seorang gadis bernama Clarisa Oktaviani harus melahirkan seorang anak karena sebuah insiden yang tidak dia harapkan terjadi kepadanya.
Clarisa terpaksa berhenti kuliah karena memiliki seorang anak di luar nikah dan karena hal itu juga membuat orang tua Clarisa mengusirnya dari rumah dan meninggalkan kehidupan serba berkecukupannya.
mampukah Clarisa Oktaviani menjalani hidupnya bersama anaknya dalam kehidupan yang serba kekurangan?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Al fatih, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Dor !
Abi duduk disebuah kursi kecil, lalu tangannya dengan cepat mengkolaborasikan cat warna dengan cekatan.
mata para penonton terfokus menatap aktivitas Abi.
setelah dirasa cukup, kemudian tangan Abi mengambil satu kuas dan mencelupkannya kedalam cat warna yang sudah dikolaborasikan.
seettttt..!
tangan Abi menggoreskan kuasnya ke sebuah kanvas yang ada didepannya.
tangan piawai Abi terus dan terus menggoreskan kuasnya diatas kanvas dengan sangat cepat, dia terlalu fokus aktivitasnya dia tidak menghiraukan lagi dengan suara dan orang-orang sekitar.
para penonton yang menyaksikan itu, mata mereka tidak bergerak sedikitpun karena panasaran sekaligus kagum terhadap anak kecil yang ada dihadapan mereka.
"apa yang anak itu buat." bisik si A.
"entahlah." sahut si B.
"kita lihat saja." bisik si C.
"iya kita lihat apakah lukisannya akan menarik." ucap si D.
tangan Abi terus-menerus bergerak lincah memainkan kuasnya di atas kanvas sesuai dengan keinginan otaknya, warna-warna yang ia kolaborasikan sangat cantik setelah saling bertemu di atas kanvas.
Abi dengan jeli menulis huruf arab sambil sesekali membacanya tanpa suara, tangan itu terus saja bergerak meliuk-liuk dengan gerakan yang cepat, tanpa terasa 10 menit berlalu.
kaligrafi yang dibuat Abi sudah hampir selesai, dia tinggal memoles sedikit agar lukisan itu benar-benar terlihat nyata.
sebuah bentuk yang seperti mesjid Nabawi pada saat malam hari yang sangat indah dengan kerumitan yang luar biasa, akhirnya terlihat pada kanvas Abi.
Abi memejamkan matanya beberapa detik, setelahnya ia membuat sentuhan akhir pada hasil karyanya itu, tangannya membuat warna-warna pada huruf-huruf tertentu hingga nampak seperti lampu yang sedang menyala dimalam hari.
semua mata yang ada di sana terbuka lebar, bahkan ada yang mulutnya menganga karena tidak percaya dengan apa yang dilihatnya, ekspresi-ekspresi wajah yang lainnya sulit dijelaskan dengan kata-kata, pada intinya mereka semua yang menyaksikan berdecak kagum dengan kemampuan Abi.
mereka semua memandang takjub kepada bakat yang dimiliki oleh Abi, para penikmat dan pekerja seni yang menyaksikan itu tersenyum bahagia melihat karya yang dibuat Abi langsung dihadapan mereka, tidak terkecuali ustad Yusuf dan Bara.
sepasang mata milik pria paruh baya (lelaki yang mengizinkan Abi untuk tampil) dari kejauhan memperhatikan Abi yang sudah selesai membuat karyanya.
pria paruh baya itu lalu mendekat kearah Abi.
"sungguh luar biasa karyamu nak." ucap pria paruh baya memuji Abi.
"perkenalkan namaku adalah Adam, aku adalah ketua asosiasi sekaligus kolektor seni dunia." tambah Pria tua itu memperkenalkan diri.
"Abi lalu berdiri dari kursinya dan ingin menjabat tangan Adam, karena Adam sudah terlebih dahulu mengulurkan tangannya kepadanya.
belum sempat Abi melakukannya, tiba-tiba.
Dor...!
tanpa aba-aba sebuah peluru melesat mengenai bahu sebelah kiri Abi.
Abi langsung terjatuh, tidak sadarkan diri.
orang-orang yang ada disekitar tempat itu langsung panik berlarian setelah tembakan.
ustad Yusuf berteriak memanggil nama Abi, dengan cepat dia menghampiri Abi lalu menekan lukanya dengan jas miliknya.
begitu juga dengan Bara, langsung berusaha mengejar pelaku penembakan tersebut.
Bara menerobos ke tengah-tengah kerumunan orang yang sedang berlarian.
Adam memegang Abi yang sudah penuh darah, yang sebelumnya dia yang berada paling dekat dengan Abi.
semua orang dibuat terkejut dengan kejadian tak terduga ini.
"cepat panggil ambulan!" teriak ustad Yusuf.
Adam mengambil ponsel dari saku kantongnya dan langsung menghubungi rumah sakit terdekat.
semua orang nampak panik dan beberapa dari mereka mengeluarkan ponsel untuk meminta bantuan kepada kepolisian dan juga rumah sakit.
"ikutlah dengan saya pak, saya akan mengantarkan rumah sakit, jika menunggu ambulan mungkin akan sedikit memerlukan waktu." ucap seorang wanita bercadar.
"tanpa banyak bicara ustad Yusuf segera mengangkat badan kecil Abi yang sudah sangat lemah, lalu bergegas mengikuti langkah kaki wanita bercadar itu menuju mobilnya.
Bara yang sedari tadi mencari siapa pelaku penembakan tersebut, tidak mendapatkan hasil apa-apa.
Bara lalu kembali dan langsung mengamankan lukisan yang telah dibuat Abi.
dengan nafas tidak beraturan, Bara berhasil menyusul ustad Yusuf.
"Yusuf aku akan tinggal disini untuk mencari siapa pelaku penembakan kepada Abi, satu lagi ini lukisan yang dibuat Abi simpanlah." ucap Bara kepada sahabatnya.
"baiklah Bara, kamu berhati-hatilah." ucap ustad Yusuf.
wanita bercadar itu lalu membuka pintu mobil, ustad Yusuf yang menggendong Abi menaiki mobil itu.
lalu mobil itu bergegas pergi meninggalkan Bara, yang memang dia sengaja tinggal untuk menemukan pelakunya.
wanita bercadar itu mengemudikan mobilnya dengan cepat menuju rumah sakit agar segera mendapat penanganan medis.
sepanjang perjalanan ustad Yusuf diliputi rasa khawatir pada calon anaknya itu, tidak henti-hentinya dia menciumi wajah abi sambil meneteskan air matanya.
"aku tidak akan membiarkanmu mati Abi!" batin ustad Yusuf berbicara dalam hati.
beberapa saat kemudian mereka sampai di rumah sakit, sesampainya di sana wanita bercadar itu segera membuka pintu mobilnya.
mereka segera menuju UGD rumah sakit itu, perawat yang bertugas di sana dengan sigap membawa Abi untuk segera ditangani secara medis.
"maaf pak silahkan mengikuti saya untuk selesaikan pengisian administrasi." ucap salah seorang perawat kepada ustad Yusuf.
"ini kau uruslah administrasi untukku." ucap ustad Yusuf menyerahkan black cardnya kepada wanita bercadar.
ustad Yusuf yang juga seorang dokter langsung bersikap cepat, melihat dokter yang harusnya menangani Abi belum datang karena terjebak macet.
"tolong siapkan ruang dan semua peralatan oprasi, aku akan mengeluarkan segera peluru yang bersarang ditubuhnya dan juga aku minta sekantong darah golongan A." ucap ustad Yusuf beinisiatif sambil memperlihatkan ID cardnya bahwa dia seorang dokter.
"apa anda seorang dokter?" ucap wanita bercadar.
"iya, cepat lakukan perintahku segera kenapa kau masih diam disitu." ucap ustad Yusuf kesal kepada perawat yang ia minta menyiapkan segala keperluannya untuk oprasi.
perawat itu tersentak kaget dan melangkah perlahan.
"kau ingin membunuh anak ini!" teriak ustad Yusuf membentak salah seorang perawat.
mendengar hal itu, para perawat segera bergegas melaksanakan perintah ustad Yusuf.
ustad Yusuf segera memindahkan tubuh Abi ke ranjang pasien kemudian di mendorongnya menuju ruang oprasi.
tak membutuhkan waktu lama ustad Yusuf sampai di ruang oprasi.
"segera kita mulai oprasinya!" ucap ustad Yusuf bersama tiga orang perawat yang ada didalam ruangan itu.
ustad Yusuf segara memasang selang yang terhubung dengan satu kantong darah.
setelah memastikan semuanya sudah siap dan peralatan penopang hidup Abi terpasang dengan benar, ustad Yusuf mengambil pisau gunting dan beberapa peralatan lain yang ia butuhkan saat oprasi berlangsung.
ia menyuntikan obat bius kepada Abi, sambil menunggu obat bekerja, ustad Yusuf melepaskan baju Abi yang penuh darah dengan perlahan dan mengunting bagian baju yang terkena tembakan.
"bertahanlah nak, aku akan menyelamatkan nyawamu, kamu harus kuat demi ibumu." ucap ustad Yusuf.
setelah memastikan obat biusnya bekerja, ustad Yusuf segera melakukan oprasi pada bahu Abi untuk mengeluarkan peluru dari tubuhnya.
ia melakukannya dengan sangat teliti, agar tidak terjadi kesalahan yang membahayakan nyawa Abi.
beberapa menit berlalu.
ustad Yusuf berhasil mengeluarkan peluru yang bersarang di bahu Abi.
lalu salah satu perawat membersihkan luka Abi agar tidak terjadi infeksi dan salah seorang lainnya mengambilkan jarum dan benang lalu diserahkan kepada ustad Yusuf.
ustad Yusuf langsung menjahit untuk menutup luka Abi.
lalu terlihat dari sebuah mesin medis rumah sakit, bahwa detak jantung Abi sudah mulai stabil.
"alhamdulilah sudah selesai." ucap ustad Yusuf singkat padat dan jelas.
kemudian kepala ustad Yusuf mendekat kearah telinga Abi.
"saya tahu kamu adalah anak laki-laki yang kuat." ucap ustad Yusuf berbisik sambil tersenyum.
Risa dan Gio Adiknya Risa... Karena Sudah 7tahun berpisah dengan Risa.
.
sementara Ayah biologisnya Abimanyu..
keberadaanya Masih ngga jelas... beda dengan cerita yang lain biasanya Mereka cepat Dipertemukan... Dengan Abimanyu atau Risa.... Kalo soal Hermawan aku nggak peduli....
utk penulisan kata² asing lebih baik lihat kamus dulu