Hana dan Aldo mempunyai seorang anak laki-laki bernama Kenzo. Mereka adalah sepasang suami istri yang telah menikah selama 6 tahun, Kenzo berusia 5 tahun lebih dan sangat pandai berbicara. Kehidupan Hana dan Aldo sangat terjamin secara materi, Aldo mempunyai perusahaan batu bara di kota kalimantan...kehidupan rumah tangga mereka sangat rukun dan harmonis, hingga suatu hari musibah itu menimpa dalam rumah tangga mereka...
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon VISEL, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
13. Waktu 7 Hari
Seminggu berlalu, hubungan Hana dan Aldo masih saja belum menunjukkan tanda-tanda untuk kembali rukun. Aldo masih berada di rumah Sari, sedangkan om Heri telah mengetahui jika Aldo telah kembali dari Bandung. Hari itu om Heri menelpon Aldo untuk datang ke rumahnya, Hana belum memberitahukan kedua orang tuanya tentang perpisahan mereka. Hana melakukan aktifitasnya seperti biasa, mengurus Kenzo ke sekolah dan terkadang menjemputnya. Aldo masih tetap ke kantornya seperti biasa, sepulang dari kantor Aldo ke rumah om Heri karena om Heri telah menelponnya untuk datang.
Aldo: "Ada apa, pa? Apakah ada yang penting?" tanyanya dengan rasa ingin tahu. Om Heri menatap wajah menantunya dengan tatapan tajam. Perasaan Aldo mulai tidak nyaman dengan tatapan mertuanya itu.
Om Heri: "Apakah kamu tahu untuk apa papa memanggilmu ke sini?" tanyanya sambil menatap wajah Aldo.
Aldo: "Aku tidak tahu, pa." sahutnya dengan wajah tegang.
Om Heri: "Bagaimana hubunganmu dengan Hana? Apakah baik-baik saja?" tanyanya dengan rasa penasaran. Aldo mencoba untuk bersikap tenang, namun ia tidak ingin membohongi om Heri tentang perpisahannya dengan Hana.
Aldo: "Sangat buruk, pa." ucapnya sambil menundukkan kepalanya. Om Heri mengerutkan kedua alisnya, ia mencoba menebak isi kepala Aldo.
Om Heri: "Apa maksud kamu?" tanyanya dengan rasa penasaran.
Aldo: "Aku pergi dari rumah, pa. Hana tidak mengingkanku berada di sisinya lagi." sahutnya dengan ekspresi wajah yang sedih.
Om Heri: "Apakah Hana mengetahui kebohonganmu?" tanyanya dengan rasa ingin tahu. Aldo mengangkat kepalanya, ia menatap wajah mertuanya dalam-dalam.
Aldo: "Maksud papa?" tanyanya dengan berpura-pura. Om Heri tersenyum sinis, ia menghela nafas berat.
Om Heri: "Sudahlah, Aldo. Papa telah mengetahui semuanya. Kamu pergi ke Bandung bersama dengan seorang wanita." ucapnya dengan penuh keyakinan. Aldo terkejut, ia bingun bagaimana mungkin mertuanya mengetahui semuanya. "Wanita itu adalah teman Hana sendiri. Papa menyimpan foto-foto kalian." ucapnya lagi dengan wajah tenang.
Aldo: "Papa jangan salah paham padaku. Wanita itu hanya rekan bisnisku yang kebetulan berteman dengan Hana." ucapnya dengan membela diri. Aldo berusaha menyangkal dan menutupi kebohongannya di depan om Heri, namun om Heri segera mengeluarkan ponselnya dan menunjukkan sejumlah foto-foto Aldo dan Sari saat berada di Bandung.
Om Heri: "Apakah foto-foto ini pantas dikatakan hanya teman?" tanyanya dengan kesal. "Kamu telah menghianati Hana dan pernikahan kalian. Kamu tidak bisa membodohi papa semudah itu." ucapnya lagi. Aldo terdiam, ia masih bingun dengan om Heri yang sangat mudah mengetahui semuanya. "Aku dan mama masih menutupinya dari Hana." ucapnya.
Aldo: "Pa, aku." Aldo mulai gugup di hadapan mertuanya.
Om Heri: "Siapa nama wanita itu?" tanyanya dengan rasa ingin tahu. "Kalian telah menikah siri, kan?" tanyanya lagi. "Papa mempunyai seorang detektif. Kamu tidak bisa membodohi papa." ucapnya dengan rasa percaya diri. Aldo tidak bisa menutupinya lagi, ia mengakui kehebatan om Heri yang sangat mudah mendapatkan informasi tentangnya.
Aldo: "Namanya Sari, pa. Sari sahabat Hana." ucapnya dengan suara pelan.
Om Heri: "Kamu hebat, Aldo. Kamu telah menyakiti hati putriku." ucapnya dengan kesal. "Hukuman apa yang pantas untukmu?" tanyanya sambil menatap wajah Aldo dengan tatapan tajam.
Aldo: "Maafkan aku, pa. Aku khilaf." ucapnya sambil menundukkan kepalanya.
Om Heri: "Papa memberimu sebuah pilihan, Aldo. Tinggalkan wanita itu atau berpisah dengan Hana." ucapnya dengan tegas. "Papa belum memberitahukan tentang perselingkuhanmu kepada Hana." ucapnya lagi. "Papa tidak ingin melihat putri papa hancur gara-gara kamu." ucapnya dengan suara keras. Aldo tertegun, ia tidak bisa memikirkan apapun. Om Heri memberinya sebuah pilihan yang amat sulit baginya. "Papa memberimu waktu dalam 7 hari untuk berpikir." ucapnya lagi. Sikap tegas om Heri membuat Aldo bingun menentukan pilihannya. Aldo masih mencintai Hana, namun ia juga terpikat pada Sari.
Aldo: "Aku pulang dulu, pa." ucapnya dengan suara pelan.
Om Heri: "Ingat pesan papa, Aldo. Kamu punya waktu 7 hari untuk memutuskannya." ucapnya dengan tegas.
Aldo: "Iya, pa." sahutnya. Aldo beranjak dari duduknya, ia melangkah dengan pelan keluar dari rumah mertuanya. Om Heri menatap kepergian Aldo dari dalam rumahnya, om Heri berharap Aldo memutuskan ikatan dengan Sari. Tante Laras melangkah keluar dari dalam dapur, ia menghampiri suaminya yang masih berada di ruang tengah.
Tante Laras: "Bagaimana, mas? Apa tanggapan Aldo?" tanyanya dengan rasa ingin tahu.
Om Heri: "Aku memberinya waktu 7 hari untuk meninggalkan wanita itu." ucapnya.
Tante Laras: "Aku ragu, mas. Aldo tidak akan meninggalkan wanita itu." ucapnya dengan putus asa.
Om Heri: "Jika Aldo tidak mau, maka ia harus berpisah dengan Hana." ucapnya dengan suara lantang.
Tante Laras: "Bagaimana dengan Kenzo, mas? Apakah kamu tega melihatnya tumbuh tanpa figur seorang ayah?" tanyanya dengan kesal.
Om Heri: "Apakah kamu tega melihat putri kita di khianati?" tanyanya dengan suara keras.
Tante Laras: "Kenzo masih kecil, mas. Pikirkan mental Kenzo, dong." ucapnya. Om Heri terdiam, ia memikirkan perkataan istrinya.
Om Heri: "Aku akan memikirkan tentang Kenzo nanti." ucapnya pelan.
Malam itu Aldo tiba di rumah Sari dengan wajah lesu, ia melangkah pelan masuk ke dalam rumah Sari. Aldo merebahkan tubuhnya di atas kursi panjang.
Aldo: "Pilihan yang sulit bagiku." ucapnya lirih. Sari keluar dari dalam kamarnya dan berjalan pelan menghampiri Aldo.
Sari: "Ada apa, sayang? Mengapa wajahmu terlihat lesu?" tanyanya dengan rasa ingin tahu. Aldo menatap wajah Sari, ia memegang wajah Sari dengan lembut.
Aldo: "Aku bingun, Sari. Mertuaku memberiku dua pilihan." ucapnya pelan. "Papa telah mengetahui hubungan kita." ucapnya.
Sari: "Pilihan apa, mas?" tanyanya dengan rasa penasaran.
Aldo: "Aku harus meninggalkanmu atau berpisah dengan Hana." ucapnya dengan rasa kecewa.
Sari: "Apa jawabanmu, sayang?" tanyanya lagi sambil menatap wajah Aldo dalam-dalam. Aldo menghela nafas berat, ia tampak tertekan dengan pilihan yang diberikan oleh om Heri.
Aldo: "Aku belum menjawabnya. Papa kasih aku waktu 7 hari." sahutnya dengan rasa tertekan.
Sari: "Aku harap kamu tidak mengecewakanku, mas." ucapnya.
Aldo: "Aku juga bingun, Sari. Aku masih mencintai Hana." ucapnya dengan berat. "Aku juga tidak ingin melepaskanmu, sayang." ucapnya lagi.
Sari: "Kamu sangat serakah, mas. Pria sejati harus punya pilihan dalam hidup." ucapnya. "Mandilah, mas." pintanya dengan lembut. "Kamu bisa berpikir jernih setelah mandi." ucapnya lagi.
Aldo: "Aku harap begitu, Sari." sahutnya. Aldo beranjak dari kursi, ia melangkah pelan masuk ke dalam kamar. Sari duduk merenungi permintaan om Heri.
Sari: "Om Heri ingin memisahkan aku dari mas Aldo." ucapnya lirih.
***********************************