak bisa menjawab pertanyaan Profesor Rahmat. Profesor Rahmat benar. Ia telah mengkhianati mimpinya dan mengecewakan orang-orang yang percaya padanya.
"Saya sangat kecewa padamu, Riko ," ucap Profesor Rahmat dengan nada yang sangat kecewa. "Saya pikir kamu adalah orang yang kuat dan berani. Tapi ternyata, kamu hanya seorang pengecut yang mudah menyerah pada keadaan."
Kata-kata Profesor Rahmat menohok hati Riko. Ia merasa sangat terpukul dan terluka. Ia benar-benar telah mengecewakan orang yang paling ia hormati.
"Saya tahu, Pak. Saya memang pengecut," ucap Riko dengan suara bergetar, air mata mulai menggenang di pelupuk matanya. "Tapi saya tidak punya pilihan lain. Saya harus melakukan ini."
Profesor Rahmat menghela napas panjang. Ia menatap Riko dengan tatapan yang sulit diartikan. "Suatu hari nanti, kamu akan menyesali keputusanmu ini."
"Saya tahu, Pak," jawab Riko "Tapi saya harus melakukannya."
"Apakah kamu benar-benar mencintai wanita itu?" tanya Profesor Rahmat tiba-tiba.
Riko mengangkat wajahnya. Apakah profesor tahu bahwa dia mundur demi Laras? Riko menelan ludahnya dengan susah payah. "Ya, Pak. Saya sangat mencintainya," jawab Riko akhirnya dengan suara yang nyaris tak terdengar.
Profesor Rahmat mengangguk-angguk kecil. "Ternyata, cinta benar-benar bisa membuat orang menjadi buta dan bodoh," ucap Profesor Rahmat dengan nada sinis. "Seharusnya kamu sadar, cinta sejati tidak akan meminta kamu untuk mengorbankan dirimu sendiri. Cinta sejati akan mendukungmu untuk meraih mimpi-mimpimu."
Riko terdiam. Kata-kata Profesor Rahmat kembali menghantuinya. Apakah Laras benar-benar mencintainya? Atau hanya memanfaatkannya?
"Pikirkan baik-baik, Riko ," ucap Profesor Rahmat. "Apakah wanita itu sepadan dengan semua pengorbananmu? Apakah dia akan tetap mencintaimu jika kamu menjadi seorang pecundang?”
Profesor Rahmat menepuk pundak Riko dengan lembut. "Saya harap kamu tidak menyesali keputusanmu ini. Saya harap kamu bisa menemukan kebahagiaan yang sejati. Tapi ingatlah, Riko , pintu akademi ini selalu terbuka untukmu. Jika kamu berubah pikiran, datanglah kembali. Kami akan selalu menerima kamu dengan tangan terbuka." Profesor Rahmat berbalik dan berjalan meninggalkan Riko.
Riko berdiri terpaku di tempatnya, menatap kepergian Profesor Rahmat dengan perasaan sedih dan kehilangan. Ia telah kehilangan segalanya.
Ia berjalan menuju gerbang akademi dengan langkah lesu. Di sana, Laras sudah menunggunya dengan wajah yang penuh harap.
"Bagaimana, Riko?" tanya Laras dengan nada yang antusias.
"Seperti janjiku. Aku gagal!”
"Maafkan aku,” ucap Laras memberikan pelukan. "Tapi aku janji kita akan segera menikah. Apa kamu tidak bahagia menikah denganku?”
Riko mengusap wajah Laras yang mulai basah. “Tentu saja aku bahagia." Riko tersenyum, meyakinkan diri sekali lagi. Keputusannya sudah benar.
aduh.. kalo sampai terjadi apes berkali-kali si laras
ditambah emaknya model itu lagi
mungkin emaknya aja yg dijual 😅😅😅
🤭😁😁😁😄