NovelToon NovelToon
PANTASKAH AKU BAHAGIA

PANTASKAH AKU BAHAGIA

Status: sedang berlangsung
Genre:Enemy to Lovers
Popularitas:255
Nilai: 5
Nama Author: yunie Afifa ayu anggareni

Deskripsi Novel: Pantaskah Aku Bahagia

"Dunia melihatku sebagai badai, tanpa pernah mau tahu betapa hancurnya aku di dalam."
Lahir sebagai saudara kembar seharusnya menjadi anugerah, namun bagi Alsya Ayunda Anantara, itu adalah kutukan yang tak kasat mata. Di mata orang tuanya, dunia hanya berputar pada Eliza Amanda Anantara—si anak emas yang sempurna, cantik, dan selalu bisa dibanggakan. Sementara Alsya? Ia hanyalah bayang-bayang yang dipandang sebelah mata, dicap sebagai gadis pemberontak, jahat, dan tukang bully.
Di balik tawa cerianya yang dianggap palsu, Alsya menyimpan luka yang menganga. Ia hanya ingin dicintai. Ia hanya ingin diperhatikan. Itulah alasan mengapa ia begitu terobsesi mengejar Revaldi Putra Raharja. Baginya, memiliki Revaldi adalah cara untuk membuktikan bahwa ia jadi berharga.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon yunie Afifa ayu anggareni, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 28: MEMUTUS RANTAI

Suara rekaman Eliza yang bergema di taman galeri itu bagaikan palu hakim yang menjatuhkan vonis terakhir. Revaldi berdiri mematung, wajahnya yang semula sombong kini pucat pasi. Dia mencoba meraih tangan Alsya, namun Alsya mundur dengan tatapan yang sangat asing.

"Sya, dengerin dulu... itu cuma Eliza yang panik, maksud gue—"

"Maksud loe adalah gue cuma komoditas, kan?" potong Alsya dengan suara yang sangat tenang namun tajam. "Gue bukan manusia di mata loe, ataupun di mata Eliza. Gue cuma alat tukar supaya bisnis keluarga kalian lancar."

Alsya berbalik arah, berjalan menuju Samudera yang masih berdiri dengan napas yang mulai teratur. Dia menggenggam tangan Samudera—tangan yang kasar dan terluka, tapi terasa jauh lebih nyata daripada semua kemewahan di ruangan ini.

"Ayo pergi, Sam," ucap Alsya tegas.

"Alsya! Kalau kamu pergi sekarang, jangan pernah berani injakkan kaki di rumah Papa lagi!" suara menggelegar itu tiba-tiba terdengar. Papa Saga rupanya baru saja sampai di galeri bersama Mama Luna. Mereka menyaksikan semuanya dari kejauhan.

Alsya berhenti, namun dia tidak berbalik. Bahunya bergetar, tapi bukan karena takut. Dia tertawa getir. "Itu ancaman yang sama selama tujuh belas tahun ini, Pa. 'Jangan lakukan ini atau Papa sita itu', 'Jangan jadi begini atau Papa buang kamu'."

Alsya akhirnya berbalik, menatap langsung ke mata ayahnya. "Papa nggak perlu repot-repot ngusir aku. Karena hari ini, aku yang mutusin buat pergi."

Mama Luna menutup mulutnya dengan tangan, terisak. "Alsya, jangan nekat! Kamu mau hidup di mana? Dengan apa? Kamu nggak punya apa-apa tanpa Papa kamu!"

"Aku punya diri aku sendiri, Ma. Sesuatu yang selama ini kalian coba bunuh pelan-pelan,"

Alsya melepaskan kalung berlian pemberian ibunya dan meletakkannya di atas meja pajangan terdekat. "Aku bakal tinggal di tempat Kak Arka. Aku bakal kerja, aku bakal melukis, dan aku bakal buktiin kalau Alsya yang 'cacat' di mata kalian ini bisa hidup tanpa bayang-bayang Eliza."

Samudera menatap Alsya dengan rasa bangga yang luar biasa. Dia merangkul bahu Alsya, memberikan kekuatan. "Saya bakal jagain dia, Om. Tanpa pamrih, tanpa kontrak bisnis."

Saga Anantara hanya bisa terdiam melihat putri bungsunya berjalan keluar dari galeri dengan langkah yang sangat mantap. Untuk pertama kalinya, uang dan kekuasaannya tidak berdaya di depan kemauan seorang gadis yang baru saja menemukan suaranya.

Malam itu, di bawah rintik hujan yang mulai mereda, Samudera membawa Alsya ke bengkel Arka. Arka sudah menunggu di sana dengan senyum hangat. Mereka menyiapkan sebuah kamar kecil di lantai dua bengkel yang biasanya dipakai Arka untuk menyimpan onderdil.

"Maaf ya, Sya. Kamarnya kecil, nggak kayak kamar putri raja loe dulu," ucap Arka sambil membantu membawakan tas kecil berisi pakaian yang sempat Alsya bawa secara sembunyi-sembunyi tadi pagi.

Alsya tersenyum, menatap ruangan kecil yang berbau oli dan cat kayu itu. "Ini bukan kamar kecil, Kak. Ini kemerdekaan pertama gue."

Setelah Arka turun, Samudera dan Alsya berdiri di balkon kecil bengkel, menatap lampu-lampu kota dari kejauhan.

"Loe beneran siap sama hidup susah, Sya?" tanya Samudera pelan.

Alsya menyandarkan kepalanya di bahu Samudera. "Selama gue bisa bangun tidur tanpa harus pura-pura jadi orang lain, gue siap, Sam. Makasih udah jadi alasan gue buat berani."

Samudera mencium puncak kepala Alsya. Di kejauhan, petir menyambar, menandakan badai mungkin belum sepenuhnya hilang, tapi malam ini, mereka punya satu sama lain untuk saling menghangatkan.

Keputusan yang sangat berani dari Alsya! Dia benar-benar meninggalkan "sangkar emas"-nya.

Bersambung...

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!