“Aku telah melihat masa depan kalian,” lanjutnya. “Dari abu pengorbanannya, jiwanya tidak hancur. Jiwa sang Ratu terlepas dari pusaran kehancuran dan ditakdirkan untuk terlahir kembali.”
“Sebagai apa?” suara Ragnar nyaris hanya bisikan.
“Sebagai manusia.”
“Manusia?” Ragnar tertawa pendek, pahit. “Makhluk fana, rapuh, dengan umur sekejap mata?”
“Justru karena itu,” jawab Holly. “Ia akan hidup jauh dari dunia kita, tanpa ingatan tentang perang, mahkota, atau pengorbanannya. Namun takdir tidak sepenuhnya kejam, bukan? Setidaknya dia terlahir kembali kali ini hanya untukmu.”
999 tahun pencarian....
“Akhirnya, aku menemukanmu, Ivory! Aku telah menepati janjiku untuk tidak melupakanmu dan datang menjemputmu.”
PLAK!
“Anda sudah keterlaluan! Dasar Bos Gila!” Kata Ivory penuh amarah.
Akankah takdir kali ini akan mempersatukan Ragnar dan Ivory kembali? Ataukah takdir sebelumnya akan terulang kembali?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Phopo Nira, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 28. Agenda Rapat Darurat
Dorian menutup wajahnya dengan satu tangan. “Kita sedang membahas hal penting tentang kaum werewolf dan penyihir hitam,” desisnya. “Kenapa kau tiba-tiba membicarakan tentang kemarahan reinkarnasi ratu? Bukankah ini bukan waktu yang tepat untuk membahas itu?”
“Justru itu,” jawab Denzel. “Membiarkan kemarahan reinkarnasi Ratu, akan membuat Yang Mulia kalah di bagian terpenting.”
Ragnar mengetukkan jemarinya ke meja. “Apa maksudmu.”
Denzel berdiri, mengitari meja seperti guru yang terlalu jujur. “Werewolf akan mencoba provokasi terbuka. Penyihir hitam akan menyusup dengan bisikan. Itu bisa kita selesaikan dengan mudah Tapi kemarahan reinkarnasi Ratu?” Ia mencondongkan tubuh. “Dia akan diam. Bisa diam-diam menjauh atau bahkan diam-diam menghilang tanpa jejak. Dan membiarkan Yang Mulia hancur oleh kesalahan sendiri karena telah mengabaikan kemarahannya.”
Morgan dengan cepat mengangguk setuju dengan apa yang Denzel katakan. “Benar sekali… saya juga mendengar bahwa reinkarnasi ratu akan menolak semua jalur komunikasi dengan anda, membatasi dirinya dengan Yang Mulia dengan kemarahannya sebagai alasan.”
Keheningan kembali turun seperti kabut dingin.
Denzel menghela napas panjang, memecah keheningan dengan berkata, “Dengan segala hormat, Yang Mulia… Ren dan yang lainnya mungkin akan memanfaatkan kesempatan ini. Jika reinkarnasi ratu tetap marah, mereka bisa memutarbalikkan narasi. Membuatnya semakin membenci anda dan kemungkinan terburuknya… reinkarnasi bisa memilih untuk bersamanya di kehidupan kali ini."
Brakk ….
Ragnar memukul meja yang ada dihadapannya hingga hancur tak bentuk lagi. Membuat suasana menjadi mencekam, karena keheningan yang seketika menyelimuti ruangan tersebut. “Tidak akan aku biarkan siapapun merebut reinkarnasi ratuku dari tanganku. Jika sampai ada yang berani ingin merebutnya, maka aku tidak akan segan membunuhnya.”
“Kalau begitu anda harus cepat melakukan sesuatu, Yang Mulia!” ujar Denzel memprovokasi.
“Apa kalian memiliki saran?” tanyanya akhirnya, suara rendah.
Denzel tersenyum puas. “Akhirnya pertanyaan itu anda ucapkan juga.”
Ia mengangkat satu jari. “Pertama, anda harus secepatnya meredakan amarah reinkarnasi ratu dengan cara apapun. Contohnya meminta maaf sambil memberikan barang-barang yang disukai oleh wanita pada zaman ini.”
“Mustahil,” sahut Theron. “Yang mulia jelas tidak bersalah, ia tidak perlu memin—”
“Haish, masa bodoh siapa yang bersalah dalam suatu hubungan. Zaman sekarang wanita selalu merasa benar dan pria yang selalu salah,” lanjutnya tanpa peduli, “jika ingin cepat memperbaiki hubungan, maka minta maaf saja. Mengaku salah, meski sebenarnya tidak melakukan kesalahan dan berjanji tidak akan mengulanginya lagi.”
“Mana bisa seperti it—"
Ia mengangkat jari ketiga. “Dan yang terpenting: jika kau ingin meredakan amarahnya—”
Ia menatap langsung Rajanya, tatapan yang mengandung banyak makna tersembunyi yang seakan hanya mereka berdua saja yang bisa memahaminya. “—berhentilah menemui dan mendekati dia sebagai Raja Vampir Ragnar Rowan Agharon ataupun Bos dari Rowan Group”
Dorian sungguh tak mengerti. “Maksudmu?”
“Datanglah hanya sebagai seorang pria yang mencintai dan menginginkannya,” lanjutnya.
“Tanpa sihir. Tanpa pasukan. Tanpa kendali. Tanpa kekuasaan dan yang lebih penting tanpa memaksanya.”
Morgan tiba-tiba berbisik, hampir tak terdengar, “Tapi jika itu masih gagal…?”
Denzel terkekeh pelan penuh percaya diri. “Tidak mungkin! Aku yakin seratus persen cara ini pasti akan berhasil. Bukankah Dorian sudah menyiapkan beberapa scenario untuk mendekatinya. Maka gunakan itu untuk mempermudah rencananya.”
Ragnar lantas berdiri sembari tersenyum puas dengan saran yang Denzel berikan. Keputusan terpatri di matanya. Sekarang di mata Ragnar semuanya sudah cukup jelas, ia sudah memastikan bahwa Ivory Asteria memang reinkarnasi ratunya. Begitu juga kakak perempuannya, Elena Rosalia sebagai reinkarnasi dari pemilik murni sihir hitam. Kini ia akan lebih mudah membuat keputusan untuk kedepannya.
“Bagus sekali Denzel!” Ragnar tak lupa memberikan pujian. “Kalau begitu aku akan fokus mendekati reinkarnasi ratuku dengan Dorian yang akan membantuku. Morgan, tetap awasi pergerakan penyihir hitam dan cari tahu apa yang mereka sembunyikan. Sementara Theron yang akan mengawasi pergerakan kaum werewolf. Dan untukmu Denzel ….”
“… Kau tetap pada tugas utamamu. Mendekati reinkarnasi dari pemilik murni sihir hitam. Jika diperlukan kau bisa menjadikan dia sebagai kekasihmu.” Lanjutnya.
“Apa?!” Betapa terkejutnya Denzel saat mendengar kalimat terakhir yang Rajanya lontarkan. “Aku memberikan saran terbaik untukmu, tentu dengan sebuah imbalan. Aku ingin bertukar tugas dengan Theron atau Morgan saja. Kenapa kau malah—"
“Rapat selesai,” katanya memotong ucapan Denzel yang sepertinya masih panjang. “Tidak ada yang perlu ditukar. Karena sudah aku katakan sebelumnya, bukan? Hanya kau yang bisa menangani reinkarnasi dari pemilik murni sihir hitam. Hanya kau yang bisa menghentikan ketika dia mencoba membangkitkan kembali kekuatan di kehidupan masa lalunya.”
Setelah mengatakan itu, Ragnar langsung menghilang kembali ke Mansion utamanya sebagai Tuan Rowan, Ceo dari Rowan Group. Dorian jelas segera mengikutinya, sementara Theron dan Morgan menjalankan tugas masing-masing. Tersisa Denzel yang masih terdiam merenungi nasibnya.
“Kenapa harus aku yang berurusan dengan wanita setan itu? Ini akan menjadi mission imposible untukku. Apalagi aku baru saja mengabaikan semua pesan dan panggilannya. Sekarang… apa yang harus aku lakukan?” gumamnya frustasi.
Dan untuk pertama kalinya dalam sejarah Kerajaan Vampir Agharon, rapat perang berakhir bukan dengan rencana serangan pada musuh, melainkan dengan satu misi yaitu meredakan amarah sang reinkarnasi ratu vampirnya.
...****************...
Keesokan harinya, perusahaan kembali berjalan seperti biasanya. Para karyawan satu persatu mulai memasuki gedung tinggi yang menjulang di tengah kota seperti monumen kesombongan. Kaca hitam, baja gelap, dan logo perusahaan berbentuk mahkota yang disamarkan sebagai desain futuristik. Perusahaan milik sang Raja Vampir, Ragnar Rowan Agharon. Kerajaan modernnya.
Begitu juga dengan Kakak beradik yang baru saja tiba di lobi perusahaan dengan perasaan enggan. Jika bukan karena kontrak kerja yang sudah dimanipulasi oleh Ragnar dan penyihirnya, maka Elena dan Ivory sudah menghilang sejauh mungkin dari perusahaan tersebut.
“Ivo, berusaha ‘lah menghindarinya sebaik mungkin mulai sekarang. Tenang saja, Kakak akan berusaha mencari uang untuk membayar denda pemutusan kontraknya agar kita segera terlepas dari mereka sebelum mereka menyadari kebenaran tentang tanda reinkarnasi mu,” ujar Elena mengkhawatirkan adiknya.
“Tenang saja, Kak! Kali ini aku benar-benar akan membangun batas yang nyata dengannya,” balas Ivory.
“Emmm, kakak selalu percaya padamu!” ucap Elena dengan tatapan lembutnya.
“Kalau begitu aku akan langsung ke ruanganku!” pamit Ivory, sementara Elena mengangguk menatap kepergian sang adik yang menghilang dalam lift.
...****************...
Lift berhenti di lantai teratas dengan ding pelan. Begitu pintu terbuka, amarah langsung tumpah ke udara ketika Ivory mulai memasuki ruangan Ceo. Suasana hatinya semakin menggelap saat melihat Ragnar dan asistennya rupanya sudah berada di ruangan tersebut.
“Selamat pagi, Nona Ivory.” Sapa Dorian.
“Pagi,” jawabnya ketus.
“Selamat pa—"
“Khusus untuk anda. Jangan bicara padaku, jika tidak berkaitan dengan masalah pekerjaan. Karena selain masalah pekerjaan, aku tidak akan menjawabnya.” Suara itu dingin. Tajam. Mengandung kebencian yang belum sempat mendingin.
Bersambung ….
Jangan sampe ada pertumpahan darah. Ya, meskipun kaum Vampir memang identik dengan hal itu... 😩
Tubuhnya masih belum menerima kekuatan sihirnya... Sehingga Denzel harus turun tangan untuk mengendalikan sihir hitam milik Elena...
Ivory yang sabar yah, aku yakin kakakmu akan baik-baik saja.. Benar kata Ragnar, sebaiknya kamu tinggal di Istana dulu.. Karena kaum Werewolf masih berkeliaran... 😩
Dan sekarang, Ivory udah pulang ke rumahnya, ke Istana nya bersama Ragnar...
Kabar Elena gimana yah? Apa dia udah baik-baik saja?
Karena kalo ngga, nyawa Dorian sendiri yang jadi taruhannya 🤣