Di Benua Sembilan Awan, takdir seseorang ditentukan oleh Pusaka Jiwa yang mereka bangkitkan. Li Tian, seorang murid luar yang gigih namun miskin, menjadi bahan tertawaan seluruh sekte ketika ia membangkitkan pusaka berupa sarung tangan perunggu kusam yang dianggap sampah tak berguna.
Namun, dunia buta akan kebenarannya. Di balik karat itu bersemayam Zu-Long, Roh Kaisar Naga Primordial yang pernah menguasai langit. Pusaka itu bukanlah sampah, melainkan Cakar Naga Pemutus Takdir, satu dari Sembilan Pusaka Kaisar legendaris dengan kemampuan mengerikan: melipatgandakan kekuatan penggunanya tanpa batas.
Menolak menyerah pada nasib sebagai "sampah", Li Tian bangkit. Dengan bimbingan Naga Purba yang angkuh dan tekad baja, ia bersiap menampar wajah para jenius sombong, melindungi orang-orang terkasih, dan mendaki puncak kultivasi untuk menjadi Dewa Perang Terkuat.
Legenda seekor Naga yang membelah langit baru saja dimulai.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Baldy, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Tetua Mabuk
Rasa sakit. Itu adalah sensasi pertama yang menyapa Li Tian saat kesadarannya kembali.
Bukan sakit tajam seperti tertusuk pedang, melainkan rasa ngilu yang dalam, seolah-olah tulang lengan kanannya telah digiling menjadi bubuk lalu dipadatkan kembali secara paksa.
"Ugh..." Li Tian mengerang, mencoba membuka matanya.
Dia mencium aroma arak yang sangat kuat. Arak beras tua yang difermentasi dengan herbal spirit.
"Jangan bergerak, Bocah. Kecuali kau mau tangan kananmu copot dan jatuh ke lantai."
Suara serak itu terdengar dekat. Li Tian menoleh. Dia berada di dalam gubuk utama Puncak Pedang Patah. Di samping dipan bambunya, Tetua Mabuk sedang duduk sambil memegang guci arak di satu tangan, dan tangan lainnya diletakkan di atas bahu kanan Li Tian.
Cahaya keemasan hangat mengalir dari telapak tangan Tetua Mabuk, meresap ke dalam bahu Li Tian, memperbaiki jaringan otot yang robek akibat Gandakan x8.
"Tetua..." bisik Li Tian.
"Diam dan minumlah ini," Tetua Mabuk menuangkan sedikit arak dari gucinya ke mulut Li Tian.
Li Tian tersedak. "Uhuk! Panas!"
Cairan itu membakar tenggorokannya, tapi begitu mencapai perut, hawa hangat yang nyaman menyebar ke seluruh tubuh, menghilangkan rasa sakit di tulangnya.
"Arak Tulang Naga," kata Tetua Mabuk santai. "Disimpan selama lima puluh tahun. Harganya lebih mahal daripada nyawamu. Bersyukurlah."
Li Tian merasakan energinya pulih dengan cepat. Dia menatap pria tua berantakan itu dengan pandangan baru. Aliran Qi yang digunakan Tetua Mabuk untuk menyembuhkannya barusan... itu sangat murni dan dalam. Jauh lebih kuat daripada Tetua Guntur.
"Tetua... Anda bukan sekadar pemabuk, kan?" tanya Li Tian.
Tetua Mabuk terkekeh, matanya yang biasanya keruh kini terbuka sedikit, memperlihatkan kilatan setajam pedang.
"Dan kau bukan sekadar murid baru yang beruntung, kan?" balas Tetua Mabuk.
Dia menunjuk sarung tangan perunggu di tangan kanan Li Tian.
"Benda itu... memiliki aura yang sangat tua. Bau darah, perang, dan... keangkuhan purba."
Di dalam jiwa Li Tian, Zu-Long mendengus. "Hmpf. Orang tua ini punya mata yang tajam. Dia setidaknya berada di Ranah Jiwa Agung, meski dia menyembunyikannya."
Tetua Mabuk melepaskan tangannya dari bahu Li Tian.
"Aku tidak akan bertanya dari mana kau mendapatkannya. Setiap orang punya takdirnya sendiri," kata Tetua Mabuk sambil meneguk araknya lagi. "Tapi ingat ini, Li Tian. Kau menggunakan teknik yang melampaui batas tubuhmu. Tulang Emas-mu retak halus. Jika kau melakukannya sekali lagi sebelum mencapai Bangkit Jiwa Tingkat 5, kau akan lumpuh permanen."
Li Tian menunduk. "Saya mengerti. Situasinya mendesak."
"Pahlawan selalu punya alasan mendesak untuk mati muda," sindir Tetua Mabuk. "Istirahatlah. Teman gendutmu aman di Puncak Alkimia, sedang direndam di kolam obat. Gadis es itu... dia ada di luar, mondar-mandir seperti kucing yang kehilangan anaknya."
Li Tian terkejut. "Su Yan ada di sini?"
"Sudah dua jam. Dia keras kepala. Suruh dia masuk sebelum dia membekukan tanaman obatku."
Tetua Mabuk berdiri dan berjalan keluar, melambaikan tangan. "Aku mau cari tempat tidur yang tenang."
Sesaat kemudian, pintu gubuk terbuka pelan. Su Yan melangkah masuk. Dia masih mengenakan jubah tempur timnya yang sedikit robek, wajahnya terlihat lelah namun lega saat melihat Li Tian sudah duduk.
"Kau hidup," kata Su Yan datar, meski matanya menyiratkan kelegaan.
"Susah payah," Li Tian tersenyum lemah. "Bagaimana kondisi Han?"
"Dia akan baik-baik saja. Luka bakarnya parah, tapi tidak kena organ vital. Dia akan punya bekas luka keren untuk dipamerkan pada gadis-gadis," jawab Su Yan, mencoba bercanda (yang terdengar kaku).
Su Yan duduk di tepi dipan. Dia meletakkan sebuah kotak kecil.
"Ini bagianmu dari hadiah juara. Dan... ini dari aku pribadi."
Dia mengeluarkan sebuah botol kristal kecil berisi cairan biru bening.
"Embun Teratai Es. Ini akan mendinginkan ototmu yang terbakar akibat teknik gila itu."
"Terima kasih, Su Yan."
Suasana menjadi hening sejenak, tapi bukan hening yang canggung. Ada rasa hormat yang mendalam di antara mereka setelah bertarung hidup dan mati bersama.
"Li Tian," kata Su Yan tiba-tiba. "Serangan terakhir itu... Naga Es Hitam. Saat energimu menyatu dengan energiku... aku merasakan sesuatu."
Li Tian menegang. Apakah dia merasakan Zu-Long?
"Aku merasakan... kesedihan dan keagungan," lanjut Su Yan. "Pusakamu... dia seperti sedang mencari sesuatu yang hilang. Atau mungkin... seseorang yang setara dengannya."
Li Tian terdiam. Insting Yin Murni Su Yan ternyata sangat peka.
"Kau benar," Li Tian akhirnya berkata. Dia memutuskan untuk mempercayai Su Yan, setidaknya sebagian.
Li Tian merogoh saku jubahnya (yang diletakkan di meja) dan mengeluarkan Peta Kuno yang dia temukan di Cincin Xue Sha tempo hari. Dia belum sempat memeriksanya dengan teliti karena kesibukan turnamen.
Dia membentangkan peta itu di atas selimut. Itu adalah peta kulit binatang yang menggambarkan wilayah Benua Sembilan Awan, tapi dengan nama-nama tempat dari era kuno.
Ada satu titik yang berkedip dengan cahaya merah samar di peta itu.
"Zu-Long," tanya Li Tian dalam hati. "Apakah ini petunjuk pecahan Zirah lagi?"
"Bukan," jawab Zu-Long, suaranya terdengar serius namun bersemangat. "Getarannya berbeda. Ini bukan material mati. Ini adalah resonansi dengan Pusaka Kaisar lainnya."
"Pusaka Kaisar lain?"
"Ya. Di sana, aku merasakan keberadaan Sayap Rembulan Pemudar Cahaya. Salah satu dari Sembilan Mahakarya Sang Pencipta Awal. Saudara sekaligus rival dari Cakar Naga-ku."
Li Tian melihat lokasi titik itu di peta.
Gurun Pasir Maut - Reruntuhan Kota Seribu Menara.
"Gurun Pasir Maut?" Su Yan membaca peta itu. "Itu wilayah berbahaya di Barat. Jauh dari wilayah Sekte. Tempat itu dihuni oleh monster Tingkat 3."
"Aku harus ke sana," kata Li Tian mantap. "Segera setelah tanganku sembuh."
Su Yan menatap Li Tian lama, lalu dia berdiri.
"Kalau begitu, cepatlah sembuh. Sekte akan memberikan misi ekspedisi luar bagi murid dalam bulan depan. Aku akan mendaftar ke wilayah Barat."
Li Tian terkejut. "Kau mau ikut?"
"Aku butuh Inti Es dari Kalajengking Gurun untuk menembus Bangkit Jiwa Tingkat 6," alasan Su Yan, memalingkan wajahnya yang sedikit merona. "Dan... kau butuh seseorang untuk memastikan kau tidak mati konyol di gurun."
Li Tian tertawa. "Aliansi Naga Es berlanjut?"
"Sampai kau melunasi hutang nyawamu padaku," jawab Su Yan sambil berjalan keluar. Di ambang pintu, dia berhenti dan menoleh sedikit. "Istirahatlah."
Setelah Su Yan pergi, Li Tian kembali menatap peta itu.
Gurun Pasir Maut. Kota Seribu Menara.
"Sayap..." gumam Li Tian. "Jika aku mendapatkan sayap itu, apakah aku bisa terbang?"
"Lebih dari itu," kata Zu-Long. "Tapi ingat, Sayap itu adalah entitas utuh, bukan pecahan. Jika dia sudah memiliki tuan... maka kau akan menghadapi pertarungan sesama Pewaris Kaisar. Bersiaplah."
Semua telah berakhir dengan kemenangan. Tapi bayangan gurun pasir dan konflik takdir para pewaris pusaka kini memanggil.
Li Tian meminum arak pemberian Tetua Mabuk lagi sampai habis.
"Pahit," katanya sambil menyeringai. "Tapi bikin ketagihan."