NovelToon NovelToon
PANTASKAH AKU BAHAGIA

PANTASKAH AKU BAHAGIA

Status: sedang berlangsung
Genre:Enemy to Lovers
Popularitas:255
Nilai: 5
Nama Author: yunie Afifa ayu anggareni

Deskripsi Novel: Pantaskah Aku Bahagia

"Dunia melihatku sebagai badai, tanpa pernah mau tahu betapa hancurnya aku di dalam."
Lahir sebagai saudara kembar seharusnya menjadi anugerah, namun bagi Alsya Ayunda Anantara, itu adalah kutukan yang tak kasat mata. Di mata orang tuanya, dunia hanya berputar pada Eliza Amanda Anantara—si anak emas yang sempurna, cantik, dan selalu bisa dibanggakan. Sementara Alsya? Ia hanyalah bayang-bayang yang dipandang sebelah mata, dicap sebagai gadis pemberontak, jahat, dan tukang bully.
Di balik tawa cerianya yang dianggap palsu, Alsya menyimpan luka yang menganga. Ia hanya ingin dicintai. Ia hanya ingin diperhatikan. Itulah alasan mengapa ia begitu terobsesi mengejar Revaldi Putra Raharja. Baginya, memiliki Revaldi adalah cara untuk membuktikan bahwa ia jadi berharga.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon yunie Afifa ayu anggareni, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 22: RUNTUHNYA TAKHTA SEMPURNA

Sesampainya di rumah, suasana berubah menjadi sangat dingin bagi Eliza. Jika biasanya Alsya yang disidang di ruang tengah, kali ini Eliza-lah yang berdiri dengan kepala tertunduk di depan meja besar Papa Saga. Ponsel yang menjadi bukti pengkhianatannya tergeletak di tengah meja seperti bom waktu.

"Papa tidak pernah menyangka, Eliza," suara Saga terdengar sangat kecewa, jauh lebih menyakitkan daripada kemarahannya yang biasanya meledak-ledak. "Papa menaruh semua harapan pada kamu karena kamu terlihat paling stabil. Ternyata, kamu menggunakan kecerdasan kamu untuk menghancurkan adik kamu sendiri?"

"Pa, aku cuma nggak mau Alsya salah jalan..." Eliza mencoba membela diri dengan suara gemetar.

"Cukup!" potong Mama Luna. Matanya sembab. "Mama sudah bicara dengan supir dan satpam. Mereka mengaku kamu yang menyuruh mereka memata-matai Alsya bahkan saat Mama tidak memerintahkannya. Kamu memanipulasi kami semua, El."

Alsya berdiri di ambang pintu ruang tengah, hanya menyaksikan dari jauh. Ada rasa lega, tapi juga ada rasa sedih melihat kembarannya hancur seperti itu. Bagaimanapun, mereka tumbuh di rahim yang sama.

Saga menoleh ke arah Alsya. Tatapannya melunak, sesuatu yang belum pernah Alsya lihat selama bertahun-tahun. "Alsya, kemari."

Alsya mendekat dengan ragu.

"Papa minta maaf karena selama ini hanya melihat dari satu sisi," ucap Saga berat. "Papa terlalu terobsesi dengan nama baik sampai lupa kalau anak Papa juga punya perasaan. Soal Samudera... Papa masih belum bisa menerima masa lalunya sepenuhnya. Tapi Papa akan beri dia kesempatan untuk membuktikan kalau dia memang pengaruh baik buat kamu."

Alsya terpaku. Air mata haru menggenang di matanya. "Makasih, Pa."

"Sebagai hukumannya, Eliza, semua fasilitas kamu Papa cabut selama satu bulan. Kamu akan berangkat sekolah dengan supir yang sama dengan Alsya, dan kamu tidak diizinkan keluar rumah untuk urusan apa pun selain sekolah. Dan Alsya..." Saga menyerahkan kunci motor Alsya yang sempat disita.

"Gunakan ini dengan bijak. Jangan bikin Papa menyesal."

Malam itu, untuk pertama kalinya setelah sekian lama, Alsya bisa tidur dengan tenang. Dia mengambil ponsel rahasianya—yang sekarang sudah tidak perlu dirahasiakan lagi—dan menelepon Samudera.

"Sam, gue dapet motor gue balik," ucap Alsya dengan nada ceria.

"Baguslah. Jadi besok gue nggak perlu manjat pipa air lagi buat ngasih loe surat?" canda Samudera di seberang sana.

Alsya tertawa lepas. "Nggak perlu, Sam. Tapi... makasih ya. Kalau bukan karena loe yang nekat ngajak gue ke bukit pagi tadi, mungkin gue masih kejebak di kamar itu."

"Loe yang hebat, Sya. Loe yang berani ngomong jujur di depan bokap loe. Gue cuma penonton di barisan depan," sahut Samudera tulus.

Namun, di kamar sebelah, Eliza sedang duduk di kegelapan. Dia menatap bayangannya di cermin dengan penuh dendam. Baginya, ini bukan akhir. Baginya, Alsya telah merebut segalanya darinya—perhatian Papa, kasih sayang Mama, dan statusnya di rumah ini.

"Loe pikir loe menang, Sya?" gumam Eliza pelan, suaranya terdengar sangat mengerikan di tengah kesunyian malam. "Ini baru dimulai. Gue bakal bikin Samudera sendiri yang ninggalin loe dengan sukarela."

Eliza mengambil sebuah amplop kecil yang dia sembunyikan di bawah kasur. Di dalamnya ada foto-foto lama keluarga Samudera yang dia dapatkan dari Revaldi—informasi yang jauh lebih berbahaya daripada sekadar kasus kecelakaan balapan liar.

Eliza ternyata masih punya rencana cadangan yang lebih gila!

Bersambung....

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!