di kota pemalang, tepatnya jalan sudirman terdapat sebuah toko boneka yang terlihat sangat biasa. pemiliknya seorang pemuda bernama sugi, semua orang menaruh hormat kepadanya, karena kesaktianya tiada tanding, segala macam ilmu hitam tidak berpengaruh padanya, ucapanya seperti mantra itu sendiri, segala jenis pusaka tidak berani menunjukan kadigdayaanya di depan sugi. para orang orang sakti yang menunjukan kesaktianya hanya di anggap orang gila di matanya. namun sugi sendiri tidak menyadari bahwa dia adalah orang sakti.
"kenapa kalian berlutut padaku...?"
ig: abdulrizqi60
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Abdul Rizqi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
pergi dari Banyumanik
Orang orang di sana langsung menghirup udara dalam dalam, begitu adrian mengakhiri ceritanya. Bagaimana mungkin ada manusia yang membunuh ratusan orang seperti menginjak semut saja. Mereka juga percaya dengan ucapan adrian, karena cantika juga melihat sendiri sugi memukuli guru suparjo.
"Pantas saja, guru suparjo tidak datang datang ke sini ternyata dia sudah di hajar oleh tuan sugi.." batin adrian.
Siswoyo dan wiran adalah orang yang paling menyesal karena mereka meremehkan penyelamat keluarganya sendiri.
Surya juga tidak kalah menyesal, sebelum ini dia menganggap sugi adalah manusia biasa yang tidak memiliki kesaktian apapun.
Mengetahui sekarang bahwa sugi adalah seorang tuan sakti tidak terkalahkan yang di takuti oleh adrian, membuat tenggorokan surya kering. Dia ketakutan memanggil sugi sebagai nak lagi.
Tidak pernah surya sangka, sebelum ini dia berfikir bahwa dia berhasil merendah di hadapan sugi, merendah dari orang sakti menjadi orang biasa. Namun sayang seribu sayang, ternyata apa yang di lakukannya adalah sebuah lelucon anak anak di depan sugi.
Ternyata sugi lebih hebat dari dirinya dalam menyembunyikan identitasnya. Surya berfikir bahwa dia seperti menari nari, di telapak tangan tuan sugi, tuan tidak terkalahkan.
Ini membuat surya sangat malu di hadapan tuan sugi.
"Tidak! Ini tidak mungkin! Mana mungkin bocah seperti sugi adalah orang yang sangat sakti!" Ucap ronald.
Surya langsung marah saat ini. "Ronald, jaga perilakumu! Orang yang sangat kuat seperti tuan sugi, Akan terlihat seperti manusia biasa di mata kita.."
"Mungkin jika itu orang lain kami akan percaya, tetapi ini sugi bocah desa itu, Mustahil dia seorang tuan sakti tidak terkalahkan.." kali ini yang berbicara agung.
Semua orang langsung geram mendengar ucapan dua tuan muda ini, padahal fakta sudah di depan mereka tetapi mereka seperti tidak punya mata untuk melihat fakta seterang itu.
Tiba tiba Ronald, dan agung langsung berlari ke arah pintu kamar sugi.
Whusss...!!!
Karung goni yang tadi berada di tong sampah langsung terbang ke arah ronald dan agung kemudian melilit tubuh mereka berdua, dan menghempaskan dua tuan muda itu hingga menabrak tembok.
Bughh...!!!
Ronald, dan agung terjatuh sambil memegangi dadanya yang terasa sakit.
Semua orang di sana tanpa terkecuali langsung menelan ludahnya secara kasar, begitu melihat sebuah karung goni yang memancarkan aura kutukan yang sangat kuat malah melindungi sugi seolah karung itu tunduk di hadapan sugi.
"Karung kutukan siapa itu..?" Tanya adrian.
"Itu milik guru suparjo. Dia lupa membawa karung goni terkutuk itu." Jawab cantika.
"Bahkan pusaka milik musuhnya sekalipun, mampu di tundukan oleh tuan sugi betapa saktinya beliau.." ucap adrian.
Semua orang orang di sana memasang ekspreksi tegang.
***
Waktu berjalan cepat tidak terasa pagi tiba begitu saja.
Dalam beberapa jam yang lalu para koki segera memasak makanan dan para pelayan segera menyiapkan ruangan terbagus di villa ini. Tentu saja mereka memasak untuk pagi hari menjelang siang ini.
Tiba tiba mata mereka membelalak bahkan beberapa ada yang mengucek matanya, melihat adrian seorang pemimpin organisasi demon lord berapakain seperti pakaian orang biasa, sementara mereka berpakaian jas jas mahal.
"Tuan adrian.. mengapa anda memakai pakaian biasa seperti itu...?" Tanya surya.
"Tentu saja... aku memakai ini untuk menghargai tuan sugi. Mana mungkin aku punya nyali memperlihatkan kekuasaanku di hadapan tuan sugi.."
Semua orang di sana terdiam, mereka membenarkan ucapan adrian, mereka merasa sangat konyol memperlihatkan kekayaan mereka di hadapan tuan sugi.
Singkat cerita semua orang berkumpul di ruangan itu. Hidangan hidangan lezat sudah tarsaji di meja makan. namun pada saat ini tidak ada satu orangpun yang berani menyentuh makanan di atas meja. Itu karena sang tuan tidak terkalahkan belum hadir di meja makan.
Semua orang di sana hanya bisa duduk diam, di atas kursi tidak berani berbuat apa apa.
Sementara itu sugi hanya klomprak klomprok di kasur seperti keset, sugi menguap sambil tangannya memainkan handphonenya. sugi tidak mengetahui bahwa di luar kamarnya para pelayan sedang menunggu dia keluar. sedangkan orang yang di tunggu hanya rebahan rebahan di kasur.
Saat sugi sedang bermain game di ponselnya tulisan samsung muncul, tanda hp sugi kehabisan baterai.
Sugi hanya bisa menghela nafas pasrah, memang sejak kemarin dia belum mengecas handphonenya.
Sugi melirik jam dinding yang menunjukan pukul sepuluh lebih lima belas.
Sugi kemudian mandi beberapa menit kemudian sugi selesai. Setelah mandi Sugi mulai merasa lapar. Setelah mandi, sugi berjalan ke arah pintu kamar.
"Seharusnya di dapur ada beberapa makanan sisa.. mungkin aku bisa meminta beberapa.." batin sugi.
Sugi sendiri tidak berharap di ajak sarapan oleh surya dan yang lainya. Dari awal dia datang kesini mereka sangat sensi pada dirinya. "Setelah ini aku akan pamit..." batin sugi.
Ketika sugi membuka pintu sugi kaget, melihat para pelayan berbaris rapih.
"Silahkan tuan, anda sudah di tunggu tuan surya.." ucap salah satu pelayan.
Sugi plonga plongo, sugi sangat bingung kenapa pelayan menyambut dirinya. Sugi berjalan mengikuti arah jalan pelayan.
Tidak lama kemudian sugi sampai di ruangan yang di jadikan tempat makan.
Sugi sedikit kaget ketika melihat orang orang di sana hanya diam, belum ada yang menyentuh makanan seolah menunggu dirinya.
Sugi kemudian duduk. "Kenapa mereka diam saja? dan kenapa mereka baru sarapan padahal ini sudah hampir jam 11." Batin sugi.
Tatapan sugi kemudian mengarah pada adrian yang berpakaian biasa. "Adrian! Apa benar ini kau..?" Tanya sugi.
"Be.. benar mas sugi..."
"Kenapa kamu bisa ada di sini...? Bukanya kamu itu pemulung, kenapa bisa berkumpul dengan orang orang kaya ini..?"
Adrian sedikit berfikir. "Emm, saya bekerja bersama keluarga permadi... mas.." jawab adrian dengan nada ragu ragu.
Sugi memicingkan matanya. "Mana mungkin hanya rekan kerja bisa duduk di samping ronald.."
"Ku rasa kau kurang pandai dalam berbohong... adrian.." ucap sugi.
Adrian gugup, dia tidak tahu ingin mengucapkan apa.
Singkat kata singkat cerita. Sarapan pagi itu selesai.
Sugi kemudian berkata. "Kakek surya, terimakasih sudah menyambutku Dengan baik, hari ini saya pamit.." ucap sugi.
Surya saat ini berkeringat dingin. Surya berfikir bahwa sugi tidak nyaman dengan perlakuan mereka.
"Ke... kenapa pulang lebih cepat...?"
"Toko saya sudah lama tidak buka..., saya takut ada maling.." ucap sugi.
Adrian yang mendengar alasan tuan sugi tersenyum kecut. "Mana mungkin ada yang berani mencuri boneka boneka di toko tuan sugi..!" Batin adrian. Mana mungkin ada yang berani mencuri boneka boneka di toko sugi, ketika boneka yang di curi akan langsung memakannya.
"Sekali lagi terimakasih kakek surya. saya pamit.." ucap sugi dan berjalan pergi.
"aing macan!🐯"