Seorang gadis cantik bernama Anggi yang menjadi korban perceraian orangtuanya karena ayahnya selingkuh dengan sahabat ibunya sendiri. Kejadian itu pun dialami oleh Anggi sendiri.
Anggi memiliki sahabat dari kecil bernama Nia. Bahkan dia sudah dianggap Nia saudara sendiri bukan lagi seperti sahabat. Nia mengkhianati Anggi dan mengambil kekasih Anggi.
Bagaimana kisah selanjutnya yuk baca cerita selengkapnya...
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Queenca04, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
11
Di sekolah suasana parkiran langsung riuh saat Zian dan temannya datang.
"Zian ganteng banget," seru murid cewek.
"Andre i love you," teriak salah satu murid cewek.
"Sam ganteng gue mau jadi cewek Lo."
Kelima cowok most wanted itu hanya duduk di atas motornya tanpa menoleh ke arah cewek-cewek yang memujanya.
"Zi katanya nanti malam Alex ngajak balap lagi," seru Sam.
"Urus semuanya kita ikut."
"Siap nanti gue urus semuanya."
Mereka memang terkenal suka mengikuti balapan motor dan geng mereka pun cukup dikenal banyak orang yang menyukai dunia balapan malam. Sebenarnya mereka tidak liat karena mereka balapan di sirkuit tapi bukan sirkuit seperti MotoGP.
Obrolan mereka terhenti saat melihat Anggie yang baru datang dibonceng Angga. Perlakuan manis Angga terhadap Anggie pun tak lepas dari pandangan mereka. Dari mulai Angga membantu turun dari motor lalu membukakan helm Anggie. Perlakuan manis itu pun entah mengapa membuat hati Zian panas dan sedikit sesak.
"Itu cowoknya dia?" tanya Zian.
"Cewek itu namanya Anggita anak kelas satu. Gue belum cari tahu tentang cowok yang sering antar jemput dia," jelas Andre.
"Cepat Lo cari tahu siapa cowok itu," seru Zian sambil meninggalkan tempat parkir karena sebenarnya dia gak mau melihat adegan itu karena membuat hatinya semakin sesak.
"Zian kenapa sih?" tanya Gio.
"Gak tahu gue juga dan baru kali ini Zian nyuruh kita buat cari tahu tentang cewek."
"Iya Zian itu kayak anti cewek tapi sekarang gue baru tahu kalau Zian nyuruh kita cari tahu tentang cewek. Biasanya juga kita disuruh cari tahu tentang kelemahan lawan tapi sekarang kita disuruh buat cari informasi tentang cewek, sungguh mencurigakan."
"Mungkin Zian lagi jatuh cinta," tebak Gio.
"Sok tahu Lo," Gio pun langsung mendapat toyoran dari Andre.
"Gue gak percaya kalau Zian suka sama cewek," tebak Frans.
"Lo kira Zian penyuka batang," Gio pun kembali di toyor kali ini oleh Sam.
Mereka pun akhirnya mengikuti Zian masuk ke dalam sekolah.
Saat Zian akan masuk ke kelas tiba-tiba dia dicegat di depan kelasnya.
"Zian hari ini Lo udah sarapan? Ini gue bawain Lo sandwich buat gue khusus buat Lo," Zian pun mengambilnya si cewek itu pun merasa senang karena Zian mau mengambil makanan yang ia kasih kali ini setelah sebelumnya Zian tak pernah mengambil atau mencoleknya.
Namun kenyataan itu pun pupus sudah saat Zian membuangnya ke tempat sampah. Seketika itu Wina cewek yang dari dulu menyukai Zian dan selalu memberikan perhatian pada Zian namun Zian tak pernah merespon nya. Tapi semua itu tak pernah membuat Wina menyerah dia selalu mencoba dan mencoba lagi hingga saat ini dia yang tadinya senang karena Zian mau menerima makanannya tapi malah Zian buang.
Seketika itu Wina langsung menangis, teman-temannya mencoba menenangkan Wina.
"Yang sabar ya Win, Lo bisa coba lagi sampai Zian bisa menerima Lo," seru Bela taman Wina.
"iya kita yakin Zian pasti akan luluh jika Lo terus memberikan perhatian sama Zian," imbuh Amel temannya Wina juga.
Sekarang jam sudah menunjukkan waktunya istirahat kantin pun mulai rame. Di meja pojok sudah ada Anggie dengan ke dua temannya yang sibuk dengan makanannya.
"Gie nanti jadi kita ke toko buku?" tanya Ria dan Anggie hanya mengangguk.
"Emang Lo gak di jemput Abang Lo?" Dika memastikan.
"Gue udah bilang kok sama Abang kalau gue harus ke toko buku dan Abang juga kuliahnya sampai sore paling nanti gue dijemputnya di toko buku aja."
"Emang Bang Asa gak marah?"
"Iya gak tau lah. Kalau sampai bang Asa tahu pasti dia ngomel."
"Emang sih bang Asa tuh terlalu posesif ya sama Lo," seru Ria.
"Tandanya bang Asa itu sayang sama Gita," imbuh Dika.
suasana kantin seketika rame saat ke lima cowok most wanted itu masuk kantin.
"Zi itu Anggie apa Lo gak coba deketin dia," seru Sam.
"Buat apa?" dengan nada angkuhnya Zian bicara.
"Kalau gue lihat Lo itu sepertinya suka deh sama Anggie Zi," tebak Gio.
"So tahu Lo," Frans menoyor Gio.
"Tapi dari gerak-gerik yang gue lihat kalau Zian itu suka sama Anggie."
"Emang kalau gue suka sama Anggie ada larangan? Siapa emangnya yang mau halangi gue?"
"Lo beneran suka sama Anggie Zi?"
"Gak tahu gue juga tapi gue gak suka kalau ada cowok yang deketin dia."
"termasuk yang suka antar jemput dia?" tebak Sam.
Zian pun mengangguk. "Lo cari tahu siapa dia!"
Kini tanpa terasa bel pulang pun sudah bunyi anak-anak berhamburan keluar.
"Kita mau langsung ke markas Zi?" tanya Frans. Zian hanya mengangguk.
"Iya persiapkan semuanya buat nanti malam," perintah Zian.
Mereka pun bersiap dengan motor masing-masing namun mata Zian tertahan saat melihat Anggie di halte sendirian.
"Kalian duluan aja," perintah Zian dan semua temannya pun menuruti perintah Zian karena mereka tahu arah mata Zian melihat kemana.
"Semangat Zi!" Gio memberikan semangat sambil mengacungkan kepalan tangannya.
Zian pun menunggu Anggie sampai naik kendaraan tapi dia tak kunjung ada ada yang menjemput. Anggie pun mau naik angkutan umum tapi seperti yang ragu-ragu.
Zian pun mencoba mendekati Anggie dan menawarkan diri.
"Kenapa Lo belum pulang? Cowok Lo belum jemput?" Anggie pun melihat ke arah Zian yang mendekatinya.
"Belum," singkat Anggie.
"Mau bareng sama gue aja."
"Makasih."
"Memangnya cowok Lo gak bisa jemput?" Anggie hanya diam dan hanya menggeleng.
"Iya udah Lo ikut gue aja nanti gue anterin keburu sore dan angkutan umum juga udah jarang," baru kali ini Zian ngomong panjang apalagi sama cewek.
Anggie pun akhirnya menimbang-nimbang ajakan dari Zian. Hingga akhirnya Anggie pun ikut karena memang sudah mau sore juga.
"Lo mau kemana?"
"Ke toko buku yang di sana," tunjuk Anggie.
Zian pun akhirnya berhenti di sebuah toko buku yang ditunjuk Anggie.
"Nanti pulangnya kalau Lo gak ada yang jemput bisa hubungi gue. Sekarang Lo catatan nomor Lo di sini," Zian menyerahkan ponselnya lalu Anggie pun menerima dan mengetik nomornya.
"Gue pergi dulu ya," Zian sambil mengelus rambut Anggie. Sebelum Anggie mengucapkan terima kasih Zian sudah pergi.
Ternyata pemandangan mereka pun tak luput dari penglihatan Ria dan Dika yang sudah ada di sana.
"Cie... Cie yang dianterin Zian."
"Apaan sih Lo pada."
"Kayaknya Zian suka deh sama lo Gi," tebak Ria.
"Jangan sok tahu deh Lo, yuk kita masuk nanti keburu sore lagi.
Mereka pun akhirnya masuk ke toko buku memilih buku yang mereka cari dan tanpa sadar hari sudah sore.
Jam sudah menunjukkan pukul lima sore Ria dan Dika sudah siap-siap pulang karena hujan juga jadi sedikit gelap.
"Gie apa Bang Angga jemput Lo?"
"Katanya dia gak bisa ada acara di kampusnya."
"Terus lo pulang sama siapa? Gue juga gak bisa antar Lo lagi," Dika merasa bersalah salah.
"Paling gue naik angkot aja atau naik ojek online. Kalau kalian mau pulang duluan aja."
"Jam segini mana ada angkutan umum Gie. kita juga gak bisa pergi sebelum Lo juga pergi nanti gue kena Omelan bang Angga."
"Tadi Bang Angga katanya udah nyuruh orang buat jemput. Tapi gue gak tahu siapa."
Saat Anggie dan kedua temannya ngobrol Zian yang sedang lewat melihat Anggie dan Ia pun langsung mendekati.
"Zian mau kemana?" tanya Frans saat melihat Zian membelokkan motornya. Mereka pun akhirnya mengikuti Zian.
"Hai Gie," seru Zian.
"Zian," semua terkaget saat melihat Zian yang ada di hadapan mereka.
"Kamu udah mau pulang?"
"Iya nih kak Zian lo bisa anterin pulang Anggie gak dia gak ada yang jemput," seru Ria dan langsung mendapatkan pukulan dari Anggie.
"Apaan sih Lo nanti kalau Bang Asa dan Bang Angga marah gimana?" bisik Dika.
"Kalau gue terserah Anggie," seru Zian.
Keempat teman Zian tak menyangka kalau Zian akan menawarkan tumpangan untuk Anggie.
"Lo beneran Zi mau nganterin dia?" tanya Andre.
Namun tiba-tiba ada motor yang berhenti di sana juga.
"Hai."
"Riko."
"Kenapa Lo bisa di sini?" Zian melihat ke akraban Anggie dan Riko membuat hatinya semakin panas. Tanpa sadar Zian mengepalkan tangannya menahan emosinya.
"Gue di suruh Bang Angga buat jemput lo."
"Kenapa harus lo sih?"
"Karena Bang Angga udah percaya sama gue. Cepetan udah mau hujan ini nanti Bang Angga marah lagi sama gue."
"Emang lo siapanya Anggie?" tanya Andre.
"Emang apa hubungannya sama lo?" Riko tanya balik.
Mereka tak bisa menjawab karena mereka memang bukan siapa-siapanya.
Akhirnya Anggie pun pulang bareng Riko. Angga memilih Riko karena memang Angga sudah mengenal Riko yang kebetulan dia adik dari temannya Angga kuliah. Mereka juga selalu bertemu saat Angga main ke rumah Riko untuk bertemu kakaknya dan dari sana Angga mulai akrab dengan Riko.
Di motor Anggie bertanya pada Angga yang tiba-tiba menjemputnya.
"Kok lo bisa kenal sama Bang Angga?" tanya Anggie penasaran.
"Kita kan sekarang udah jadi Besti."
"Sebenarnya gue takut kalau sampai Bang Asa tahu gue pulang sama cowok selain Dika."
"Emang Dika cowok?" Anggie langsung memukul tangan Riko.
"Lo gak pegangan Gi?"
"Lo mau digantung sama Bang Asa," Riko hanya tertawa menanggapi celotehan Anggie.
Tak lama motor yang dikendarai Riko sudah sampai di depan rumahnya Anggie.
"Makasih ya Ko."
"Iya udah cepetan lo masuk udah hujan."
"Lo hati-hati di jalan," Anggie pun masuk kedalam rumah dan Riko pun baru melajukan motornya.
...****************...
Menurut kalian Anggie mending sama