cerita fantasi berlatarbelakang zaman majapahit, ada plot twistnya, ada pengkhianatannya, penghiatan cinta, sahabat, ada percintaan, percintaan sebelah tangan, cinta segitiga, ada intrik sosial ada intrik politik, pemeran utama adalah anak penguasa yang terbuang, dihinakan, terlunta-lunta dengan dibenci karena orang tuanya yang dicap penghianat, pada akhirnya dia menapak sedikit demi sedikit dengan menyembunyikan identitas, merangkak naik kekuasaan untuk membalas dendam, pemeran utama tidak baik-baik amat, dia juga menggunakan cara-cara untuk mencapai tujuan baik itu cara licik, pura2 menjalin hubungna asmara, pura-pura bersahabat untuk mencapai tujuan
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mokhammad Soni, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
EPISODE 15 – JEJAK YANG DIPILIH
Perjalanan dilanjutkan tanpa kesepakatan yang pernah diucapkan.
Mereka berangkat saat kabut masih menempel rendah di tanah, seolah bumi enggan melepaskan rahasianya. Barisan pengungsi itu bergerak perlahan, mengikuti jalur tua yang dahulu dipakai pedagang dan utusan kerajaan—jalur yang kini hanya dikenali oleh mereka yang hafal lekuk tanah dan arah angin.
Raka berjalan di tengah. Tidak di depan, tidak pula di belakang. Ia memilih tempat yang paling aman: di antara langkah orang lain. Ia tahu, di tempat itu pandangan tidak terlalu tertuju padanya, dan ia bisa meniru langkah tanpa harus memimpin.
Nenek tua itu berjalan beberapa depa di depan, tongkat kayunya mengetuk tanah dengan irama yang ajeg. Tidak cepat, tidak lambat. Seperti orang yang tahu persis ke mana ia akan pergi, meski tak pernah mengatakannya.
Raka memperhatikan punggung nenek itu. Bahunya kecil, tapi tegak. Rambutnya digelung sederhana, diselipkan peniti kayu yang sudah aus. Dari caranya melangkah, Raka tahu nenek itu bukan orang sembarangan. Setiap pijakan seperti sudah diukur, setiap berhenti seperti sudah diperhitungkan.
Ia ingin bertanya. Tentang tujuan. Tentang siapa mereka. Tentang mengapa ia seolah dibiarkan mengikuti tanpa syarat.
Namun setiap kali hendak membuka mulut, kata-kata itu kembali tenggelam.
Di perjalanan, percakapan kecil mulai terdengar. Basa-basi yang ringan, seperti orang-orang yang mencoba meyakinkan diri bahwa hidup masih berjalan.
“Air sungai di depan katanya jernih,” kata seorang lelaki sambil menyesuaikan ikat pinggangnya.
“Jernih ora jernih, sing penting ora dijaga prajurit,” sahut yang lain, disambut senyum tipis.
Tidak ada tawa lepas. Hanya senyum yang cepat padam.
Raka ikut tersenyum kecil, lebih sebagai refleks daripada perasaan. Ia belum berani terlibat. Ia hanya menyerap, mengamati, dan menghafal.
Menjelang siang, mereka berhenti di sebuah tanah lapang kecil, bekas huma yang ditinggalkan. Sisa tunggul padi kering masih terlihat, seperti tulang belulang masa lalu. Di sini, angin berhembus lebih bebas, membawa bau tanah dan dedaunan kering.
Beberapa orang duduk, membuka bekal seadanya. Umbi, nasi kering, sedikit ikan asin. Tidak ada pembagian resmi. Makanan berpindah tangan dengan isyarat dan anggukan.
Raka duduk agak terpisah, ragu untuk mendekat. Ia memegang perutnya yang mulai terasa perih.
Nenek tua itu menghampiri. Tanpa kata, ia menyodorkan bungkusan kecil berisi nasi dan sayur kering.
“Ayo le dimakan,” katanya.
Raka menerimanya. Jarinya menyentuh jari nenek itu sesaat. Kulitnya kasar, hangat. Ada rasa aman yang tidak bisa ia jelaskan, dan itu justru membuatnya takut.
“Terima kasih Nek,” ucap Raka pelan.
Nenek itu mengangguk. Tidak ada senyum, tidak ada penegasan. Ia lalu duduk di samping Raka, menatap ke depan.
“Kami ndak perlu terlalu mikir ndak perlu tahu semuannya saat ini,” katanya kemudian. “yang terpenting, kamu masih ingat siapa dirim.”
Raka menunduk. Ia mengangguk, meski belum sepenuhnya paham.
Di sisi lain lapangan, dua orang berbincang dengan suara tertahan.
“Kang, siapa sih bocah itu kok ikut terus, sendirian lagi” kata seorang laki-laki dipojokan yang mulai jangal dengan keberadaan anak kecil yang ikut terus tanpa pelindung/orang tua
“Jangan terlalu pingin tahun kang, urus diri sendiri saja.” kata temannya
“Ya hanya aneh saja.”
Dan lagi-lagi Raka teringat kata milih yang diucapkan si Nenek, kata ”milih” itu menancap di benak Raka. Memilih. Apakah ia benar-benar memilih, atau hanya mengikuti arus karena takut tenggelam?
Perjalanan dilanjutkan sore hari. Jalur mulai menurun, memasuki wilayah yang lebih lembab. Jejak air terlihat di tanah. Di kejauhan, suara burung rawa terdengar.
Raka mulai merasa lelah. Kakinya pegal, punggungnya nyeri. Tapi ia tidak mengeluh. Ia takut, sekali ia bersuara, perhatian akan tertuju padanya.
Saat itulah ia tersandung.
Tubuhnya terjerembap ke tanah, telapak tangannya tergores batu kecil. Perih menjalar, dan darah tipis mengalir.
Sebelum ia sempat bangkit, nenek tua itu sudah berdiri di sampingnya. Tangannya menarik Raka dengan gerakan cepat namun lembut.
“Ati-ati, le, kalau jalan dengan mata” katanya singkat.
Ia mengikatkan sepotong kain pada luka Raka, gerakannya cekatan. Tidak ada panik. Tidak ada drama.
Raka menatapnya, napasnya masih tersengal.
“Matur nuwun,” ucapnya lirih, kata itu keluar begitu saja.
Nenek itu menatapnya sesaat, lalu mengangguk.
Di mata Raka, momen itu terasa penting. Bukan karena lukanya, tapi karena kesadaran yang tumbuh: ia tidak sendirian. Dan itu berbahaya.
Malam turun perlahan. Mereka berhenti di tepi hutan kecil, cukup jauh dari jalur utama. Api dinyalakan kecil, dijaga rendah agar tidak menarik perhatian.
Orang-orang duduk melingkar. Beberapa berbagi cerita ringan, tentang ladang yang ditinggalkan, tentang keluarga yang entah di mana. Cerita-cerita itu tidak mencari simpati, hanya mencari teman dengar.
Raka duduk di dekat api, memeluk lutut. Hangat api menenangkan tubuhnya, tapi pikirannya gelisah.
Ia menyadari sesuatu: sejak pagi, ia selalu berada dekat nenek itu. Tanpa disadari, langkahnya mengikuti, duduknya memilih dekat, pandangannya mencari sosok itu saat gelisah.
Ketergantungan.
Kata itu muncul pelan, tapi jelas.
Ia takut pada dunia di luar kelompok ini. Tapi ia juga mulai takut pada rasa nyaman yang tumbuh.
Di seberang api, seorang lelaki menatap nenek itu lama, lalu berkata, “Laku iki mbokmenawa ora adil.”
Nenek itu mengangkat wajah. “Adil atau tidak adil, tergantung yang menjalani, gak kuat ya sudah berhenti saja disini.”
“Dan anak keci itu?” tanya lelaki itu, matanya melirik ke arah Raka.
Nenek itu menoleh ke Raka. Tatapan mereka bertemu.
“Biarin, wong bisa jalan sendiri ndak perlu kau tuntun,” jawabnya pelan. “Ndak perlu diurus.”
Raka menelan ludah. Ia merasa dibicarakan, tapi tidak merasa dipermainkan. Justru sebaliknya—ia merasa diberi ruang untuk tetap memilih, meski pilihannya sempit.
Malam semakin larut. Api dikecilkan. Satu per satu orang berbaring, menyelimuti diri dengan kain seadanya.
Raka berbaring dengan mata terbuka. Ia mendengar suara hutan: serangga, dedaunan, angin.
Ia berpikir tentang Wilwatikta, tentang tembok istana yang kini terasa jauh. Tentang namanya sendiri yang semakin jarang ia dengar diucapkan.
Ia sadar, ia sedang berjalan menjauh dari hidup lamanya. Dan setiap langkah ke depan membuatnya semakin sulit untuk kembali.
Di dekatnya, nenek tua itu duduk bersila, mata terpejam, seperti sedang bertapa ringan. Wajahnya tenang, tapi auranya waspada.
Raka menatapnya lama.
Untuk pertama kalinya, ia mengakui pada dirinya sendiri:
jika bahaya datang malam ini, ia berharap nenek itu ada di sisinya.
Dan dengan pengakuan itu, babak baru dimulai.
Babak di mana Raka tidak lagi sekadar melarikan diri—
melainkan mulai bergantung.