Kehidupan Jasmine sebagai pemimpin tunggal wilayah Alistair berubah drastis saat dia menyadari keganjilan pada pertumbuhan putra kembarnya, Lucian dan Leo. Di balik wajah mungil mereka, tersimpan kekuatan dan insting yang tidak manusiawi.
Tabir rahasia akhirnya tersingkap saat Nyonya Kimberly mengungkap jati dirinya yang sebenarnya, sebuah garis keturunan manusia serigala yang selama ini bersembunyi di balik gelar bangsawan.
Di tengah pergolakan batin Jasmine menerima kenyataan tersebut, sebuah harapan sekaligus luka baru muncul, fakta bahwa Lucas Alistair ternyata masih hidup dan tengah berada di tangan musuh.
Jasmine harus berdiri tegak di atas dua pilihan sulit, menyembunyikan rahasia darah putra-putranya dari kejaran para pemburu, atau mempertaruhkan segalanya untuk menjemput kembali sang suami.
"Darah Alistair tidak pernah benar-benar padam, dan kini sang Alpha telah terbangun untuk menuntut balas."
Akankah perjuangan ini berakhir dengan kebahagiaan abadi sebagai garis finis?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon hofi03, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
MENGASAH KEMAMPUAN
Keesokan paginya, sebelum matahari benar-benar menampakkan dirinya, Jasmine sudah berdiri di tengah lapangan latihan tertutup.
Wajahnya tampak sedikit pucat karena kelelahan dari latihan malamnya bersama Nyonya Kimberly, namun matanya tetap tajam.
Di depannya, Lucian dan Leo berdiri dengan pakaian latihan yang lebih pas di tubuh kecil mereka.
Mereka berdua tampak lebih waspada hari ini, tidak ada lagi rengekan ingin tidur.
"Lucian, Leo," panggil Jasmine, dingin.
"Kemarin kalian belajar tentang reaksi, hari ini, kita akan belajar tentang kontrol dan pengalihan," ucap Jasmine, kembali ke mode pelatih.
"Lucian, pendengaranmu adalah anugerah, tapi di medan perang, itu bisa menjadi kutukan, musuh akan menggunakan suara ledakan untuk membuat kepalamu pecah," ucap Jasmine menunjuk ke arah Lucian.
"Tugasmu hari ini yaitu fokus pada satu suara di tengah kebisingan!" lanjut Jasmine, tegas.
TRANG
TRANG
Ethan, atas perintah Jasmine, mulai memukul-mukul perisai besi dengan pedang, menciptakan suara dentuman yang memekakkan telinga di ruangan tertutup itu.
Di saat yang sama, Jasmine menyalakan beberapa sumbu kecil yang mengeluarkan suara mendesis.
"Cari detak jantung Ibu, Lucian! Abaikan suara Ethan, abaikan suara desisan itu, temukan Ibu!" perintah Jasmine, tegas.
TRANG
TRANG
Lucian memejamkan matanya rapat-rapat, wajahnya meringis menahan sakit karena suara logam yang beradu terasa seperti jarum yang menusuk telinganya, membuat tubuh kecilnya gemetar.
"Sakit, Ibu..." bisik Lucian.
"Fokus, Lucian! Jika kau tidak bisa mengendalikannya, kau akan hancur oleh kebisingan dunia! Cari detak jantungku!" tegas Jasmine, meski hatinya teriris melihat putra sulungnya kesakitan.
Perlahan, napas Lucian mulai teratur, telinganya yang tadi bergerak liar mulai tenang.
Pria kecil itu mulai menyaring suara. Dentuman perisai Ethan memudar menjadi latar belakang, desisan sumbu menghilang, dan tiba-tiba...
Deg
Deg
Deg
Lucian membuka matanya, yang kini berkilat emas redup, dia menunjuk tepat ke arah dada Jasmine.
"Ibu, aku menemukannya, detak jantung Ibu, tenang tapi kuat," ucap Lucian, dengan nafas yang sudah stabil.
"Pertahankan itu, karena itu adalah jangkar mu," ucap Jasmine tersenyum bangga.
Setelah melatih Lucian, kini giliran Leo.
Jasmine membawa Leo ke sebuah meja yang di atasnya terdapat sebuah bejana air dan sebuah lilin yang menyala.
"Leo, apimu keluar karena emosi, tapi api yang paling panas adalah api yang tenang," ucap Jasmine, dingin.
"Lihat lilin ini, ibu ingin kamu memindahkan api dari lilin ini ke air di dalam bejana tanpa menguapkan airnya!" perintah Jasmine, tegas.
"Tapi Ibu, api dan air tidak berteman!" protes Leo mengerutkan kening nya.
"Mereka bisa berteman jika kamu yang memerintahnya, Leo, jangan gunakan amarahmu, tapi gunakan keinginanmu untuk melindungi," ucap Jasmine membimbing tangan kecil Leo mendekati api lilin.
Leo mencoba fokus, dia membayangkan rasa hangat yang dia berikan pada ibunya saat berpelukan.
Perlahan, api di lilin itu memanjang, meliuk seperti benang emas, dan masuk ke dalam air, seketika air itu mulai berpendar merah, tapi tidak mendidih.
"Lihat, Ibu! Airnya jadi cantik!" seru Leo kegirangan.
Namun, karena kegembiraannya, kontrol Leo lepas.
Wush
Air di bejana itu tiba-tiba meledak menjadi uap panas yang membubung ke langit-langit.
"Hampir berhasil, Leo, tapi seorang prajurit tidak boleh kehilangan fokus hanya karena satu keberhasilan kecil," tegur Jasmine lembut sambil mengusap sisa uap di pipi Leo.
"Leo paham ibu," jawab Leo, mengangguk kan kepala nya.
Setelah latihan energi selesai, Jasmine mendudukkan mereka berdua di lantai batu, lalu dia mengeluarkan dua buah belati kayu pendek.
"Sekarang, dengarkan Ibu baik-baik," ucap Jasmine dengan nada yang sangat serius.
"Kekuatan serigala kalian hebat, tapi suatu saat, musuh mungkin akan menyegel kekuatan itu, atau kalian mungkin terlalu lelah untuk mengeluarkannya. Apa yang akan kalian lakukan?" tanya Jasmine, menatap kedua Putra nya.
"Lari?" tanya Leo polos.
"Bertarung sampai mati?" sahut Lucian.
"Tidak," ucap Jasmine menggeleng kan kepala nya.
"Kalian akan menggunakan kelemahan musuh sebagai senjata kalian. Lucian, meskipun kau tidak bisa mendengar jauh, kau tetap punya mata untuk melihat titik tumpu lawan, dan untuk Leo, meskipun kamu tidak punya api, kamu tetap punya kecepatan untuk menyerang titik saraf," ucap Jasmine, menjelaskan.
"Perhatikan pelajaran yang akan ibu berikan hari ini!" perintah Jasmine, tegas.
Jasmine mulai mengajarkan gerakan bela diri dasar, bukan gaya ksatria yang menggunakan tenaga besar, melainkan teknik jiu-jitsu dan serangan titik saraf yang ia pelajari di dunianya dulu, teknik yang menggunakan berat badan lawan untuk menjatuhkan mereka.
"Ingat, kalian kecil, jangan lawan kekuatan dengan kekuatan, tapi lawan kekuatan dengan arah dan momentum," jelas Jasmine sambil mendemonstrasikan cara menjatuhkan Ethan yang berbadan besar hanya dengan tarikan di pergelangan kaki.
BRAK
Ethan jatuh ke lantai, membuat kedua bocah itu terperangah.
"Wah! Ibu hebat! Paman Ethan yang besar jatuh seperti nangka busuk!" seru Leo sambil bertepuk tangan.
"Pelatih, Anda benar-benar tidak main-main dengan teknik itu," ucap Ethan bangkit sambil mengaduh, mengusap punggungnya
"Kalian berdua adalah Alistair, dan kalian adalah Serigala, tapi di tanganku, kalian akan menjadi pemburu yang paling cerdas! Sekarang, ulangi gerakan tadi pada Paman Ethan. Sepuluh kali tanpa henti!"perintah Jasmine menatap kedua putranya dengan tatapan yang dalam.
"Siap, Pelatih!" jawab Lucian dan Leo serempak, semangat mereka terbakar melihat ibunya yang begitu tangguh.
Di sudut ruangan, Nyonya Kimberly memperhatikan dengan senyum tipis.
Dia melihat bagaimana Jasmine tidak hanya melatih fisik, tapi juga membangun mental baja di dalam diri kedua cucunya.
Di tengah latihan fisik yang sedang berlangsung, suasana di dalam ruangan latihan itu mendadak berubah.
Suhu udara di dalam ruangan terasa turun drastis, dan bulu kuduk Ethan serta para ksatria Serigala Hitam yang berjaga di luar langsung berdiri tegak.
Insting serigala dalam tubuh Lucian dan Leo bereaksi lebih cepat.
Lucian tiba-tiba berhenti bergerak, telinganya bergerak-gerak tajam ke arah langit-langit, sementara Leo mengecilkan pupil matanya, tangannya mulai mengeluarkan uap panas secara tidak sadar.
"Ibu... ada bau hutan yang sangat kuat," bisik Lucian, bergeser mendekati Jasmine.
KLEK
WUSH
WUSH
WUSH
Pintu besar di ujung lorong tidak terbuka, melainkan tiga bayangan melompat turun dari celah tinggi di dinding batu dengan kelincahan yang mustahil bagi manusia biasa.
HAP
Mereka mendarat tanpa suara, hanya debu tipis yang beterbangan.
Mereka adalah dua pria dan satu wanita dengan pakaian kulit yang lusuh dan rambut yang berantakan, namun aura yang mereka pancarkan sangat menekan, dan mata mereka, semuanya berwarna kuning keemasan yang tajam.
"Siapa kalian?! Berhenti di situ!" ucap Ethan langsung menghunus pedangnya.
Namun, ketiga orang itu tidak memedulikan Ethan, pandangan mereka langsung terkunci pada dua bocah kecil di samping Jasmine.