NovelToon NovelToon
Metaforis (Lilin Yang Tak Pernah Padam)

Metaforis (Lilin Yang Tak Pernah Padam)

Status: sedang berlangsung
Genre:Menjual Anak Perempuan untuk Melunasi Hutang / CEO / Dijodohkan Orang Tua
Popularitas:784
Nilai: 5
Nama Author: Yun Alghff

Ria, seorang gadis yang harus menanggung aib kedua orangtuanya seumur hidupnya. Lahir sebagai anak haram. Di belenggu sangkar emas dalam genggaman Ayahnya, di siksa lahirnya, dan di cabik batinnya. Ria terpaksa menikah dengan Pria dingin tak berperasaan bernama Arya. fisik Ria tidak terluka bersama Arya, namun batin Ria semakin tersiksa. Sampai ajal menjemput Ria, Arya baru tahu apa arti kehilangan cinta.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Yun Alghff, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Gema Penyesalan

Lampu merah di atas pintu ruang operasi menyala, menandakan pertaruhan nyawa sedang berlangsung di dalam sana. Arya duduk di kursi tunggu yang dingin, namun ia segera berdiri lagi. Ia tidak bisa diam. Lantai rumah sakit yang putih bersih itu kini menjadi saksi bisu dari langkah kakinya yang gelisah.

Ia menunduk, menatap noda darah di kemejanya. Darah Ria. Darah yang sama yang sering ia abaikan saat wajah istrinya memucat hari demi hari.

Dalam kesunyian koridor yang mencekam, ingatan Arya berputar kembali seperti film tua yang menyakitkan.

Ia ingat malam-malam saat ia pulang kantor dengan suasana hati yang buruk. Ria selalu berdiri di sana, menyambutnya dengan senyum tulus meski matanya tampak lelah.

"Mas sudah pulang? Mau aku buatkan teh?" suara lembut itu terngiang kembali.

Dan Arya teringat jawabannya yang dingin: "Jangan ganggu aku. Singkirkan wajahmu dari depanku. Setiap melihatmu itu rasanya sangat menjijikan."

Ia ingat betapa bangganya ia saat membawa Ria ke pesta kolega bisnisnya. Baginya saat itu, Ria hanyalah piala, sebuah pajangan cantik yang bisa ia pamerkan untuk memperkuat citra pria berkeluarga yang sempurna. Semua mengagumi kecantikan dan keanggunan Ria, hal itu jelas membuat Arya semakin menjadi manusia yang tak terkalahkan. Namun sayang, di balik kekaguman orang-orang dan kepatuhan Ria, Arya tak pernah bertanya apakah kaki Ria sakit karena memakai heels terlalu lama, atau apakah Ria merasa tidak nyaman saat kerabatnya melemparkan sindiran tajam.

"Aku menganggap mu benda mati, aku bersalah padamu, Ria..." bisik Arya pada dirinya sendiri, suaranya tercekat oleh tangis yang tak lagi bisa ia bendung.

Arya menutupi wajahnya dengan kedua tangan. Ia mengingat betapa seringnya ia membentak Ria hanya karena hal-hal sepele—dasi yang kurang rapi atau keterlambatan beberapa menit dalam menyiapkan sarapan. Dan Ria? Ria hanya akan menunduk, meminta maaf dengan suara gemetar, lalu tetap melakukan tugasnya tanpa sekali pun mengeluh.

Dulu, Arya merasa sangat berkuasa karena memiliki istri yang begitu penurut. Ia merasa hebat karena bisa menundukkan seorang wanita cantik dan anggun tanpa perlawanan. Namun kini, ia menyadari bahwa kepatuhan Ria bukanlah tanda kelemahan, melainkan tanda bahwa Ria telah memberikan segalanya untuk pria yang justru menghancurkannya perlahan.

"Ternyata saat kau tersenyum setelah aku bentak, kau sedang menahan sakit di tulang-tulang mu," isak Arya. "Saat kau diam-diam menyiapkan jas dan kopiku, kau mungkin sedang berjuang melawan rasa pusing yang hebat..."

Setiap perhatian kecil yang Ria berikan tanpa diminta kini terasa seperti belati yang menusuk ulu hati Arya. Ia menyesali setiap detik yang ia buang dengan bersikap dingin. Ia menyesali setiap kata-kata kasar yang ia lemparkan seperti sampah pada seseorang yang sedang menanti ajal dalam kesendirian.

Arya jatuh berlutut di depan pintu ruang operasi. Sosok pria arogan dan penguasa itu telah hilang, menyisakan seorang pria hancur yang kehilangan arah.

"Jangan ambil dia sekarang, Tuhan, aku memohon pada-Mu..." doanya dalam hati, dahi menempel pada pintu logam yang dingin. "Beri aku satu kesempatan lagi. Bukan untuk memilikinya sebagai pajangan, tapi untuk menjadi hamba bagi kebahagiaannya. Aku ingin menebus setiap air mata yang ia jatuhkan karena aku."

Waktu terasa berhenti. Detak jantung Arya berpacu dengan suara monitor yang sayup-sayup terdengar dari balik pintu. Ia bersumpah, jika Ria keluar dari sana dengan selamat, ia akan melepaskan segala kemegahannya hanya untuk memastikan Ria tidak pernah lagi merasa kedinginan di tengah dunia yang kejam ini.

Pintu ruang operasi akhirnya terbuka dengan suara mendesis yang memecah kesunyian. Arya tersentak, ia langsung berdiri dengan kaki yang terasa kaku. dr. Gunawan keluar lebih dulu, melepas masker bedahnya dengan gerakan yang terasa sangat lambat. Wajahnya tampak pucat dan guratan kelelahan tercetak jelas di bawah matanya.

"Gun..." suara Arya parau, nyaris hilang.

dr. Gunawan menghela napas panjang, menatap sahabatnya dengan tatapan yang sulit diartikan. "Operasi pertama untuk menghentikan perdarahan internal dan menstabilkan kondisinya berhasil, Arya. Kami sudah melakukan yang terbaik untuk tahap ini."

Ada sekilas rasa lega yang menyapu dada Arya, namun itu hanya bertahan sedetik sebelum dokter itu melanjutkan kalimatnya.

"Tapi ini baru permulaan. Ria belum melewati masa kritis. Tubuhnya sangat lemah, Arya. Dia kehilangan terlalu banyak massa tulang dan sel darah sehat. Kita harus menunggu beberapa minggu untuk melihat apakah dia bisa bertahan sebelum melakukan operasi lanjutan atau tindakan kemoterapi intensif. Semuanya... benar-benar tergantung pada keinginan tubuhnya untuk bertahan hidup."

Kalimat "tergantung pada keinginan tubuhnya" menghantam Arya lebih keras daripada benturan fisik apa pun. Ia tahu benar, selama ini Ria sudah menyerah. Ria sudah tidak ingin berjuang. Bagaimana mungkin tubuhnya akan bertahan jika jiwanya sudah bersiap untuk pergi?

"Apa maksudmu? Kau dokter terbaik, Gun! Lakukan sesuatu!" Arya mencengkeram kerah baju dr. Gunawan, namun tenaganya sudah tidak ada. Ia hanya bisa bersandar pada bahu temannya itu, terisak tanpa suara.

"Kami hanya perantara, Arya. Sekarang, hanya doa dan keajaiban yang bisa membantunya," dr. Gunawan menepuk bahu Arya dengan prihatin.

Arya melepaskan cengkeramannya. Ia berbalik dan berjalan menjauh dari ruang operasi. Langkah kakinya terasa berat, seolah ia sedang berjalan di atas air yang dalam. Ia tidak tahu harus ke mana. Lorong rumah sakit yang panjang dan terang itu terasa seperti labirin tanpa ujung.

Dunia yang selama ini ia bangun dengan ambisi, uang, dan kekuasaan, mendadak hancur berkeping-keping. Segala kekayaan yang ia miliki tidak bisa membeli satu persen saja kepastian bahwa Ria akan membuka matanya kembali. Ternyata terlambat menyadari sesuatu itu sangat menyakitkan. Kenapa perasaan ini datang di saat Ria sekarat? Arya terus mengutuk dirinya sendiri di setiap langkah kakinya yang begitu berat.

Arya sampai di depan kaca besar ruang ICU, tempat Ria baru saja dipindahkan. Di sana, di balik kaca tebal, ia melihat istrinya. Ria tampak begitu kecil di tengah mesin-mesin besar yang mengelilinginya. Kabel-kabel menempel di tubuhnya, dan suara ritmis alat pacu jantung menjadi satu-satunya bukti bahwa Ria masih ada di dunia ini.

Ia menempelkan telapak tangannya di kaca.

"Dulu kau yang selalu menungguku pulang, Ria," bisiknya lirih, napasnya memburamkan kaca di depannya. "Sekarang, aku yang akan menunggumu di sini. Aku tidak akan pergi satu inci pun. Aku akan berdiri di sini sampai kau bangun dan memarahiku karena melanggar janjiku. Aku mohon, berjuanglah Ria."

Arya terduduk di lantai, bersandar pada dinding di bawah kaca ICU. Ia mengabaikan asistennya yang datang membawakan kabar tentang pekerjaan atau makanan. Baginya, hidup sudah berhenti berputar. Ia merasa sedang melayang di ruang hampa, menunggu apakah fajar yang ia lihat bersama Ria di bukit itu adalah fajar terakhir, ataukah awal dari sebuah kesempatan kedua yang tidak pantas ia dapatkan.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!