NovelToon NovelToon
Jangan Ambil Anakku

Jangan Ambil Anakku

Status: sedang berlangsung
Genre:Pengganti / Cerai / Diam-Diam Cinta / Cinta Seiring Waktu / Romansa / Penyesalan Suami
Popularitas:263
Nilai: 5
Nama Author: VISEL

Hana dan Aldo mempunyai seorang anak laki-laki bernama Kenzo. Mereka adalah sepasang suami istri yang telah menikah selama 6 tahun, Kenzo berusia 5 tahun lebih dan sangat pandai berbicara. Kehidupan Hana dan Aldo sangat terjamin secara materi, Aldo mempunyai perusahaan batu bara di kota kalimantan...kehidupan rumah tangga mereka sangat rukun dan harmonis, hingga suatu hari musibah itu menimpa dalam rumah tangga mereka...

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon VISEL, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

17

Malam itu setelah om Heri dan tante Laras pulang ke rumahnya, Hana mengurung dirinya di dalam kamar. Mbok Titi sangat mencemaskan keadaan Hana. Mbok Titi gelisah dan beberapa kali mondar-mandir di depan pintu kamar Hana yang sedang terkunci. Sesekali mbok Titi mengetuk pintu kamar Hana untuk memastikan keadaan Hana, namun Hana tetap tak bergeming dan tidak mengeluarkan suara sedikitpun. Mbok Titi semakin gelisah saat mendengar suara isak tangis di dalam kamar Hana.

  Mbok Titi: "Apakah nyonya membutuhkan sesuatu?" tanyanya dengan suara yang keras. "Bicaralah, nyonya. Katakan sesuatu." ucapnya lagi dengan penuh kegelisahan. Mbok Titi tetap berdiri di depan pintu kamar Hana dengan hati yang gelisah. Pak Anto yang merupakan suami mbok Titi berjalan pelan menghampiri mbok Titi yang masih berdiri di depan pintu kamar Hana.

  Anto: "Apakah kita dobrak saja pintunya, ya?" tanyanya ragu-ragu. "Aku mencemaskan keadaan nyonya." ucapnya pelan dengan wajah yang tegang.

  Mbok Titi: "Jangan dulu, pak. Kita tunggu dulu." ucapnya. Beberapa detik kemudian, terdengar langkah kaki pelan dari dalam kamar Hana. Pintu kamar itu terbuka, Hana telah berdiri di hadapan mbok Titi dan pak Anto.

  Hana: "Ada apa, mbok, pak Anto?" tanyanya dengan suara pelan. Mbok Titi menatap wajah Hana yang kelihatan pucat, kedua mata Hana terlihat bengkak karena habis menangis.

  Mbok Titi: "Apakah nyonya tidak apa-apa?" tanyanya dengan ekspresi wajah yang tegang. "Kami mencemaskan keadaan nyonya." ucapnya lagi.

  Hana: "Aku tidak apa-apa, mbok." ucapnya sambil tersenyum tipis. "Aku akan keluar sebentar. Aku titip Kenzo, ya, mbok." ucapnya pelan.

  Pak Anto: "Ini sudah hampir jam 10 malam, nyonya." ucapnya dengan cemas.

  Hana: "Aku hanya ingin menenangkan pikiran, pak Anto. Jangan cemas, ya." ucapnya dengan tenang. Hana menatap wajah mbok Titi yang terlihat tegang, lalu berkata: "Tolong jaga Kenzo, ya, mbok. Ia sedang tidur di kamarnya." pintanya dengan lembut.

  Mbok Titi: "Iya, nyonya. Jangan pulang terlalu malam, ya, nyonya." ucapnya dengan hati-hati.

  Pak Anto: "Aku antar, ya, nyonya. Aku siapkan mobil." ucapnya dengan pelan.

  Hana: "Tidak usah, pak. Aku akan menyetir sendiri." ucapnya pelan. Hana melangkah pelan meninggalkan mbok Titi dan pak Anto yang masih berdiri di depan kamarnya menatapnya dengan rasa iba. Terdengar bunyi pintu mobil dari halaman rumah itu, Hana melaju dengan mobilnya keluar dari halaman rumahnya di tengah malam yang cukup sepi itu.

  Pak Anto: "Kasihan nyonya Hana. Ia pasti sangat terpukul." ucapnya dengan pelan dan penuh rasa iba.

  Mbok Titi: "Aku sudah menduganya sejak awal, pak." ucapnya sambil menghela nafas berat.

  Pak Anto: "Apa maksudmu, bu?" tanyanya sambil menatap wajah istrinya dengan penuh tanda tanya.

  Mbok Titi: "Aku pernah memergoki beberapa kali, non Sari menatap tuan Aldo dengan mesra." ucapnya dengan penuh keyakinan.

  Pak Anto: "Kapan, bu?" tanyanya lagi dengan rasa penasaran.

  Mbok Titi: "Non Sari pernah beberapa kali datang ke rumah ini. Saat itu non Sari sengaja membawa beberapa makanan untuk Kenzo." ucapnya sambil mengingat saat Sari berkunjung ke rumah Hana di malam hari. "Aku mengawasi non Sari dari dalam dapur, pak. Non Sari melirik mata tuan Aldo dengan lirikan mesra." ucapnya lagi dengan kesal. "Non Sari pernah memegang tangan tuan Aldo saat nyonya berada di kamar mandi." ucapnya. Pak Anto menghela nafas panjang, ia tak menyangka jika tuannya tega menghianati Hana yang menurutnya baik, penyayang dan penuh kelembutan.

  Pak Anto: "Nyonya sangat baik dan penuh kelembutan pada tuan. Nyonya juga telah menganggap non Sari sebagai saudaranya." ucapnya dengan penuh penyesalan.

  Mbok Titi: "Ya, begitulah, pak." ucapnya pasrah. "Aku sangat iba pada nyonya." ucapnya lagi. Sepasang suami istri itu sangat menyayangkan perbuatan Aldo. Mereka tidak ingin Aldo dan Hana berpisah karena pesona Sari, namun semua telah terjadi. Sari kini telah hamil anak Aldo dan mungkin sebentar lagi Sari akan menjadi istri Aldo yang sah setelah perceraian Hana dan Aldo resmi.

Hana berada di sebuah tempat yang cukup jauh dari rumahnya, ia duduk di sebuah bangku di tengah kota Jakarta. Hana menatap ke atas, langit begitu hitam hanya dihiasi oleh rembulan dan bintang-bintang yang sinarnya redup bergantian. Hana menghela nafas panjang, lalu menghembuskannya secara perlahan. Seorang wanita tua mengawasi Hana dari kejauhan, wanita renta itu menghampiri Hana.

  Wanita tua: "Apa yang kamu lakukan di sini sendiri, nak?" tanyanya sambil menatap wajah Hana dengan tatapan dalam. Hana terkejut, ia menoleh pada wanita tua itu. Hana menatap wajah wanita tua itu yang penuh keriput, kedua matanya nampak sayu, pakaiannya juga kelihatan lusuh.

  Hana: "Aku hanya duduk saja, nek." ucapnya pelan.

  Wanita tua: "Hatimu sedang gelisah, ya." ucapnya. "Bolehlah aku duduk di sampingmu?" tanyanya dengan hati-hati.

  Hana: "Boleh, nek. Duduklah." ucapnya sambil menggeser tubuhnya ke samping agar nenek itu bisa duduk di dekatnya.

  Wanita tua: "Siapa namamu, nak?" tanyanya sambil menatap wajah Hana.

  Hana: "Namaku Hana, nek." ucapnya pelan. "Siapa nama nenek?" tanyanya sambil tersenyum kecil.

  Wanita tua: "Panggil saja aku nek Lela." sahutnya pelan. "Cukup malam ini kamu sedih dan kecewa. Saat esok hari, lupakan suamimu yang telah mengecewakanmu." ucapnya. Hana terkejut, ia menatap wajah nek Lela dalam-dalam. Hana tidak menyangka wanita tua yang duduk di sampingnya mengetahui isi pikirannya.

  Hana: "Bagaimana nenek tahu, jika aku sedang memikirkan suamiku?" tanyanya dengan penuh keheranan.

  Nek Lela: "Aku hanya menebak saja." ucapnya sambil tersenyum tipis. "Kamu sangat cantik, Hana. Jangan habiskan waktumu dalam kesedihan." ucapnya lagi. Hana tertegun, ia merenungi perkataan dan nasihat nek Lela. "Malam ini lepaskan semuanya. Kamu akan mengalami hal indah ke depannya." ucapnya dengan penuh keyakinan.

  Hana: "Iya, nek. Terima kasih atas nasehatnya." sahutnya sambil tersenyum kecil.

  Nek Lela: "Jangan terlalu lama duduk di sini. Kejahatan bisa menimpamu, nak." ucapnya pelan.

  Hana: "Tuhan dan nenek bersamaku di sini." ucapnya dengan lembut.

  Nek Lela: "Kamu sangat cantik. Wajahmu bersinar di bawah rembulan." ucapnya sambil menatap wajah Hana dalam-dalam.

  Hana: "Terima kasih pujiannya, nek. Wajah cantik tidak menjamin kesetiaan suamiku." ucapnya pelan namun penuh kekecewaan.

  Nek Lela: "Lupakan suamimu. Lupakan semuanya malam ini. Jangan pernah mengingatnya lagi." ucapnya. Hana hanya tersenyum kecil mendengar perkataan nek Lela. "Jangan menyimpan rasa sakit dalam hatimu, nak. Aku tahu semuanya tidak mudah, berusahalah." ucapnya dengan pelan namun tegas.

Hana: "Iya, nek. Terima kasih." sahutnya. "Aku akan mengantar nenek pulang." ucapnya dengan lembut.

************************************

1
tia
dunia nyata dunia novel sama istri pertama pasti ada ruang khusus 😁😁
tia
tambah lg updatenya thor
tia
karma di bayar lunas ,, kehilangan bayi kakiny lumpuh ,,, syukurin
tia
kasihan hana 😭😭,,moga kenzo cepat sembuh.
tia
lanjut Thor,,buktikan hana bahwa qmu hebat
tia
lanjut Thor
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!