🌹🌹🌹🌹
Karena ingin terlepas dari jerat kemiskinan, Sena dan Felli memutuskan untuk menjual kesucianya. Melewati 1 malam penuh Dosa.
"Fel, pokoknya aku mau yang seperti Om Rudi, walaupun sudah tua tapi masih terlihat tampan," pinta Sena sang adik sepupu.
Felli terkekeh.
"Ada yang mau menggunakan jasamu saja sudah untung, hahaha," akhirnya Felli tertawa terbahak.
21+
✍🏻 revisi typo 💕
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Lunoxs, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
MY SUGAR 23 - Sena Kecanduan
Jakarta, jam 9 pagi.
Di Bandara sana, Bagas berpisah dengan mereka. Bagas pulang menggunakan taksi, sementara Hanan dan Sena di jemput oleh seorang supir.
Mulai memasuki jalan raya yang padat merayap, membuat Sena mulai menyadari sesuatu. 2 hari kemarin lebih terasa hanya menjadi mimpi, dan kini ia baru tersadar.
Mungkinkah, Hanan akan melupakan semua hal yang terjadi kemarin? Mungkinkah, Hanan kini akan meninggalkan dirinya.
Banyak kemungkinan yang menyelimuti kepala Sena, karena jujur saya. Ia masih merasa ragu, merasa bahwa hanya dia sendirilah yang memiliki cinta di dalam hubungan ini. Sementara Hanan? hanya berpura-pura agar bisa kembali menyentuhnya.
"Kamu kenapa?" tanya Hanan saat dilihatnya Sena hanya terdiam. Wanita yang ditanya ini langsung terkisap, ia langsung menoleh membalas tatapan Hanan.
Tatapan dalam yang begitu menenangkan.
Hanya melihat tatapan itu mampu membuatnya hanyut.
"Apa yang kamu pikirkan?" tanya Hanan lagi dan Sena menunjuk dadanya.
"Sayang," jawab Sena dengan tersenyum tipis.
Melihat senyum itu, entah kenapa Hanan malah merasa tak suka. Ia hanya ingin melihat senyum Sena yang lebar.
"Kenapa?" tanya Hanan lagi menuntut.
Dan Sena benar-benar seperti gadis yang banyak meminta, selalu menuntut kepastian. Sena sadar, sifat seperti itu malah membuat seorang pria jengah.
Harusnya, ia percaya. Memberikan waktu pada Hanan untuk membuktikan semuanya.
Benar, batin Sena. Ia meyakinkan hatinya sendiri tentang mempercayai Hanan.
Dengan perlahan, Sena mengikis jarak. Memeluk tubuh Hanan dan menjatuhkan kepalanya di dada bidang sang kekasih.
"Tidak ada apa-apa sayang, hanya sedikit pusing," jawab Sena bohong.
Hanan tahu betul jika kekasihnya ini sedang membohongi dirinya. Sena tak tahu saja jika selama ini Hanan selalu memperhatikan dirinya dengan begitu lekat, bahkan hanya dengan melihat, Hanan bisa tahu apa yang dipikirkan oleh sang kekasih.
Sena adalah gadis yang sederhana, jika senang ia akan tertawa riang, jika sedih wajahnya akan langsung berubah jadi sendu. Seseorang yang tidak ahli dalam berbohong.
Pelan, Hanan mengelus punggung Sena, iapun menciumi pucuk kepala sang kekasih dengan sayang.
"Tidurlah," ucap Hanan pelan dan Sena mengangguk.
Tak butuh waktu lama, Sena benar-benar tertidur.
Sampai di basement apartemen, Hanan tidak membangunkan sang gadis. Ia menggendong tubuh Sena dengan hati-hati.
Di dalam gendongan itu Sena tersenyum, ia terbangun saat tubuhnya melayang dalam gendongan sang kekasih. Sena begitu bahagia, Hanan masih memperlakukannya dengan manis. Meskipun kini mereka sudah kembali ke Indonesia.
Diam-diam, Hanan pun melihat senyum itu, namun ia tetap diam saja. Membiarkan Sena yang sedang pura-pura tertidur.
"Sayang, bangunlah. Kita sudah sampai," Hanan pura-pura membangunkan, ia menciumi wajah Sena yang masih berada di dalam gendongannya, baru saja memasuki apartemen mereka.
Sena menggeliat, mengerjab, seolah persis baru bangun tidur.
Sumpah demi apapun, melihat itu Hanan ingin tertawa terbahak. Namun sekuat tenaga ia tahan, menghargai akting sang kekasih.
"Kenapa senyum-senyum?" tanya Sena langsung saat matanya terbuka lebar, dilihatnya Hanan yang mengulum senyum hingga wajahnya berubay merah.
Hanan menggeleng, tak kuasa untuk menjawab.
Melihat itu, Sena jadi kesal sendiri, bibirnya mengerucut, memberontak ingin turun.
"Sayang tahu ya kalau aku hanya pura-pura tidur?" tanya Sena dengan kesal dan Hanan langsung tertawa terbahak tak bisa ditahan.
Merasa malu, Sena terus memukul dada Hanan dan minta turun. Bukannya diturunkan, Hanan malah menganyun-ayunkan tubuh Sena. Hingga kekesalan gadis itu berubah jadi tawa renyah dengan memeluk erat leher sang kekasih.
"Kita langsung mandi ya?" ajak Hanan dan Sena mengangguk.
Di dalam kamar mandi itu, keduanya sama-sama menaggalkan semua baju tanpa ada rasa canggung, seolah tak ada lagi dinding pembatas diantara keduanya. Mereka berendam di dalam bathup dengan saling berdampingan.
"Sensen, besok kita tidak usah masuk kerja ya, istirahat dulu," ucap Hanan, seraya menyandarkan kepalanya di dinding bathup itu, menikmati sensasi air hangat yang menenangkan.
"Apa tidak masalah sayang, banyak sekali aku mengambil libur," jawab Sena yang merasa tak enak hati.
Dalam hatinya pun bertanya-tanya, kenapa Hanan semudah itu mengatakan tentang libur libur dan libur seolah perusahaan itu adalah miliknya sendiri.
"Tidak apa-apa, ibu Yoana pasti mengizinkan," jawab Hanan seraya menarik pinggang Sena untuk mendekat.
Bawa-bawa nama Yoana, Sena sedikit tenang. Karena baginya, Yoana memang lebih berpengaruh daripada sang kekasih, Hanan.
Cukup lama mereka berendam di dalam bathup itu, hingga akhirnya membilas diri di bawah pancuran air.
"Sayang, kenapa itu tegak terus?" tanya Sena menunjuk senjata sang kekasih, sejak tadi keluar dari dalam bathup, senjata itu menegang dan tidak turun-turun.
"Tidak apa-apa, ini normal namanya, nanti juga akan turun saat kamu sudah memakai baju," jawab Hanan apa adanya.
Tapi mendengar itu, Sena malah menggigit bibir bawahnya menggoda.
"Kenapa tunggu nanti, kenapa tidak diturunkan sekarang?" tanya Sena, ia mendekat dan menjangkau senjata itu, bahkan mengelusnya dengan sayang.
"Jangan memancingku," Hanan mengingatkan.
"Tapi kita belum pernah melakukannya di dalam kamar mandi, dulu aku hanya mengeluarkannya menggunakan tangan," jawab Sena polos sambil menerawang masa lalu, dulu ia begitu aneh memegang ini, namun kini malah merasa begitu suka.
"Kalau begitu menghadaplah ke dinding," titah Hanan, dengan tersenyum Sena menurut.
Kini, bukan hanya Hanan yang merasa candu dengan tubuhnya, tapi Sena pun sudah kecanduan sentuhan Hanan.
Kamar mandi itu tak hanya terdengar gemericik air, namun terdengar pula suara ******* dari keduanya, terus bersenggama hingga sama-sama mendapatkan puncak kepuasan.
"Katakan Sen, katakan kamu mencintaiku," ucap Hanan setelah pelepasan mereka dapatkan bersama. Tubuh keduanyapun masih menyatu dalam posisi berdiri.
Dengan napas yang memburu, Sena menjawab, "Aku mencintaimu, Sayang."
pdhl.mau baca gmn respon sanaf manta istrinya nikah lagi..sama.brondong pula😌
bonchap dong🤧
lagiam lu ngaku nadia ttp jadi istri lu karma 15 thn kemudian lu udah tuirr, miskin lagi. cw mana yg mau😏