Bagi Fatih, mencintai Zalina adalah sebuah ketidakmungkinan yang logis. Zalina adalah putri dosen terpandang, primadona kampus yang dikejar banyak lelaki bermobil mewah. Sementara Fatih? Ia hanyalah pemuda perintis usaha yang ke kampus pun masih menggunakan motor tua.
Ketika saingan terberatnya, Erlangga, maju membawa segala kemewahan dunia dan restu orang tua untuk melamar Zalina, Fatih tahu ia kalah telak dalam urusan harta. Logika menyuruhnya mundur, namun hati kecilnya menolak menyerah sebelum janur kuning melengkung.
Jika Erlangga sibuk mengetuk pintu rumah Zalina dengan hadiah-hadiah mahal, maka Fatih memilih jalan senyap. Ia mengetuk pintu langit di sepertiga malam. Ia merayu Sang Pemilik Hati dengan sujud-sujud panjang, menjadikan nama Zalina sebagai doa yang paling sering ia langitkan.
Ini adalah kisah tentang pertarungan dua cara mencintai: Jalur Bumi yang bising dengan pameran materi,
Siapakah yang pada akhirnya akan menjadi jodohnya
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Moch Sufyandi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 6: KETIKA LANGIT MULAI BERBICARA
Bandung, tiga hari setelah "kudeta" di rumah Zalina.
Fatih berdiri di depan ruko kosong yang akan menjadi Kedai Kopi "Tuang". Langit pagi ini kelabu, seolah masih menyimpan sisa mendung semalam. Fatih mengenakan kemeja lapangan lusuh dan sepatu bot karet. Di tangannya, ia memegang gulungan gambar desain—satu-satunya senjata yang ia miliki.
Hari ini adalah jadwal kick-off (memulai) pekerjaan renovasi. Namun, pesan ancaman Erlangga dua malam lalu masih terngiang jelas di kepalanya: "Proyek lu bakal gue ambil alih."
Logika menyuruh Fatih untuk tidak datang. Buat apa datang jika hanya untuk diusir? Tapi hati kecilnya—suara lirih yang ia dengar setiap sujud tahajjud—menyuruhnya untuk tetap berdiri tegak.
Datanglah, Fatih. Tugasmu adalah berusaha sampai titik darah penghabisan. Hasilnya, biarkan Tangan Gaib yang bekerja.
Sebuah mobil SUV hitam berhenti di depan ruko. Bukan mobil Pak Burhan, pemilik kedai. Itu mobil operasional bertuliskan "Erlangga Property Group".
Tiga orang pria turun dari mobil. Mereka mengenakan seragam kontraktor rapi, helm proyek mengkilap, dan membawa gadget canggih. Salah satunya, pria bertubuh tegap bernama Rian—orang kepercayaan Erlangga—berjalan menghampiri Fatih dengan senyum meremehkan.
"Lho? Masih di sini, Mas Fatih?" sapa Rian dengan nada basa-basi yang menyebalkan. "Bos Erlangga nggak bilang ya? Proyek ini udah di-take over sama kita."
Fatih mencengkeram gulungan kertasnya. "Saya punya kontrak sah dengan Pak Burhan. Selama Pak Burhan belum membatalkan secara resmi di depan muka saya, saya masih arsitek penanggung jawab di sini."
Rian tertawa renyah, menoleh pada dua rekannya. "Denger tuh. Kontrak katanya. Mas, di dunia bisnis, kontrak kertas itu kalah sama kontrak duit. Bos Erlangga udah siapin tim terbaik buat Pak Burhan, gratis pula. Siapa yang nolak gratisan?"
Rian melangkah maju, menepuk bahu Fatih seolah mengusir debu. "Mending Mas pulang, lanjutin kuliah. Biar yang profesional yang kerja. Kasian Ibu di kampung kalau Mas nekat lawan raksasa."
Darah Fatih mendidih mendengar ibunya dibawa-bawa. Namun, sebelum ia sempat menjawab, sebuah suara motor tua terdengar mendekat.
Brum... brum...
Pak Burhan datang naik Vespa antiknya. Pria paruh baya itu memarkir motornya dengan santai, melepas helm catoknya, lalu berjalan menghampiri kerumunan kecil itu sambil membawa bungkusan gorengan.
"Lho, lho. Kok rame? Ada apa ini?" tanya Pak Burhan dengan wajah polos.
Rian segera mengubah ekspresinya menjadi sangat sopan, membungkuk hormat. "Selamat pagi, Pak Burhan. Saya Rian dari tim Mas Erlangga. Seperti yang sudah dibicarakan lewat telepon oleh sekretaris kami kemarin, kami siap mulai renovasi hari ini. Kami bawa desain baru yang lebih mewah, material granit impor, dan pengerjaan lebih cepat. Semuanya complimentary dari Mas Erlangga untuk Bapak."
Fatih terdiam. Ia menatap Pak Burhan. Jantungnya berdegup kencang. Ia siap mendengar kalimat pemecatan itu. Ia siap diusir.
Pak Burhan menatap Rian, lalu menatap Fatih yang berdiri diam dengan sepatu bot kotornya.
"Oh... Mas Erlangga yang anak donatur kampus itu ya?" tanya Pak Burhan sambil mengunyah pisang goreng.
"Betul, Pak. Beliau sangat peduli sama Bapak," jawab Rian semangat.
"Hemm," Pak Burhan manggut-manggut. Ia berjalan mendekati Rian. "Mas Rian, tolong sampaikan ke bosmu ya."
"Siap, Pak. Sampaikan apa?"
Pak Burhan tersenyum ramah, tapi matanya tajam. "Sampaikan, saya ini jualan kopi. Kopi itu rasanya pahit, tapi jujur. Saya nggak suka dikasih gula kebanyakan, apalagi gula gratisan yang ada racunnya."
Senyum Rian luntur seketika. "Maksud Bapak?"
"Saya tahu ada masalah apa antara bosmu sama anak muda ini," Pak Burhan menunjuk Fatih dengan dagunya. "Saya memang cuma tukang kopi, tapi telinga saya ada di mana-mana. Bosmu mau manfaatin toko saya buat jatuhin mental Mas Fatih, kan? Buat motong rezeki dia?"
Rian gelagapan. "B-bukan begitu, Pak. Ini murni profesional..."
"Profesional ndasmu!" potong Pak Burhan tiba-tiba, suaranya menggelegar membuat semua orang tersentak.
Pak Burhan membuang sisa pisang gorengnya ke tanah. Wajah jenakanya berubah menjadi garang.
"Denger ya. Kemarin malam saya shalat istikharah. Saya minta petunjuk, pilih arsitek 'sultan' yang gratisan, atau arsitek mahasiswa yang bayarnya nyicil. Terus kamu tahu apa yang saya lihat tadi pagi pas saya lewat sini jam 4 subuh?"
Rian diam seribu bahasa. Fatih mengangkat wajahnya, bingung.
"Saya lihat Mas Fatih ini," tunjuk Pak Burhan. "Dia udah ada di sini subuh-subuh. Dia lagi ngukur ulang teras sambil komat-kamit dzikir. Dia bersihin sampah di depan ruko saya padahal tukang belum dateng. Dia kerja pakai hati!"
Pak Burhan melangkah maju, mendesak Rian mundur.
"Kedai saya ini dibangun pakai uang pensiunan saya seumur hidup. Saya butuh 'nyawa' di bangunan ini, bukan cuma kemewahan kosong! Uang Mas Erlangga mungkin bisa beli marmer Italia, tapi nggak bisa beli keberkahan! Sekarang, bawa tim kamu, angkat kaki dari tanah saya!"
Hening.
Angin pagi berhembus kencang. Fatih merasa kakinya lemas, tapi bukan karena takut, melainkan karena rasa haru yang membuncah. Ia tidak menyangka pembelaan itu akan datang secepat ini.
Rian yang merasa dipermalukan akhirnya memberi kode pada timnya untuk mundur. "Bapak bakal nyesel nolak tawaran Erlangga Group. Bapak cari masalah sama orang yang salah."
"Saya nggak takut," balas Pak Burhan santai. "Rezeki saya yang atur Gusti Allah, bukan Gusti Erlangga."
Mobil SUV hitam itu pun pergi meninggalkan debu.
Fatih masih terpaku di tempatnya. Pak Burhan berbalik, menepuk bahu Fatih keras-keras.
"Udah, jangan bengong! Ayo kerja! Itu semen keburu keras!"
"Pak..." mata Fatih berkaca-kaca. "Terima kasih, Pak. Bapak nggak tahu betapa berartinya ini buat saya."
"Halah, cengeng!" ledek Pak Burhan, tapi matanya juga menyiratkan rasa bangga. "Kamu itu orang baik, Tih. Orang baik pasti dijagain sama Yang Maha Baik. Udah, ayo mulai. Tunjukin ke si anak sultan itu kalau karyamu lebih mahal dari duit dia!"
Detik itu, Fatih menyadari satu hal: Doa Zalina dan doanya tadi malam telah dijawab. Jalur Langit mengirimkan bantuan lewat keberanian seorang Pak Burhan.
Tapi, kejutan langit belum selesai.
Sementara itu, di sebuah gedung pencakar langit di Jakarta.
Kantor Pusat Wijaya Corp, perusahaan milik ayah Erlangga (Pak Wijaya), sedang kacau balau. Telepon berdering tanpa henti. Para staf berlarian panik.
Di ruang direktur utama, Pak Wijaya membanting gagang telepon. Wajahnya pucat pasi.
"Bagaimana bisa bocor?!" bentaknya pada pengacaranya.
"Kami tidak tahu, Pak," jawab pengacara itu gemetar. "Tiba-tiba saja pagi ini semua media merilis bukti penyuapan proyek reklamasi yang Bapak tangani tahun lalu. Buktinya sangat detail. Rekaman suara, aliran dana, semuanya bocor di Twitter dan langsung trending topic."
Pak Wijaya merosot di kursi kulitnya. Saham perusahaannya anjlok 15% hanya dalam waktu dua jam sejak pembukaan pasar pagi ini.
Pintu ruangan terbuka kasar. Erlangga masuk dengan wajah panik. Ia baru saja tiba dari Bandung setelah mendapat telepon darurat.
"Papa! Ini berita apa? Kenapa KPK mau geledah kantor?" teriak Erlangga.
"Diam kamu!" bentak Pak Wijaya. "Ini semua gara-gara kamu!"
Erlangga tertegun. "Aku? Kok aku?"
"Kamu terlalu sibuk pamer kekayaan di media sosial! Kamu terlalu arogan!" Pak Wijaya melempar tumpukan koran ke wajah anaknya. "Orang-orang jadi menyoroti gaya hidup kamu, lalu mereka mulai menggali dari mana asal uang kita! Ada netizen yang iseng melacak aliran dana pesta ulang tahun pacarmu yang mewah itu, dan mereka nemu benang merah ke rekening penampungan dana suap Papa!"
Erlangga membeku.
Pesta ulang tahun Zalina. Pesta yang ia buat untuk mempermalukan Fatih dan memamerkan kekuasaannya, kini justru menjadi bumerang yang menghancurkan kerajaan bisnis ayahnya.
"Sekarang semua aset kita dibekukan sementara untuk penyidikan," suara Pak Wijaya melemah, penuh keputusasaan. "Mobil-mobilmu, kartu kreditmu, apartemenmu... semua akan disita kalau Papa terbukti bersalah."
Erlangga mundur selangkah, menabrak dinding. Kakinya gemetar. Sumber kesombongannya—uang dan kekuasaan ayahnya—sedang runtuh di depan matanya.
Dalam kepanikan itu, entah kenapa, bayangan wajah Fatih yang tenang saat berdiri di atas panggung pesta terlintas di benak Erlangga. Dan tulisan di lukisan itu: Rumah untuk menenteramkan, bukan untuk memamerkan.
Sekarang, Erlangga tidak punya ketenteraman, dan tidak ada lagi yang bisa dipamerkan.
Di kamar Zalina.
Sudah tiga hari Zalina mogok makan. Ia hanya minum air putih. Wajahnya pucat, matanya bengkak. Pintu kamarnya dikunci dari luar, kuncinya dipegang oleh ibunya. Laptop dan HP-nya masih disita.
Zalina duduk di lantai, bersandar pada tepi tempat tidur. Di tangannya ada tasbih digital kecil. Bibirnya tak henti melafalkan Hasbunallah Wanikmal Wakil.
Tiba-tiba, terdengar suara keributan dari lantai bawah. Suara TV di ruang keluarga dinyalakan dengan volume keras. Terdengar suara berita Breaking News.
Zalina menempelkan telinganya ke pintu.
"...Pemilik Wijaya Corp ditetapkan sebagai tersangka kasus korupsi mega-proyek... penyitaan aset dilakukan hari ini..."
Jantung Zalina berdegup kencang. Wijaya Corp? Itu perusahaan ayahnya Erlangga!
Tak lama kemudian, terdengar suara ibunya, Bu Ratih, berteriak histeris di bawah. "Pah! Liat berita, Pah! Pak Wijaya ditangkep! Ya ampun, gimana nasib perjodohan Zalina? Kita bisa kebawa-bawa!"
Lalu terdengar suara Pak Yusuf, ayahnya, yang terdengar kaget tapi lebih tenang. "Sudah, jangan panik. Matikan TV-nya."
Langkah kaki berat menaiki tangga. Kunci pintu kamar Zalina diputar.
Pintu terbuka. Pak Yusuf berdiri di sana dengan wajah yang sulit diartikan. Ia melihat putrinya yang pucat duduk di lantai. Ada rasa bersalah yang terlintas di mata tua itu.
"Zalina," panggil Pak Yusuf pelan.
Zalina mendongak, lemah. "Yah..."
Pak Yusuf masuk, duduk di tepi kasur. Ia menghela napas panjang. "Kamu... sudah dengar beritanya?"
Zalina mengangguk pelan. "Sedikit."
Pak Yusuf menundukkan kepalanya, memijat pelipisnya. Selama ini ia silau oleh profil keluarga Erlangga yang tampak terhormat dan kaya raya. Ia mengira itu adalah jaminan kebahagiaan untuk putrinya. Tapi berita hari ini menamparnya keras. Kekayaan yang dibangun di atas pondasi haram akan runtuh dalam sekejap.
Dan ia hampir saja menyerahkan putri kesayangannya ke dalam reruntuhan itu.
"Ayah minta maaf," suara Pak Yusuf serak.
Zalina terkejut. Ayahnya yang keras dan gengsian itu meminta maaf?
"Ayah hampir salah pilih. Ayah lihat Erlangga punya segalanya, tapi Ayah lupa melihat dari mana asalnya," Pak Yusuf menatap Zalina. "Sementara temanmu... siapa namanya? Fatih?"
Zalina mengangguk cepat, harapan mulai tumbuh di matanya.
"Ayah dengar dari Pak Burhan tadi pagi," lanjut Pak Yusuf. Rupanya jaringan bapak-bapak itu luas. "Pak Burhan cerita dia ngusir tim Erlangga dan belain Fatih. Dia bilang Fatih itu anak jujur yang kerja pakai hati."
Pak Yusuf merogoh sakunya, mengeluarkan HP Zalina yang disita. Ia meletakkannya di tangan Zalina.
"Ayah nggak bilang Ayah setuju sama Fatih sekarang. Dia masih harus membuktikan diri," ucap Pak Yusuf tegas, kembali ke mode protektifnya. "Tapi... Ayah cabut larangan kamu. Kamu boleh lanjutin proyek itu. Tapi ingat, harus profesional. Nggak boleh berduaan. Harus ada orang ketiga."
Zalina menangis, kali ini tangis bahagia. Ia mencium tangan ayahnya berkali-kali. "Makasih, Yah. Makasih. Zalina janji bakal jaga kepercayaan Ayah."
"Satu lagi," Pak Yusuf berdiri di ambang pintu sebelum keluar. "Suruh Fatih itu makan yang banyak. Pak Burhan bilang dia kurus kering kayak nggak diurus. Kalau mau jadi mantu Ayah, minimal badannya harus seger, biar kuat gendong cucu Ayah nanti."
Zalina melongo sejenak, lalu wajahnya memerah padam. Itu adalah "lampu kuning" paling terang yang pernah diberikan Pak Yusuf.
Malam itu juga, setelah menyalakan HP-nya, Zalina langsung menelepon Nisa. Nisa menceritakan semuanya: Tentang Erlangga yang panik, tentang aset-aset yang disita, dan tentang Fatih yang tetap bekerja di proyek meski situasi sedang genting.
Zalina membuka galeri HP-nya. Ia menatap foto sketsa masjid buatan Fatih yang sempat ia foto sebelum disita Erlangga (yang asli mungkin sudah dibuang Erlangga).
Ia mengirim pesan WhatsApp ke Fatih.
Zalina:
Assalamu'alaikum, Partner.
Langit sudah bicara. Badai di rumahku sudah reda.
Besok aku ke lokasi proyek sama Nisa. Kita harus kejar target.
PS: Ayah nitip pesen, katanya Mas disuruh makan yang banyak.
Di kamar kosnya, Fatih membaca pesan itu dengan tangan gemetar. Ia baru saja pulang dari masjid, masih mengenakan sarung.
Ia bersujud syukur di lantai kamarnya yang dingin. Lama sekali.
Skenario Allah itu sungguh di luar nalar. Di saat Fatih merasa tidak punya daya upaya, Allah menggerakkan Pak Burhan untuk melindunginya di pagi hari, dan meruntuhkan kesombongan Erlangga di siang harinya.
Fatih bangkit dari sujudnya. Ia menatap cermin. Wajahnya masih lelah, tapi matanya menyala terang.
"Jalur Bumi-mu runtuh, Erlangga," bisik Fatih. "Sekarang, giliran aku yang membangun puing-puingnya."
Fatih mengambil spidol merah, melingkari kalender dindingnya. Tanggal target penyelesaian kedai kopi.
Ini bukan lagi soal mengalahkan Erlangga. Erlangga sudah dikalahkan oleh keserakahannya sendiri. Ini sekarang soal Fatih yang harus membuktikan pada Pak Yusuf—dan pada dirinya sendiri—bahwa ia mampu menjadi imam yang bertanggung jawab.
Tapi Fatih belum tahu, bahwa "Binatang Buas" yang terluka biasanya akan mengamuk lebih gila sebelum mati. Erlangga yang kehilangan segalanya, kini tidak punya apa-apa lagi untuk dipertaruhkan. Dan orang yang tidak punya apa-apa, mampu melakukan hal-hal nekat yang membahayakan nyawa.
(Bersambung ke Bab 7...