Darren adalah anak yatim piatu yang diangkat anak oleh Jhon Meyer, Owner XpostOne. Prestasinya sangat gemilang sehingga dia sering di perintahkan oleh Jhon Meyer untuk bertugas di daerah konflik.
Umurnya sudah dua puluh delapan tahun dan belum menikah. Ia berjanji sebelum bisa membalaskan sakit hatinya kepada keluarga Blossom, ia tak mau menikah. Dulu saat berumur sepuluh tahun orang tua dan kakaknya di bakar hidup-hidup oleh keluarga Blossom.
Suatu hari ia di perintahkan oleh Jhon Meyer untuk menyelamatkan tiga orang gadis yang terperangkap didesa Beduwi. Dengan berat hati ia pergi ke Bali, tapi apa yang dia temukan di desa itu? Ilmu hitam atau Le-ak. Sangat mengerikan dan hampir saja ia menjadi tumbal.
Saat mengetahui salah satu dari ke tiga gadis itu adalah putri keluarga Blossom, ia pun membuat rencana jahat untuk menyiksa gadis itu.
Apakah yang direncanakan oleh Darren? silahkan baca sampai tamat.
Trimakasih, jangan lupa like, coment***
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ayumi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB.09. KABUR
"Gung cepat lari aku menghadapi mereka." bisik Darren seraya mengambil kedua pistol yang di pegang oleh Agung. Tapi Agung tidak bisa bergerak kepalanya pusing.
Darren mulai men*mbak, ia sangat marah semua Le-ak yang tersisa di bunbun.
"Kurang ajar!! Berani kau melawan Ratu Leak!!" teriak Ratu Le-ak dari balik pohon. Rupanya dia bersembunyi disitu.
Tiba-tiba Ratu Le-ak mengacungkan tangannya ke atas matanya mengeluarkan api yang menyala dan huuppp....
Darren cepat tengkurap dan terdengar suara teriakan Agung. D*rah Darren mendidih mendengar suara Agung yang kena semburan api. Ia cepat men*mbak Ratu Le-ak yang kini melayang di atasnya.
Darren meng*muk, tidak satupun Le-ak lolos dari temb*kannya. Tapi dia masih kurang cepat, Ratu Le-ak lolos dari temb*kannya.
"Hahaha...tunggu pembalasanku, seluruh keluargamu akan aku m*kan!!" Ratu Le-ak melayang dan menghilang.
Darren cepat mencari Agung, dia melihat ada orang terbakar, ternyata tubuh Agung terbakar dan tidak bisa di tolong. Setelah api padam tubuh itu menjadi abu, tidak bisa di kenali lagi dan tak mungkin juga ia membawa pulang abunya.
"Gung, aku minta maaf tak bisa membantu saat Ratu Le-ak menyerangmu aku tak berguna, durhaka padamu, hukum aku. Ketika nyawaku di ujung tanduk, kau dengan gagah berani menyelamatkanku. Saat kau butuh pertolonganku, hiks...hiks..hiks... Aku tidak mampu...."
Air mata lelakinya berhamburan keluar, hatinya hancur melihat anak buahnya meregang nyawa dengan cara terbakar hidup-hidup. Dua kali ia melihat orang terbakar hidup-hidup. Dulu keluarganya dan kini Agung.
Bayangan kakaknya dan orang tuanya menari-nari di pelupuk mata. Darren terus sesambat, dia sangat sedih. Tak bisa terlukiskan betapa hancur hatinya.
Saat ayam berkokok di kejauhan ia baru sadar, ternyata sudah subuh ia harus cepat pergi sebelum warga desa menangkapnya.
Ia memakai jubahnya dan membawa sisa senjata serta granat. Granat Agung pasti tertinggal dibawah pohon beringin tapi ia tidak mau membuang waktu untuk mengambilnya.
Saat mau melangkah pergi ia menoleh ke sekeliling, ia kaget, tidak satupun terlihat m*yat Le-ak yang tadi menumpuk disitu. Dua orang gadis yang tergantung juga lenyap. Ia jadi merinding, bulu kuduknya seketika berdiri.
Darren cepat berlari menembus semak belukar. Ia mengikuti kompas dari jam tangannya. Untung jam tangannya masih utuh walaupun kaca matanya hilang.
"Tunggu!!"
"Aghh..."
Darren kaget setengah mati ia seolah mendengar suara seorang wanita. Cepat ia mengambil pistolnya dan bersiap men*mbak. Kemudian ia memperlambat larinya menunggu suara itu. Tidak berani gegabah takutnya Le-ak.
"Tunggu, jangan pergi, tolong, saya wanita yang di ikat itu." serunya lagi.
Barulah Darren berhenti dan menunggu gadis itu yang datang terseok-seok. Ia juga tetap waspada karena wilayah ini masih termasuk desa Beduwi.
"Kamu gadis yang mana, khan ada tiga?" tanya Darren ragu.
"Aku gadis yang kamu kendorkan ikatannya."
"Ohh...cepat lari, mereka pasti mencari kita. Ini sudah mau pagi." ajak Darren kembali berlari.
"Larinya jangan terlalu kencang, kaki ku yang bekas di ikat, terluka. Fisik ku juga lemah karena dua hari tidak makan dan minum." ucap gadis itu lesu.
Darren berhenti, tanpa pikir panjang ia mengangkat tubuh itu, menggendongnya di bahu. Ia harus lebih cepat belari karena ia mendengar "kulkul bulus" ( kentongan besar yang di pukul dengan irama cepat) itu pertanda ada bencana.
"Hei..hah..turunin aku..." teriak gadis itu kaget. Ia berusaha berontak karena malu di gendong apalagi baunya tak enak.
"Kita tidak banyak waktu. Kalau mereka melihat kita, warga akan kembali menangkap kita." jelas Darren.
Benar saja, terlihat di kejauhan warga kampung Beduwi berkumpul. Darren takut dan memilih jalan lebih bersemak karena matahari sudah muncul.
Yang membuat kesal adalah anjing liar yang menggonggong dari ke jauhan. Untung anjing-anjing itu tidak mendekat, sampai mendekat ia akan menembaknya.
"Biarkan aku berjalan sendiri, aku malu membebanimu.." bisik gadis itu.
Ia tidak enak hati karena bau badannya, maklum tiga hari tidak mandi dan tidak ganti pakaian. Disamping itu badannya tinggi, pasti berat.
"Lihat kita di kejar..." ucap Darren panik. Tiba-tiba ia berhenti dan menurunkan Aluna. Ia mengambil granat melempar ke arah pemburunya.
Ledakan keras terjadi membuat warga kalang kabut. Mereka berlari mundur dan membiarkan Darren pergi. Warga Beduwi pasti kecewa tidak bisa menangkapnya.
Darren melanjutkan larinya sampai di depan rumah pak Lurah. Ia langsung menuju mobil. Garasi ini terbuka hanya di atapi alang-alang, jadi keluar masuk tidak perlu repot.
"Tunggu aku disini, aku mau mengambil ransel, jangan pergi." pesan Darren seraya menurunkan Aluna.
Ia berlari kecil memutari tembok dan meloncat untuk masuk kamar. Kembali matanya berair saat mengambil ransel Agung. Ia tidak mungkin pamit pulang kepada pak Lurah karena berisiko terhadap keselamatan pak Lurah.
"Maafkan aku pak Komang, aku pamit." bisiknya, lalu ia menaruh tip di atas kasur.
Pukul.06.50 wita.
Darren menarik nafas panjang, ia bersyukur bisa lolos dari pemb*ntaian itu.
"Minumlah dan makan yang ada di kulkas, maaf belum bisa mengajak mu makan. Setelah sampai denpasar kita baru bisa makan cepat saji." ucap Darren melihat dari kaca sepion. Gadis itu makan roti kering dan minum dengan lahap.
"Trimakasih kau telah menolongku, aku berhutang nyawa padamu. Aku juga ingat janjiku, apapun yang kau minta aku akan penuhi."
"Aku tidak meminta banyak, menikahlah denganku." canda Darren.
Hening..
Aluna membisu, hanya suara nafasnya terdengar memburu. Ia tidak berpikir kalau penolongnya meminta yang sulit di terima. Saat ini badannya bau, wajahnya cemong-cemong dan terlihat jelek. Pria ini kenapa masih ingin menikahinya?
Pasti karena tak laku. Tapi tak apa-apa, ia yakin setelah menikah dengan pria jelek itu, ia akan terus ingat tragedi di Beduwi. Tentu saja karena wajah pria itu mirip Le-ak. Duhhh...cobaan apa lagi yang harus di terimanya.
Darren terlihat seperti s*tan karena ia memakai topeng Latex, untuk menyamar sebagai agen XpostOne. Sekarang ia berusaha menguji gadis itu apa tetap mau menikahinya.
"Kau tidak mau padaku?" tanya Darren lagi pura-pura ngambek.
"Aku akan mengabdi padamu, bersedia jadi istrimu asal kau masih single..."
Darren kaget, tadi dia cuma bercanda tapi ia malas menarik omongannya. Ia malah melanjutkan jukenya.
"Kapan kita ke KUA? Tapi kau tidak punya wali nikah."
"Aku akan mencari wali hakim, aku sudah dewasa, semua akan aku lakukan karena hutangku padamu, jika suatu hari kau bosan padaku katakan terus terang, aku akan pulang."
"Hahaha....asyik juga, mari kita berpesta." Darren membelokan mobilnya ke resto cepat saji. Ia memilih drive thru.
"Aku kangen Bali, jiwaku berontak ingin tinggal di Denpasar. Haii.. Gadis kau tinggal dimana?" tanya Darren saat mereka kembali menyusuri jalan by pass Sanur.
"Aku tinggal...."
*****