NovelToon NovelToon
Bucinya Seorang Duda Dingin

Bucinya Seorang Duda Dingin

Status: sedang berlangsung
Genre:CEO / Cinta pada Pandangan Pertama
Popularitas:4.5k
Nilai: 5
Nama Author: Azarrna

Aru dan Kenan adalah cerita tentang luka yang tak sengaja saling bersentuhan.
Aru, perempuan lembut dengan keteguhan hati yang sunyi, dipertemukan dengan Kenan—seorang ayah tunggal yang keras, protektif, dan menyimpan ketakutan terdalam akan kehilangan.

Sebuah pertemuan yang seharusnya biasa justru berujung luka, membuka tabir emosi yang selama ini terkunci rapat. Di tengah kesalahpahaman, tangisan seorang anak, dan perasaan bersalah, tumbuh kehangatan yang tak direncanakan.

Ketulusan Aru yang menenangkan dan naluri keibuannya perlahan meruntuhkan dinding pertahanan Kenan. Sementara Kenan, tanpa sadar, kembali belajar mempercayai cinta—meski hatinya terus mengingatkan untuk menjauh.

Ini bukan kisah cinta yang terburu-buru, melainkan perjalanan perlahan tentang luka, tanggung jawab, dan keberanian untuk membuka hati sekali lagi.
.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Azarrna, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 6

Brukk!.

“Aisss—!”

Dorongan keras dari Kenan membuat tubuh Aru terhuyung dan jatuh membentur ujung meja kaca. Ia meringis menahan perih ketika bahunya menghantam sudut meja yang tajam. Padahal, seharusnya setiap sudut meja itu sudah dilapisi karet pengaman. Namun entah bagaimana, karet itu tak ada di tempatnya.

“Apa yang kamu lakukan pada anak saya, haa?!” bentak Kenan dengan suara mengguntur, menatap Aru yang masih terduduk lemas di dekat meja kaca.

Aru terdiam, matanya melebar karena terkejut. Ia sama sekali tak menyangka perlakuan kasar itu akan ia terima.

Suasana ruangan langsung berubah tegang. Semua orang yang menyaksikan kejadian itu bangkit dari duduk mereka dan bergegas menghampiri Aru.

“Kenan! Apa yang kamu lakukan?!” suara Papi Bas meninggi, jelas menahan amarah. “Kenapa kamu dorong Aru sampai jatuh?!”

Namun Kenan tak menjawab. Perhatiannya hanya tertuju pada Kai yang menangis semakin kencang. Ia sibuk menggendong dan menepuk punggung anaknya, berusaha menenangkan.

Kai sebenarnya menangis karena melihat Aru didorong oleh ayahnya sendiri. Tapi sebagai anak kecil, ia tak mampu menjelaskan apa yang terjadi, hanya tangis yang terus pecah di sela isak.

Sementara itu, Mami Amara dan Joe sudah lebih dulu membantu Aru berdiri.

“Pelan-pelan, Aru,” ujar Mami Amara dengan suara cemas. “Ada yang sakit? Kamu bisa berdiri?”

“Iya, Tan… aku bisa,” jawab Aru pelan sambil memaksakan senyum, meski bahunya terasa perih dan panas.

Joe langsung sigap. Ia memutar tubuh Aru sedikit untuk memastikan kondisinya.

“Lo yakin nggak kenapa-kenapa?” tanya Joe serius.

Aru mengangguk,“Aku baik-baik aja kok, Tan, Joe,” jawab Aru lagi, berusaha terdengar meyakinkan.

Namun saat Joe menyingkap sedikit bagian punggung Aru, matanya langsung melebar. Di balik kemeja blue sky yang dikenakan Aru, tampak bercak merah yang semakin menyebar.

“Astaga…” Joe tercekat. “Aunty,bahu Aru luka! Darahnya keluar!”

Ucapan itu membuat semua orang tersentak. Papi Bas, Pak Bara, dan Nathan langsung mendekat.

“Astaghfirullah…” Pak Bara menutup mulutnya. “Aru, ini darahnya banyak sekali.”

Papi Bas menoleh tajam ke arah Kenan. “Ini semua gara-gara kamu!” bentaknya. “Pakai otak kamu sebelum bertindak! Jangan main dorong orang sembarangan!”

Kenan akhirnya menoleh sekilas, wajahnya datar tanpa rasa bersalah.

“Sudahlah, Pi,” katanya dingin. “Paling juga luka kecil. Lagian ngapain juga dia bikin Kai sampai nangis?”

Ucapan itu membuat beberapa orang terdiam, sementara yang lain mengepalkan tangan menahan emosi.

“Sudah,Om…” Aru mencoba menyela, suaranya lembut. Ia memegang bahunya sendiri yang mulai terasa basah. “Aru nggak apa-apa kok. Cuma luka kecil aja.”

“Nat,” suara Joe terdengar tegang dari belakang Aru, “darahnya makin banyak.”

Nathan langsung bertindak. “Bawa Kak Aru ke kamar tamu, Bang,” perintahnya pada Joe. “Gue ambil alat medis dulu.”

Tanpa menunggu jawaban, Nathan berlari menuju kamarnya. Joe dan Mami Amara segera menuntun Aru menuju kamar tamu, sementara suasana ruang keluarga masih dipenuhi ketegangan dan tatapan tajam yang tertuju pada Kenan.

***********

Sementara itu di rumah keluarga Wiratama , para putra mahkota baru saja pulang kerja. Mereka langsung menuju kamar mereka masing-masing untuk mandi dan Sholat isya. Setelah sholat isya Mereka semua kini berkumpul di meja makan untuk makan malam, di meja makan sudah ada Ayah Dika, Mama Yasmine, Varo dan Vian.

"Adek pergi sama om Bara ma.??"Tanya Varo pada sang mama yang sedang mengambil nasi untuk sang ayah.

" Iya. "

"Pergi Kemana?"tanya Vian.

" Adek tadi pergi menemani om Bara untuk menghindari acara makan malam di rumah koleganya. "Ucap Mama Yasmine, yang kini beralih mengambikan nasi untuk kedua putranya.

" Tapi adek kok ngak ada bilang sama aku kalau mau keluar ya, ma???"Tanya Vian, biasanya sang adik akan minta izin terlebih kepada nya terlebih dahulu sebelum pergi keluar.

"Eh tuyul bahenol, tadi tu Aru mau izin sama lo setelah makan siang, tapi lo malah langsung pergi kekantor, malah ngak pamit lagi! " Ucap Varo kepada adik kembarnya.

"Ehh,,, tadi tu gara-gara lo juga ya Varo, lo yang nyuruh gue untuk cepat. Jadi lupa deh pamitannya." Jawab Vian sambil cengengesan pada sang abang.

"Eh Jarjit, yang patut lo salahin itu bukan gue tapi bapak lo yang nyuruh gue buat cepat-cepat sampai di kantor. "Sahut Varo yang tak mau di salahkan oleh saudara kembarnya itu.

" Bapak kita sama beg*k!!"Ucap Vian dengan nada sedikit kesal karena ucap sang kakak kembar.

"Sudah Abang Varo, kak Vian jangan ribut masalah bapak lagi. Sebenarnya kalian bukan anak ayah,kalian berdua anak pungut jadi yang saling menyalahkan bapak kalian." Sahut Ayah Bara dengan sifat jahil nya. Ayah Bara merupakan tipikal orang yang suka bercanda dengan keluarga, tetapi jika sudah masuk keranah kerja Ayah Bara akan berubah menjadi orang yang dingin. Tak heran jika si kembar memiliki sikap yang sama dengan ayah Bara. Berbeda dengan Bisma yang mewarisi sikap kedua orang tuanya yang tenang.

“Ini suami siapa sih, Mah?!” Varo menoleh ke Mama Yasmine dengan wajah kesal.

“Bukan suami Mama,” jawab Mama Yasmine singkat dan datar, tanpa rasa bersalah sedikit pun.

“Huk—uhuk—uhuk!”

Ayah Dika tersedak hebat mendengar jawaban itu.

“Astaghfirullah, Ayah,” ucap Mama Yasmine sambil menepuk punggung suaminya dan menyodorkan segelas air. “Makannya pelan-pelan dong.”

Sementara itu, Varo dan Vian sudah menahan tawa dengan susah payah.

“Hahaha… hahaha… hahahaha!”

“Kok Mama bilang Ayah bukan suami Mama sih…” rengek Ayah Dika dengan nada manja.

Mama Yasmine hanya memutar bola mata malas.

“Makanya, jangan kebanyakan bercanda nggak jelas.”

Varo dan Vian makin terbahak.

“Kena karma, Yah!”

“Makanya jangan suka bilang kita anak pungut sama anak sendiri Yah,!”

"Awas ya kalian." ancam ayah Dika bercanda

Tawa pun memenuhi meja makan malam itu. Hangat, riuh, dan penuh canda—tanpa satu pun dari mereka menyadari bahwa di tempat lain, Aru sedang berada dalam kondisi yang sama sekali berbeda.

**********

Aru duduk di tepi ranjang dengan punggung sedikit membungkuk. Kemeja blue sky miliknya sudah dibuka sebagian, memperlihatkan bahu yang kini memerah pekat dengan luka terbuka di sudutnya. Darah masih merembes tipis, membasahi kasa yang Joe tekan dengan hati-hati.

“Ini bukan luka kecil,” gumam Joe, rahangnya mengeras. “Kalau kena sudut meja kaca kayak gini, bisa dalam.”

Mami Amara berdiri di samping ranjang, tangannya gemetar saat meraih tangan Aru. “Sakit banget ya, Nak?”

Aru menggeleng pelan, meski wajahnya jelas pucat.

“Masih bisa ditahan, Tan,” jawabnya lirih. “Jangan khawatir.”

Pintu kamar terbuka cepat. Nathan masuk sambil membawa kotak P3K dan beberapa alat medis sederhana.

“Gimana lukanya?” tanyanya langsung, matanya fokus pada bahu Aru.

Joe mundur sedikit memberi ruang. “Lumayan dalam.”

Nathan menghela napas panjang. “Untung nggak kena tulang.”

Ia segera membersihkan luka itu dengan cairan antiseptik. Aru meringis kecil, jarinya mencengkeram seprai.

“Hisss—”

“Sabar ya, Kak,” ujar Nathan pelan. “Kalau perih, bilang aja.”

Aru hanya mengangguk. Keringat dingin mulai muncul di pelipisnya.

Di luar kamar, suara langkah kaki terdengar mendekat. Papi Bas berdiri di depan pintu, wajahnya muram. Pak Bara juga ada di sana, sama-sama diam dengan emosi yang masih mengendap.

Kenan berdiri sedikit menjauh, Kai masih berada dalam gendongannya. Tangis anak itu sudah mereda, berganti isak kecil yang tersengal.

Namun wajah Kenan tetap dingin, seolah apa yang terjadi barusan hanyalah kejadian sepele.

“Apa kamu nggak mau masuk dan minta maaf?” tanya Papi Bas akhirnya, suaranya rendah namun tajam.

Kenan melirik sekilas. “Untuk apa?”

“Kamu mendorong dia sampai berdarah,” balas Pak Bas menahan emosi. “Itu bukan hal sepele, Nan.”

Kenan mendengus. “Dia bikin Kai nangis pi.”

"Bukan Aru yang bikin Kai nangis,” suara Papi Bas meninggi, tak lagi mampu menyembunyikan emosinya.

“Kalau bukan dia, siapa lagi, Pi?” sahut Kenan cepat. “Papi juga tahu, Kai nggak bisa dekat sama orang asing.”

Papi Bas menghela napas dalam, menahan gejolak di dadanya.

“Papi tahu. Tapi tadi Kai sendiri yang memeluk Aru… dan memanggilnya bunda.”

Kenan terkesiap kecil, namun segera menepisnya.

“Itu mustahil, Pi. Kenan tahu betul bagaimana Kai.”

“Kalau kamu nggak percaya,” ucap Papi Bas dengan suara rendah namun tegas, “kita lihat saja nanti. Siapa sebenarnya yang bisa membuat Kai berhenti menangis dan apa ucapan papi ini bohong.”

Kenan memalingkan wajah, rahangnya mengeras.

“Terserah Papi saja. Kenan nggak peduli.”

Kalimat itu jatuh dingin,menyisakan luka yang tak kalah dalam dari yang terlihat.

Di dalam kamar, Nathan akhirnya menutup luka Aru dengan perban tebal.

“Besok harus dicek lagi, kak” katanya serius. “Kalau nyeri berlebihan atau demam, langsung dibawa ke rumah sakit aja.”

“Iya,” jawab Aru pelan.

Mami Amara tersenyum tipis, meski matanya berkaca-kaca. “Kamu istirahat dulu di sini ya. Jangan mikirin apa-apa.”

"Nggak usah tante, Aru nggak papa kok. "ucap nya.

"Kamu Yakin nak, " tanya mami Amara memastikan.

Aru mengangguk.

Namun ketika Mami Amara melepaskan genggaman itu, Aru menunduk. Napasnya tertahan sejenak. Ada perih yang tak terlihat—bukan di bahunya, tapi di dadanya.

Di saat yang sama, di meja makan keluarga Wiratama, suara tawa mendadak terasa menjauh bagi Vian.

Garpu di tangannya berhenti sebelum menyentuh piring.

“Kenapa lo bengong, Vi?” tanya Varo sambil menyuap.

Vian tak langsung menjawab. Alisnya berkerut, dadanya terasa berat tanpa sebab yang jelas.

“Entah lah…Tiba-tiba aja perasaan gue nggak enak.”

Varo mendengus kecil. “Perasaan lo aja kali.”

Namun Vian menunduk, menatap layar ponselnya yang gelap. Jantungnya berdetak sedikit lebih cepat.

Ada rasa asing yang menyelinap,cemas tanpa nama, takut tanpa alasan.

Seolah di tempat lain, seseorang yang sangat ia lindungi sedang menahan sakit… sendirian.

Dan jarak itu terasa begitu kejam.

Bersambung.................

1
Faidah Tondongseke
Aamiin..🤭
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!