NovelToon NovelToon
Suami Idiot

Suami Idiot

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta setelah menikah
Popularitas:22
Nilai: 5
Nama Author: cilicilian

Hidup yang sangat berkecukupan membuat seorang Anya Febiola Anggara sangat terlena dengan kemewahan yang ia miliki.

Sampai suatu hari keadaan berbalik sangat drastis, membuat kedua orang tua Anya terpaksa menjodohkan anak mereka kepada rekan bisnis yang akan membantu membangkitkan kembali keadaannya yang saat itu tengah terpuruk.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon cilicilian, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Kerabat jauh

Arga, dengan kondisi mental yang tak biasa, seringkali menangis tanpa alasan yang jelas. Tingkah lakunya pun terkadang sulit dimengerti, membuat Anya, merasa kebingungan.

Seperti saat ini, Anya berdiri di ambang pintu, memperhatikan Arga yang dipeluk erat oleh ayahnya, Pramudya. Pramudya menenangkan Arga dengan usapan lembut di punggungnya. Padahal, Anya tahu betul bahwa Arga sangat merindukan ayahnya setelah tiga hari mereka habiskan bersama sejak hari pernikahan.

"Ayah, Arga takut," ucap Arga di sela tangisnya, suaranya terdengar seperti anak kecil yang ketakutan.

Anya hanya terpaku memperhatikan mereka. Jangankan menghampiri, melihat Arga saja sudah membuatnya lelah. Tiga hari bersamanya terasa seperti siksaan yang tak berujung.

Tiba-tiba, perhatian Anya teralih pada seorang wanita paruh baya dan seorang pria yang tampak seumuran dengan Arga, berjalan mendekat ke arah mereka.

Anya mengerutkan kening, mencoba mengingat di mana ia pernah melihat wajah-wajah asing itu. Namun, ingatan itu kosong. Ia yakin belum pernah bertemu mereka, bahkan di hari pernikahannya pun mereka tak tampak. Mungkinkah mereka kerabat jauh Arga yang baru menampakkan diri?

Semakin dekat mereka, semakin terasa aura aneh yang menguar dari keduanya. Tatapan wanita paruh baya itu menusuk, sedingin es, sementara pria di sampingnya memang tampan, namun tetap tidak bisa menandingi pesona Arga di mata Anya.

Ah, tunggu dulu, apakah Anya baru saja mengakui kalau Arga itu tampan? Mungkin memang hanya karena sekarang Arga-lah yang paling tampan dibandingkan pria angkuh itu. Ya, pria itu memang angkuh sekali.

"Siapa kamu?" tanya wanita itu dengan nada datar dan tanpa basa-basi.

Anya menegakkan tubuh, membalas tatapan wanita itu dengan angkuh, menilai penampilannya dari ujung kepala hingga ujung kaki.

"Saya istrinya Arga," jawab Anya dengan nada yang sama datarnya.

"Oh, jadi kamu istrinya Arga. Cantik juga," sela pria itu, menyunggingkan senyum sinis."

"Oh, baguslah kalau dia sudah menikah," ucap wanita itu dengan senyum misterius yang membuat bulu kuduk Anya meremang.

"Mah, sepertinya si idiot itu beruntung sekali, bisa mendapatkan istri secantik ini," sahut pria itu dengan nada mengejek, Seolah Arga tak pantas mendapatkan Anya.

Mah? Anya tidak salah dengar. Jadi, wanita ini adalah ibu dari pria angkuh di sampingnya? Pantas saja, keduanya memiliki aura yang sama. Sama-sama angkuh dan menyebalkan.

"Diam! Jangan bicara yang tidak-tidak. Sana, temui Ayahmu," perintah wanita itu dengan tegas, Membuat pria itu terdiam seketika.

Ayah? Anya kembali terkejut. Siapa yang mereka sebut Ayah? Apakah Pramudya? Setahunya, ibu Arga sudah lama menghilang, jadi siapa wanita di hadapannya ini sebenarnya?

Anya memperhatikan pria itu menghampiri Pramudya dan memanggilnya 'Ayah'? Siapa sebenarnya mereka ini? Apa yang sedang terjadi?

"Galen?" ucap Pramudya, suaranya terdengar terkejut bercampur senang, sambil menyambut pria yang baru saja berbincang dengan Anya.

Anehnya, sikap Arga langsung berubah drastis. Tadi ia menangis memeluk ayahnya, kini ia tiba-tiba berhenti dan bersembunyi di belakang Pramudya saat pria bernama Galen itu mendekat.

"Sebenarnya ada apa dengan Arga?" gumam Anya, matanya tak lepas dari sikap aneh suaminya itu.

"Ayah, Galen kangen banget sama Ayah," ucap Galen sambil memeluk Pramudya dengan erat, gestur yang tampak akrab namun terasa asing bagi Anya.

Arga masih bersembunyi di belakang Pramudya, tubuhnya gemetar dan raut wajahnya menunjukkan ketakutan yang luar biasa.

Wanita paruh baya yang tadinya berdiri di samping Galen kini ikut menyapa Pramudya dengan senyum hangat.

"Mas, maaf ya, saya dan Galen baru kembali dari Paris, jadi tidak sempat menghadiri pernikahan Arga," ucap wanita itu dengan suara lembut dan penuh penyesalan.

Anya semakin larut dalam kebingungan. Ia tidak mengerti siapa mereka sebenarnya, dan hubungan apa yang mereka miliki dengan Pramudya, ayah mertuanya.

"Pramudya membalas sapaan keduanya dengan senyum lembut. "Tidak apa, Rini. Saya tahu kalian sedang menikmati liburan, jadi saya tidak mau mengganggu," ucapnya tulus.

"Ah, hampir saja saya lupa," kata Pramudya, lalu menoleh ke arah Anya yang masih berdiri di ambang pintu, tampak linglung mencoba memahami situasi. "Anya, sini."

Dengan langkah ragu, Anya menghampiri mereka, berusaha memasang senyum ramah meski hatinya dipenuhi tanda tanya.

"Anya, kenalkan, ini Tante Rini Paresti, kakak dari ibunda Arga. Dan ini Galendra, atau biasa dipanggil Galen, putra dari Tante Rini," jelas Pramudya memperkenalkan keduanya.

Anya mengangguk, mencoba mencerna informasi yang baru ia dapatkan. Jadi, mereka adalah kerabat dari pihak ibu Arga, sepupu jauhnya. Tapi, kenapa Galen memanggil Pramudya dengan sebutan 'Ayah'?

"Perkenalkan, saya Anya Febiola Anggara, istri Arga," ucap Anya selembut mungkin, menyembunyikan kebingungan yang berkecamuk di benaknya.

Rini tersenyum, namun Anya merasakan ada sesuatu yang ganjil dalam senyum itu. Terlalu lebar, dipaksakan. "Senang bertemu denganmu, Anya," ucap Rini, namun sorot matanya meneliti Anya dari atas hingga bawah, membuatnya merasa seperti sedang diinterogasi.

Sementara Galen menatap Anya dengan pandangan genit yang membuatnya geram. Kalau saja Pramudya tidak ada di sana, mungkin wajah tampan itu sudah mencium tinjunya.

Anya membalas uluran tangan Rini dengan senyum tipis. "Maaf, tapi sepertinya tadi saya tidak salah dengar, Galen memanggil Ayah dengan sebutan 'Ayah'?" tanyanya, berusaha menyembunyikan rasa penasarannya.

Pramudya tersenyum tipis, seolah memahami kebingungan Anya. "Iya, Anya tidak salah dengar. Galen memang memanggil saya 'Ayah', karena dia sudah menganggap saya seperti ayah kandungnya sendiri," jelas Pramudya dengan nada lembut.

Anya tampak semakin bingung. "Lalu, ayah Galen...?"

"Ayah Galen sudah meninggal dunia," sela Rini dengan nada sendu, raut wajahnya berubah menjadi murung.

"Saya ingin Galen menganggap Pramudya sebagai ayahnya, agar dia tidak tumbuh besar tanpa sosok seorang ayah," lanjutnya dengan suara yang terdengar pilu.

Alih-alih merasa iba, Anya justru semakin muak melihat drama di depannya. Tidak ada sedikit pun rasa simpati yang muncul dalam hatinya.

"Lalu, bagaimana dengan Arga, Ayah? Apakah Arga setuju dengan hal ini?" tanya Anya, menyelipkan sedikit nada sinis dalam pertanyaannya.

Pramudya menoleh ke arah Arga, seolah meminta persetujuan. "Arga sepertinya tidak keberatan," ucap Pramudya dengan senyum yang sulit diartikan.

Anya mengerutkan kening, merasa ada yang janggal. Sedari tadi Arga berusaha bersembunyi di balik tubuh ayahnya. "Arga, apa benar kamu setuju dengan hal ini?" tanya Anya, berusaha memastikan.

Ia ingin tahu apa yang sebenarnya terjadi, dan mengapa Arga bersikap seperti itu. Bukan karena ia peduli pada Arga, tentu saja bukan. Ia hanya merasa penasaran dan kesal dengan kehadiran kedua orang asing itu.

Arga tetap diam, hanya menunduk dan mencengkeram erat kemeja Pramudya. Pramudya menghela napas, lalu menepuk pundak Arga dengan lembut.

"Sudahlah, Anya. Arga memang seperti ini, dia tidak pandai mengungkapkan perasaannya," jawab Pramudya, seolah mewakili Arga.

Namun, Anya tidak yakin. Selama mereka bersama, Arga selalu mengungkapkan apa pun yang ada di benaknya. Karena itu, ia mencoba memastikan sekali lagi.

"Jawab, Arga. Jangan diam saja. Kamu harus bicara, jangan dipendam sendiri. Aku tidak suka melihatmu seperti ini," ucap Anya, berusaha memancing Arga untuk berbicara.

Perlahan, Arga mengangkat wajahnya. Matanya memerah dan dipenuhi ketakutan. "Arga... Arga tidak mau..." bisiknya lirih, hampir tak terdengar. "Arga tidak mau Ayah diambil..." ucap Arga dengan suara bergetar.

Anya menyunggingkan senyum sinis ke arah Rini dan Galen, sementara tanpa sepengetahuan Pramudya, Rini melayangkan tatapan tajam dan dingin ke arah Arga.

"Ayah dengar sendiri, kan?" ucap Anya, menekankan kata 'Ayah'.

Pramudya menghela napas. "Arga, Ayah tidak akan diambil oleh siapa pun. Ayah akan selalu menjadi ayahnya Arga," ucap Pramudya, berusaha menenangkan putranya.

"Maafkan saya, Mas. Selama ini saya tidak tahu kalau ternyata Arga tidak menginginkan kehadiran kami," ucap Rini dengan nada sendu dan raut wajah yang dibuat-buat sedih.

"Maafkan aku, Arga. Aku tidak bermaksud merebut ayahmu. Aku hanya ingin memiliki seorang ayah, itu sebabnya aku memanggil ayahmu dengan sebutan 'Ayah'," timpal Galen dengan suara lirih dan raut wajah murung yang tampak tidak tulus.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!