Sequel dari PRIA 500 JUTA.
Alvaro, pria berusia 30 tahun ini kerap dijuluki DUREN MATENG yang berarti duda keren, mapan, dan ganteng. Pria ini memiliki seorang anak laki-laki yang berusia lima tahun, bernama Bima.
Tiba dimana Bima meminta kepada Alvaro untuk mencari wanita yang hendak dijadikan pengganti ibunya, terpaksa Alvaro pun berkencan dengan banyak wanita dan diberikan penilaian secara langsung oleh putranya sendiri.
Akankah Alvaro menemukan wanita yang cocok untuk dijadikan ibu untuk anaknya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ririn Puspitasari, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 23. Makanan Untuk Rania
Rania tengah melakukan lari pagi, memanfaatkan waktu liburnya untuk berolahraga. Wanita tersebut berhenti di sebuah warung, membeli sebotol air minum lalu menenggaknya hingga beberapa tegukan.
"Segarnya," gumam wanita tersebut.
"Bu, saya numpang istirahat sebentar ya," ujar Rania meminta izin pada pemilik warung.
"Boleh, silakan Nak," ujar ibu pemilik warung tersebut.
Rania pun menjatuhkan bokongnya di kursi panjang yang ada di warung itu. Ia mengelap keringat di dahinya dengan sebuah handuk kecil yang menggantung di lehernya.
Cukup lama Rania duduk di tempat tersebut sembari menatap ke arah jalanan.. Setelah dirasa cukup, Rania pun beranjak dari tempat duduknya. Gadis itu berterima kasih terlebih dahulu kepada pemilik warung sebelum melanjutkan larinya.
Tak terasa, Rania pun tiba di depan gedung bertingkat yang merupakan tempat tinggalnya itu. Rania menaiki lift, yang membawa dirinya menuju unit yang dihuninya.
Tinggg ....
Lift terbuka, saat Rania keluar dari ruang sempit tersebut, ia melihat seorang wanita yang tengah berdiri di depan pintu tempat tinggal Rania.
Rania mengenal sosok tersebut. Tak lain tak bukan wanita itu adalah ibu dari pria yang merupakan tetangganya itu.
Rania mendekati Arumi yang saat itu tengah memencet bel berulang kali.
"Ehemmm ...." Rania berdeham, membuat Arumi terkejut dan berbalik badan menatap ke arahnya.
"Ada apa, Tante?" tanya rania dengan sopan sembari mengulas senyumnya. Rania melihat wanita yang ada di hadapannya itu membawa rantang.
"Ah ini, tadi Alvaro memasakkan ini untukmu, tetapi dia tak berani memberikannya secara langsung karena merasa malu," tutur Arumi. Wanita itu berinisiatif memberikan sarapan kepada Rania dan menggunakan Alvaro sebagai umpannya.
"Terima kasih, Tante. Maaf tapi saya agak bau keringat," ujar Rania sembari menerima bingkisan dari Arumi.
"Kamu cantik, kamu tetap wangi kok," puji Arumi yang membuat Rania langsung tersipu malu.
"Oh iya, ngomong-ngomong Bu Isna kemana?" tanya Arumi.
"Mama pulang ke kampung Tante," jawab Rania.
Arumi mengangguk paham. " Ya sudah, kalau begitu lekas lah mandi dan sarapan. Semoga masakan anak Tante bisa cocok di lidah kamu," ujar Arumi sembari terkekeh.
Rania hanya menanggapinya dengan tersenyum simpul. Lalu Arumi pun kembali masuk ke rumah Alvaro. Rania menatap kepergian Arumi, seraya kembali mengucapkan terima kasih karena telah mengantarkan sarapan untuknya. Setelah Arumi menghilang dari balik pintu, Rania berbalik dan masuk ke dalam rumahnya.
Gadis itu menatap seksama rantang tersebut. Aroma dari dalamnya tampak menggugah selera, membuat cacing si dalam perut Rania minta diisi saat itu juga.
"Aku kurang yakin jika dia membuat masakan ini. Aku juga tidak percaya kalau dia yang berinisiatif memberikanku makanan ini," gumam Rania.
Perut Rania kembali berbunyi, membuat gadis itu langsung meletakkan makanannya di atas meja. "Sebaiknya aku mandi dulu, setelah itu makan. Ayolah cacing di perut, ku harap kalian bisa bersabar," ujar Rania bermonolog.
Gadis tersebut masuk ke dalam kamarnya, berencana hendak mandi. Namun, beberapa saat kemudian, ia kembali keluar dan berjalan menuju ke dapur.
"Tidak ada salahnya makan dulu sebelum mandi. Tenagaku terkuras karena berolahraga tadi, setidaknya aku membutuhkan energi tambahan sebelum berjalan menuju ke kamar mandi," ucap Rania.
Ia membuka bingkisan tersebut. Rania melihat sup yang begitu menggugah selera. Tanpa berlama-lama, wanita itu langsung menyantap makanannya.
"Enak juga," ujar Rania menilai rasa masakan tersebut. Gadis itu pun kembali menyantap makanan yang ada di hadapannya.
....
Di waktu yang bersamaan, Arumi terkekeh setelah menceritakan bahwa sup yang dibuat oleh Alvaro tadi diberikan pada tetangga sebelah.
"Bukankah tadi mama bilang kalau sup itu akan mama bawa pulang?" tanya Alvaro.
"Koki di rumah banyak. Jika mama menginginkannya, mama bisa meminta kepada bibi untuk membuatkannya,"timpal Arumi sembari tertawa.
"Ma, tapi itu kan ...."
"Tidak ada tapi-tapian, Varo. Ingat perjanjian mu tadi malam!" tegas Arumi.
"Tapi Alvaro menjawab bahwa Alvaro akan memikirkannya, bukan langsung menyetujuinya begitu saja," bantah Alvaro.
"Sssttt ...." Arumi meletakkan telunjuk tepat di depan mulut putranya itu.
"Bagi mama, ucapan kamu kemarin sudah masuk ke dalam daftar perjanjian. Ingat! Mama membenci orang yang ingkar janji. Mulai sekarang ...." Arumi mencoba merangkul bahu putranya.
"Duh, ternyata tidak sampai," celetuk Arumi yang langsung menurunkan tangannya, memilih merangkul punggung putranya itu.
"Mulai sekarang, kamu harus mengejar Rania. Tenang saja, mama akan membantu kamu mengejar cinta tetanggamu, misi utama di mulai." Arumi mengembangkan senyum liciknya, sementara Alvaro hanya bisa menghela napasnya menghadapi orang tuanya itu. Di tambah lagi dengan putra semata wayangnya yang sangat mendukung tindakan Arumi.
Siang itu, setelah cukup lama bermain dengan sang cucu dan berbincang dengan putranya, Arumi dan Fahri pun memutuskan untuk pulang. Jika berlama-lama, ia merasa tidak enak dengan Alvira yang ditinggal begitu saja.
Bima melambaikan tangannya kepada neneknya yang sudah berada di dalam mobil tersebut. Fahri mulai melajukan kendaraannya, membawa mobil itu kembali ke rumah utama.
Sementara di rumah utama, Alvira tengah mengumpulkan semua pelayan yang bekerja di rumah itu.
"Tentang kejadian semalam, jangan sampai ada yang membuka mulut atau pun mengadu kepada mama dan papa. Jika sampai itu terjadi, saya tidak akan segan-segan memecat kalian!" tegas Alvira pada seluruh pelayan tersebut.
"Paham kalian!!" bentak Alvira.
"Paham Nona," ujar seluruh pelayan. Mereka masih menyematkan panggilan Nona pada Alvira meskipun wanita tersebut telah menikah. Bagaimana pun juga, Alvira tetap lah gadis kecil yang mereka asuh hingga saat ini. Hanya saja, akhir-akhir ini wanita tersebut sering kali marah dan sedikit memiliki perasaan yang sensitif.
"Baiklah, kalau begitu kalian boleh pergi," ucap Alvira.
Semua pelayan itu pun langsung bubar dari barisan dan kembali melanjutkan pekerjaan mereka yang tertunda.
Alvira kembali ke kamarnya. Ia melihat dirinya di pantulan cermin. Wanita tersebut terkejut melihat matanya yang bengkak akibat menangis semalam. Alvira pun langsung duduk di depan meja riasnya, memoleskan make up pada wajahnya agar bengkak pada area matanya tak terlihat dengan jelas.
"Aku tidak ingin kedua orang tuaku mengetahui bahwa pernikahan yang ku jalani sudah di ujung tanduk," gumam Alvira dengan tangan yang masih memoleskan make up pada wajahnya.
Setelah selesai, Alvira pun beranjak dari tempatnya. Wanita tersebut melangkahkan kakinya ke arah jendela, melihat mobil yang sering di kendarai oleh ayahnya itu memasuki pekarangan rumah.
Alvira kembali melihat dirinya di cermin sebelum turun menemui kedua orang tuanya. "Sudah lebih baik, tidak terlihat bengkak lagi," gumam Alvira.
Wanita itu pun keluar dari kamarnya. Lalu kemudian menuruni anak tangga, untuk menemui kedua orang tuanya.
Bersambung ....
Bagiku👉 Semua boleh pergi, asal jgn ibu🙌