Aldivano Athariz, pewaris keluarga religius yang memandang cinta sebagai ibadah, memilih jalan serius sejak awal hidupnya. Didikan orang tua yang tegas menjadikannya lelaki sholeh yang tak pernah melangkah tanpa niat dan tanggung jawab—termasuk saat takdir mempertemukannya kembali dengan Celine Chadia Cendana.
Di balik popularitasnya sebagai selebgram muda dengan jutaan pengikut, Celine menyimpan sisi liar yang tak banyak diketahui: balap motor dan kebebasan yang berseberangan dengan citra putri keluarga terpandang. Pertemuan mereka di arena balap menjadi awal dari rangkaian rahasia besar—sebuah pernikahan yang telah terjadi, namun disembunyikan dari Celine atas kesepakatan orang tua.
Saat kebenaran terungkap di tengah fase terpenting hidupnya, Celine merasa dikhianati dan memilih menjauh. Antara luka, kepercayaan, dan ikatan suci yang terlanjur terjalin, Aldivano dan Celine diuji oleh takdir.
Instagram: @itsmeita.aa_
Visualnya di ig author yaa🤗
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nita Karimah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Chapter 10 Tempat Kembali
Ada perubahan yang datang seperti badai—ribut, menghancurkan, dan tak bisa diabaikan.
Namun ada pula perubahan yang datang seperti embun pagi—diam, halus, tapi perlahan membasahi segalanya.
Dan perubahan Celine termasuk yang kedua.
Reina menyadarinya lebih dulu.
Pagi itu, mereka duduk di sudut kafe kampus. Celine berada di hadapan laptopnya, jari-jarinya menari di atas keyboard, namun matanya kosong—seolah pikirannya melayang jauh, melampaui dinding kampus, melampaui suara cangkir dan sendok yang beradu.
“Cel,” panggil Reina pelan.
Tak ada jawaban.
“Celine,” ulang Alya, kali ini sedikit lebih keras.
Celine tersentak. “Hm? Iya?”
Nada suaranya seperti seseorang yang baru ditarik kembali dari mimpi panjang. Senyumnya muncul, tapi cepat—terlalu cepat—seperti kilat yang hanya menyala sepersekian detik.
“Kamu nggak denger kita ngomong apa dari tadi?” tanya Nadhifa, alisnya berkerut.
Celine tertawa kecil. “Maaf. Lagi mikir.”
“Mikir apa?” tanya Reina. Nada suaranya lembut, tapi matanya tajam seperti jarum yang tahu di mana harus menusuk.
Celine mengangkat bahu. “Banyak.”
Jawaban itu menggantung. Terlalu luas. Terlalu aman.
Reina menatap Alya dan Nadhifa. Mereka saling bertukar pandang, seperti tiga orang yang membaca halaman buku yang sama tanpa perlu suara.
Ada yang disembunyikan.
Sahabat yang Merasa, Bukan Sekadar Melihat
Hari-hari berikutnya, perubahan itu semakin nyata. Celine masih tertawa, masih aktif, masih menyelesaikan tugas dengan sempurna. Namun semua terasa… berbeda.
Ia lebih sering diam.
Lebih sering menatap layar ponsel tanpa membukanya.
Lebih sering menarik napas panjang, seolah dadanya terlalu sempit untuk menampung sesuatu.
“Aku ngerasa Celine kayak balon,” bisik Alya suatu sore.
Reina menoleh. “Balon?”
“Iya,” lanjut Alya. “Kelihatan utuh, tapi di dalamnya tekanannya besar. Tinggal nunggu waktu.”
Nadhifa mengangguk pelan. “Aku juga ngerasa begitu.”
Mereka duduk bertiga di musala kampus setelah Ashar. Cahaya matahari sore masuk melalui jendela, jatuh di lantai seperti lukisan yang perlahan memudar.
“Kalau ini soal Aldivano…” Nadhifa menggantung kalimatnya.
Reina menghela napas. “Aku takut bukan cuma itu.”
“Apa lagi?” tanya Alya.
“Rindu,” jawab Reina pelan. “Celine itu orangnya kelihatan kuat. Tapi dia punya titik rapuh yang jarang dia tunjukkan.”
“Apa?” Alya mendesak.
“Keluarga.”
Kata itu jatuh seperti palu di dada mereka.
Grandma: Rumah yang Jauh
Tak banyak yang tahu, tapi bagi Celine, rumah bukan sekadar bangunan tempat ia tumbuh. Rumah adalah suara lembut yang memanggil namanya dengan aksen khas. Rumah adalah tangan renta yang selalu menggenggam jemarinya saat ia takut. Rumah adalah tawa pelan yang terdengar seperti lagu nina bobo.
Rumah itu bernama Grandma.
Sejak kecil, Celine sangat dekat dengan neneknya. Jika Celine adalah bulan, maka Grandma adalah langit malam yang setia memeluknya. Mereka berbagi cerita, doa, dan diam yang nyaman—seperti dua jiwa yang saling mengenal tanpa perlu banyak kata.
Namun kini, Grandma dan Grandpa tinggal jauh. Terpisah oleh benua dan waktu. Kondisi kesehatan Grandma yang membutuhkan pengawasan medis membuat mereka harus menetap di luar negeri.
Dan jarak itu—meski tak kasatmata—terasa seperti tembok tinggi yang memisahkan hati Celine dari tempatnya bersandar.
Malam itu, Celine duduk di kamarnya. Lampu temaram menyinari foto di meja kecil: dirinya kecil, duduk di pangkuan Grandma, tersenyum lebar tanpa beban.
Tangannya gemetar saat menyentuh foto itu.
“Grandma…” bisiknya.
Rindu itu datang seperti ombak besar—menghantam dadanya tanpa peringatan. Napasnya sesak. Dadanya terasa penuh, seolah hatinya diperbesar sepuluh kali lipat namun tetap tak cukup untuk menampung rasa itu.
Ponselnya bergetar. Panggilan video masuk.
Nama Grandma muncul di layar.
Celine buru-buru mengusap matanya, menarik napas, lalu menjawab.
“Assalamu’alaikum, Grandma.”
“Wa’alaikumussalam, Sayang.”
Wajah Grandma muncul. Senyumnya hangat, meski kulitnya kini lebih pucat, matanya sedikit sayu.
“Kamu kelihatan capek,” kata Grandma.
Celine tersenyum. “Sedikit.”
Grandma menatapnya lama. Tatapannya seperti cahaya yang menembus kabut.
“Hatimu sedang ramai,” kata Grandma pelan.
Celine terdiam. Pertahanannya runtuh seperti istana pasir yang disapu ombak.
“Grandma…” suaranya bergetar.
“Ada yang berubah dalam dirimu,” lanjut Grandma. “Dan itu bukan hal buruk. Tapi jangan kamu hadapi sendiri.”
Air mata Celine jatuh. Satu. Dua. Tiga. Seperti hujan yang akhirnya turun setelah lama menggantung.
“Aku kangen,” katanya lirih.
“Aku tahu,” jawab Grandma. “Rindu itu tanda kamu masih punya tempat pulang.”
Sahabat yang Tak Pergi
Keesokan harinya, Celine datang ke kampus dengan mata sedikit sembab. Senyumnya tetap ada, tapi rapuh—seperti kaca tipis yang bisa retak kapan saja.
Reina melihatnya dan langsung mendekat.
“Kamu ke musala habis ini,” katanya, bukan bertanya.
Celine mengangguk pelan.
Di musala, Celine duduk bersandar ke dinding. Reina, Alya, dan Nadhifa duduk mengelilinginya—tanpa menghakimi, tanpa mendesak.
“Kalau kamu mau cerita, kami denger,” kata Alya.
“Kalau belum siap, kami tetap di sini,” sambung Nadhifa.
Celine menunduk. Bahunya bergetar. Lalu—seperti bendungan yang jebol—ia menangis.
Tangisnya tidak keras. Tapi panjang. Seperti hujan yang turun semalaman tanpa petir.
“Aku capek,” katanya di sela isak. “Aku takut sama perasaanku sendiri. Aku rindu. Aku bingung.”
Reina memeluknya. “Kamu nggak sendirian.”
Pelukan itu seperti selimut tebal di tengah badai. Hangat. Aman.
Pelajaran yang Diam-diam Menguatkan
Dari kisah itu, ada pelajaran yang tumbuh pelan—seperti benih yang disiram sabar:
Bahwa kuat bukan berarti tidak rapuh.
Bahwa rindu bukan tanda lemah, tapi bukti cinta pernah ada.
Bahwa lingkungan yang baik tidak memaksa kita bicara, tapi membuat kita berani jujur.
Dan Celine belajar satu hal penting:
Menjaga hati bukan berarti menutupnya rapat-rapat,
melainkan memilih kepada siapa ia boleh terbuka.
Sahabat-sahabatnya adalah penjaga.
Grandma adalah rumah.
Dan perasaannya—perlahan—ia belajar mengakuinya, tanpa tergesa.
Di malam yang sunyi, Celine menatap langit dari jendela kamarnya. Bintang-bintang bertaburan, seperti janji kecil yang tak pernah ingkar.
“Aku akan baik-baik saja,” bisiknya.
Dan untuk pertama kalinya, kalimat itu bukan sekadar penghiburan—
melainkan keyakinan yang mulai tumbuh.
Celine tidak bangun pagi itu dengan keputusan yang mantap.
Keputusan itu datang pelan—seperti embun yang menempel di kaca jendela, tak diminta namun nyata. Dadanya terasa penuh sejak subuh, seolah hatinya adalah ruang kecil yang diisi terlalu banyak suara.
Ia duduk di tepi ranjang, menatap ponselnya yang menyala. Ada satu nama yang tak muncul—dan justru itulah yang membuat dadanya berdenyut.
Aldivano.
Biasanya, Celine akan menemukan satu pesan singkat. Bukan pesan yang menuntut, bukan pula yang mendesak. Hanya kalimat sederhana—“Semoga harimu dimudahkan.”
Kalimat yang terasa seperti angin sejuk di tengah siang terik.
Namun pagi itu, Celine menahan diri.
Bukan karena marah.
Bukan pula karena benci.
Melainkan takut.
Takut pada detak jantungnya sendiri yang berubah.
Takut pada rasa hangat yang tumbuh tanpa izin.
Takut jika perasaan itu melangkah lebih jauh dari batas yang seharusnya.
aku mencintaimu dalam Diam..Bukan karena aku pengecut..Karena aku sedang memantaskan diri agar sebanding denganmu...
dan percayalah Aku sangat mencintaimu...