(Proses Revisi) Kaisar adalah salah satu gelar penguasa monarki, kedudukannya bahkan lebih tinggi dari seorang raja. Namun, Kaisar Wira Atmadja adalah penguasa kegelapan di muka bumi ini. Sebut saja, berkelahi, mabuk-mabukan, dan seks bebas. Itu semua sudah menjadi kebiasaannya.
Status sebagai cucu pemilik yayasan membuat Kai sangat ditakuti di sekolah. Siapapun yang mengganggu kesenangannya, dia yakin orang itu tidak akan selamat.
Kai tumbuh dewasa tanpa cinta. Baginya hidup ini hanya miliknya. Tidak peduli pada ayah, ibu ataupun teman-temannya. Kai hanya mencintai dirinya sendiri.
Namun... semua itu berubah saat seorang gadis kutu buku bernama Krystal menciumnya di tengah lapangan.
"Jadi pacar aku."
Adakah yang lebih mengerikan daripada menjadi kekasih seorang Kaisar Wira Atmadja?
Bagaimana caramu untuk merubah Iblis, menjadi Malaikat?
Non Nobis Solum
Kita diciptakan tidak untuk diri kita sendiri.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Anna, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Kupu-Kupu
NOBIS
Chap 22
•
•
•
•
"Lo penasaran nggak sama buku gambarnya si Kai?" Chandra menaik-turunkan alisnya sambil menatap Sean jahil.
"Jangan macem-macem lo, nyet! Bocahnya tau, dismash lo!"
(Smash adalah pukulan overhead yang di arahkan ke daerah lawan secara menukik dan dilakukan dengan kekuatan penuh. Jenis pukulan ini identik sebagai pukulan menyerang, karena bertujuan untuk mematikan lawan. Jenis pukulan ini memiliki karakteristik keras serta laju shuttlecock berjalan cepat.)
"Abisnya gue penasaran, doi seneng banget ngegambar diem-diem." Chandra berpikir sebentar. "Kayaknya bener deh, tuh monyet bikin gambar cewek telanjang."
Sean langsung menoyor kepala Chandra. "Dia bukan elo yang isi kepalanya cuma kondom sama cewek."
"Yee ... siapa tau. Buktinya dia bisa nidurin cewek-cewek cakep di sekolah."
"Diem dah lo! Lama-lama mulut lo gue sumpel pake kondom nih!"
Chandra mendengkus kesal. Tidak lama wajahnya menyengir memikirkan sesuatu.
"Mau taruhan nggak? Lima ratus ribu, Krystal jebol malem ini." Ujarnya yakin.
"Sejuta! Kai nggak bakal ngapa-ngapain tuh cewek!" Sean menimpali.
"Busett.. yakin amat lo?"
"Lo kayak baru kenal Kai sehari dua hari aja. Mana ada sih dia pernah kalang kabut gue bawain cewek kayak tadi." Sean menyeringai. "Si tai emang pinter nutupin emosinya, tapi bukan berarti gue nggak tau kalo muka tai-nya itu nunjukin ketakutan."
"Gue lama-lama serem sama lo, yan. Jangan-jangan lo bisa baca pikiran gue lagi." Chandra mendekati Sean dengan wajah penasaran. "Coba dah, coba, gue lagi mikirin apaan?"
Sean menggelengkan kepalanya tidak habis pikir. Cowok itu berdecak sebentar sebelum kemudian membalas ucapan Chandra. "Cewek telanjang di atas kasur lo!"
"Anjirrrrr...." teriak Chandra kencang. Kedua matanya melotot kaget. "lo serius bisa baca pikiran gue? Gila! Takut gue deket-deket sama lo, iihh.." Chandra berjengit ngeri, lalu kabur turun ke bawah, menemui cewek-cewek cantik dan bohay yang siap dia ajak ke atas ranjangnya.
"Dasar goblok! Nasib banget gue, punya temen yang otaknya beli di warung padang!"
• • •
Jam tujuh kurang lima belas menit, Kaisar Wira Atmadja sudah bertengger manis di atas motornya dengan seragam sekolah lengkap. Sesuatu yang mengejutkan, bisa dikatakan jika ini seperti sebuah rekor untuknya.
Biasanya jam segini dia masih terlelap di bawah selimut, masih bergulat dengan mimpi-mimpinya, dan berakhir di sekolah ketika gerbang sudah ditutup. Namun tidak lagi, semenjak cewek bernama Krystal Putri mencium dan memintanya menjadi pacar gadis itu di tengah lapangan.
"Kamu udah sarapan?" Krystal bertanya pada Kai yang bersandar pada motornya sambil membuka pintu pagar.
"Nih sarapan gue." Kai mengangkat satu batang rokok yang terselip di jari tangannya.
Krystal menggeleng, kemudian mengunci pintu pagar. Perhatiannya kembali lagi pada wajah Kai yang sedang menghisap ujung rokoknya.
"Yang aku tanya itu sarapan, bukan polusi."
Kai mengedikan bahunya santai, kembali menghisap batang rokok itu dan menghembuskannya ke udara. Krystal bersidekap, menatap lekat-lekat mata Kai, seolah mengatakan pada cowok itu untuk membuang rokoknya ke tanah.
"Nggak akan gue buang." Ujar Kai cuek.
Krystal masih menatap Kai, kali ini lebih tajam dan menantang. Tidak ada ketakutan sama sekali di wajah gadis itu. Krystal seakan sedang memberi perlawanan lewat sorot matanya. Kai yang mulai merasa terintimidasi akhirnya menghela napas pelan dan membuang batang rokok itu ke tanah lalu menginjaknya.
"Puas?"
Seketika itu juga ekspresi wajah Krystal berubah. Senyum sumringah yang sering dia tunjukan itu perlahan mulai menghiasi wajah cantiknya.
"Padahal aku nggak ngomong apa-apa loh." Krystal terkekeh.
Kai mendelik, lalu mengeram kesal, dan kemudian berbalik menaiki motornya. Dia sudah bersiap-siap memakai helm saat Krystal menyodorkan satu paper bag kecil di depannya.
"Aku buatin roti isi telur. Aku tau pasti Kai belom sarapan 'kan?" Lagi-lagi cewek itu tersenyum. "Buka tas kamu, makannya nanti aja ya di kelas, kalo sekarang udah nggak keburu, nanti kita telat."
"Gue nggak butuh itu."
"Nggak boleh nolak. Kamu harus sarapan, kalo perut kamu kosong nanti belajarnya jadi gak fokus."
Krystal meraih tali tas di punggung Kai, lalu membuka resleting dan memasukan kotak makan di dalam tas cowok itu.
Kai hanya memperhatikan tanpa menolak sedikit pun saat Krystal membuka tasnya dan memasukan kotak makan itu. Kai sulit menebak isi hatinya sendiri, apapun yang cewek itu lakukan kepadanya, entah mengapa Kai tidak bisa melakukan apapun selain terdiam.
Krystal bukan tipe cewek pemaksa, tapi cara dia untuk membuat Kai mengikuti kemauannya, bisa membuat cowok itu luluh begitu saja, walaupun harus mengerahkan seluruh argumen untuk mengalahkan kekeras kepalaan Kai.
"Yukk.." Kai tersadar lalu buru-buru menyalahkan mesin motornya dan melaju meninggalkan pagar rumah Krystal.
• • •
Hampir setengah perjalanan mereka lalui, namun tiba-tiba saja motor Kai berhenti di tepi jalan dan membuat Krystal mengernyit bingung.
"Kenapa berhenti?"
Krystal melihat Kai membuka helm-nya, lalu mengacak-acak rambutnya kesal. Dia merasakan jika sekarang Kai sedang menghela napas berat sambil berdecak.
"Mogok." Jawabnya.
"Habis bensin?"
"Nggak mungkin." Kai menengok ke belakang. "Turun dulu."
Krystal mengangguk dan mulai turun dari boncengan. Gadis itu melepaskan helm yang dia gunakan, lalu melihat jam pada tangannya. Sudah jam tujuh lewat sepuluh menit. Dia tidak ingin telat di jam pertama, karena itu pelajaran sejarah, dan Pak Budi yang mengajar. Telat semenit saja guru itu akan memberi hukuman.
"Kayaknya ada yang rusak."
Dia mendongak dan mendapati Kai sudah berdiri di depannya sambil menurunkan resleting jaket.
"Kalo dibenerin dulu nggak akan keburu." Ujar Krystal.
Kai melirik jam tangannya. "Yaudah gue cariin taksi buat lo ke sekolah."
"Kamu?"
"Bolos."
Krystal menggeleng tegas. "Nggak boleh! Kamu juga harus ke sekolah."
"Gue nggak mau ninggalin motor gue."
"Dititip aja ya di bengkel?" Usul Krystal.
Kai mendengus, menatap motor berwarna hitam miliknya dengan kesal. Tidak sekali kalinya motor itu mogok, mungkin akibat jatuh saat balapan waktu itu. Kai kembali melihat jam di tangannya, tidak ada waktu untuk membawa motor itu ke bengkel. Lalu, dengan cepat dia mengeluarkan handphone dan menghubungi seseorang yang bisa membantunya.
Setelah selesai menghubungi orang yang akan membawa motornya ke bengkel, Kai lalu memasukan kembali handphone-nya dan menatap Krystal yang berdiri dari tadi di belakang sana.
"Mau ke sekolah naik apaan? Taksi nggak ada yang lewat."
Krystal terperangah. "Motor kamu?"
"Nanti ada orang yang ke sini buat bawa ke bengkel."
Cewek itu mengangguk mengerti. "Naik bis mau? Kalo nunggu taksi kita bakalan telat."
Kai berpikir sebentar. Seumur hidupnya, angkutan umum adalah alat transportasi yang paling dia benci, selain membuat sempit jalanan, bis dan angkutan sejenisnya itu selalu penuh dengan penumpang dan membuatnya harus berdesak-desakan bersama keringat.
"Mau ya?" Pinta Krystal.
"Yaudah, dari pada telat."
Krystal tersenyum. Akhirnya mereka memilih untuk ke sekolah menggunakan bis kota. Jarak halte dan tempat mereka berhenti tadi tidak terlalu jauh.
Setiap weekdays halte memang penuh, bukan hanya pelajar yang berebut ingin naik, namun beberapa pekerja juga menggunakan angkutan alternatif itu untuk sampai ke tempat kerja mereka tepat waktu.
Kai dan Krystal sudah bersiap-siap di pinggir halte saat bis yang akan mereka tumpangi sudah terlihat hampir sampai. Saat bis itu berhenti di depan mereka. Semua orang di sana berebut naik, begitupun Krystal.
Ketika melihat Kai terdiam saja tanpa ikut berdesak-desakan, Krystal segera menarik tangan cowok itu dan menggenggamnya erat, seperti takut jika Kai akan tertinggal di sana.
"Ayo naik." Ajaknya.
Benar saja, saat kakinya melangkah masuk ke dalam bis, badan Kai sudah terdorong kesana kemari, berdesak-desakan berebut masuk dengan penumpang lain.
Krystal meringis saat tubuhnya terdorong hingga membentur kursi penumpang saat cowok berseragam kantoran mendesak masuk. Tentu aksi itu menyulut amarah Kai.
"Woi.. lo gobl-" ucapannya terhenti saat tangan Krystal dengan cepat membekap mulutnya.
"Kamu nggak bisa marah-marah di tempat kayak gini." Krystal memperingati. "Aku nggak apa-apa kok."
"Tapi-"
"Sstt.. nanti aku traktir es krim kalo kamu nggak marah-marah."
Kai mendengus. Cowok itu memilih diam. Bukan karena diiming-imingi es krim, tapi Kai merasa tidak ada gunanya dia bertengkar dengan seseorang di dalam bis.
Mereka berdiri saling berhadap-hadapan. Krystal bisa melihat jika kini Kai mengibas-ngibaskan tangannya karena kepanasan. Berdesak-desakan di dalam bis membuat udara di sana tak terasa, bahkan kini Krystal bisa melihat bulir-bulir keringat menetes di dahi Kai dan turun mengikuti bentuk wajahnya.
Bersamaan dengan itu tiba-tiba saja sopir bis berhenti mendadak, membuat semua penumpang terkejut dan lebih parahnya lagi mereka terdorong ke depan. Kai segera menarik tubuh Krystal saat cewek itu hampir terjatuh, tangannya melingkar di pinggang Krystal sangat erat, tanpa sadar posisi itu membuat mereka seperti sedang berpelukan.
Pandangan Kai turun ke bawah, menatap Krystal yang membalas tatapannya tanpa ragu, dan selalu dengan senyuman.
"Hampir aja." Krystal terkikik. "Makasih ya, Kai."
Dari jarak sedekat ini, Kai bisa mencium aroma bedak bayi dari tubuh Krystal. Cewek itu memang berbeda, jika biasanya semua cewek di sekolahnya menggunakan minyak wangi yang menyengat dengan segala macam aroma, tapi Krystal hanya menggunakan bedak bayi yang malah membuat aromanya harum dan lembut.
"Kamu kepanasan ya?"
Kai berdehem. Lalu mengalihkan pandangannya ke segala arah. "Menurut lo?" Kesalnya. "Gue nggak mau naik bis lagi."
Lagi-lagi cewek itu hanya tersenyum menanggapi sikap Kai padanya. Lalu, tanpa pernah Kai duga, tangan Krystal terangkat menyentuh dahinya, mengusap keringat yang bercucuran di sana. Usapan itu turun ke sisi wajah, mengikuti jalur keringat yang menetes di wajahnya.
Kai tersentak. Menatap Krystal lagi. Sesuatu yang asing menjalar ke seluruh tubuhnya. Hal yang tidak pernah dia rasakan sebelumnya pada siapapun. Lucunya, itu menghangatkan. Lalu menggelitik. Seperti ada kupu-kupu yang berterbangan di dalam perutnya.
• • •
Hai genks!! ... terima kasih sudah membaca cerita ini.
Jangan lupa ya tekan Like, dan beri komentar. Kalau kalian suka dengan cerita yang aku buat, tolong beri rating bintang lima nya yaa..
terima kasih buat kalian yang sudah mendukung saya membuat cerita ini...
salam sayang,
anna ❤❤❤
sdh tidak terhitung berapa kali sudah membacanya... keren banget ceritanya