Di dunia kultivasi yang kejam, bakat adalah segalanya.
Bagi Xu Tian, seorang murid rendahan tanpa bakat, dunia hanya berisi penghinaan.
Ia dibully, diinjak, dan dipermalukan—bahkan oleh wanita yang ia cintai.
Hari ia diusir dari sekte tingkat menengah tempat ia mengabdi selama bertahun-tahun, ia menyadari satu hal:
Dunia tidak pernah membutuhkan pecundang.
Dengan hati hancur dan tekad membara, Xu Tian bersumpah akan membangun sekte terkuat, membuat semua sekte besar berlutut, dan menjadi pria terkuat di seluruh alam semesta.
Saat sumpah itu terucap—
DING! Sistem Membuat Sekte Terkuat telah aktif.
Dalam perjalanannya, ia bertemu seorang Immortal wanita yang jatuh ke dunia fana. Dari hubungan kultivasi yang terlarang hingga ikatan yang tak bisa diputus, Xu Tian melangkah di jalan kekuasaan, cinta, dan pengkhianatan.
Dari murid sampah…
menjadi pendiri sekte yang mengguncang langit dan bumi.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Demon Heart Sage, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 32 : Bakat yang Disembunyikan Takdir
Malam belum sepenuhnya turun ketika Xu Tian memanggil Han Li.
Tidak ada aula. Tidak ada ruang khusus. Hanya sebuah ruangan sederhana di sisi dalam sekte—dinding batu kasar, satu meja kayu rendah, dan lampu minyak yang nyalanya tidak stabil. Qi di udara terasa tipis sejak sore, kini berdenyut pelan, seperti napas yang tidak teratur.
Han Li berdiri di tengah ruangan.
Ia tidak tahu kenapa jantungnya berdetak lebih cepat sejak melangkah masuk. Tidak ada ancaman yang terlihat. Xu Tian berdiri di seberangnya, tenang seperti biasa. Chen Yu berada di dekat dinding, setengah bayangan menutupi wajahnya.
Namun tubuh Han Li terasa… salah.
Bukan sakit. Bukan lelah. Lebih seperti ada sesuatu di dalam dirinya yang tidak mau diam, terus bergeser, menekan dari dalam tulang dan daging.
“Duduk,” kata Xu Tian.
Han Li menurut. Ia duduk bersila, telapak tangannya diletakkan di atas lutut seperti yang pernah ia lihat. Gerakannya kaku, tidak alami.
Xu Tian tidak langsung melakukan apa pun.
Keheningan menekan.
Lampu minyak bergetar kecil, nyalanya memanjang lalu memendek. Chen Yu menyadari perubahan itu dan menegakkan punggungnya tanpa sadar.
Xu Tian mengangkat satu tangan.
Bukan gerakan formasi. Bukan teknik. Hanya isyarat sederhana untuk membuka aliran qi di sekitarnya—cukup tipis untuk merasakan, tidak cukup untuk menekan.
Detik pertama, tidak terjadi apa-apa.
Detik kedua, Han Li mengerutkan kening.
Napasnya tersendat. Dada kirinya terasa berat, seolah ada beban yang tiba-tiba diletakkan dari dalam. Ia membuka mulut, ingin berkata sesuatu, tapi suara itu tidak keluar.
Qi di ruangan bergetar.
Bukan meledak. Bukan melonjak. Tapi beriak tidak beraturan, seperti air yang disentuh dari terlalu banyak arah.
Chen Yu mundur setengah langkah.
Ia tidak disentuh apa pun, namun tekanan itu merambat ke kulitnya, dingin dan menusuk halus. Nalurinya berteriak satu hal yang sama berulang kali.
Ini tidak normal.
Han Li menunduk. Keringat dingin muncul di pelipisnya. Tangannya mencengkeram lutut, jari-jarinya memutih.
“Jangan paksa,” kata Xu Tian singkat.
Han Li tidak tahu apakah ia sedang memaksa atau justru menahan. Ia hanya tahu ada sesuatu di dalam dirinya yang mulai bergerak, terseret keluar oleh sesuatu yang tidak ia pahami.
Lampu minyak bergetar lebih keras.
Retakan halus muncul di permukaan meja kayu. Sangat tipis, tapi nyata.
Di saat yang sama, panel sistem muncul di tepi kesadaran Xu Tian.
Tidak disertai bunyi.
Tidak disertai cahaya.
Hanya teks dingin yang muncul begitu saja.
【Objek Terdeteksi: Status Tidak Stabil】
Xu Tian tidak bergerak.
Tatapannya terkunci pada Han Li, pada cara bahu pemuda itu mulai gemetar, pada napasnya yang menjadi dangkal.
Panel itu berubah.
【Klasifikasi: Anomali Internal】
【Catatan: Ketidaksesuaian Struktur】
Xu Tian menyempitkan mata sedikit.
Chen Yu menahan napas. Ia bisa merasakan tekanan itu sekarang dengan jelas—seperti berada terlalu dekat dengan sesuatu yang seharusnya belum terbangun.
Han Li menggigit bibirnya. Rasa nyeri tumpul menyebar dari dada ke lengan. Bukan rasa sakit yang tajam, tapi cukup untuk membuatnya ingin berhenti.
“Guru…” suaranya keluar pelan, nyaris pecah.
Xu Tian mengangkat tangan sedikit lebih tinggi.
Qi di ruangan langsung merespons—bukan mengalir lebih kuat, tapi justru menjadi kacau. Dinding batu mengeluarkan suara retakan halus. Debu jatuh dari sudut langit-langit.
Panel sistem kembali berubah.
【Peringatan: Instabilitas Meningkat】
【Risiko: Kerusakan Internal】
Tidak ada saran.
Tidak ada solusi.
Hanya pernyataan.
Xu Tian menunggu satu napas lagi.
Han Li menunduk lebih dalam. Tubuhnya mulai condong ke depan, seolah gravitasi di sekitarnya bertambah. Tangannya kini gemetar hebat.
Chen Yu tidak tahan lagi. “Guru—”
“Belum,” potong Xu Tian.
Satu detik lagi.
Di dalam tubuh Han Li, sesuatu seperti dinding tipis retak. Ia merasakannya—sensasi aneh, seolah ada pintu yang dipaksa terbuka dari arah yang salah.
Itu cukup.
Xu Tian menurunkan tangannya.
Tekanan di ruangan runtuh seketika.
Han Li terengah, napasnya terlepas kasar. Ia menunduk, telapak tangannya menekan lantai batu untuk menahan tubuhnya agar tidak jatuh.
Lampu minyak stabil kembali. Retakan di meja berhenti melebar.
Keheningan jatuh berat.
Panel sistem memunculkan baris terakhir sebelum memudar.
【Evaluasi: Bakat Berisiko Tinggi】
【Rekomendasi: Tidak Disarankan】
Xu Tian menatap Han Li lama.
Bukan dengan rasa kasihan.
Bukan dengan kekaguman.
Melainkan dengan pemahaman yang tenang dan dingin.
Chen Yu baru menyadari bahwa punggung jubahnya basah oleh keringat dingin.
Ia menatap Han Li—pemuda itu masih terengah, wajahnya pucat, tetapi matanya terbuka, jernih, penuh kesadaran akan satu hal yang baru saja terjadi.
Bakat ini… bisa membunuh pemiliknya.
Dan untuk pertama kalinya, Chen Yu benar-benar mengerti.
Mengerti kenapa dunia tidak memberi tempat bagi orang seperti ini.
...
Han Li akhirnya mengatur napasnya.
Udara masuk ke paru-parunya dengan hati-hati, seolah tubuhnya sendiri ragu apakah aman untuk bernapas penuh. Ia tetap duduk bersila, punggungnya sedikit membungkuk, tangan masih menempel di lantai batu yang dingin.
Xu Tian tidak menyuruhnya berdiri.
Chen Yu tetap di tempatnya. Ia tidak bergerak, tidak mendekat. Nalurinya mengatakan satu langkah saja bisa memperburuk sesuatu yang belum benar-benar tenang.
Panel sistem telah menghilang, tapi jejaknya masih terasa—seperti bekas tekanan di udara yang belum sepenuhnya pulih.
Xu Tian memecah keheningan lebih dulu.
“Kau merasakannya,” katanya.
Bukan pertanyaan.
Han Li mengangguk pelan. Gerakan itu kecil, hampir tidak terlihat. “Sejak lama,” jawabnya. Suaranya serak. “Aku pikir… semua orang juga seperti itu.”
Xu Tian menatapnya tanpa berkedip.
“Tidak,” katanya singkat.
Han Li menelan ludah. Tangannya berpindah dari lantai ke pangkuannya. Jarinya saling menggenggam, kuat, seolah takut terlepas.
“Jadi,” kata Han Li pelan, “itu sebabnya aku selalu gagal?”
Xu Tian tidak langsung menjawab.
Ia berjalan satu langkah ke samping, mendekati meja kayu yang retak. Ujung jarinya menyentuh permukaannya. Retakan itu dangkal, tapi nyata—bekas dari sesuatu yang bahkan belum dilepaskan sepenuhnya.
“Bakatmu tidak rusak,” kata Xu Tian akhirnya. “Ia hanya tidak cocok dengan cara dunia menilai.”
Han Li mengangkat kepala. Matanya tidak berbinar. Tidak ada harapan mendadak. Hanya perhatian yang tegang.
“Berarti aku masih ditolak,” katanya.
Kalimat itu diucapkan datar. Tidak ada protes. Tidak ada nada memohon. Seolah Han Li sudah menyiapkan dirinya untuk jawaban itu sejak lama.
Chen Yu merasakan sesuatu menekan dadanya.
Ia mengenali sikap itu. Sikap seseorang yang sudah terlalu sering mendengar kata tidak, sampai berhenti berharap pada ya.
Xu Tian berbalik menghadap Han Li sepenuhnya.
“Jika kau mencari tempat yang aman,” kata Xu Tian, “ini bukan tempatnya.”
Han Li tidak bereaksi. Ia hanya mendengarkan.
“Jika kau mencari jaminan hidup panjang,” lanjut Xu Tian, “aku tidak punya itu.”
Lampu minyak berkedip kecil, seolah menegaskan setiap kata.
Xu Tian menurunkan nada suaranya sedikit. “Bahkan jika kau bertahan, tubuhmu bisa runtuh. Jalanmu akan lebih berat daripada orang lain.”
Keheningan kembali turun.
Chen Yu memperhatikan wajah Han Li. Tidak ada keterkejutan di sana. Tidak ada kemarahan. Hanya penerimaan yang lambat, pahit.
“Kalau begitu,” kata Han Li setelah beberapa saat, “aku tidak berbeda dari sebelumnya.”
Xu Tian menyipitkan mata.
Han Li mengangkat pandangannya. Tatapannya lurus, meski masih ada sisa pucat di wajahnya. “Di luar sana, aku juga tidak punya jaminan,” katanya. “Di sini setidaknya… aku tahu apa yang menungguku.”
Chen Yu menahan napas.
Kata-kata itu sederhana. Tidak berani. Tidak heroik. Tapi justru itu yang membuatnya berat.
Xu Tian tidak menjawab segera.
Ia menoleh sedikit, melirik Chen Yu. Murid pertamanya itu berdiri diam, tapi rahangnya mengeras. Tatapannya tertuju pada Han Li, dan di sana ada bayangan yang tidak perlu dijelaskan.
Kesamaan.
Bukan pada bakat. Tapi pada posisi.
Xu Tian kembali menatap Han Li.
“Dunia menolakmu bukan karena kau lemah,” katanya. “Tapi karena mereka tidak mau menanggung risiko.”
Han Li mengangguk sekali.
“Aku juga tidak menawarkan perlindungan,” lanjut Xu Tian. “Hanya kesempatan untuk bertahan. Dengan caraku.”
Ia berhenti sejenak. “Dan dengan konsekuensinya.”
Han Li menarik napas dalam. Kali ini lebih penuh. Dadanya masih terasa berat, tapi langkah itu diambil dengan sadar.
“Aku tidak punya tempat lain,” katanya. “Kalau aku mati… setidaknya bukan sambil menunggu.”
Ruangan itu terasa lebih sunyi setelah kalimat itu.
Xu Tian menatap Han Li lama. Tidak mencari jawaban tambahan. Tidak menilai ketulusan. Ia hanya melihat apakah pemuda itu akan mundur ketika semuanya telah diletakkan tanpa hiasan.
Han Li tidak bergerak.
Xu Tian mengangguk kecil.
“Bangkit,” katanya.
Han Li terkejut sesaat, lalu bergerak. Gerakannya masih kaku, tapi ia berdiri. Tubuhnya sedikit goyah, namun ia menegakkan punggungnya.
Xu Tian berdiri tepat di depannya.
“Mulai hari ini,” kata Xu Tian, suaranya rendah dan tegas, “kau murid Sekte Langit Abadi.”
Tidak ada upacara.
Tidak ada sumpah panjang.
Tidak ada sorak.
Hanya satu kalimat itu, jatuh di ruangan sederhana dengan berat yang nyata.
Han Li menunduk dalam. Dahi hampir menyentuh lantai batu.
“Terima kasih, Guru.”
Xu Tian tidak menjawab. Ia melangkah mundur satu langkah, memberi jarak yang cukup.
Chen Yu akhirnya bernapas.
Di dalam dadanya, ada rasa berat yang aneh—bukan lega, bukan takut. Lebih seperti kesadaran bahwa sekte ini benar-benar sedang membentuk sesuatu yang tidak akan diterima dunia dengan mudah.
Panel sistem muncul sekali lagi di kesadaran Xu Tian.
Lebih singkat dari sebelumnya.
【Variabel Takdir: Bergeser】
Tidak ada penjelasan.
Tidak ada peringatan lanjutan.
Panel itu memudar, meninggalkan keheningan yang terasa lebih rapat dari sebelumnya.
Xu Tian memandang Han Li yang masih menunduk.
Di luar, angin malam menyentuh dinding batu sekte yang belum matang.
Langkah yang diambil barusan bukan langkah aman.
Dan Xu Tian tahu—konsekuensinya baru saja mulai bergerak.