Aisyah Safitri, menerima pinangan dari Hanif, seorang dosen yang terkenal soleh dan baik hati.
Awal pernikahan mereka, memang terlihat seperti rumah tangga orang lain pada umumnya, yang bergitu romantis dan harmonis.
Tapi siapa sangka, dibalik keharmonisannya itu, tersimpan sebuah rahasia, yang membuat rumah tangga mereka berada di ujung tanduk.
Akankah perceraian terjadi di antara keduanya? Dan mampukah, Aisyah mempertahankan rumah tangganya? Apa sih rahasia penyebab itu semua?
Yang penasaran, yuk lanjut baca aja.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Delia Septiani, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Mengungkapkan Kebenaran
Sepulang mengajar, Hanif segera bersiap untuk memenuhi janjinya bertemu dengan Nara. Selain persiapan diri, ia juga mempersiapkan batinnya untuk menerima segala hal yang mungkin akan diucapkan oleh Nara, nanti padanya.
Hanif memasuki sebuah cafe, terlihat di salah satu sudut spot cafe itu, Nara yang tengah melambaikan tangannya memberi kode kepada Hanif untuk segera menghampirinya.
"Apa sudah lama menunggu?" tanya Hanif mendudukkan tubuhnya di atas kursi sebrang Nara.
"Tidak terlalu lama Mas," jawab Nara mengembangkan senyuman manisnya.
Mereka berdua pun duduk mengobrol basa-basi terlebih dahulu, kemudian Nara memanggil seorang pelayan untuk memesan makanan. Dan mereka pun memesan makanan yang tidak terlalu berat, Nara memesan macaroni moza, dan Hanif memesan roti bakar coklat kacang, kesukaannya.
"Hm... dilihat dari penampilannya, Mas Hanif seperti biasa saja, tidak ada yang spesial. Padahal, aku kira hari ini dia akan benar-benar melamarku. Aku sudah dandan seheboh ini, ternyata Mas Hanif sendiri pakaiannya hanya pakaian kerja biasa," gumam Nara dalam hati.
"Nara," panggil Hanif pelan. Ia benar-benar harus mengumpulkan keberanian untuk mengatakan yang sejujurnya mengenai pernikahannya dengan Aisyah.
"Iya Mas, kenapa?" tanya Nara melebarkan kedua bola matanya.
"A-aku mengajakmu bertemu, karena ada suatu hal penting yang harus aku katakan padamu," ujar Hanif sedikit gugup. Ia benar-benar takut kalau Nara tidak menerima semua kenyataannya.
"Apa Mas? Bicaralah, kenapa gugup begitu?" tanya Nara.
"Nara, ini ...." Sejenak Hanif menghela nafasnya. "Ini, masalah hubungan kita," lanjutnya.
"Hubungan? Apa Mas Hanif benar-benar akan memperjelas hubunganku dengannya?" batin Nara, sudah ge'er duluan.
"Ada apa dengan hubungan kita?" tanya Nara.
Hanif kembali mengatur nafasnya, jantungnya sudah berdetak tak karuan. Ia benar-benar gugup dan takut.
"Bismillah," gumamnya pelan.
"A-aku akan jujur padamu. Kalau aku sudah menikah, Nara," ujar Hanif tegas, sambil menatap dalam kedua bola mata Nara.
Nara terdiam tak mengerti. Bukan kaget atau shock, ia hanya bingung dan tak mengerti dengan ucapan yang dikatakan oleh lelaki yang dicintainya itu.
"Maksudmu apa Mas? Menikah apa?" tanya Nara.
Hanif semakin menatap kedua bola mata Nara, merasa tidak tega. "Aku... sudah menikah satu bulan yang lalu," ucapnya dengan begitu jelas.
"Apa!" Terkejut bukan main, tapi Nara tak mau berpikiran yang tidak-tidak. "Menikah dengan siapa Mas? Dan kenapa? Kau tidak sedang berbohong kan?"
"Tidak Nara, aku berkata jujur. Satu bulan yang lalu, aku menikah dengan seorang wanita. Aku dijodohkan oleh kedua orang tuaku Nara."
Nara begitu tercengang mendengarnya, ia tak habis pikir kalau lelaki yang disayanginya itu tega berkhianat padanya. Hatinya seolah ditikam oleh ribuan pisau, yang teramat menyakitkan hatinya.
"Kenapa?" lirih Nara bertanya dengan matanya yang mulai berkaca-kaca. "Kenapa kamu menerimanya Mas?" ucapnya lagi dengan bibir yang sudah bergetar, menahan amarah dan kekecewaan yang bergejolak di hati.
"Maafkan aku Nara, a-aku tidak bisa menolak," tutur Hanif, hendak memegang tangan Nara, tapi Nara terlebih dahulh menjauhkan tangannya dari jangkauan Hanif.
Tiba-tiba, pelayan pun datang. Membawakan pesanan mereka. Hanif tahu, makanan yang dipesannya itu pasti tidak akan termakan dalam keadaan seperti ini. Hanif pun langsung membayar makanannya itu kepada pelayan. Lalu pelayan itu pun pergi.
Nara masih terdiam, sambil menundukkan kepalanya dalam-dalam. "Apa maksud semua ini? Kenapa semuanya jadi begini?" batinnya.
"Nara... maafkan aku Nar, a-aku benar-benar tidak berniat mengingkari janjiku. Aku tahu aku salah karena aku tak bisa menolak perjodohan itu, tapi —"
"Kalau begitu nikahi aku juga Mas!" tegas Nara, menatap manik mata Hanif dengan begitu tajam. Seolah menyiratkan sebuah kekecewaan yang mendalam.
"Apa yang kau bilang Nara, aku tidak mungkin menikahimu, aku sudah memiliki istri," kilah Hanif.
"Apa! Mas bilang tak mungkin menikahiku?" Nara langsung berdiri dari duduknya. Ia benar-benar tak habis pikir atas kenyataan yang terjadi sekarang ini.
Bersambung....
Mau menyamakan. Aisyah ya beda level lah Nara kamu mah ga ada apa apanya
Kamu selingkuh Hanif
Biar Aisyah sama Adam aja
minta ke Aisah baik2
jngan pake cra yg keji , jahat