Dunia ini bukanlah tempat bagi mereka yang lemah si kaya terbang membelah awan layaknya naga, sementara si miskin terinjak sebagai debu di bawah kaki sang penguasa. Di tengah kejamnya takdir, hiduplah Zhou Yu, bocah laki-laki yang jiwanya jauh lebih dewasa dibanding usianya yang baru delapan tahun. Sejak kecil, ia adalah pelita bagi orang tuanya, sosok anak berbakti yang rela menghabiskan masa bermainnya di pasar demi menyambung hidup keluarga.
Namun, langit seolah runtuh saat Zhou Yu pulang membawa harapan kecil di tangannya. Aroma darah dan keputusasaan menyambutnya di ambang pintu. Ia menemukan sang ayah pria yang selama tiga bulan terakhir berjuang melawan sakit tergeletak mengenaskan dalam napas terakhirnya. Di sudut lain, ibunya terkulai lemas, tak berdaya, bersimbah darah dan dengan kondisi yang mengenas. Di detik itulah, kepolosan Zhou Yu mati. Dalam tangis yang tertahan, sebuah dendam dan ambisi membara ia tidak akan lagi mengubah nya menjadi sosok yang berbeda.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon blueberrys, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Serangan sekte bayangan darah
Palu raksasa Da Ge meluncur di udara, membelah angin dengan suara menderu yang memekakkan telinga. Senjata berat itu membawa seluruh kemarahan seorang prajurit garis depan, namun Chen Mo, yang kini telah menjadi wadah bagi kekuatan iblis Sekte Bayangan Darah hanya menyeringai licik. Dengan gerakan yang tidak manusiawi, ia memutar tubuhnya, membiarkan palu itu lewat hanya beberapa inci dari wajahnya dan menghantam menara pengawas di belakangnya hingga hancur berkeping-keping.
"Terlalu lambat, Anjing Militer!" teriak Chen Mo dengan suara yang bergema seperti gesekan logam.
Namun, di saat perhatian Chen Mo teralih oleh serangan Da Ge, sebuah bayangan biru melesat dari tengah medan perang. Itu adalah Zhou Yu. Kecepatannya bukan lagi kecepatan manusia biasa yang berlari ia bergerak menggunakan teknik Langkah Arus Surgawi, sebuah teknik pergerakan yang ia sempurnakan selama lima tahun di puncak gunung es.
Tubuh Zhou Yu seolah-olah menjadi cahaya yang memanjang. Ia menerjang barisan pasukan berjubah hitam yang mencoba menghalanginya. Tidak ada gerakan sia-sia. Setiap kali kakinya menyentuh tanah, gelombang Qi biru meledak, melemparkan musuh di sekelilingnya. Pedang Han Shui di tangannya tidak lagi ditebaskan secara lebar, melainkan dengan tusukan dan sayatan pendek yang sangat presisi.
Sring! Sring! Sring!
Dalam waktu kurang dari tiga detik, sepuluh prajurit elit Sekte Bayangan Darah jatuh dengan leher tergorok sebelum mereka sempat menyadari apa yang menyerang mereka. Zhou Yu tidak berhenti. Ia menginjak bahu salah satu musuh, melompat tinggi ke udara, dan membelah hujan es yang turun dengan tubuhnya. Bagi para penonton di medan perang, Zhou Yu tampak seperti naga air yang sedang mengamuk, membelah kerumunan musuh hanya untuk mencapai tujuannya, Ling'er.
Chen Mo menyadari bahaya yang mendekat. Ia tidak lari, melainkan justru mempererat cengkeramannya pada leher Ling'er. Tiba-tiba, aura hitam pekat keluar dari telapak tangan Chen Mo, masuk ke dalam tubuh Ling'er melalui ubun-ubunnya.
"Jika kau melangkah satu inci lagi, aku akan menghisap seluruh esensinya!" ancam Chen Mo.
Zhou Yu mendarat lima meter di depan Chen Mo. Lantai batu di bawah kakinya retak seketika akibat momentum pendaratannya. Matanya membelalak melihat pemandangan di depannya. Tubuh Ling'er yang biasanya bersinar dengan aura suci, kini tampak meredup. Kulitnya yang seputih porselen berubah menjadi pucat keabu-abuan.
"Hentikan... Chen Mo... Hentikan!" raung Zhou Yu.
Ling'er tidak bisa lagi berteriak. Matanya yang indah mulai kehilangan cahayanya, menatap Zhou Yu dengan tatapan penuh rasa sakit sekaligus permohonan agar Zhou Yu tetap kuat. Chen Mo tertawa gila. Ia sedang melakukan teknik terlarang penyedot sumsum jiwa. energi ranah pembentukan fondasi milik Ling'er yang murni dan selaras dengan elemen air adalah nutrisi terbaik bagi kekuatan iblis di dalam tubuh Chen Mo.
"Sangat lezat... energi ini sangat nikmat!" Chen Mo berteriak saat energi biru milik Ling'er dipaksa keluar dan berubah menjadi hitam saat memasuki tubuhnya.
Ling'er terkulai lemas. Seluruh tenaga hidupnya dikuras habis secara paksa. Pembuluh darah di wajahnya tampak menonjol dan menghitam. Rasa sakitnya begitu luar biasa hingga ia bahkan tidak sanggup lagi memejamkan mata. Dalam hitungan detik, Ling'er yang dulunya adalah kembang akademi yang bersinar, kini tampak seperti lilin yang hampir padam di tengah badai.
Melihat Ling'er yang terluka parah dan sekarat di tangan musuh bebuyutannya, sesuatu di dalam diri Zhou Yu pecah. Bukan lagi sekadar amarah, melainkan kehampaan yang mematikan. Pedang Han Shui mulai mengeluarkan suara berdenging yang sangat tinggi, getarannya membuat senjata-senjata di tangan prajurit di sekeliling mereka ikut bergetar hebat.
"Bocah... jangan... jika kau melakukannya, kau akan masuk ke ranah yang tak bisa kembali!" Han Shui memperingatkan, suaranya kini terdengar kekhawatiran.
Zhou Yu tidak mendengar. Ia melepaskan seluruh penahan energinya. Aura biru dari tubuhnya meledak keluar, membentuk pilar cahaya raksasa yang menembus awan badai di atas mereka. Rambutnya berkibar liar, dan matanya kini tidak lagi memiliki pupil, hanya diisi oleh cahaya biru keputihan yang sangat dingin.
"Kau... telah menyentuh batas yang salah," ucap Zhou Yu. Suaranya bukan lagi suaranya yang biasa itu adalah suara ribuan arus air yang menabrak karang.
Da Ge yang baru saja mengambil kembali palunya, tertegun melihat sahabatnya. "Zhou Yu... jangan lakukan itu! Kau akan menghancurkan dirimu sendiri!"
Namun sudah terlambat. Zhou Yu menghilang dari pandangan mata. Chen Mo yang merasa memiliki kekuatan penuh setelah menyerap energi Ling'er, mencoba menangkis dengan pedangnya.
DUARRRR!
Tabrakan antara pedang Han Shui dan energi iblis Chen Mo menciptakan gelombang kejut yang meratakan bangunan-bangunan di radius lima puluh meter. Chen Mo terlempar ke belakang, terpaksa melepaskan Ling'er. Ling'er jatuh melayang di udara sebelum ditangkap dengan sangat lembut oleh Zhou Yu yang muncul secara instan di belakangnya.
Zhou Yu mendarat sambil memeluk tubuh Ling'er yang terasa sangat dingin dan ringan, seolah-olah ia hanya memeluk sehelai daun kering.
"Ling'er... Ling'er!" Zhou Yu memanggil, suaranya bergetar dengan kesedihan yang tak terlukiskan.
Ling'er sedikit menggerakkan jarinya, menyentuh wajah Zhou Yu dengan sisa tenaga terakhirnya. Darah merembes dari telinga dan matanya akibat tekanan energi iblis tadi. "Kak... Yu... pergilah..." bisiknya nyaris tanpa suara, sebelum kepalanya jatuh terkulai di lengan Zhou Yu.
Dunia seolah berhenti berputar bagi Zhou Yu. Di sekelilingnya, Da Ge masih bertarung mati-matian menahan gelombang musuh yang terus berdatangan. Prajurit-prajurit kekaisaran banyak yang berguguran. Sementara itu, Chen Mo berdiri kembali, luka-lukanya sembuh dengan sangat cepat berkat energi Ling'er yang ia serap.
"Lihat dia! Dia sudah hancur!" Chen Mo menunjuk ke arah Zhou Yu sambil tertawa terbahak-bahak. "Sekarang, berikan pedang itu padaku, dan aku akan memberikan kematian yang cepat untuk kalian berdua!"
Zhou Yu meletakkan tubuh Ling'er di atas hamparan es yang ia ciptakan secara spontan agar tubuhnya tidak menyentuh tanah yang kotor oleh darah. Ia berdiri perlahan. Setiap gerakannya diikuti oleh retakan es di udara. Ia menatap Chen Mo, bukan lagi dengan kemarahan, tapi dengan tatapan seorang dewa kematian yang sedang menatap seekor serangga.
Han Shui di tangannya kini berubah warna. Bilahnya yang dulu biru jernih, kini memiliki urat-urat es berwarna putih susu yang memancarkan aura dingin yang mampu membekukan darah siapapun yang berada dekat dengannya.
"Da Ge," ucap Zhou Yu tanpa menoleh.
"Ya?" Da Ge menjawab sambil terengah-engah, memukul mundur dua musuh sekaligus.
"Jaga Ling'er. Jika setetes darah musuh menyentuh pakaiannya... aku akan meratakan seluruh benua ini."
Da Ge menelan ludah. Ia belum pernah melihat Zhou Yu seperti ini. Aura yang dipancarkan Zhou Yu saat ini telah melampaui Foundation Establishment Realm. Ini adalah aura seseorang yang telah menyentuh batas akhir earth spirit realm ( ranah roh bumi ) melalui jalur kemurkaan.
Zhou Yu mengangkat pedangnya tinggi-tinggi. Langit di atas Akademi Tian Meng seolah-olah terbelah. Hujan es berhenti, digantikan oleh salju yang turun dengan sangat deras namun memiliki ketajaman seperti ribuan silet.
"Chen Mo," suara Zhou Yu bergema di seluruh ibu kota. "Hari ini, bahkan neraka pun tidak akan mau menerimamu."
Chen Mo mulai merasa gentar. Kekuatan yang ia serap dari Ling'er seolah-olah memberontak di dalam tubuhnya karena ketakutan melihat Zhou Yu. Ia berteriak memanggil seluruh pasukan Sekte Bayangan Darah untuk mengeroyok Zhou Yu.
"SERANG DIA! BUNUH DIA SEKARANG!"
Ratusan prajurit berbaju hitam melompat ke arah Zhou Yu secara bersamaan. Zhou Yu hanya mengayunkan pedangnya sekali secara mendatar. Sebuah garis tipis berwarna putih muncul di udara, meluas dengan kecepatan cahaya, kekuatan yang mustahil di keluar oleh seorang di ranah pembentukan fondasi pada umumnya.
SLASH!
Keheningan melanda sesaat. Detik berikutnya, ratusan prajurit yang melompat tadi terhenti di udara, sebelum tubuh mereka terbelah menjadi dua dan membeku menjadi patung es sebelum sempat jatuh ke tanah. Tidak ada darah yang mengalir semuanya membeku dalam sekejap.
Chen Mo gemetar hebat. Ia menyadari bahwa ia bukan lagi berhadapan dengan murid berbakat akademi. Ia sedang berhadapan dengan sebuah bencana alam yang berbentuk manusia.
Zhou Yu melangkah maju menuju Chen Mo yang kini merangkak mundur ketakutan. Pedang Han Shui diseret di atas lantai batu, menciptakan suara decitan yang terdengar seperti lonceng kematian.
Namun, tepat saat Zhou Yu akan mengayunkan serangan terakhirnya, sebuah ledakan energi hitam yang jauh lebih besar muncul dari gerbang utama akademi. Mata-mata bertopeng perak yang asli muncul, membawa sebuah gulungan kuno yang memancarkan aura kegelapan yang mengerikan.
"Cukup permainannya, bocah pedang," ucap si Topeng Perak. "Waktunya bagi pemilik pedang yang asli untuk mengambil kembali haknya."
Zhou Yu tertegun. Ia merasakan energi di dalam pedangnya mendadak bergejolak hebat, seolah-olah dipaksa untuk keluar dari genggamannya. Di saat yang sama, tubuh Ling'er yang berada di belakangnya mulai bercahaya dengan warna hitam yang menyeramkan.
"Apa yang kau lakukan?!" teriak Zhou Yu.
"Aku tidak menyerap energinya untuk Chen Mo," Topeng Perak menyeringai di balik topengnya. "Aku menggunakan tubuh gadis itu sebagai wadah untuk memanggil kembali Jiwa Hitam yang tertidur di dalam pedangmu. Kau baru saja memberikan amarah yang ia butuhkan untuk bangun."
Dunia Zhou Yu kembali terguncang. Ling'er yang terluka parah kini menjadi pusat dari sebuah pusaran energi kegelapan yang mulai menelan segalanya.
...Bersambung.......