Snow Tierra Arashi, seorang host terkenal yang menikah dengan seorang arsitek muda bernama Panutan Aaric Semesta.
Tak pernah terbayangkan sebelumnya, jika kehidupan pernikahannya ternyata jauh dari kata bahagia, lantara ibu mertua dan adik iparnya selalu ikut campur dalam persoalan rumah tangganya.
Akankah Snow akan bertahan dengan rumah tangganya atau ia justru akan kembali pada Calla Nirwana, mantan kekasihnya yang masih begitu mencintai Snow?
Selengkapnya hanya di novel Snow in Paris.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Irma, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
CHAPTER - 23
Setelah hampir satu minggu di rawat, akhirnya dokter memperbolehkan Snow pulang ke rumah. Setelah membereskan administrasi dan barang-barang istrinya selama di rawat di rumah sakit, Aaric mengantar Snow pulang ke kediamannya. Namun sayangnya Aaric hanya bisa mengantar istrinya hanya sampai di teras lediamannya lantaran ia sudah terlanjur ada janji meeting dengan client pagi ini.
"Kamu masuk sama bibik ya, aku sudah terlambat meeting," ucapnya sembari membuka kunci pintu mobil, kemudian ia mengecup kening Snow sebelum istrinya itu turun dari mobilnya.
Tanpa bicara sepatah kata pun kepada Aaric, Snow mencium tangan Snow, lalu ia turun dari mobil. Untuk sesaat Snow memandangi rumah megah milik keluarga suaminya itu, rumah yang mungkin untuk sebagian orang adalah rumah impian namun untuk Snow tak ubahnya adalah sebuah neraka dunia.
Rasanya berat untuk melangkah masuk ke rumah itu, namun ia tak punya pilihan lain, sang asisten rumah tangga yang membawa barang-barangnya pun sudah memintanya untuk masuk. "Ayo mba Snow masuk, kata dokter mba Snow masih harus istirahat."
Menapaki ruang tamu kediaman suaminya, Snow sudah di sambut dingin oleh ibu mertuanya yang kemungkinan sudah dari tadi menunggu kedatangannya. Astrid duduk di sofa dengan tangannya melipat di dada serta tatapan matanya yang sinis tertuju pada menantunya.
"Bagaimana mau merawat suami, merawat diri sendiri saja tidak becus," ucap Astrid, tanpa basa basi ia langsung menghardik menantunya yang baru saja pulang dari rumah sakit. "Punya organ kewanitaan itu di rawat yang benar, apa lagi setelah selesai kuret. Jorok sekali kau ini bisa sampai infeksi dan pendarahan, padahal kau seharian setelah keluar dari rumah sakit kerjamu hanya bermalas-malasan."
Snow menoleh ke arah ibu mertuanya. "Maaf mom, aku pendarahan bukan karena aku jorok atau tidak merawatnya, tapi..." belum selesai Snow membela dirinya, Astrid langsung memotongnya. "Halaah, alasan saja kau ini. Itu pasti karmamu yang dulu sering di celup sana sini. Sungguh kasihan putra kebanggaku mendapatkan barang rongsok sepertimu."
Snow mengerutkan keningnya mendengar ibu mertunya begitu merendahkan dirinya. "Aku berani bersumpah aku tidak pernah tidur dengan pria mana pun, yang seperti mommy selalu tuduhkan kepadaku. Pendarahan kemarin terjadi itu lantaran Aaric yang memaksaku untuk berhubungan badan padahal aku sudah menolaknya," Snow tak dapat menahan rasa amarahnya, ia sudah lelah selalu di anggap murahan oleh keluarga Aaric terutama ibundanya.
"Jaga mulut kotormu itu!!" Bentak Astrid. "Beraninya kau memutar balikan fakta dan menuduh putraku melakukan hal itu," ia berjalan mendekat ke arah Snow. "Aku mendapatkan informasi itu langsung dari putraku dan dari rekam medismu."
Snow semakin di buat terkejut, ia tak menyangka jika suaminya berani memanipulasi rekam medis dan memberikan informasi yang tidak sesuai dengan fakta sebenarnya kepada ibu mertuanya. "Tidak, tidak seperti itu." Snow menggeleng.
Astrid berjalan mengitari Snow. "Sejak awal, aku tidak pernah merestui hubunganmu dengan putraku, tapi Aaric tetap nekat menikahimu. Dan sekarang terbukti, kau wanita yang bukan hanya malas, dan murahan, tapi juga suka fitnah. Bukan hanya itu, kau pun tukang adu domba. Kau mengadu yang tidak-tidak kepada Aaric, sehingga Aaric berani mengatur ibunya sendiri." Astrid menatap tajam dan penuh kebencian kepada menantunya. "Berkebun, memasak, membereskan rumah, itu adalah skill dasar yang harus di miliki oleh seorang wanita. Terlebih di rumah ini kau hanya menumpang, jadi sudah sepatutunya kau menyumbangkan sedikit tenagamu di rumah ini. Bukan malah mengadu domba aku dan anakku hanya karena kau malas mengerjakan apa yang aku perintahkan!!"
Astrid mengacungkan jari telunjuk ke wajah Snow. "Kau perlu catat baik-baik. Sampai mati, anak laki-laki tetap milik ibu kandungnya. Aku yang melahirkan dan membesarkannya, tanpa aku, Aaric tidak akan ada di dunia ini, jadi jangan pernah kau berani merebutnya!! Kau hanya orang asing yang menumpang hidup pada anak kesayanganku!!" bentak Astrid.
Snow menghela napas beratnya. "Kalau begitu suruh saja anak kesayangan dan kebanggaan mommy menceraikanku, agar mommy bisa memilikinya seumur hidup, permisi aku mau istirahat."ia melangkah kan kakinya meninggalkan ibu mertuanya yang masih mengoceh di ruang tamu.
"Beraninya kau menantangku, DASAR MENANTU TIDAK TAHU DI UNTUNG!!" teriak Astrid.
"Dia pikir aku keluar dari batu? Aku pun sama di lahirkan dan di besarkan oleh seorang ibu, bahkan ibuku membesarkanku seorang diri, tapi ibuku tidak pernah gila hormat, tidak pernah meminta apa pun dariku apa lagi dari mas Aaric. Beliau hanya menginginkan aku bahagia bersama keluraga kecilku, meski kenyataannya aku sama sekali tak bahagia" gerutu Snow sembari menaiki tangga menuju kamarnya, ia berpikir seharusnya dalam sebuah pernikahan, sebagai seorang anak harus sama adilnya baik itu dalam masalah waktu, materi dan perhatian kepada orang tua maupun mertua.
Tapi yang terjadi setelah menikah, Aaric hampir tak pernah peduli dengan ibundanya, berbeda ketika sebelum menikah, hampir satu minggu sekali Aaric berkunju g ke Bandung untuk merebut hati ibundanya agar memberikan restunya.
Langkah Snow terhenti tepat di depan kamarnya, rasa trauma akan perbuatan Aaric yang menghujamnya dengan kasar masih terekam jelas dalam benaknya. Ia menutup kembali pintu kamar itu, dan memutuskan untuk beristirahat di kamar tamu. "Bik tolong ambilin laptopku di kamar ya, aku mau istirahat di kamar tamu saja," pinta Snow, ia bergegas menuju kamar tamu yang masih berada di lantai dua kediaman Aaric.
Meski kamar itu tak sebesar kamarnya, namun rasanya masih jauh lebih nyaman jika di bandingkan dengan kamarnya yang penuh dengan kepingan kenangan buruk. Snow mengambil laptop yang di berikan oleh asisten rumah tangganya,kemudian memintanya meninggalkan dirinya sendirian.
Selama beberapa hari tak memegang handphone, sebab Aaric menyitanya, membuat Snow begitu mengkhawatirkan Sky. Bagaimana dengan progres bisnisnya? Karena hanya dirinya lah satu-satunya orang yang Sky andalkan untuk berdiskusi mengenai bisnisnya, bagaimana dengan editing foto atau video untuk bahan promosi bisnisnya? Sky belum mampu menggaji orang untuk mengerjakan itu, sehingga Snow sendirilah yang mengerjakannya.
Raut wajah Snow sedikit kecewa, saat mengatahui jika Aaric telah merubah password wifi di kediamannnya sehingga Snow sama sekali tidak bisa mengakses internet. Padahal tadinya, ia berniat mengirimkan pesan kepada Sky lewat internet. "Pria jahat itu benar-benar keterlaluan," gumamnya.
Tak ada yang bisa Snow lakukan untuk menghubungi Sky, sehingga ia pun menutup kembali laptopnya. Snow berjalan menuju balkon, ia memandangi taman depan kediaman Aaric dari atas balkon sembari memikirkan bagaimana caranya ia bisa keluar dari jeratan Aaric dan keuar dari rumah ini. "Apa aku harus melompat dari sini agar aku terbebas darinya." Seharian penuh Snow duduk di balkon sambil terus melamun, tatapannya kosong melihat orang-orang berlalu lalang melewati kediamannya. "Andai aku seperti mereka yang bisa bebas pergi kemana pun...."
cinta akan tetap berpulang pada yang berhak walaupun sudah menikah kalau bukan jodohnya pastinya tetap bercerai juga