NovelToon NovelToon
Suami Idiot

Suami Idiot

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta setelah menikah
Popularitas:22
Nilai: 5
Nama Author: cilicilian

Hidup yang sangat berkecukupan membuat seorang Anya Febiola Anggara sangat terlena dengan kemewahan yang ia miliki.

Sampai suatu hari keadaan berbalik sangat drastis, membuat kedua orang tua Anya terpaksa menjodohkan anak mereka kepada rekan bisnis yang akan membantu membangkitkan kembali keadaannya yang saat itu tengah terpuruk.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon cilicilian, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Kelima

Sesampainya di depan pintu masuk kantor Pramudya, Bram menarik napas dalam, berusaha menenangkan diri. Ia tidak ingin membuat keributan di tempat ini.

"Anya, Ayah mohon, mengertilah," ucap Bram dengan nada yang lebih lembut, meski masih terdengar tegas. "Ini demi kebaikanmu juga. Arga adalah pria yang baik. Dia bisa memberikanmu kehidupan yang layak."

Anya menggelengkan kepalanya dengan air mata yang terus mengalir. "Tidak, Ayah. Anya tidak percaya. Anya tidak bisa hidup dengan pria yang tidak Anya cintai."

Bram menghela napas berat. Ia tahu, Anya sangat keras kepala. Ia tidak tahu lagi bagaimana cara membujuknya.

Tiba-tiba, pintu kantor terbuka dan seorang pria paruh baya keluar dengan senyum ramah. Itu adalah Pramudya Angkasa.

"Bram, Anya, selamat datang," ucap Pramudya dengan nada yang hangat. "Saya sudah menunggu kalian."

Bram menatap Anya dengan tatapan memohon. "Anya, tolonglah," bisiknya.

Anya menunduk, tidak berani menatap Pramudya. Ia merasa terjebak dan tidak berdaya.

"Silakan masuk," ucap Pramudya sambil mempersilakan mereka masuk ke dalam kantornya.

Dengan berat hati, Anya mengikuti ayahnya masuk ke dalam kantor Pramudya. Ia merasa seperti berjalan menuju neraka.

Di tengah kemewahan kantor itu, Anya melihat Arga duduk di sofa dengan tatapan kosong. Kacamata bulat itu semakin membuatnya tampak seperti anak kecil yang tersesat.

Tunggu, apa matanya tidak salah lihat? Arga kini tengah menghisap ibu jarinya, seperti seorang bayi yang mencari kenyamanan. Tatapan mereka bertemu setelahnya, dan Arga dengan polosnya melepaskan ibu jarinya dari mulut.

Anya merasa perutnya bergejolak. Menjijikkan! Ia tidak bisa membayangkan harus menghabiskan sisa hidupnya dengan pria yang bertingkah seperti anak kecil, atau lebih tepatnya, bayi. Bagaimana bisa ia bersikap normal dalam situasi ini?

Anya memalingkan wajahnya, berusaha menyembunyikan ekspresi jijiknya. Ia tidak ingin Pramudya atau ayahnya melihatnya.

"Arga memang sedikit berbeda," ucap Pramudya sambil terkekeh kecil. "Tapi, dia punya hati yang baik. Saya yakin, kamu akan menyayanginya."

Anya tidak menjawab. Ia merasa mual mendengar ucapan Pramudya. Ia tidak percaya bahwa pria itu benar-benar menganggap Arga normal.

"Saya sudah menyiapkan semuanya. Hari ini, kita akan membahas detail pernikahan kalian." ucap Pramudya.

Anya merasa jantungnya berdebar kencang. Ia tidak tahu bagaimana cara menghentikan semua ini. Ia merasa seperti tidak punya harapan lagi.

Pramudya mengambil sebuah map dari mejanya. "Di sini ada draft perjanjian pranikah. Silakan kalian baca dan tanda tangani."

Anya menatap map itu dengan tatapan kosong. Ia tidak tahu apa yang ada di dalamnya. Ia tidak peduli dengan perjanjian pranikah. Ia hanya ingin keluar dari tempat ini secepat mungkin.

Bram meraih map itu dan membukanya. Ia membaca isinya dengan seksama. Sesekali, ia mengangguk-angguk dan tersenyum.

"Semuanya terlihat baik," ucap Bram sambil menyerahkan map itu kepada Anya. "Silakan kamu baca dan tanda tangani."

Anya menerima map itu dengan tangan gemetar. Ia membuka map itu dan mulai membaca isinya.

Matanya membelalak kaget saat membaca salah satu pasal dalam perjanjian itu. Pasal itu menyatakan bahwa Anya tidak akan memiliki hak atas harta Arga jika mereka bercerai.

"Ayah, apa-apaan ini?" tanya Anya dengan nada yang marah. "Mengapa ada pasal seperti ini?"

Bram menghela napas panjang. "Anya, Ayah mohon, jangan mempersulit keadaan," ucapnya. "Ini hanya formalitas. Percayalah, Arga tidak akan menceraikanmu."

"Tapi, Ayah..." Anya tidak bisa melanjutkan kata-katanya. Ia merasa sangat marah dan kecewa dengan ayahnya.

"Anya, cepat tanda tangani," perintah Bram dengan nada yang tegas. "Jangan membuat Ayah malu di depan Pak Pramudya."

Anya menatap ayahnya dengan tatapan yang penuh dengan kebencian. Ia merasa seperti telah dikhianati oleh orang yang paling ia cintai.

Bagaimana mungkin ia bisa menerima semua ini? Setelah pengorbanan besar yang harus ia lakukan, ia bahkan tidak berhak atas sedikit pun harta Arga jika suatu saat mereka bercerai.

Anya dilanda amarah yang membara, namun ia tidak berdaya. Ayahnya terus memaksanya, dan ia yakin, pria itu akan melakukan hal yang lebih nekat jika ia terus menolak.

Anya menatap ayahnya dengan tatapan memohon. "Ayah, Anya mohon, batalkan saja semua ini," ucapnya dengan suara yang bergetar. "Anya tidak sanggup."

Bram menggelengkan kepalanya dengan tegas. "Tidak, Anya. Ayah tidak bisa," ucapnya. "Ini adalah satu-satunya jalan keluar."

Anya menatap Pramudya dengan tatapan putus asa. "Pak Pramudya, saya mohon, jangan lakukan ini," ucapnya. "Saya tidak bisa menikah dengan Arga."

Pramudya tersenyum tipis. "Anya, kamu akan bahagia dengan Arga," ucapnya. "Percayalah pada saya."

Anya merasa tidak ada harapan lagi. Ia merasa seperti sedang berada di dalam mimpi buruk yang tidak akan pernah berakhir.

Dengan tangan gemetar, Anya mengambil pena dari meja dan menandatangani perjanjian pranikah itu. Ia merasa seperti sedang menandatangani surat kematiannya sendiri.

Setelah menandatangani perjanjian itu, Anya merasa tubuhnya lemas dan pikirannya kosong. Ia tidak tahu apa yang akan terjadi selanjutnya.

"Bagus sekali," ucap Pramudya dengan senyum lebar. "Sekarang, mari kita bahas tanggal pernikahan kalian."

Anya tidak menjawab. Ia hanya menatap Pramudya dengan tatapan kosong.

"Bagaimana kalau kita adakan pernikahan kalian bulan depan?" tanya Pramudya. "Saya akan menyiapkan pesta yang meriah untuk kalian."

Bram mengangguk setuju. "Itu ide yang bagus," ucapnya. "Saya yakin, Anya akan senang."

Anya merasa mual mendengar ucapan ayahnya. Ia tidak tahu apakah ayahnya benar-benar peduli padanya atau tidak.

"Baiklah, kalau begitu sudah diputuskan," ucap Pramudya. "Pernikahan Anya dan Arga akan diadakan bulan depan."

Anya merasa seperti sedang berada di dalam neraka. Ia tahu, hidupnya tidak akan pernah sama lagi.

Saat Pramudya dan Bram sibuk membahas detail pernikahan yang mengerikan itu, Anya merasa seolah jiwanya terlepas dari raganya. Ia tidak lagi merasakan apa pun, kecuali kekosongan yang menyesakkan.

Tiba-tiba, matanya menangkap sesuatu yang aneh. Arga, yang sedari tadi hanya diam dan menghisap ibu jarinya, kini menatapnya dengan tatapan yang berbeda. Bukan tatapan kosong seperti sebelumnya, melainkan tatapan yang... penuh arti?

Arga perlahan menurunkan tangannya dari mulutnya, lalu tersenyum tipis ke arah Anya. Senyum yang tulus, bukan senyum kosong yang dipaksakan.

Kemudian, Arga melakukan sesuatu yang sama sekali tidak terduga. Ia mengambil kacamata bulatnya dan melepaskannya dari wajahnya.

Anya terkejut melihat perubahan yang terjadi pada Arga. Tanpa kacamata itu, wajah Arga terlihat lebih tampan dan cerdas. Tatapannya pun menjadi lebih tajam dan fokus.

Namun, ilusi itu hanya berlangsung sesaat. Detik berikutnya, Arga kembali memasang kacamatanya, meraih boneka kelinci putih, memeluknya erat, dan terlelap dalam tidur yang tiba-tiba.

Anya menggelengkan kepalanya, mencoba menghapus ilusi yang baru saja dilihatnya. Kenyataan kembali menghantamnya. Bagaimanapun juga, Arga tetaplah sosok yang membuatnya jijik.

Anya mengalihkan pandangannya dari Arga, merasa semakin muak dan putus asa. Ia tidak mengerti apa yang sebenarnya terjadi. Apakah Arga benar-benar sakit jiwa? Atau ia hanya berpura-pura?

"Arga, apa yang kamu lakukan?" tanya Pramudya dengan nada yang bingung dan sedikit kesal. "Bangunlah, kita sedang membahas hal yang penting."

Arga tidak menjawab. Ia tetap tertidur pulas sambil memeluk boneka kelincinya.

Pramudya menghela napas panjang. "Maafkan saya, Anya, Bram," ucapnya. "Arga memang sering seperti ini. Ia sulit untuk fokus dan mudah lelah."

Anya tidak menjawab. Ia hanya menatap Pramudya dengan tatapan kosong. Ia merasa seperti sedang berada di dalam sandiwara yang sangat buruk.

"Baiklah, mari kita lanjutkan," ucap Pramudya sambil kembali membuka map perjanjian pranikah. "Seperti yang sudah saya katakan, pernikahan kalian akan diadakan bulan depan. Saya akan menyiapkan pesta yang meriah untuk kalian."

Anya tidak mendengarkan apa yang dikatakan Pramudya. Ia hanya memikirkan cara untuk keluar dari tempat ini.

Pasrah. Hanya itu yang kini ia rasakan. Apa gunanya menolak? Seberapa keras pun ia melawan, ayahnya akan tetap memaksa. Pada akhirnya, dialah yang akan dimarahi dan dipaksa menuruti kemauan ayahnya.

Bahkan air mata pun terasa percuma. Tubuhnya terlalu lelah, pikirannya terlalu kalut untuk menerima takdir yang begitu kejam ini.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!