Zia dan Zion, yang memiliki keterikatan sejak kecil, terpisah cukup lama lalu bertemu lagi saat salah satunya menjadi hantu. Bersama mereka menghadapi dan mengungkap peristiwa-peristiwa ganjil yang terjadi di sekitar mereka. Akankah akhirnya mereka bisa bersama menyelesaikan semua misteri yang mewarnai hidup mereka?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon cilamici, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
23. Kepingan Puzzle
Jarum jam sudah mendekati angka delapan saat hujan turun deras. Seorang wanita dibantu anak laki-lakinya susah payah menutup warung kecil mereka.
Setelah mereka menutup warung, keduanya masuk ke dalam rumah dari papan kayu di belakang warung kecil itu.
"Hari ini kita makan roti ini lagi saja yah Yan..."
Kata wanita itu dengan mata berkaca-kaca.
Anak laki-laki yang sebetulnya sudah menahan lapar sejak pagi hanya mampu mengangguk. Ia tak tega mengeluh pada Ibunya.
Anak itu mengambil sisa roti kemarin yang dapat diberi seorang Ibu baik di dekat SPBU yang kasihan melihatnya mengais plastik bekas air minuman untuk nanti dikumpulkan dan dijual.
"Maafkan Ibu nak, maafkan Ibu hanya bisa membesarkanmu seperti ini."
Lirih sang Ibu.
Ziyan, nama anak laki-laki itu, memeluk ibunya, ia baru akan mengatakan bahwa tidak apa-apa mereka masih kesusahan, tapi pintu rumah tiba-tiba di gedor dari luar.
"Hey... Sudah saatnya membayar hutang, jangan beralasan lagi!!"
Suara seorang laki-laki terdengar di antara riuh rendah suara guyuran hujan.
Ziyan yang entah kenapa mendapat firasat buruk, langsung meminta Ibunya bersembunyi di dalam kamar. Tapi tampaknya kesialan memang sudah terlalu dekat, pintu itu lebih dulu didobrak.
Dua orang laki-laki berdiri di sana.
"Maaf, beri saya waktu lagi... saya mohon, saat ini warung sedang sepi sekali, jarang ada anak yang jajan es, apalagi sudah musim hujan."
Rintih ibu Ziyan.
Laki-laki itu tak peduli, ia menyeret Ibu Ziyan yang semula akan masuk ke dalam kamar.
"Bedebah, sudah tiga bulan janji membayar, mau sampai kapan minta waktu terus."
"Ampun tuan... ampuuun..."
Ibu Ziyan berusaha bersimpuh, tapi laki-laki itu malah menghajarnya.
"Ibuuuu..."
Ziyan yang masih sepuluh tahun hanya bisa memanggil Ibunya, ia mencoba menghambur ke arah Ibunya, tapi ia dipegangi laki-laki yang satunya.
"Saya janji tuan, saya akan membayar, beri saya waktu, saya mohon... saya mohon..."
Ibu Ziyan menangis.
Laki-laki itu terdiam sejenak, ia melihat Ibu Ziyan yang kini bersimpuh di kakinya.
Wanita itu cantik, hanya saja karena miskin ia begitu Kumal. Seringai menjijikan terbit dibibir laki-laki itu. Otak iblisnya bekerja.
Ia kemudian menarik tubuh ibu Ziyan agar berdiri...
"Baiklah, akan aku berikan waktu lagi..."
Katanya menyeringai.
"Su... Sungguh tuan..."
Ibu Ziyan seolah begitu lega, tapi...
"Tapi kau harus melayaniku dulu malam ini."
Kata laki-laki jahat itu,
"Tidak tuan... Jangan... Jangan tuan..."
Ibu Ziyan ketakutan, tapi apa yang bisa ia lakukan hanya berusaha lari, dan usaha itu hanyalah usaha sia-sia saja.
Laki-laki itu menarik Ibu Ziyan ke dalam kamar.
"Ibuuuuuu... ibuuuu... jangan jahatin Ibu... Jangan jahatin Ibuuuuuuu..."
Ziyan meronta, ia menggigit tangan laki-laki yang memeganginya, saat pegangan itu terlepas ia lari ke pintu kamar dan membukanya, ia ingin menyelamatkan Ibunya, tapi sang Ibu sudah di nodai...
Laki-laki jahat itu berada di atas ibunya yang hanya menangis, Ziyan berteriak marah, ia mencoba menghambur ke arah laki-laki itu untuk menghajarnya, tapi laki-laki yang tadi ia gigit lebih dulu menangkapnya.
Ziyan di seret keluar rumah, dilempar ke jalanan. Pintu rumah ditutup dan dikunci dari dalam.
Ziyan terus berteriak.
Ia lari memutari rumahnya seperti kesetanan sambil memanggil sang Ibu.
Ziyan berteriak minta tolong tapi tak ada yang menghiraukan. Kemiskinan memang sebuah bencana, manusia saat ini tak bisa memaklumi kemiskinan seseorang.
Anggapan miskin karena malas bekerja membuat nasib seseorang yang sedang tidak beruntung seolah sebuah kesalahan dan aib.
Sekitar dua jam, dua laki-laki iblis itu keluar dari rumah. Mereka tertawa seolah mendapat kepuasan tak terhingga.
Ziyan melihat mereka dengan jijik. Anak laki-laki itu berlari masuk ke dalam rumah, mencari Ibunya...
"Ibu... Ibu..."
Ziyan mencari, namun Ibunya sudah tak ada lagi di kamar. Hanya pakaiannya saja yang tertinggal di sana, berserakan di atas lantai.
"Aaaaa..."
Tiba-tiba Ziyan mendengat jeritan Ibunya dari arah dapur. Ziyan lari ke sana...
"Ibuuuuuuu..."
Ziyan menjerit, matanya nanar melihat ibunya bersimbah darah di lantai dapur. Ibu menikam perutnya sendiri dengan pisau dapur.
Wanita itu meregang nyawa, menatap putranya sambil menangis.
Ziyan menjerit...
"Ibu... Ibu..."
**------**
Bertahun kemudian...
Ziyan di kamar duduk di tepi tempat tidur. Lampu kamar sudah dimatikan, gelap, tapi ia tak bisa tidur.
Kamar yang hanya mendapat penerangan dari cahaya lampu di balkon kamar itu kini terlihat samar-samar saja, seolah menggambarkan kehidupan Ziyan yang sesungguhnya juga hanya samar-samar saja.
Tak bahagia. Ia tak bahagia.
Ziyan kemudian beranjak dari tempat tidurnya, ia ingat sesuatu yang ia bawa dari rumah saat akan ke Jakarta, di mana ia menyimpannya, ia lupa.
Ziyan berjalan memasuki ruang lemari yang ada di kamar.
Ia menyalakan lampu, lalu membuka beberapa laci yang ada di sana.
Ziyan menghela nafas.
Hanya ada koleksi dasi yang tertata rapih dan jam-jam tangan mewah.
Tapi...
Ziyan tiba-tiba melihat satu kotak kecil yang menyelip di antara koleksi jam tangan mewah.
Penasaran, ia kemudian mengambil kotak itu dan membukanya.
Sebuah cincin kecil dengan inisial huruf Z, seperti cincin milik seorang gadis kecil.
Sosok itu mengamati cincin itu sesaat.
Apa istimewanya cincin itu? Bahkan cincin itu sama sekali bukan emas.
Ziyan kemudian mengembalikan kotak berisi cincin itu ke tempat semula.
Matanya menyapu sekali lagi ke seluruh ruang lemari itu, dimana semua koleksi wardrobe ada di sana.
Ziyan sejenak mendengus.
Lihatlah... Dia hidup dengan semua fasilitas ini, bersenang-senang, foya-foya, membuang uang hanya untuk membeli jam-jam bodoh seharga ratusan juta, tapi...
Ziyan menepuk-nepuk dadanya yang tiba-tiba terasa begitu sesak. Amarahnya memuncak. Ia begitu membenci jalan hidupnya.
Kemalangan, kesulitan, ketakutan, semua yang tak enak selalu menghantui hidupnya.
Apa, kenapa?
Kenapa aku? Kenapa ibu? Kenapa harus kami yang menderita? Kenapaaaa?!!!
Ziyan meraung.
"Aku akan membalas semua yang membuatmu menderita Bu, lihat saja, akan aku hancurkan semuanya !! Akan aku hancurkan semuanya !!"
Ziyan mengepalkan tinjunya, lalu memukul dinding kamar dengan keras.
Sementara itu Zion hantu pergi ke suatu tempat dengan hantu butik.
Yah, ke mana lagi jika bukan ke tempat di mana hantu butik itu melihat tubuh Zion dipindahkan ke dalam mobil.
"Kemana perginya mobil itu kira-kira?"
Zion menatap jalanan dengan frustasi.
"Yang jelas mobil itu lari ke arah sana."
Kata hantu butik menunjuk arah ke daerah Tangerang.
Benar kata hantu kecil itu, laki-laki yang membawa tubuh Zion adalah pasti si Salim. Ia pasti menyembunyikan disuatu tempat. Aku harus segera menemukan Salim.
Tekad Zion.
**-------**
yang over penakut lah . yang ga suka adventure lah . dsni lagi ...anak kek zizi dibilang nakal n bikin darting . padahal itu biasa banget. bukan anak bandel sama sekali. just normal act of a child.
padahal cerita mayan ok. tapi krn karakter2ny dibuat lebay jadi sering skip pen cpt2 lanjut krn cm pen liat alur cerita .