Aru dan Kenan adalah cerita tentang luka yang tak sengaja saling bersentuhan.
Aru, perempuan lembut dengan keteguhan hati yang sunyi, dipertemukan dengan Kenan—seorang ayah tunggal yang keras, protektif, dan menyimpan ketakutan terdalam akan kehilangan.
Sebuah pertemuan yang seharusnya biasa justru berujung luka, membuka tabir emosi yang selama ini terkunci rapat. Di tengah kesalahpahaman, tangisan seorang anak, dan perasaan bersalah, tumbuh kehangatan yang tak direncanakan.
Ketulusan Aru yang menenangkan dan naluri keibuannya perlahan meruntuhkan dinding pertahanan Kenan. Sementara Kenan, tanpa sadar, kembali belajar mempercayai cinta—meski hatinya terus mengingatkan untuk menjauh.
Ini bukan kisah cinta yang terburu-buru, melainkan perjalanan perlahan tentang luka, tanggung jawab, dan keberanian untuk membuka hati sekali lagi.
.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Azarrna, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 35
Siang itu, ruang keluarga rumah Wiratama berubah menjadi pusat keramaian kecil. Lampu utama dinyalakan setengah terang, cukup untuk menerangi sofa besar berbentuk L yang menghadap ke televisi layar lebar. Tirai jendela sudah tertutup, menyisakan pantulan cahaya senja yang samar di kaca.
Di depan TV, konsol PlayStation telah menyala.
Bisma duduk di ujung sofa dengan posisi paling tegak, memegang stik PS dengan serius—seolah permainan itu adalah operasi penting yang tak boleh gagal. Di sebelahnya, Alvaro bersandar santai, satu kaki terangkat ke atas sofa, ekspresinya penuh percaya diri. Alvian duduk di karpet, punggungnya menyandar ke sofa, kaki diluruskan ke depan—posisi ternyaman yang bisa ia ambil selama masa pemulihan.
Sementara Aru?
Ia duduk di lantai tepat di depan meja kecil, memeluk bantal, menatap layar dengan penuh fokus—meski stik PS belum juga berada di tangannya.
Hari ini adalah hari langka.
Bisma dan Alvaro tidak ke rumah sakit. Tidak ada pasien darurat, tidak ada panggilan mendadak. Alvian, sesuai instruksi dokter, masih harus banyak istirahat. Sementara Aru… untuk pertama kalinya setelah sekian lama, ia benar-benar tidak terikat jam kantor.
Kedua orang tua mereka pun sedang berada di luar kota untuk beberapa hari ke depan.
“Bang, cepetan dong,” protes Aru. “Dari tadi pilih karakter mulu.”
“Sabar,” sahut Alvaro tanpa menoleh. “Ini strategi.”
“Strategi apaan,” dengus Alvian. “Main bola doang sok mikir.”
Bisma terkekeh kecil. “Mainnya yang bener. Jangan ribut.”
Aru mendesah, lalu menoleh ke Bisma. “Phi, Aru kapan main?”
“Nanti,” jawab Bisma singkat. “Ini Phi sama abang Alvaro dulu.”
Aru manyun. “Katanya main bareng.”
“Bareng kan bertiga,” sahut Alvian sambil nyengir. “Kamu jadi komentator aja dulu, dek.”
Aru langsung bangkit setengah berdiri. “Kak!”
“Udah, duduk aja dulu,” ucap Bisma tenang tapi tegas.
Aru akhirnya menurut, kembali duduk sambil memeluk bantal lebih erat.
Alvian meliriknya sekilas, lalu tersenyum miring.
“Ngomong-ngomong… gimana rasanya jadi pengangguran, dek?”
Aru langsung menoleh tajam. “Kakak!”
Bisma dan Alvaro sempat menoleh sebentar, lalu kembali fokus ke layar.
“Serius,” lanjut Alvian santai. “Kita bertiga hampir nggak pernah ngerasain hidup tanpa kerja. Penasaran aja.”
Aru terdiam sejenak sebelum menjawab.
“Enak dan nggak enak,” katanya akhirnya. “Enaknya… Aru bisa napas. Bangun pagi nggak dikejar deadline. Tapi kadang juga ngerasa kosong.”
Alvaro mengangguk pelan. “Wajar.”
“Tapi Aru nggak nganggur-nganggur banget,” tambah Aru cepat. “Masih ada kegiatan di tempat gym.”
Bisma melirik Aru sekilas.
“Kalau capek, bilang. Jangan sok kuat,” ucapnya. “Kamu itu bukan mesin.”
Aru tersenyum kecil. “Iya, Phi.”
Belum sempat obrolan berlanjut, pertandingan dimulai. Suara sorak penonton virtual memenuhi ruangan.
“EH! ITU FOUL!” teriak Alvian.
“Foul apanya,” balas Alvaro santai. “Skill issue.”
“Skill issue pala lo!” Alvian menggebrak karpet.
Aru memutar mata. “Ribut amat sih.”
Beberapa menit kemudian—
“YES!” seru Alvaro saat mencetak gol pertama.
Alvian langsung menoleh ke Aru.
“Lihat tuh. Curang dia.”
“Curang apanya,” sahut Aru malas. “Kakaknya aja nggak bisa main.”
Alvian mendelik. “Kamu belain dia sekarang?”
Aru tersenyum polos. “Iya.”
“Dekkhhh.”
“Tenang,” ujar Bisma tanpa menoleh. “Baru satu nol.”
Di sela permainan, Alvaro tiba-tiba bersuara,
“Dek, "
"Hemm."
"Sebenarnya ada satu solusi paling gampang buat kamu saat ini, Dek.”
Aru langsung mengerutkan kening. “Apa?”
“Kerja di perusahaan ayah.”ucap Alvian santai. " Kerja sama kakak . "sambung nya.
Suasana seketika berubah.
“Nggak,” jawab Aru refleks, terlalu cepat.
“Kenapa langsung nolak?” Alvian terkekeh.
“Karena Aru tahu ujungnya,” sahut Aru ketus. “Bukan kerja. Tapi disuruh leha-leha.”
Ia menatap mereka satu per satu. “Waktu itu Aru nurut. Hasilnya? Jalan-jalan keliling kantor, duduk manis, disuruh nonton Netflix.”
Alvaro tersenyum geli. “Ya karena ayah sayang sama kamu.”
“Itu masalahnya, bang” potong Aru. “Aru mau dihargai karena kemampuan, bukan karena status.”
“Padahal enak,” goda Alvian. “Kerja tanpa tekanan.”
“Aru nggak mau,” suara Aru meninggi. “Phi tahu kan Aru paling nggak bisa pura-pura kerja?”
Bisma menghentikan gerakan stiknya. “Sudah,” katanya tenang. “Kalau Aru nggak mau, ya nggak usah.”
Aru langsung menoleh, matanya sedikit berkaca-kaca.
“Iya,” lanjut Bisma lembut. “Phi ngerti.”
Ia meraih tangan Aru dan menggenggamnya pelan.
“Kamu nggak perlu kerja di perusahaan ayah kalau kamu nggak nyaman.”
Pertahanan Aru runtuh. Ia bangkit dan memeluk Bisma erat.
Alvian dan Alvaro saling pandang, lalu tertawa kecil.
“Disuruh kerja aja bisa nangis,” goda Alvian.
Tawa mereka langsung berhenti saat Bisma melirik tajam.
“Berhenti.”
“Oke,” ujar Alvaro sambil mengangkat tangan.
Setelah suasana mereda, Bisma mengusap rambut Aru.
“Nanti malam ikut Phi, nggak?”
Aru melepaskan pelukan..“Ke mana?”
“Nongkrong,” jawab Alvian cepat.
Aru menggeleng. “Nggak bisa. Aru ada janji.”
“Janji apa?” Alvaro curiga.
“Makan malam,” jawab Aru santai. “Sama Bang Bagas dan Anak-anak Muai Thai.”
“Cowok semua?” tanya Alvian.
“Iya.”
Bisma berpikir sejenak. “Sama Bagas?”
“Iya.”
“Ya sudah,” kata Bisma akhirnya. “Abang izinin,karna ada Bagas disana.”
Aru tersenyum lebar. “Makasih.”
Ia menoleh ke dua kakaknya. “Gimana?”
“Boleh,” jawab mereka pasrah.
Aru langsung berdiri, memeluk mereka satu per satu, lalu mencubit pipi Alvian.
“Makasih, Kakak-ku yang paling manja.”
“DEKK!”
Tawa memenuhi ruang keluarga.
Tak lama, Alvaro kembali mencetak gol.
“Dua nol.”
“Maluuu,” keluh Alvian.
“Masih mau main?” tanya Aru.
Alvian menatapnya. “Sini. Gantian.”
Aru menoleh ke Bisma. “Phi?”
Bisma mengangguk. “Ambil stik.”
Aru bersorak kecil dan segera meraih stik PS. Ia duduk di lantai, punggung bersandar ke sofa, tepat di depan Alvian.
“Siap kalah?” tanya Alvian menantang.
Aru menyeringai. “Siap menang.”
Pertandingan dimulai.
Tak sampai lima menit, Aru berhasil menyamakan skor.
“GOOOOL!” teriaknya sambil mengangkat tangan.
Alvian terdiam.
“Loh?”
Alvaro menoleh. “Eh, serius?”
Bisma tersenyum kecil, bangga.
Tak lama kemudian, Aru mencetak gol kedua.
Alvian menatap layar dengan wajah tak percaya.
“Ini kebetulan.”
“Katanya siap kalah,” sindir Aru.
Pertandingan berakhir dengan skor 3–2 untuk Aru.
Aru langsung berdiri dan mengangkat kedua tangan.
“MENANG!”
Alvian menjatuhkan tubuhnya ke karpet.
“Hancur harga diri kakak,Dek.”
Alvaro tertawa. “Makanya jangan remehkan Aru.”
Aru mendekati Alvian dan duduk di sampingnya. “Kakak jangan sedih. Kakak ku masih jago kok.”
“Palsu,” gumam Alvian.
Bisma meletakkan stik dan menatap mereka bertiga.
“Kalian capek?”
“Enggak,” jawab Aru cepat.
Bisma tersenyum lembut. “Kalau gitu satu game lagi. Tapi habis itu istirahat.”
Aru mengangguk antusias.
Di ruang keluarga itu, tawa, teriakan kecil, dan canda bercampur menjadi satu. Tak ada jabatan, tak ada tanggung jawab besar—hanya empat saudara yang menikmati kebersamaan, sebelum malam membawa mereka kembali pada dunia masing-masing.
Bersambung..............