Menantu Yang Tidak Diinginkan sebuah cerita yang dialami seorang wanita yang tidak diinginkan oleh mertuanya
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Siti Asiseh, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
23
Atau hanya Surya yang mengalami seperti itu, hanya Suryalah yang tahu seperti apa isi hati dan pikirannya.
“Kamu sudah makan mas?” tanya Fifi menatap Surya yang sedari tadi mengalihkan pandangannya
“Sudah, kamu mau makan?” tanya Surya balik
Fifi menggelengkan kepalanya.
“Mas” panggil Fifi
“Iya Fi kamu butuh sesuatu?” tanya Surya
“Kalau nanti aku pulang terus kaki aku belum sembuh total bagaimana ya mas, apalagi aku tinggal sendiri” Fifi menundukkan wajahnya
Surya juga bingung harus bagaimana, ia tak mungkin menyuruh sang ibu untuk mengurus Fifi kasihan dia. Surya juga tidak mungkin setiap saat selalu ada di dekat Fifi karna dirinya harus bekerja. Surya tak tahu harus menjawab apa, karna semuanya serba salah, ia tak mungkin membawa Fifi ke rumah pasti Nita tidak akan suka dan terima meski bisa saja ia memohon pada Nita.
“Nanti kita pikirkan lagi ya Fi, yang penting sekarang kamu cepat sembuh kamu jangan berpikiran yang lain dulu” ucap Surya
Fifi pun mengangguk, dan kembali mengangkat wajahnya.
Dara yang sudah kembali kini duduk di sofa, dan melihat Surya dan Fifi.
“Kenapa wajah kalian seperti bingung?” tanya Dara
Dara melihat Surya dan Fifi memang seperti orang yang bingung.
“Tidak tan, tadi aku cuma tanya sama mas Surya kalau nanti aku pulang aku bingung harus bagaimana, di rumah kan aku tinggal sendiri mamah sama papah tidak mungkin akan langsung pulang ke sini karna mereka masih ada pekerjaan” ucap Fifi
Dara pun mulai berpikir, ia tak tega meninggalkan Fifi di rumahnya sendirian. Ia juga tidak mungkin selalu merawat Fifi.
“Kalau kamu bawa suster dar sini bagaimana Fi?” tanya Dara
“Kayaknya tidak mungkin deh tan” Fifi mencoba mencari cara agar ia bisa dekat dengan Surya karna dengan seperti inilah Surya bisa ada di dekatnya
“Gimana ya?” Dara tampak memikirkan sesuatu “Kamu tinggal di rumah kita aja Fi” sambung Dara
Pernyataan Dara membuat Surya sedikit terkejut, meski hubungannya dengan Nita tidak seperti dulu tapi ia masih menghargai Nita sebagai istrinya. Surya menatap ibunya seolah minta penjelasan dengan ucapannya barusan, Dara yang melihat Surya seperti tidak setuju pun memberi pengertian.
“Kasihan Fifi Sur, kamu bilang ya sama Nita biar dia juga tidak terkejut nanti kalo kita ke sana. Ibu tidak mungkin membiarkan Fifi sendiri pasti mamahnya tidak terima apalagi mamahnya Fifi menitipkan Fifi pada ibu” jelas Dara
Surya menghela nafasnya “Nanti aku akan coba bicarakan dengan Nita bu” ucap Dara
“Apa tidak masalah tante kalau aku tinggal di sana?” tanya Fifi menunjukkan muka rasa tidak enak tapi di dalam hatinya ia senang bahkan berharap bisa lebih lama berada di sana
“Ya tidak dong Fi, kamu kan sakit jadi tidak mungkin aku membiarkan kamu sendirian yang ada mamah kamu marah nanti” ucap Dara
“Terima kasih ya tante, mas Surya” ucap Fifi
“Iya sama-sama Fi” jawab Dara
Setelah mengobrol dan hari juga semakin gelap, Surya pamit untuk pulang.
*
“Kamu kapan akan bawa calon mantu mamah ke sini Hengki?” tanya Sukma
Pertanyaan yang membuat Hengki malas menjawabnya dan mamahnya selalu bertanya itu.
“Do’ain saja mah” jawab Hengki sambil menyuapkan makannya ke mulutnya
“Jawaban kamu selalu begitu”
Sukma merasa kesal dengan jawaban Hengki, bukan apa-apa di usia Hengki yang sudah tidak muda lagi Hengki belum mempunyai pacar entah dia terlalu fokus pada pekerjaannya atau ada hal lain. Sukma selalu meminta menantu pada Hengki, tapi Hengki tak pernah menurutinya. Memang mencari menantu seperti mencari kue lapis, pikir Hengki yang selalu ditanya calon untuknya.
“Sudahlah mah, kasihan kakak lagian kalo nanti jodohnya datang pasti kakak akan menikah mungkin sekarang jodohnya lagi kena macet” ucap Dina yang mencoba mencairkan suasana
“Kamu ini ada-ada saja, mana mungkin kena macet” ujar Sukma
“Aku ke kamar ya mah” Hengki berdiri dan beranjak dari meja untuk bergegas masuk ke dalam rumahnya
Di dalam kamar Hengki merasa moodnya sudah hilang, bukannya Hengki tak mau mencari pacar tapi belum ada perempuan yang membuat hatinya nyaman. Hengki memang susah untuk melabuhkan hatinya pada seseorang.
Banyak wanita yang mengelilinginya, mulai dari rekan bisnisnya dan tentu karyawan di kantornya yang terpesona ketampanannya. Tapi tak ada satupun yang membuat Hengki tertarik, banyak rekan bisnisnya yang terang-terangan mengejar-ngejarnya atau sekedar ingin mendekatinya namun lagi-lagi Hengki tidak bisa membuka hatinya.
Hengki menghela nafasnya, ia sadar usianya sudah sangat matang untuk menikah, tapi ia belum mendapatkan tambatan hatinya.
Hengki tak mau pusing dengan masalah itu, ia memilih mencuci mukanya lalu naik ke atas ranjang untuk beristirahat. Cukup pekerjaannya yang menguras tenaga, ia tak mau memikirkan hal yang bisa membuat pikirannya terbelah dan membuatnya tidak fokus pada pekerjaannya.
Malam selalu menjadi penenang bagi mereka yang sudah lelah pada siang harinya, seperti Hengki yang mengerahkan semua pikiran dan juga tenaganya agar perusahaannya lebih maju dan berkembang lagi. Itulah mengapa Hengki dikenal sebagai pengusaha muda yang tidak mudah putus asa, bahkan ia akan membuat hancur orang yang sudah mengganggu bisnis dan juga keluarga.
Sebagai pebisnis banyaknya musuh sudah menjadi hal biasa, hal itu adalah orang-orang yang tidak suka dengan kesuksesannya ataupun mereka yang ingin mendapatkan bisnis yang sama namun gagal. Tapi Hengki dengan semua pengalamannya di dunia bisnis membuatnya selalu berhati-hati dalam setiap perbuatannya, apalagi musuhnya ada di mana-mana.
Keesokan harinya, Hengki yang baru saja bangun langsung mencuci muka dan menggosok giginya, setelah itu ia turun untuk sarapan.
“Selamat pagi semua” sapa Hengki yang langsung duduk di kursi
“Selamat pagi” ucap Sukma dan Dina
“Apa rencana kamu hari ini?” tanya Sukma pada Hengki
Hari ini adalah hari libur jadi Hengki tidak bekerja dan biasanya Hengki akan sarapan menggunakan celana pendek dan kaos namun itu semua tidak mengurangi tingkat ketampanannya. Apalagi rambut yang sedikit terkena air karna tadi mencuci muka.
“Tidak ada mah, ada apa?” tanya Hengki
“Temani mamah dan adik kamu ke Mal ya” ucap Sukma memohon
Hengki paling malas jika harus menemani mamah dan adiknya ke Mal, karna mereka berdua akan lupa waktu dan tentu saja Hengki akan terabaikan di sana dan itu membuat Hengki bosan
“Mamah sama Dina saja, lagian juga biasanya hanya berdua kenapa sekarang malah ngajak aku” Hengki mencoba menolak ajakan Sukma
“Kita sekalian belanja, masak kamu tidak mau belanja sekali-kali biar tidak kertas terus yang dilihat siapa tahu kamu ketemu jodoh di sana” ucap Sukma