Ia pernah menjadi Monarch—penguasa yang berdiri di puncak segalanya. Namun pengkhianatan merenggut tahtanya, menghancurkan kerajaannya, dan memaksanya mati berulang kali dalam siklus reinkarnasi yang panjang. Selama ratusan kehidupan, ia menunggu. Menunggu para bawahannya yang tersebar, tertidur, atau tersesat di berbagai dunia. Di kehidupan terakhirnya, saat tubuhnya menua dan kematian kembali mendekat, sebuah system akhirnya terbangun—bukan ciptaan dewa, melainkan jelmaan dari salah satu rekan lamanya. Dengan kematian itu, sang raja kembali terlahir, kali ini di dunia yang sama… namun telah berubah drastis dalam beberapa ratus tahun.
Dunia yang ia kenal telah runtuh, kekaisaran bangkit dan jatuh, gereja menguasai kebenaran, dan para dewa mengawasi dari kejauhan. Dengan system yang setia di sisinya dan ingatan dari kehidupan-kehidupan sebelumnya, sang Monarch memulai perjalanannya sekali lagi: membangkitkan bawahan yang tersisa, membangun kekuatan dari bayang-bayang, dan menuntut balas atas pengkhianatan lama yang belum lunas. Ini bukan kisah pahlawan yang diselamatkan takdir—ini adalah kisah seorang raja yang menolak mati sebelum dunia membayar hutangnya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Sughz, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Ch.5. Everything Began to Move Too Fast
Malam di luar istana berjalan tenang, prajurit berpatroli seperti biasa. Dan di jalanan semua orang bersuka cita, tanpa mengetahui apapun.
Tapi di balik tembok tebal istana, di ruangan yang sunyi. Tiga orang sedang duduk berhadapan memasang wajah serius, seperti sedang sibuk dengan pikiran mereka masing-masing.
Regnar menghela napas berat, membuat suasana itu menjadi lebih berat.
“Magnus... Menurutmu apa yang harus kita lakukan?” tanya Regnar, pada pria di sisi lain.
“Sebelum aku menjawab itu, bagaimana kabar para keponakanku? Aku sudah lama tidak melihat mereka,” ujar Magnus.
Tidak ada yang menjawab, dan Magnus hanya tersenyum kecut.
“Kakak ipar, apa yang membuatmu terlalu berpikir keras seperti itu?” tanya Magnus pada Elowen.
Elowen mendengus pelan.
“Aku sebenarnya tidak mau mendorong mereka pada sesuatu yang belum pasti,” ucap Elowen tenang.
“Kita juga tidak bisa menghentikan hal yang tidak pasti itu begitu saja,” Regnar berbicara dengan nada yang berat.
"Aku mendapat beberapa laporan, bahwa beberapa kali ada fenomena aneh di langit kekaisaran. Apa itu juga berkaitan?"
Regnar hanya menganguk.
“Selain kita bertiga, siapa yang sudah mengetahui tentang hal ini?” tanya Magnus tenang.
“Tidak ada, aku belum berbicara pada siapapun,” jawab Regnar.
“Baguslah, kita pertahankan seperti itu. Kakak ipar, pastikan tidak ada yang tahu di antara para orang tua itu,” ujar Magnus.
Elowen mengangguk.
“Lalu... Kita juga harus memastikan dunia terlambat menyadari keberadaan mereka,” jelas Magnus.
“Bagaimana caranya?” tanya Regnar.
Suasana hening sebentar
“Kita akan mengirim Eirene ke Akademi Aurelius,” ucap Elowen, memecah hening.
“Lalu kita harus memastikan perkembangan Theo sebelum memastikan,” timpal Magnus.
“Apa kau yakin mengirim Eirene ke Akademi Aurelius?” tanya Regnar, wajahnya menjadi gelap.
“Kakeknya adalah bangsawan dari Kekaisaran Luminara, jadi tidak ada yang bisa mengganggu Eirene selama di Akademi, itu juga bisa membantu perkembangannya dalam sihir daripada di Akademi Lyecum,” jelas Elowen.
“Itu benar kak. Kita juga bisa mengulur waktu dengan mengirim Eirene kesana,” ujar Magnus.
Regnar diam sebentar, berpikir dengan keras.
“Baiklah, kita akan kirim Eirene dan untuk Theo... Aku sendiri yang akan memastikannya,” ucap Regnar lalu bangkit dari kursinya dan meninggalkan ruangan.
Magnus mengikuti Regnar keluar dari ruangan, Elowen masih duduk di tempatnya. Wajahnya tenang, tapi sorot matanya mengatakan agar jangan ada yang menyentuhnya.
.
.
Beberapa hari setelah pertemuan dengan Eirene, Theo kembali mengunci diri di kamarnya. Sekarang Theo sudah bisa mengatur energi alam yang berada di tubuhnya, dan dalam waktu singkat dia sudah masuk ke dalam tingkatan Initiate, satu tingkat di atas Mortal.
Theo membuka matanya, menghembuskan napasnya perlahan. Lalu bangkit dari duduknya.
“Bukankah ini hebat, hanya dalam waktu singkat aku sudah naik tingkat. Apa aku seorang jenius,” ucap Theo bangga, mengepal kedua tangannya, senyum mengembang di wajahnya.
[TING]
“Itu karena tuan punya saya.”
Senyum Theo berubah jadi sinis saat mendengar itu.
“Apa kau tidak bisa membiarkan aku bahagia sebentar” ucap Theo sinis. Lalu dia merebahkan dirinya di kasur.
“Hei Lily, apa kau masih tidak mau memberi tahu kenapa aku harus menjaga Eiren?” tanya Theo.
Tak ada jawaban dari Lily.
Theo hanya mendengus pelan, lalu memejamkan matanya mencoba untuk tidur.
Tak lama, suara ketukan pintu terdengar. Theo membuka matanya lagi, menggaruk kepala karena kesal. Dengan malas Theo bangkit dari tidurnya, berdiri merapikan bajunya.
“Masuk” ucapnya.
Pintu di buka perlahan, seorang pria tinggi masuk dan memberi hormat.
“Maaf karena menggangu istirahat tuan muda,” ucap pria itu, nadanya tenang tapi auranya sangat mengitimidasi untuk Theo.
“Siapa kau?” tanya Theo mencoba tenang.
“Perkenalkan, nama hamba Edric. Mulai saat ini hamba di tugaskan oleh Yang Mulia untuk melayani dan melatih tuan muda,” jawab Edric.
“Ayahku?” ucap Theo.
‘Lily, apa kau bisa mengukur kekuatan orang ini?’ ucap Theo dalam pikirannya.
[TING]
“Orang ini... Sangat berbahaya”
Mendengar jawaban Lily yang singkat itu, Theo mulai waspada terhadap Edric. Dan mengambil posisi untuk menyerang.
Edric yang melihat itu tersenyum kecil.
“Tidak perlu sewaspada itu tuan muda, hamba sudah melayani Yang Mulia Regnar sejak lama,” jelas Edric, dia menatap Theo dengan lembut.
Theo yang mendengar itu, menurunkan kewaspadaannya.
“Kalau kau sudah melayani ayahku sejak lama, kenapa dia mengirimmu untuk melayaniku sekarang?” tanya Theo.
“Hamba juga penasaran awalnya... tapi setelah melihat tuan muda, hamba sekarang merasa lebih terhormat.” jawab Edric.
“Apa maksudmu?” tanya Theo bingung.
“Tidak ada di dunia ini yang bisa mencapai tingkat Initiate di usia enam tahun seperti anda tuan” jelas Edric.
Senyum Theo mengembang setelah mendengar.
“HAHAHA... Benar, itu benar. Kau harus merasa terhormat untuk melayani jenius sepertiku,” ucap Theo, membanggakan dirinya.
[TING]
“Memang tidak pernah berubah.”
.
.
Hari berganti, Theo dan Edric sedang berada di lapangan latihan. Theo melakukan pemanasan singkat dan Edric hanya memperhatikannya.
“Baiklah Edric... Sekarang kita mulai latihannya, apa yang akan kita lakukan?” tanya Theo dengan semangat.
Pertama kita harus membangun pondasi tubuh anda terlebih dahulu,” jawabnya.
Theo mengangguk.
“Sekarang anda bisa belari kelilingi lapangan ini seratus kali, lalu lakukan push up dan angkat beban juga,”
Theo menatapnya.
“Edric” ucap Theo.
“Ya, tuan muda” jawab Edric
“Usiaku masih enam tahun,” ucap Theo, menunjuk wajahnya.
Edric mengangguk.
“Apa kau...”
“Anda harus mulai berlari tuan, kalau anda tidak menyelesaikannya sampai sore nanti. Kita akan gandakan latihannya besok,” ucap Edric dengan senyum.
Mendengar itu, Theo hanya menutup muka dengan tangannya merasa menyesal telah menerima pelatihan ini. Dan Theo dengan perasaan masih kesal mulai berlari.
“AAAAAAAAAHHHHHHHH, SIALAAAAAN!!!!” teriak Theo, berlari semakin kencang.
[TING]
“^__^”
.
Satu minggu cepat berlalu sejak hari pertama latihan.
Theo yang awalnya banyak mengeluh sekarang lebih banyak diam, dan hanya melakukan semua yang diperintahkan oleh Edric. Bukan karena sukarela, tapi saran dari Lily yang memberitahu bahwa pelatihan yang di suruh Edric memang diperlukan untuk membangun pondasi sebelum naik tingkatan. Sekarang Theo bahkan sudah bisa menarik Mana ke dalam tubuhnya.
Saat ini ruang latihan, Theo sedak duduk dengan tenang, menyerap Mana di udara dan menggabungkan kekuatan alam yang ada di dalam tubuhnya. Dibantu Lily yang menstabilkannya, setengah langkah lagi Theo akan naik tingkat.
Edric yang berdiri di sana, hanya bisa memasang wajah tenang tapi perasaan kagum dan khawatir bercampur di dadanya.
"Bagaimana anak umur enam tahun sudah melangkah ke tingkat Acolyte, ini sudah di tingkatan sama dengan murid awal Akademi," gumam Edric dalam hati.
Tiba-tiba ada lonjakan kekuatan dari tubuh Theo yang masih duduk dengan menyerap Mana dengan tenang. Tapi tak lama, raut wajah Theo yang awalnya tenang berubah meringis kesakitan.
Perut bawahnya terasa panas, dan jantung berdegup kencang. Tapi dalam waktu singkat, Theo yang di bantu Lily berhasil menggatur Mana dan mengalirkan semua dalam tubuh Theo.
Lalu ada ledakan energi dari tubuh Theo yang menandakan sekarang Theo sudah resmi ke tingkata Acolyte.
"Benar-benar monster" gumam Edric lagi.
Theo membuka matanya secara perlahan, lalu bangkit dari duduknya.
“Selamat tuan muda, karena sekarang anda resmi menjadi pengguna Mana,” sambut Edric, menunduk penuh hormat.
Theo tersenyum mendengar itu.
“Itu juga berkat pelatihanmu Edric, jadi terima kasih,” balas Theo, ada nada hormat di kalimatnya.
Edric yang mendengar itu terasa tersanjung, senyum kecil terlukis di wajahnya.
“Baiklah, aku akan kembali ke kamar untuk istirahat. Jangan ganggu aku dulu sampai besok,” ucap Theo melangkah pergi.
“Baik tuan muda,” ujar Edric.
Setelah Theo menghilang dari pandangannya, Edric juga menghilang sekejap mata.
.
Di ruangan pribadinya, Regnar sedang mengerjakan berkas-berkas dan Magnus berdiri di depannya.
Suara ketukan pintu dari luar terdengar.
“Masuklah,” ucap Regnar.
Pintu terbuka, Edric berjalan masuk ke dalam ruangan. Lalu memberi hormat pada kedua orang di sana.
“Hormat pada Yang Mulia, salam pada penasihat” ucap Edric.
“Ada apa Edric, bukankah kau harusnya melatih Theo,” tanya Magnus.
“Saya baru saja kembali dari latihan lapangan tuan, dan...” Edric terdiam, raut wajahnya ragu.
Regnar yang sedari tadi masih sibuk, menghentikan kegiatannya.
“Ada apa? Apa terjadi sesuatu yang buruk pada Theo?” tanya Regnar, nadanya berat.
“Tidak Yang Mulia, malah sebaliknya,” Edric berhenti sebentar. “Tuan muda sekarang sudah ada pada tingkatan Acolyte, Yang Mulia,” sambunngnya, membuat Regnar dan Magnus kaget.
“Apa kau yakin?” tanya Magnus.
“Saya sangat yakin tuan,” jawab Edric, penuh keyakinan.
“Baiklah, kau bisa pergi sekarang Edric. Terima kasih,” ujar Regnar.
“Baik Yang Mulia,” Edric member hormat sekali lagi dan melangkah pergi.
Dan saat pintu sudah tertutup, keheningan terjadi di ruangan.
“Sudah di putuskan,” ucap Magnus, lalu menatap Regnar.
Regnar yang mengerti maksud itu hanya mengangguk pelan.
.
.
Di sisi lain istana, ada gazebo berwarna putih bersih dan di kelilingi hamparan bunga yang luas. Elowen duduk dengan menyesap teh di tangannya. Di meja depannya, ada surat yang berstempel dengan gambar neraca tergeletak.
Elowen meletakkan cangkir tehnya.
“Kirim surat ini pada keluarga utama, dan sampaikan langsung pada pemimpin keluarga,” ucap Elowen.
Tiba-tiba ada sosok muncul di udara kosong. Seorang wanita dengan pakaian hitam bercorak merah, menunduk dengan hormat.
“Baik tuan putri,” ucap wanita itu, dan langsung menghilang sekejap mata.
Elowen hanya diam, lalu menatap langit yang cerah.
.