Riko Permana, demi gadis yang dicintainya, rela meninggalkan cita-cita menjadi seorang polisi. Melepas beasiswa yang diberikan negara. Ia mundur, sengaja mengalah. Sengaja membiarkan nilainya menjadi buruk demi memuluskan jalan calon kakak iparnya.
Profesor pembimbing kecewa dan ia merasa bersalah. Hanya satu yg membuat ia bahagia: bisa menikah dengan wanita yang sangat dicintainya.
Akan tetapi, apa yang terjadi kemudian? Dirumah mertua ia diperlakukan layaknya budak, dihina dan dipermalukan. Istri yang dicintai tidak membela malah ikut merendahkan.
Puncaknya adalah ketika ia mengetahui bahwa sang istri berselingkuh secara terang-terangan di hadapannya.
Pria yang menertawakan kebodohannya sendiri. Istri yang selama satu tahun pernikahan tidak mau disentuh, kenapa dia tidak sadar sama sekali?
"Cukup sudah! Seluruh cintaku sudah habis. Aku akan tunjukkan pada semua, aku bukan orang yang bisa mereka hina begitu saja. Mereka yang telah menghinaku, akan bertekuk lutut di hadapanku."
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mama Mia, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
02. Cinta Buta
.
"Lakukan ini untukku, Riko. Aku mohon." Laras menatap Riko dengan air mata berlinang. Wajahnya yang cantik tampak memelas. "Setelah ini aku berjanji tak akan minta apapun lagi padamu."
Riko semakin bimbang. Jantungnya berdebar tak karuan, antara cinta dan mimpi, mana yang harus ia pilih?
"Tapi, Laras, kamu tahu sendiri betapa aku ingin menjadi polisi. Ini bukan sekadar cita-cita, ini sudah jadi bagian dari diriku, bagian dari jiwaku. Cita-citaku sekaligus cita-cita mendiang ayahku. Harapan besar ibuku," jawab Riko dengan suara bergetar, nyaris tak terdengar. Kata-kata itu terasa pahit di lidahnya, seolah ia menelan serpihan kaca.
"Aku tahu, Sayang. Aku tahu," Laras meraih tangan Riko, menggenggamnya erat, seolah takut Riko akan menghilang.
"Tapi aku kasihan sama Mas Bagas," lanjutnya. "Dia sudah gagal berkali-kali. Ini mungkin kesempatan terakhirnya. Jika dia tidak lolos sekarang, dia akan kehilangan segalanya. Apa kamu tega membiarkan itu terjadi? Sedangkan kamu, ini adalah untuk pertama kalinya kamu ikut tes. Kamu masih bisa memiliki kesempatan lain kali untuk ikut tes berikutnya."
Riko terdiam. Ia memang pernah mendengar dari cerita Laras, kedua orang tuanya menginginkan Bagas menjadi seorang perwira polisi, namun selalu gagal dalam setiap tes seleksi. Dan itu berakibat Bagas selalu dimarahi oleh kedua orang tuanya.
"Aku tidak mengerti, Laras. Kenapa harus aku yang mengalah? Kenapa Bagas tidak mencari pekerjaan lain yang lebih cocok untuknya? Mungkin saja kakakmu memang tidak cocok untuk terjun ke Akademi kepolisian?" tanya Riko dengan nada frustrasi, suaranya meninggi tanpa sadar. Beberapa orang di sekitar mereka menoleh, tetapi Riko tidak peduli. Ia terlalu emosi untuk memperhatikan sekelilingnya.
Laras menggelengkan kepalanya. "Tidak bisa, Riko. Papa dan mamaku akan semakin murka jika sampai Mas Bagas tidak lolos. Dan kamu tahu sendiri bagaimana papaku jika sedang marah..."
Riko meraup wajahnya dengan dua tangan. Ia tahu bahwa ayah Laras adalah seorang pejabat tinggi yang berpengaruh. Mungkin kegagalan anaknya akan dianggap sebagai aib. Tapi, apa ia harus dia yang mengalah?
"Aku juga punya mimpi. Aku juga ingin membahagiakan orang tuaku. Kenapa kamu hanya berpikir tentang kakakmu tapi tidak berpikir tentang aku?"
"Bukan begitu, Riko," jawab Laras dengan suara lirih, hampir berbisik. "Aku hanya ingin membantu Mas Bagas. Aku tidak ingin melihatnya mendapatkan hukuman yang berat dari papaku.”
"Lalu bagaimana denganku, Laras? Apakah kamu tidak peduli dengan perasaanku? Apakah kamu tidak peduli dengan mimpiku? Apakah aku tidak penting bagimu?" tanya Riko dengan nada marah dan sedih bercampur jadi satu. Air mata mulai menggenang di pelupuk matanya.
Laras kembali menangis. "Tentu saja aku peduli padamu, Riko! Kamu adalah orang yang paling aku cintai di dunia ini! Bukankah sebentar lagi kita akan menikah? Anggap saja itu sebagai mahar yang aku minta darimu," ucap Laras penuh dengan permohonan. Gadis itu bahkan menangkupkan kedua tangannya di depan dada dan menatap Riko dengan mata berkaca-kaca.
Riko menghela napas panjang. Ia merasa terjebak dalam situasi yang sangat sulit. Ia mencintai Laras, ia ingin membahagiakannya, tetapi ia juga tidak bisa mengkhianati mimpinya sendiri.
"Aku butuh waktu untuk berpikir, Laras," ucap Riko akhirnya, suaranya pelan dan lesu. Ia tidak tahu apa yang akan ia lakukan, tetapi ia membutuhkan waktu untuk menenangkan diri dan menjernihkan pikirannya.
Laras mengangguk, air mata terus mengalir di pipinya. "Baiklah, Riko. Aku akan memberikanmu waktu. Aku akan menunggumu. Tapi aku mohon, pikirkan baik-baik. Pikirkan tentang hidup kita berdua. Jika kamu menjadi seorang polisi, mungkin kamu akan ditempatkan di tempat yang jauh dan kita tidak akan bisa bersama lagi. Sedangkan aku sangat mencintaimu, Aku tidak ingin kita berjauhan."
Laras memeluk Riko sekali lagi, erat dan lama, seolah ia ingin menyerap seluruh kebahagiaan Riko sebelum melepaskannya. “Aku pergi dulu ya? Aku harus menghibur Mas Bagas sebelum ia berhadapan dengan papaku," ucapnya kemudian berbalik dan pergi meninggalkan Riko seorang diri.
Riko berdiri terpaku di tempatnya, menatap kepergian Laras dengan hati yang hancur. Apakah dirinya egois jika ingin mempertahankan cita-citanya?
Riko berjalan gontai menuju taman di dekat akademi. Ia duduk di bangku taman di bawah pohon rindang dan menatap langit. Panas terik menyengat, namun ia merasa dunia gelap. Ia merasa sangat kesepian dan tak berdaya. Seolah seluruh dunia telah berkonspirasi untuk menghancurkan mimpinya.
Ia mengingat kembali masa kecilnya, tentang mendiang ayahnya yang juga seorang polisi. Dan itulah yang memicu semangat nya. Ia ingin menjadi seperti ayahnya. Karena itu ia selalu berlatih keras dan belajar dengan giat untuk mencapai mimpinya.
Namun, sekarang, mimpinya itu terancam hancur karena permintaan Laras. Ia merasa sangat frustasi. Jalan mana yang harus ia pili? Mempertahankan mimpinya ataukah mempertahankan Laras? Wanita yang sangat dicintainya.
Tiba-tiba, Riko teringat pada ibunya yang selalu tersenyum dan memberikan kata-kata penuh semangat, serta doa-doa yang tak henti ibunya panjatkan. Ibunya selalu menjadi sumber kekuatan dan inspirasinya. Ibunya selalu mendukungnya dalam meraih mimpi-mimpinya.
Riko memutuskan untuk menelepon ibunya. Ia ingin meminta saran dan pendapat dari orang yang paling ia percayai di dunia ini. Ia ingin mendengar suara ibunya, yang selalu bisa menenangkannya.
Ia meraih ponselnya dan mencari nomor ibunya. Setelah beberapa dering, ibunya mengangkat telepon.
"Halo, Ibu," sapa Riko dengan suara lirih, berusaha menahan air matanya.
"Riko, anakku! Bagaimana pengumumannya? Kamu lolos, kan?" tanya ibunya dengan nada antusias, suaranya penuh dengan harapan.
“Ibu sudah menunggu kabar baik darimu sejak tadi pagi. Maaf ya Ibu tadi tidak bisa mengantarmu, dan menunggumu menanti pengumuman. Itu karena Ibu harus mengantarkan pesanan pada juragan di pasar."
Riko terdiam sejenak, tidak tahu bagaimana harus menjawab pertanyaan ibunya. Ia tidak ingin mengecewakan ibunya. Ia tidak ingin menghancurkan kebahagiaan ibunya. Tapi…
"Maafkan Riko, Bu. Riko belum lolos," jawab Riko akhirnya, berbohong.
"Tidak apa-apa nak. Tidak apa-apa. Kamu masih mempunyai kesempatan untuk mencoba lain kali,” hibur ibunya.
Riko merasakan air mata kembali mengalir di pipinya. Ia merasa sangat bersalah karena telah berbohong pada ibunya.
"Ada apa, Riko? Kenapa kamu diam saja? Kenapa suara kamu terdengar sedih?" tanya ibunya dengan nada khawatir, merasakan ada sesuatu yang tidak beres. "Jangan khawatir, Nak. Ibu tidak kecewa padamu. Kamu sudah melangkah sampai sejauh ini dan Ibu sangat bangga.”
"Maafkan aku, Ibu."
aduh.. kalo sampai terjadi apes berkali-kali si laras
ditambah emaknya model itu lagi
mungkin emaknya aja yg dijual 😅😅😅
🤭😁😁😁😄