Pertemanan dua keluarga tidak menjadikan Allegri dan Allegra akrab. Sejak kecil keduanya selalu berdebat dan membuat Allegra sebagai gadis mungil yang memiliki tubuh berisi menangis karena bullying yang di lakukan Allegri.
Allegra selalu memeluk Monica, mengadu pada wanita yang sudah ia anggap sebagai ibu kedua baginya setelah Giana.
Beberapa tahun berlalu keduanya telah dewasa. Kini Allegri menjadi pimpinan rumah yang di dirikan orang tuanya. Laki-laki tampan itu menjadi pemimpin yang terkenal dingin dan berdedikasi tinggi terhadap aturan yang telah ia tetapkan.
Allegra tidak bisa menolak ketika kedua orangtuanya Valentino dan Giana , meminta ia melanjutkan bekerja untuk mengabdikan diri dirumah sakit yang kini di pimpin Allegri.
Bagaimana saat keduanya menjadi rekan kerja? Apakah keduanya masih saling membenci?
Ikuti sekuel TERJEBAK CINTA MAFIA ini ya. Anak Monica-Luigi & Valentino-Giana. Semoga kalian suka.
Jangan lupa interaksi kalian di setiap bab, agar novel ini bisa berk
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Emily, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
SORE HARI DI PERKEBUNAN
Tok...
Tok...
Mendengar suara ketukan di pintu membuat kelopak mata Allegra menggerjap.
"Oh, aku tertidur", gumamnya.
"Tok..
"Tok..
“Nona Allegra..” suara wanita memanggil di depan pintu.
"Iya..Masuk!", jawab Alle.
Pelayan muda membuka pintu kamar Allegra. "Maaf mengganggu anda nona, tuan Allegri menunggu anda di bawah. Kata tuan kalian mau keliling perkebunan dan ke danau", ujar pelayan itu tersenyum ramah pada Alle yang duduk di atas tempat tidur.
Cepat-cepat Allegra turun dari tempatnya. "Bilang pada Al, aku segera turun".
"Baik nona Alle", jawab pelayan itu menutup rapat pintu kamar Allegra.
Tidak menunggu lama, Alle segera berganti pakaian casual. Tak lupa gadis itu memakai coat tebal. Ia segera turun, namun tak nampak Allegri di bawah.
Linda tersenyum melihat Allegra yang baru saja turun. "Selamat sore sayang. Apa nona sedang mencari tuan Allegri?", tanya pelayan kepercayaan Allegri itu dengan ramah.
"Hmm...iya bibi Linda, apa bibi melihatnya?".
"Tuan, sudah menunggu anda di luar. Jangan lupa membawa pakaian ganti kalau kalian mau berenang di danau", ujar Linda mengingatkan Allegra sambil menata makanan ke dalam box, kemudian menyusun di dalam keranjang yang ada di atas meja.
"Iya bibi. Aku akan menemui Al di luar", ujar Alle.
"Iya sayang", jawab Linda tanpa menghentikan aktivitasnya. Linda sudah mengenal baik kedua orang tua Allegra, Valentino dan Giana yang sering juga menghabiskan waktu di perkebunan itu bersama Monica dan Luigi.
*
Allegra sudah di depan namun tak nampak keberadaan Allegri.
"Nona...anda sudah di tunggu tuan Allegri di area pembibitan. Mari saya antar menemui tuan", ucap Hugo.
Allegra menganggukkan kepalanya, sembari mengikuti Hugo.
Nampak beberapa langkah di depan Allegri melihat para petani sedang menyiram bibit anggur dalam polibag yang tersusun rapi dari atas kuda berbulu tebal berwarna hitam.
"Tuan, nona Allegra sudah ada", ujar Hugo memberitahu Allegri.
Laki-laki itu menolehkan wajahnya. "Ya, kau lanjutkan pekerjaan mu. Pisahkan bibit-bibit itu berdasarkan jenis dan usia anggurnya. Jangan di satukan seperti tadi".
Hugo menganggukkan kepalanya. "Baik tuan", jawabnya. Kemudian pergi mengikuti perintah bosnya tersebut.
"Kenapa kamu lama sekali. Kata mu mau keliling perkebunan. Ayo naik, Gabby dan Maura sudah menunggu kita di danau", ujar Allegri mengulurkan tangannya pada Alle yang tak bergeming di tempatnya.
Hanya saja seketika wajah Alle memucat menatap mata kuda dengan ketakutan.
"Alle, ada apa? Ayo. Aku mau berenang di danau sebentar lagi senja", ujar Allegri.
"Aku takut dengan kuda, Al. Lihatlah Ia menatapku dengan benci Al", ujar Allegra bergidik ngeri dengan tubuh gemetaran.
"Kamu ini ada-ada saja. Kuda ku sudah jinak. Ia tidak akan membuatmu luka".
"Lebih baik aku pulang saja. Kau saja yang pergi". Allegra membalikkan badannya dan berjalan cepat tanpa menoleh lagi.
"Alle... Tunggu!!", teriak Allegri melompat turun dari atas kuda, mengejar Allegra.
"Heii...Kau tidak mendengar ku?". Allegri berhasil menahan Alle. "Jangan takut, kau tidak akan jatuh. Aku akan menjaga mu Alle", ujar Allegri meyakinkan.
"Al, aku pernah terjatuh dari kuda. Menyebabkan aku tidak bisa berjalan. Aku trauma menunggang kuda Al".
"Aku tahu. Kau terjatuh saat liburan ke paris. Tapi itu sudah lama sekali Alle, kejadian itu saat kau masih kecil. Kamu harus sembuh dari trauma masa lalu".
Allegri mengulurkan tangannya. "Ayo lawan trauma mu. Kau aman bersama ku Alle", ujar Allegri terdengar begitu lembut dan perhatian pada Allegra.
Alle menatap Allegri. Gadis itu nampak ragu-ragu menyambut tangan Allegri.
Allegri menggenggam kuat jemari lembut Allegra, meyakinkan gadis itu bahwa ia akan baik-baik saja bersamanya.
Keduanya berjalan bergandengan menuju kuda.
"Aku akan mengangkat tubuh mu. Jangan takut, Bruno kuda yang jinak", ujar Allegri meyakinkan Alle yang menganggukkan kepalanya.
Allegri tahu, Alle masih sangat ketakutan. Laki-laki itu bisa merasakan tubuh Allegra gemetaran.
Allegri pun melompat keatas punggung Bruno. "Good Bruno. Kamu jangan membuat gadis cantik ini ketakutan, kau harus bantu dia menghilangkan traumanya", ujar Allegri yang mengusap punggung kudanya dengan menempelkan tubuhnya pada Allegra.
Saking takut bercampur rasa gugup, Alle tidak menyadari kata-kata yang di ucapkan Allegri barusan. Bersamaan kuda yang mereka tunggangi bergerak perlahan.
"Al–"
Allegra panik secara tidak sengaja ikut menghentak tali kekang Bruno yang spontan membuat kuda itu melonjak dan berlari kencang.
"Al..", pekik Alle tertahan di tenggorokan.
"Ups...Jangan takut, kamu akan semakin membuat Bruno panik Alle". Allegri memeluk erat pinggang Allegra.
Perlahan Bruno memperlambat larinya. Seakan mengerti tuannya memintanya berjalan pelan-pelan, bukan berlari seperti tadi.
"Lihatlah, Bruno mengerti apa yang kita mau. Kalau kamu panik ia pun akan panik".
Alle menganggukkan kepalanya pelan. Sekarang nafasnya tidak menderu lagi, sudah bisa bernafas dengan tenang. Bahkan kini kedua netranya bisa menikmati pemandangan kanan-kiri yang di tumbuhi pohon anggur berbuah lebat.
"Lihatlah di depan mu", ujar Allegri.
Allegra mengikuti petunjuk Allegri. Seketika netranya berbinar. "Itu danaunya? Oh my god...indah sekali", teriak Allegra bersemangat.
"Iya itu danau yang aku katakan padamu. Sayang sekali kalau sudah ke perkebunan melewatkan sesi berenang di danau".
"Lihatlah Gabby dan Maura sudah berenang di sana. Apa kamu membawa baju renang?".
"Al...Kau tahu aku tidak bisa berenang. Aku akan melihat kalian dari pinggir saja", jawab Allegra ketika sudah turun dari kuda.
"Aku akan menjaga mu Alle, jika itu yang kamu cemaskan. Kau harus melawan perasaan takut itu, supaya saat kita kembali kemari kamu sudah bisa berenang".
Alle tidak membalas kata-kata Allegri. Lagi-lagi laki-laki itu memberi semangat padanya untuk melawan ketakutan dalam dirinya. Bahkan Allegri mengatakan suatu saat mereka akan kembali ke perkebunan lagi. Entah lah apa maksudnya dengan kata-kata itu.
Namun sepertinya Alle tidak akan mengikuti Allegri untuk berenang di danau. Nyatanya rasa takut yang ia rasakan kini melebihi rasa takut ketika menunggangi Bruno.
Pada akhirnya Allegra tetap menolak ajakan Allegri untuk berenang bersamanya dengan alasan ia lupa membawa pakaian renang dan pakaian ganti.
Alle duduk di batu berukuran besar, di pinggir danau. Gadis itu tersenyum bahagia melihat Allegri, Gabriel dan Maura berada di dalam danau. Ketiganya sudah sangat mahir berenang. Bahkan Allegri mengajak Gabby lomba renang, seperti yang sering mereka lakukan.
Tentu saja Gabriel tidak menolak tantangan sang kakak.
Maura naik ke atas, kini berdiri di dekat Allegra.
"Ayo sayang, aku mendukungmu", teriak Maura untuk Gabriel.
"Aku yakin kekasih ku akan menang melawan kakaknya kali ini", ujar Maura begitu yakin.
"Kamu yakin? Yang aku tahu sejak dulu Allegri tidak terkalahkan. Sorry Maura aku mendukung Allegri", ucap Alle tertawa lalu bertepuk tangan ketika Gabby dan Allegri sudah berpacu dengan gaya bebas.
"Honeyyy semangat...Ayo honey", Teriak Maura memberi semangat untuk Gabby. "Lihat Alle, kekasih ku yang unggul kali ini", teriak Maura ketika Gabby mendahului Allegri.
Allegra dan Maura tertawa melihat kakak adik itu, saling susul menyusul begitu.
"Aku yakin Al hanya mengalah saja, lihat saja gerakannya melambat", seru Allegra tertawa.
Pada saat mencapai finish, benar saja yang di katakan Alle. Tidak di sangka-sangka Allegri kembali mendahului adiknya Gabriel.
Allegra melompat girang. Bahkan ketika Allegri dan Gabriel ke darat gadis itu berlari menghambur memeluk Al yang basah kuyup hanya mengenakan swim shorts berwarna hitam. Allegri membalas pelukan itu.
"Huhh...ternyata kau masih sulit aku kalahkan", ujar Gabriel yang di bantu Maura mengeringkan tubuhnya.
"Aku akui kau hampir mengalahkan aku Gabby, tapi aku ada supporter kali ini yang membuat ku lebih bersemangat", seloroh Allegri mengedipkan satu netranya pada Gabby yang tertawa melihat kakaknya mendapat perhatian Allegra.
"Ya yaah...Sesuai keinginan mu kak", balas Gabriel mengerti maksud kakaknya.
"Sebaiknya kita kepondok, bibi Linda pasti sudah menyiapkan makan malam kita", ujar Allegri menunjuk pondok yang tidak jauh dari tempat mereka kini.
"Kita akan makan malam di pondok itu?", tanya Allegra.
"Hem. Aku meminta Linda menyiapkan makan malam".
"Pantas saja tadi bibi Linda menyiapkan bekal, ternyata kau yang menyuruhnya".
"Kau dan Maura baru pertama kali kemari, sayang jika di lewatkan".
"Tapi kamu harus berganti pakaian hangat Al. Air danau pasti sangat dingin", ujar Allegra terdengar begitu perhatian pada laki-laki di dekatnya itu.
"Di pondok saja", jawab Allegri sambil menggenggam erat tangan Allegra menuju pondok.
...***...
To be continue