Di dunia yang penuh intrik dan kekuasaan, Liora, seorang wanita penerjemah dan juru informasi negara yang terkenal karena ketegasan dan sikap dinginnya, harus bekerja sama dengan Darren, seorang komandan utama perang negara yang dikenal dengan kepemimpinan yang brutal dan ketakutan yang ditimbulkannya di seluruh negeri. Keduanya adalah sosok yang tampaknya tak terkalahkan dalam bidang mereka, tetapi takdir membawa mereka ke dalam situasi yang menguji batas emosi dan tekad mereka. Saat suatu misi penting yang melibatkan mereka berdua berjalan tidak sesuai rencana, keduanya terjebak dalam sebuah tragedi yang mengguncang segala hal yang mereka percayai. Sebuah insiden yang mengubah segalanya, membawa mereka pada kenyataan pahit yang sulit diterima. Seiring waktu, mereka dipaksa untuk menghadapi kenyataan. Namun, apakah mereka mampu melepaskan kebencian dan luka lama, ataukah tragedi ini akan menjadi titik balik yang memisahkan mereka selamanya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon lestari sipayung, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Masih Ada Sayang?
Darren mengangguk kecil, mengakui fakta itu tanpa melihat Liora. Tatapannya kembali kosong, sementara tubuhnya terlihat semakin berat menanggung beban.
Namun, sebelum Liora sempat melontarkan lebih banyak pertanyaan, Darren tiba-tiba berbalik, tatapan matanya berubah tajam, serius, tetapi sarat dengan kecemasan. Tanpa diduga, ia menggenggam tangan Liora dengan erat, membuat gadis itu terkejut hingga membeku sejenak.
"Tolong, jangan beritahu mereka," ucap Darren cepat, suaranya rendah tetapi penuh tekanan. Sorot matanya memancarkan permohonan yang mendesak, seolah-olah masa depan bergantung pada keputusannya.
Liora terdiam, kebingungan berputar di pikirannya. Darren yang biasanya tenang kini terlihat begitu cemas, bahkan hampir panik. Permintaan itu terus mengusik pikirannya—mengapa Darren begitu ingin menyembunyikan fakta ini? Apa yang sebenarnya ia lindungi?
“Kau takut adikmu akan ditangkap?” Liora bertanya pelan, mencoba menebak kekhawatiran yang Darren sembunyikan.
Darren tidak langsung menjawab. Wajahnya mengeras, tetapi matanya jelas menunjukkan betapa dalam beban yang sedang ia pikul. Akhirnya, setelah beberapa saat hening, ia mengangguk kecil. Jawaban itu terasa berat, bahkan untuk dirinya sendiri. Ia kembali menatap kosong ke depan, pikirannya terlihat kalut, seolah dihantui sesuatu yang lebih besar daripada dirinya.
Liora menggigit bibirnya, ragu-ragu sebelum melanjutkan, “Foto yang kemarin, itu dia juga, kan?” Suaranya terdengar hati-hati, tetapi ada nada keyakinan di balik pertanyaannya.
Darren melirik Liora sekilas, matanya mengerut, mencoba mengingat apa yang dimaksud gadis itu. Saat kesadarannya menghantam, tubuhnya terasa menegang. Ia tahu apa yang dimaksud Liora. Foto yang pernah ia tunjukkan padanya—foto dirinya bersama dua anak kecil dengan senyum bahagia. Itu adalah kenangan lama bersama kedua adik kembarnya.
Hati Darren mencelos. Ia menunduk, rahangnya mengeras. Fakta bahwa rahasianya begitu dekat dengan terbongkar membuat pikirannya berputar, mencoba mencari cara untuk menjaga semuanya tetap tersembunyi.
"Benar," jawab Darren dengan suara pelan, nyaris seperti bisikan. Jemari tangannya bergerak gelisah, memainkan udara seakan sedang mencari pegangan. Gestur itu jelas menggambarkan suasana hatinya yang kacau—perasaan cemas dan gelisah berputar hebat di dalam dirinya.
Liora memperhatikan tingkah Darren dengan saksama, matanya tajam mengamati setiap gerakan yang mencerminkan kegelisahan. Setelah beberapa saat, ia menghela napas panjang, mencoba menenangkan pikirannya sendiri. "Kenapa dia melakukan itu?" tanyanya lagi, berusaha membuka pembicaraan. Dia tahu, apapun alasannya, ini adalah bagian dari tugas yang harus ia pahami. Sebagai bagian dari misi yang sama, Liora tidak bisa lepas tanggung jawab begitu saja.
Darren menggeleng pelan, gerakannya lambat seolah memberi tahu bahwa dia sendiri tidak memiliki jawaban. "Aku juga tidak menyangka," ucapnya lirih, suaranya sarat kebingungan. "Ceritanya panjang, dan aku tidak pernah membayangkan pelariannya akan seperti ini," lanjutnya, nadanya semakin dalam, menggambarkan beban di pikirannya.
Liora mengamati dengan seksama, mencoba mencerna ucapan Darren. Penasaran dalam dirinya justru semakin membesar, mendorongnya untuk memahami lebih jauh. "Apa yang sebenarnya terjadi padanya? Jelas hubungan kalian tidak baik-baik saja," kata Liora, nadanya penuh penekanan. Dari cara Darren berbicara, dia tahu hubungan itu jauh dari harmonis, dan mungkin ketegangan itu menjadi salah satu alasan yang mendorong adiknya bertindak seperti ini.
"Aku punya adik kembar, Katy dan Kary," ujar Darren, suaranya pelan tapi sarat emosi. "Awalnya, hubungan keluarga kami sangat harmonis. Tapi semuanya berubah saat mereka lulus sekolah menengah. Papa bersikeras agar mereka melanjutkan perguruan tinggi demi bisa mengurus perusahaan dan maju secara akademis. Katy menyetujuinya karena dia memang menyukai belajar. Tapi Kary... dia menolak. Dia ingin seperti aku, terlibat dalam organisasi persenjataan negara." Darren berhenti sejenak, menelan sesaknya. "Papa menolak keras, dan Kary akhirnya memilih pergi dari rumah. Sejak saat itu, hubungan kami perlahan memburuk. Tapi, bagaimanapun juga, kami sangat menyayanginya."
Tanpa sadar, Darren mengungkapkan semuanya kepada Liora. Mungkin dia tak lagi mampu menahan sesak itu sendirian. Selesai berbicara, dia menghela napas berat, menunduk dengan sorot mata yang begitu sendu—berbeda jauh dari sosok tegas dan brutal yang biasanya terlihat saat ia bertugas.
Liora terdiam mendengar cerita Darren, mencoba memahami bagaimana semua itu terjadi. Namun, di dalam hatinya, ada sesuatu yang terasa familiar. Kisah itu, entah kenapa, hampir menyerupai jalan hidupnya sendiri—sama-sama terhalang untuk melakukan hal yang paling disukai.
"Nasibnya hampir mirip denganku," gumam Liora pelan, suaranya nyaris seperti bisikan. Namun, Darren hanya meliriknya sekilas tanpa memberikan respons. Dia tampak tenggelam dalam pikirannya sendiri, memutar kembali kenangan yang terus menghantuinya.
Apa yang harus Darren lakukan sekarang? Apakah dia harus menangkap adiknya sendiri dan membiarkannya menerima hukuman negara? Lalu, bagaimana dengan keluarganya? Bagaimana dengan Kary? Bayangan semua itu membuat Darren sesak—dia tidak sanggup membayangkan semua itu menjadi kenyataan.
"Tenanglah, kita pasti akan menemukan solusinya. Jangan seperti ini. Kau tidak akan menyelesaikan apapun jika terus terjebak dalam pikiranmu," ucap Liora lembut, menepuk pelan pundaknya. Darren mengangkat wajah, menatap Liora dengan sorot mata yang sulit diartikan—campuran antara kebingungan, harapan, dan rasa sakit yang mendalam.
"Tapi bagaimana caranya?" tanya Darren, suaranya serak, dipenuhi frustrasi yang mulai menguasainya. Liora hanya diam, mencoba memikirkan jawaban yang tepat, sesuatu yang tidak hanya menenangkan tetapi juga masuk akal bagi situasi yang begitu rumit ini.
"Aku pikir aku bisa memahami sedikit tentang adikmu," ucap Liora akhirnya, pelan tapi penuh keyakinan. "Dia terlibat dengan pihak musuh, itu fakta yang sulit diabaikan. Tapi dari caranya bertindak, aku yakin dia hanya menjalankan tugas, bukan sepenuhnya kehendaknya. Ada satu hal yang membuatku percaya itu: dia tidak ingin menyakitimu."
Liora berhenti sejenak, memastikan Darren benar-benar mendengar setiap kata yang ia sampaikan. "Ingat malam itu, saat kalian bertarung? Dia punya senjata, tapi dia tidak menggunakannya untuk melukaimu. Itu bukan karena dia lemah, Darren, tapi karena dia memilih untuk tidak melukaimu. Dia melawan hanya untuk mencari celah melarikan diri, bukan untuk menghancurkanmu. Jika dia benar-benar ingin, dia punya peluang untuk melukai atau bahkan lebih, tapi dia tidak melakukannya. Itu sudah menunjukkan sesuatu."
Darren hanya terdiam, tertegun dengan apa yang baru saja Liora ungkapkan. Ingatannya kembali melayang pada malam itu. Malam ketika Kary melawan—dia ingat jelas adiknya memegang senjata itu, tetapi tidak ada satu pun tembakan yang diarahkan kepadanya. Liora benar. Perlawanan Kary malam itu bukanlah untuk menang, tetapi untuk melarikan diri.
Pertanyaan yang selama ini Darren hindari kini perlahan mencuat ke permukaan. Apakah Kary, meski semua kesalahpahaman dan keretakan di antara mereka, masih menyimpan rasa sayang sebagai adik? Pikiran itu menggerogoti hati Darren, menciptakan ruang keraguan sekaligus sedikit harapan bahwa mungkin, semuanya belum benar-benar hancur.