Hana dan Aldo mempunyai seorang anak laki-laki bernama Kenzo. Mereka adalah sepasang suami istri yang telah menikah selama 6 tahun, Kenzo berusia 5 tahun lebih dan sangat pandai berbicara. Kehidupan Hana dan Aldo sangat terjamin secara materi, Aldo mempunyai perusahaan batu bara di kota kalimantan...kehidupan rumah tangga mereka sangat rukun dan harmonis, hingga suatu hari musibah itu menimpa dalam rumah tangga mereka...
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon VISEL, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
19
Aldo menatap Peter, ia bertanya-tanya dalam hatinya tentang siapa Peter dan apa hubungannya dengan Hana.
Aldo: "Kenzo sudah kembali ceria, Hana. Aku sudah selesai bicara dengannya." ucapnya sambil terus memandangi Peter.
Hana: "Terima kasih karena sudah datang menemui Kenzo." ucapnya.
Aldo: "Aku pulang dulu, Hana." ucapnya.
Hana: "Iya." sahutnya singkat. Peter heran dengan hubungan Hana dan Aldo, Peter belum mengetahui tentang perpisahan Aldo dan Hana. Setelah Aldo pergi, Peter menatap Hana dengan penuh keheranan dan penuh pertanyaan dalam benaknya.
Peter: "Mengapa ada jarak di antara kalian? Mengapa suamimu harus pergi?" tanyanya dengan rasa penasaran. Hana menghela nafas ringan, mungkin sudah saatnya Peter harus tahu tentang hubungannya dengan Aldo. Bagi Hana, kejujuran dalam berteman itu sangat penting agar pertemanan itu bisa bertahan lama.
Hana: "Namanya Aldo. Ia mantan suamiku." ucapnya pelan. "Kami sudah berpisah sebulan yang lalu." ucapnya lagi. Hana menceritakan penyebab perpisahannya dengan Aldo, ia mengatakan semuanya tentang penghianatan Aldo dan Sari. Peter tertegun, ia tidak menyangka wanita secantik Hana disia-siakan oleh pria seperti Aldo. "Aku rasa cerita tentangku sudah cukup. "Jangan memberitahukan hal ini pada Kenzo. Ia tidak harus tahu semuanya." ucapnya dengan tegas.
Peter: "Aku mengerti, Hana." ucapnya pelan. "Aku ikut sedih atas perpisahanmu dengan mantan suamimu." ucapnya lagi dengan ekspresi wajah yang sedih.
Hana: "Ayo, kita masuk ke ruangan Kenzo." ajaknya. Hana dan Peter melangkah masuk ke dalam ruangan Kenzo, wajah Kenzo terlihat bahagia setelah bertemu dengan mantan Aldo.
Kenzo: "Mama, kamu lama sekali di apotik. Papa sudah pergi." ucapnya dengan suara yang agak keras.
Hana: "Maafkan mama, sayang. Obatnya sedang diracik." ucapnya dengan berbohong. "Kamu masih ingat dengan om Peter, kan?" tanyanya sambil tersenyum kecil. Kenzo menatap wajah Peter yang sedang tersenyum padanya.
Peter: "Hai, Kenzo." sapanya dengan lembut. "Maaf, om lupa membawakan oleh-oleh buatmu." ucapnya. "Lain kali om akan beli, ya." ucapnya lagi.
Kenzo: "Iya, om. Aku sudah merasa sehat." ucapnya dengan antusias.
Peter: "Bagus, dong. Kamu bisa keluar dengan cepat dari sini." ucapnya sambil tersenyum tipis. Peter ikut senang dengan kesehatan Kenzo yang mulai membaik, ia juga ikut sedih dengan rumah tangga Hana dan mantan suaminya. Peter adalah tipe pria yang penyayang dan lembut, sejak awal bertemu dengan Hana, ia sudah mengagumi Hana namun hanya sebatas sebagai teman dekat saja.
Hana: "Terima kasih sudah perhatian pada Kenzo, ya." ucapnya sambil tersenyum kecil.
Peter: "Tidak perlu berterima kasih, Hana. Kenzo anak yang pintar dan baik, aku menyukainya." ucapnya. Hana tersenyum tipis mendengar ucapan Peter.
Hana: "Semoga kamu dan Meta bisa segera memiliki momongan." ucapnya dengan hati-hati. Peter menghela nafas ringan, raut wajahnya berubah tegang.
Peter: "Semoga ada keajaiban untuk aku dan Meta." ucapnya dengan penuh harap. "Meta pernah menjalani operasi kista di kandungannya, Hana." ucapnya lagi dengan ekspresi sedih. "Dokter menyarankan agar Meta berobat ke Singapura." ucapnya lagi. Hana terkejut, ia menatap wajah Peter dalam-dalam.
Hana: "Apakah Meta pernah menjalani operasi sebelumnya?" tanyanya dengan rasa ingin tahu.
Peter: "Iya, Hana. Dokter menyarankan untuk operasi lagi." ucapnya sedih. "Minggu lalu, aku menemani Meta memeriksakan kandungannya." ucapnya lagi.
Hana: "Apakah kista itu masih ada?" tanyanya dengan rasa ingin tahu.
Peter: "Kista itu tumbuh lagi. Meta sangat sedih saat mengetahuinya." ucapnya pelan.
Hana: "Kasihan Meta. Ia pasti sangat terpukul. Aku ingin sekali menghiburnya, Peter." ucapnya dengan ekspresi wajah sedih.
Peter: "Aku akan menyuruhnya menelponmu, Hana. Hiburlah Meta, ya." ucapnya.
Hana: "Iya, Peter. Aku ikut sedih mendengarnya." ucapnya pelan.
Peter: "Aku pulang dulu, Hana. Meta sedang menungguku di rumah." ucapnya. Peter menoleh pada Kenzo yang sedang terbaring dengan lelap. "Kenzo tertidur, Hana." ucapnya sambil tersenyum lebar.
Hana: "Pasti karena pengaruh obat yang ada dalam infusnya." ucapnya dengan penuh keyakinan.
Peter: "Baiklah, Hana. Sampaikan salamku pada Kenzo saat ia bangun." ucapnya sambil menatap wajah Kenzo yang tampan. "Kenzo sangat tampan, ya." pujinya.
Hana: "Iya, Peter. Semoga aku dan Meta bisa bertemu lagi." ucapnya dengan penuh harap. Setelah berpamitan pada Hana, Peter melangkah keluar dari ruangan Kenzo. Hana menatap wajah putranya dengan tatapan penuh cinta, Hana tersenyum tipis. Dalam hatinya, ia bersukur pada keadaannya saat ini. Tuhan memberikan seorang anak yang tampan dan pintar. Hana mulai menerima keadaannya, dan kekalahannya dimasa lalu.
Malam itu, Hana sedang berada di kantin rumah sakit. Hana memesan makanan karena ia sangat lapar, Hana telah berbicara kepada seorang suster untuk menemani Kenzo untuk sementara. Kenzo tidak keberatan ditemani oleh seorang suster muda yang cantik dan baik hati. Saat Hana selesai dengan makan malamnya, Hana kembali ke ruangan Kenzo dan melihat suster muda itu sedang berbincang-bincang dengan Kenzo.
Hana: "Kamu sangat cerewet, nak. Kamu pasti merepotkan suster." ucapnya sambil melirik pada suster muda itu.
Kenzo: "Tidak, ma. Tante suster sangat baik padaku." sahutnya dengan hati yang bahagia.
Hana: "Maaf, suster. Anak saya sangat cerewet." ucapnya dengan rasa tidak nyaman.
Suster: "Tidak, mbak. Kenzo sangat baik, ia juga genit padaku." ucapnya sambil tersenyum lebar. Hana terkejut mendengar ucapan suster itu.
Hana: "Apa? Genit bagaimana, suster?" tanyanya dengan heran.
Suster: "Kenzo mengatakan bahwa aku sangat cantik." ucapnya sambil tersipu malu.
Hana: "Haha. Ada-ada saja kamu Kenzo. Suster jadi malu, kan." ucapnya sambil tertawa kecil.
Kenzo: "Tante suster memang cantik, ma." ucapnya sambil menatap kedua mata suster itu yang bulat dan besar.
Hana: "Ah, kamu ini. Maafkan anak saya, suster." ucapnya.
Suster: "Tidak apa-apa, mbak. Anak-anak selalu berkata jujur." ucapnya dengan rasa bangga. "Saya permisi dulu, mbak. Dokter mengatakan bahwa besok pagi, Kenzo sudah bisa pulang ke rumah." ucapnya.
Hana: "Terima kasih, suster." ucapnya dengan hati yang bahagia.
Suster: "Istirahat, ya, Kenzo." ucapnya sambil melambaikan tangannya pada Kenzo. Setelah suster itu pergi, Hana menatap wajah Kenzo yang terlihat bahagia.
Hana: "Mama senang melihat kamu bahagia, nak." ucapnya sambil tersenyum kecil.
Kenzo: "Iya, ma. Papa juga sudah janji padaku, malam ini papa akan datang lagi menemuiku." ucapnya dengan antusias. Raut wajah Hana tiba-tiba berubah saat mendengar perkataan Kenzo. Sesungguhnya, ia tidak ingin bertemu dengan Aldo lagi. Beberapa menit kemudian, Aldo membuka pintu kamar Kenzo. Aldo tidak sendirian, ia datang bersama dengan Sari. Suasana menjadi tegang, Hana tertegun menatap wajah mantan sahabatnya itu. Hana tidak menyangka jika dirinya akan bertemu lagi dengan Sari.
************************************