NovelToon NovelToon
Asal Mula Pedang Buta

Asal Mula Pedang Buta

Status: sedang berlangsung
Genre:Mengubah Takdir / Kebangkitan pecundang / Fantasi Timur / Balas Dendam
Popularitas:6.1k
Nilai: 5
Nama Author: Baldy

Di Benua Tianyuan, kekuatan adalah segalanya. Namun, Ren Zhaofeng hanyalah seorang murid pelayan buta di Sekte Awan Hijau yang bertugas menyapu halaman. Tanpa penglihatan dan tanpa latar belakang, ia dianggap tidak lebih dari debu di bawah kaki para jenius yang berlomba mengejar keabadian.

Namun, dunia tidak tahu bahwa di balik kain penutup matanya, Zhaofeng memiliki "Hati Pedang Tanpa Cela". Ketika orang lain hanya melihat wujud, ia mendengar napas semesta.

Di bawah bayang-bayang Monumen Daftar Naga Langit yang agung, Zhaofeng memulai langkah pertamanya. Bukan untuk melihat puncak dunia, tetapi untuk memaksa dunia mendengarkan gema pedangnya. Dari penyapu hina menjadi legenda yang membelah langit—inilah kisah asal mula Sang Pedang Buta.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Baldy, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Jubah Biru dan Janji Pedang

Sorak-sorai di alun-alun Sekte Awan Hijau perlahan mereda, digantikan oleh kesibukan para tabib sekte yang mengangkut tubuh Wang Gang yang pingsan. Darah di atas arena telah dibersihkan dengan mantra air, tetapi aura kemenangan Ren Zhaofeng masih menggantung tebal di udara.

Zhaofeng berdiri di tengah panggung, napasnya sudah kembali teratur. Di hadapannya, Tetua Pengawas Ujian memegang sebuah nampan kayu yang dilapisi kain sutra merah.

"Ren Zhaofeng," suara Tetua itu bergema, penuh wibawa namun ada sedikit nada hormat yang baru. "Dengan ini, kau resmi menanggalkan status Murid Pelayan. Mulai hari ini, kau adalah Murid Luar Sekte Awan Hijau."

Tetua itu menyerahkan nampan tersebut. Di atasnya terdapat tiga benda:

Jubah Biru Muda: Seragam resmi Murid Luar.

Token Identitas Giok: Kunci akses fasilitas sekte.

Botol Porselen Putih: Hadiah Juara 1—Pil Penguat Sumsum.

"Terima kasih, Tetua," Zhaofeng membungkuk dalam, menerima nampan itu dengan kedua tangan.

Saat dia menegakkan tubuh, dia merasakan ribuan pasang mata menatapnya. Tatapan itu bukan lagi ejekan atau belas kasihan. Itu adalah tatapan iri, kagum, dan takut.

Di sudut tribun, Liu Mei menggigit bibir bawahnya, wajahnya pucat. Dia ingat bagaimana dia menghina Zhaofeng di hutan kemarin. Orang buta ini... dia menyembunyikan taringnya begitu dalam, batinnya gelisah.

Satu jam kemudian, di Paviliun Pedang.

Zhaofeng dipanggil secara pribadi. Bukan ke Kantor Disiplin, melainkan ke kediaman pribadi Tetua Pedang (Elder Jian), sosok paling dihormati di sekte setelah Ketua Sekte.

Ruangan itu sederhana. Dindingnya dipenuhi lukisan kaligrafi pedang. Di tengah ruangan, seorang pria tua berambut putih duduk sedang menyeduh teh. Aroma teh spiritual yang menenangkan memenuhi ruangan.

"Duduklah," kata Tetua Pedang tanpa menoleh.

Zhaofeng duduk bersila di hadapannya, meletakkan Pedang Karat-nya di samping lutut.

"Kau tahu kenapa aku memanggilmu?" tanya Tetua Pedang, menuangkan secangkir teh dan mendorongnya ke arah Zhaofeng.

Zhaofeng mengambil cangkir itu, merasakan hangatnya. "Mungkin karena saya melukai murid unggulan sekte hingga cacat?"

Tetua Pedang tertawa kecil. "Hahaha. Wang Gang? Anak itu sombong. Tulangnya memang keras, tapi hatinya rapuh. Kekalahan ini mungkin satu-satunya hal yang bisa menyelamatkannya dari kematian sia-sia di masa depan. Tidak, aku tidak peduli soal kakinya."

Mata tua Tetua Pedang menatap tajam ke arah kain penutup mata Zhaofeng.

"Aku memanggilmu karena pukulanmu di pilar batu saat babak penyisihan."

Zhaofeng diam, mendengarkan.

"Semua orang melihat cahaya putih. Tapi aku melihat lekukan di batu itu," lanjut Tetua Pedang. "Kau menggunakan Niat Getaran. Itu bukan teknik yang diajarkan di sekte ini. Dari mana kau mempelajarinya?"

Zhaofeng meletakkan cangkir tehnya. Dia tahu dia tidak bisa berbohong pada ahli pedang sejati.

"Saya tidak mempelajarinya dari buku, Tetua. Saya mempelajarinya dari palu tambang," jawab Zhaofeng jujur. "Sepuluh tahun memukul batu dalam gelap mengajarkan saya bahwa segala sesuatu memiliki suara. Jika Anda menemukan nada yang tepat, bahkan besi terkeras pun akan hancur."

Tetua Pedang terdiam lama. Ekspresinya berubah dari penasaran menjadi kagum yang mendalam.

"Memahami Dao dari pekerjaan kasar..." gumam Tetua itu. "Banyak jenius menghabiskan hidup membaca kitab suci dan gagal. Kau menemukannya di tumpukan batu."

Tetua Pedang berdiri, berjalan ke arah dinding dan mengambil sebuah gulungan bambu tua.

"Zhaofeng, matamu mungkin buta, tapi 'Hati Pedang'-mu lebih terang dari siapa pun di sini. Aku ingin mengangkatmu menjadi Murid Pribadi."

Zhaofeng tersentak. Murid Pribadi? Itu status di atas Murid Dalam!

"Tapi..." Tetua Pedang mengangkat tangan, menahan antusiasme Zhaofeng. "Belum sekarang. Posisimu masih terlalu rapuh. Jika aku mengangkatmu sekarang, kau akan menjadi target pembunuhan bagi faksi Tetua Disiplin (Ayah Liu Mei dan pendukung Wang Gang). Mereka tidak akan senang melihat orang luar sepertimu naik begitu cepat."

"Jadi apa yang harus saya lakukan?"

"Tumbuhlah," kata Tetua Pedang, menyerahkan gulungan bambu itu. "Ini adalah 'Catatan Pedang Riak Air'. Ini bukan teknik serangan, tapi teknik pernapasan untuk memurnikan 'Niat'-mu. Pelajari ini. Dan pergilah ke Lembah Angin Puyuh untuk misimu selanjutnya."

"Lembah Angin Puyuh?"

"Ya. Wang Gang memiliki sepupu di Sekte Dalam yang pasti akan mencarimu. Kau butuh alasan untuk menghilang sejenak dari sekte sambil memperkuat dirimu. Ambil misi pencarian tanaman herbal di Lembah Angin Puyuh. Di sana, anginnya kacau. Tempat sempurna untuk melatih pendengaranmu ke tingkat selanjutnya."

Zhaofeng menerima gulungan itu. Dia merasakan berat dari kepercayaan orang tua ini.

"Terima kasih atas petunjuk Guru," Zhaofeng membungkuk, mengubah panggilannya.

Tetua Pedang tersenyum tipis. "Pergilah. Dan Zhaofeng... jangan mati."

Sore harinya, Zhaofeng pindah ke tempat tinggal barunya.

Bukan lagi gubuk reot di pinggir hutan, melainkan sebuah Rumah Pekarangan kecil di area Murid Luar. Ada pagar batu, sumur pribadi, dan yang terpenting: keamanan.

Zhaofeng mengenakan jubah biru barunya. Kainnya halus dan sejuk, ditenun dengan benang ulat sutra yang tahan api ringan.

Dia duduk di atas ranjang kayu yang empuk, memegang botol Pil Penguat Sumsum.

"Hadiah juara," gumamnya.

Dia membuka botol itu. Aroma obat yang menyegarkan langsung memenuhi ruangan. Ada satu butir pil berwarna putih susu sebesar kelereng.

Zhaofeng tidak langsung meminumnya. Dia mengeluarkan Pedang Karat-nya.

"Kita bagi dua, ya?" bisiknya pada pedang itu.

Dia menggerus separuh pil itu menjadi bubuk dan menaburkannya ke atas bilah pedang.

Siz... Siz...

Pedang itu mendesis pelan, menyerap bubuk obat itu seperti tanah kering menyerap hujan. Karat di bagian ujung pedang sedikit rontok lagi, memperlihatkan satu inci lagi logam hitam yang berkilau.

Zhaofeng menelan separuh sisanya.

Glek.

Sensasi hangat mengalir ke tulang punggungnya. Berbeda dengan energi liar daging tikus, energi pil ini lembut namun padat. Ia meresap ke dalam sumsum tulangnya, membersihkan kotoran-kotoran sisa makanan buruk selama bertahun-tahun.

Krak. Krek.

Tulang-tulangnya berbunyi, memadat.

Zhaofeng memejamkan mata, memandu energi itu dengan pernapasan yang baru dia pelajari dari gulungan Tetua Pedang.

Satu jam kemudian, dia membuka matanya. Tidak ada ledakan aura, tapi kulitnya terlihat lebih bersih, lebih "giok".

Penempaan Tubuh Tahap 3. Tulang Besi Awal

"Akhirnya..." Zhaofeng mengepalkan tangannya. "Aku punya kualifikasi untuk bertahan hidup."

Dia melihat ke luar jendela. Matahari terbenam, menciptakan bayangan panjang.

Besok, dia akan pergi ke Lembah Angin Puyuh. Menghindari badai politik sekte, untuk menempa dirinya di dalam badai yang sesungguhnya.

"Wang Gang hanyalah permulaan," batin Zhaofeng. "Daftar Naga Langit... tunggu aku."

1
Apliti warman
alumrnya bagus, cara penulisannya dah expert nih, lanjut thor, ada yg hilang thor, tentang penguasaan jurus 2 mc, menarik cara othor menjelaskan, juga ranah mc, naikkan dikit...😁
Nanik S
Lanjutkan
Nanik S
Panen Zhaofeng.... dan bersihkan harta karun Duanmu
Nanik S
Krek., hancur sudah tulangnya
yos helmi
lanjut
Nanik S
Nyonya Merah mengerikan juga, banjir Darah dibilang ramai
Nanik S
Jual barang rampasan
Nanik S
Xiao Yu... ikut saja Zhaifeng
Nanik S
Lanjutkan dan tetap semangat Tor
Nanik S
Mantap Pooool
Nanik S
Lanjutkan Zhaofeng dan bantai semua Taring naga
Nanik S
Demi melindungi Sekte Zhaofeng rela meninggalkan Sekte
Nanik S
Lanjut mengembsra
A 170 RI
cerita pendekar buta cukup menarik
A 170 RI
trus berkarya jangan hiatus ya thor..
💪
Nanik S
Zhaofeng perusak rencana
Nanik S
Racun disapu Petir.... k\kwkwkw
Nanik S
mana ada Penghianat mengaku
Nanik S
Qingyu.... ya karena juga Jenius
Nanik S
Tantangan yang Elegan pada Tuanya Li Ding
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!