Di Benua Sembilan Awan, takdir seseorang ditentukan oleh Pusaka Jiwa yang mereka bangkitkan. Li Tian, seorang murid luar yang gigih namun miskin, menjadi bahan tertawaan seluruh sekte ketika ia membangkitkan pusaka berupa sarung tangan perunggu kusam yang dianggap sampah tak berguna.
Namun, dunia buta akan kebenarannya. Di balik karat itu bersemayam Zu-Long, Roh Kaisar Naga Primordial yang pernah menguasai langit. Pusaka itu bukanlah sampah, melainkan Cakar Naga Pemutus Takdir, satu dari Sembilan Pusaka Kaisar legendaris dengan kemampuan mengerikan: melipatgandakan kekuatan penggunanya tanpa batas.
Menolak menyerah pada nasib sebagai "sampah", Li Tian bangkit. Dengan bimbingan Naga Purba yang angkuh dan tekad baja, ia bersiap menampar wajah para jenius sombong, melindungi orang-orang terkasih, dan mendaki puncak kultivasi untuk menjadi Dewa Perang Terkuat.
Legenda seekor Naga yang membelah langit baru saja dimulai.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Baldy, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Perburuan di Hutan Sekte Dalam
Hutan Sekte Dalam berbeda dengan Hutan Kabut Ungu. Jika Hutan Kabut Ungu terasa liar dan buas, Hutan Sekte Dalam terasa kuno dan mistis. Pohon-pohon di sini tingginya mencapai ratusan meter, batangnya sekeras baja, dan dedaunannya menyaring sinar matahari menjadi berkas-berkas cahaya hijau yang menenangkan.
Namun, ketenangan itu hanyalah ilusi.
Lima puluh peserta berdiri di garis start yang berbeda-beda di pinggir hutan. Di tangan mereka, tergenggam sebuah Token Teleportasi Darurat—jika dihancurkan, mereka akan keluar dari ujian dan dinyatakan gagal.
Tetua Guntur melayang di atas hutan, suaranya menggema ke seluruh penjuru.
"Aturannya sederhana. Ada Sepuluh Bendera Naga yang disembunyikan di dalam hutan seluas sepuluh kilometer persegi ini. Tugas kalian adalah mendapatkan bendera itu dan membawanya ke Altar Pusat sebelum matahari terbenam."
"Boleh berkelahi? Tentu saja. Boleh merampas? Sangat disarankan. Satu-satunya larangan adalah membunuh sesama murid. Jika lawan sudah menyerah atau kehilangan kesadaran, hentikan serangan."
Tetua Guntur mengangkat tangannya, lalu menurunkannya dengan tajam.
"MULAI!"
Wush! Wush! Wush!
Lima puluh sosok melesat masuk ke dalam hutan.
Li Tian tidak terburu-buru. Dia melangkah masuk dengan santai, lalu segera melompat ke atas dahan pohon tinggi, menyembunyikan auranya.
"Guru, bisa kau rasakan di mana benderanya?" tanya Li Tian dalam hati.
"Tentu saja. Indra Nagaku bisa mencium bau Qi yang dipancarkan bendera itu dari jarak lima kilometer," jawab Zu-Long. "Tapi... sepertinya kau punya masalah lain yang lebih mendesak daripada mencari bendera."
Li Tian menyipitkan matanya. Dia melihat ke bawah.
Di tanah, sekelompok lima orang peserta sedang bergerak dalam formasi rapat. Mereka tidak mencari bendera. Mereka mencari jejak kaki.
Pemimpin kelompok itu adalah seorang pemuda kurus dengan mata licik—salah satu pengikut Zhao Feng.
"Ingat perintah Tuan Muda Zhao," kata pemuda itu pelan. "Jangan biarkan Li Tian mendapatkan bendera. Kepung dia, hajar dia sampai setengah mati, lalu hancurkan tokennya agar dia gagal."
Li Tian tersenyum dingin di atas pohon. "Aliansi pemburu, ya? Zhao Feng benar-benar tidak sabar."
"Mereka lima orang. Dua di Tingkat 8, tiga di Tingkat 9 Awal," analisis Zu-Long. "Apa rencanamu, Bocah? Turun dan hancurkan mereka?"
"Tidak," Li Tian menggeleng. "Ini hutan. Hutan adalah tempat berburu, bukan arena duel. Aku akan mengajari mereka cara menjadi mangsa yang baik."
Li Tian mengambil sebuah batu kerikil. Dia menjentikkannya ke arah semak-semak di sisi kanan kelompok itu.
Krosak!
Kelompok itu tersentak.
"Di sana!" teriak pemimpinnya. "Serang!"
Mereka menembakkan serentetan jarum Qi dan pisau lempar ke arah semak-semak itu.
Namun, yang keluar dari semak bukanlah Li Tian, melainkan seekor Beruang Besi yang sedang tidur siang dan kaget karena diserang.
"ROAAAR!"
Beruang Besi itu mengamuk dan menerjang kelima orang itu.
"Sial! Itu binatang roh!" panik mereka. Formasi mereka berantakan.
Di saat kekacauan itu, Li Tian bergerak. Seperti hantu, dia melompat turun dari dahan pohon, mendarat tanpa suara di belakang anggota paling belakang yang sedang sibuk menangkis cakar beruang.
"Selamat tidur," bisik Li Tian.
Buk!
Sebuah pukulan tangan kosong (tanpa Gandakan) menghantam tengkuk murid itu. Dia pingsan seketika.
Li Tian mengambil token teleportasi murid itu dan meremasnya.
Crash.
Cahaya putih menyelimuti tubuh murid itu, mengirimnya keluar dari arena.
"Satu," hitung Li Tian, lalu kembali menghilang ke atas pohon sebelum teman-temannya sadar.
Permainan kucing dan tikus berlanjut selama satu jam.
Li Tian menggunakan lingkungan hutan dengan sempurna. Dia memancing binatang buas, memasang jebakan akar pohon, dan melakukan serangan gerilya hit-and-run.
Satu per satu, anggota aliansi Zhao Feng gugur. Mereka bahkan tidak sempat melihat wajah penyerang mereka.
Akhirnya, hanya tersisa si pemimpin kurus. Dia berdiri gemetar di tengah hutan, napasnya memburu, pedangnya teracung ke segala arah dengan panik.
"Keluar kau, pengecut!" teriaknya histeris. "Lawan aku jantan!"
Li Tian mendarat lembut di hadapannya. Dia berdiri tegak, tidak memegang senjata apa pun. Sarung tangan perunggunya berkilau suram di bawah naungan pohon.
"Jantan?" Li Tian terkekeh. "Kalian berlima mencoba mengeroyokku, dan kau bicara soal jantan?"
"Mati kau!" Pemuda itu nekat, menebas pedangnya dengan putus asa.
Li Tian menangkap bilah pedang itu dengan tangan kosong—sarung tangan perunggunya yang kini telah diperkuat Besi Meteorit bahkan tidak tergores sedikit pun.
"Pedangmu tumpul," kata Li Tian dingin.
Krak!
Li Tian mematahkan pedang itu dengan satu remasan.
Pemuda itu jatuh terduduk, mentalnya hancur. "Ampun... aku hanya disuruh Zhao Feng..."
"Aku tahu," kata Li Tian. Dia mengambil token di pinggang pemuda itu. "Sampaikan salamku pada Tuan Mudamu. Katakan padanya: giliran dia berikutnya."
Crash.
Pemuda itu menghilang dalam cahaya putih.
Li Tian berdiri sendirian di hutan yang sunyi. Lima pengganggu sudah beres.
"Kerja bagus," puji Zu-Long. "Efisien. Hemat tenaga. Sekarang, ayo cari bendera itu sebelum Su Yan mengambil semuanya."
Li Tian mengangguk. "Tunjukkan jalannya, Guru."
Dia melesat ke arah timur, mengikuti panduan Zu-Long.
Sepuluh menit kemudian, dia sampai di sebuah rawa berlumpur. Di tengah rawa itu, tertancap sebuah bendera merah dengan lambang naga emas yang berkibar.
Namun, Li Tian tidak sendirian.
Di sisi lain rawa, berdiri seorang gadis dengan gaun putih yang tidak ternoda sedikit pun oleh lumpur.
Su Yan.
Dia juga menatap bendera itu. Kemudian, tatapannya beralih ke Li Tian.
"Kau cepat juga," kata Su Yan datar.
"Kau juga," balas Li Tian.
Su Yan mengangkat tangannya. Udara di sekitar rawa mendadak turun suhunya hingga titik beku. Kristal es mulai terbentuk di permukaan lumpur.
"Bendera ini milikku," kata Su Yan. "Mundur, atau kubekukan."
Li Tian tersenyum menantang. Dia mengangkat tangan kanannya.
"Cobalah, Nona Es. Mari kita lihat apakah esmu cukup dingin untuk memadamkan api nagaku."
Di Hutan Sekte Dalam, dua kuda hitam ujian akhirnya bertemu. Pertarungan antara Es dan Naga tak terelakkan.