Dunia ini bukanlah tempat bagi mereka yang lemah si kaya terbang membelah awan layaknya naga, sementara si miskin terinjak sebagai debu di bawah kaki sang penguasa. Di tengah kejamnya takdir, hiduplah Zhou Yu, bocah laki-laki yang jiwanya jauh lebih dewasa dibanding usianya yang baru delapan tahun. Sejak kecil, ia adalah pelita bagi orang tuanya, sosok anak berbakti yang rela menghabiskan masa bermainnya di pasar demi menyambung hidup keluarga.
Namun, langit seolah runtuh saat Zhou Yu pulang membawa harapan kecil di tangannya. Aroma darah dan keputusasaan menyambutnya di ambang pintu. Ia menemukan sang ayah pria yang selama tiga bulan terakhir berjuang melawan sakit tergeletak mengenaskan dalam napas terakhirnya. Di sudut lain, ibunya terkulai lemas, tak berdaya, bersimbah darah dan dengan kondisi yang mengenas. Di detik itulah, kepolosan Zhou Yu mati. Dalam tangis yang tertahan, sebuah dendam dan ambisi membara ia tidak akan lagi mengubah nya menjadi sosok yang berbeda.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon blueberrys, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Malam pemburuan berdarah
Malam semakin larut, dan keheningan di asrama reyot itu terasa begitu pekat hingga suara napas pun seolah bergema. Api pelita kecil di sudut ruangan telah lama padam, menyisakan cahaya bulan pucat yang menyelinap melalui celah jendela kayu. Ling’er tertidur lelap di sisi Zhou Yu, lengannya masih melingkar pelan di dadanya, seakan takut pria itu menghilang jika dilepaskan.
Namun, jika diperhatikan lebih saksama, napas Zhou Yu tidak sepenuhnya teratur seperti orang yang benar-benar terlelap.Kelopak matanya bergetar halus.
Perlahan… sangat perlahan… Zhou Yu membuka matanya.
Tatapan itu tidak lagi memuat kelembutan atau rasa sakit. Yang tersisa hanyalah ketenangan dingin tenang seperti permukaan danau sebelum badai menghantam. Tubuhnya masih terasa perih, setiap tarikan napas seperti pisau kecil yang mengiris tulang, namun rasa sakit itu justru membuat pikirannya semakin jernih.
Ia menoleh ke arah Ling’er...
Gadis itu tersenyum samar dalam tidurnya, air mata kering masih membekas di sudut matanya. Zhou Yu mengangkat tangannya dengan hati-hati, menyibakkan rambut yang menutupi wajah Ling’er, lalu berhenti beberapa inci sebelum menyentuh pipinya. Tangannya bergetar.
"Tidurlah dengan tenang,” bisiknya tanpa suara. “Aku akan kembali… sebelum fajar.”
Dengan kehati-hatian ekstrem, Zhou Yu menggeser tubuh Ling’er, menggantikan posisinya dengan gulungan kain agar gadis itu tetap merasa dipeluk. Ia lalu bangkit perlahan dari ranjang, setiap gerakan ditahan agar papan kayu tidak berdecit.
Da Ge masih terbaring tak sadarkan diri di ranjang seberang. Zhou Yu menatap pria besar itu lama, lalu membungkuk dalam-dalam.
“Aku pinjam malam ini, Da Ge,” gumamnya. “Utang darah… harus dibayar.”
Ia mengenakan jubah hitam lusuh yang biasa dipakai Da Ge untuk latihan malam, lalu membalut wajahnya dengan kain gelap hingga hanya sepasang mata yang tersisa. Ia meletakan Pedang Han shui di bawah bantal nya. Sebagai gantinya, ia mengambil belati besi tipis senjata sederhana, namun cukup untuk menyampaikan pesan.
Begitu pintu asrama ditutup, langit seolah merespons langkahnya.
DUAARR!!
Petir membelah angkasa, menerangi Akademi Guntur yang menjulang muram. Awan hitam bergulung, dan hujan turun tanpa peringatan, deras dan dingin, mencambuk tanah seperti ribuan jarum.
Zhou Yu tersenyum tipis.
“Langit pun marah,” gumamnya.
Langkahnya ringan, nyaris tak bersuara, menyusuri bayangan bangunan dan lorong-lorong sempit. Formasi pertahanan akademi masih aktif, namun malam ini Zhou Yu tidak berniat menggunakan Qi dalam jumlah besar. Ia menahan seluruh energinya, menekan keberadaannya hingga nyaris menyatu dengan hujan.
Asrama murid elit berdiri megah di sisi barat bangunan batu bertingkat dengan lentera-lentera qi yang redup. Di sanalah Chen Mo tidur, dengan luka-luka palsu dan harga diri setinggi langit.
Zhou Yu berhenti di atap bangunan seberang, hujan mengalir di wajahnya, bercampur dengan darah kering di sudut bibirnya. Matanya menyipit, fokus.
“Chen Mo…” bisiknya. Senyumnya melebar, Senyum seorang psiko.
Di dalam asrama elit, Chen Mo tertawa kecil dalam tidurnya. Mimpinya indah ia melihat Zhou Yu berlutut, darah di mana-mana, Ling’er menangis memohon belas kasihan. Ia menikmati setiap detiknya.
Namun tiba-tiba
KRAK.
Sesuatu menimpa jendelanya.Chen Mo terbangun dengan kaget. "Apa-"
DUARR!!!
Cahaya putih petir menyilaukan ruangan, dan dalam sepersekian detik itu, sebuah bayangan berdiri tepat di depan tempat tidurnya.
“Siapa di sana?!” Chen Mo meraih pedang nya secara refleks. Namun itu sia sia semuanya sudah terlambat
Sebuah tangan menghantam dadanya, menekan titik akupuntur dengan presisi kejam. Nafas Chen Mo terhenti, tubuhnya membeku, hanya matanya yang membelalak ketakutan.
Bayangan itu mendekat.
“Jangan berteriak,” suara itu berbisik, rendah dan serak, seperti bisikan setan dari neraka. “Aku datang… untuk mengucapkan terima kasih.”
Chen Mo mencoba berbicara, namun yang keluar hanyalah dengusan panik.
“Terima kasih,” lanjut suara itu sambil tertawa pelan tawa yang tidak mengandung kegembiraan, hanya kegilaan dingin, “karena sudah mengajarkanku… betapa lemahnya hukum akademi ini.”
Kilatan petir kembali menyambar. Chen Mo akhirnya mengenali mata itu.
“Z—Zhou Yu?!” batinnya menjerit.
Namun sebelum ia sempat memahami kenyataan, belati dingin menyentuh pipinya.
“Ssst,” Zhou Yu berbisik di telinganya. “Malam ini… aku bukan Zhou Yu.” Tangan Zhou Yu bergerak cepat.
SREET-
Darah menyembur, hangat dan lengket. Chen Mo menjerit tanpa suara, matanya hampir keluar dari rongga saat rasa perih membakar wajahnya.
“Luka ini,” kata Zhou Yu sambil tertawa pelan, “hanya pengingat kecil.”
Belati itu bergerak lagi bukan mematikan.terlalu mudah dan terlalu cepat untuk orang seperti chen mo
Zhou Yu ingin Chen Mo hidup.ia Ingin Chen mo bangun setiap pagi dan mengingat setiap detik kejadian malam ini. Bahkan empat anak buah Chen Mo pun tidak bernasib lebih baik.
Satu per satu, Zhou Yu muncul dari kegelapan, seperti hantu yang dipanggil oleh petir. Ada yang terbangun karena suara hujan, ada yang karena firasat buruk namun semuanya berakhir sama.
Tangisan tertahan. Nafas tercekik. Mata yang dipenuhi teror.
“Apakah kalian ingat,” suara Zhou Yu bergema di ruangan gelap , “bagaimana kalian tertawa saat memukul orang yang jatuh?”
Jawabannya adalah sayatan.Bukan di tempat mematikan.Namun cukup dalam.Cukup menyakitkan... cukup… memalukan.
Wajah mereka kini dihiasi bekas luka cacat yang tidak bisa disembunyikan, simbol ketakutan yang akan menghantui mimpi mereka.
Hujan semakin deras. Petir menyambar bertubi-tubi, seolah langit ikut menertawakan penderitaan mereka.
Di lorong terakhir, Zhou Yu berdiri di tengah bayangan, jubah hitamnya basah kuyup, darah menetes dari ujung belatinya ke lantai batu.
Ia tertawa.bukan tawa keras.namun tawa rendah, bagai tawa seseorang yang telah melangkah melewati semua batasan.
“Ingat malam ini,” katanya pelan, namun jelas, suaranya menyusup ke dalam tulang mereka. “Ingat rasa takut ini. Karena lain kali…” langkahnya terhenti.
Petir menyambar tepat di luar jendela, menerangi wajahnya yang tersenyum bengis.
“…aku tidak akan sebaik ini...”
Dalam sekejap, ia menghilang ke dalam hujan.fajar mulai menyingsing dengan langit kelabu.
Asrama elit gempar. teriakan. kepanikan. darah di lantai. wajah-wajah yang rusak. Chen Mo duduk gemetar di sudut ranjangnya, wajahnya diperban kasar, matanya kosong menatap dinding.
Ia tidak tidur lagi sejak malam itu.Setiap kali ia memejamkan mata, ia mendengar tawa itu.
Sementara itu, di asrama reyot sisi timur, Zhou Yu terbaring tenang, napasnya stabil. Ling’er terbangun lebih dulu, terkejut mendapati dirinya masih dipeluk dengan hangat.
“Kak Yu…?” gumamnya.
Zhou Yu membuka mata, menatapnya lembut, seolah tidak terjadi apa-apa.
“Pagi sudah datang,” katanya pelan. “Hari ini… hujannya dingin, ya?”
Ling’er mengangguk, entah mengapa hatinya terasa hangat sekaligus gelisah.
Ia tidak tahu...tidak ada yang tahu.
Bahwa di balik tatapan lembut itu…
telah lahir sesuatu yang jauh lebih berbahaya daripada seorang jenius.api telah menyala.
dan Zhou Yu…
akan menjadi angin yang meniup api itu agar makin besar
...Bersambung.......