Apakah kamu percaya cerita Cinderella?
Amina Arafat hanyalah seorang gadis yatim piatu, imigran dari Palestina dan tinggal bersama paman bibinya serta sepupunya di Brussels Belgia. Amina memiliki wajah cantik yang khas, membuat Akira Léopold, putra mahkota kerajaan Belgia, jatuh cinta pada pandangan pertama.
Amina yang merasa tidak pantas bersanding dengan seorang pangeran dan putra mahkota, mencoba menjauh dari Akira tapi dia salah. Akira adalah keturunan Léopold yang tidak akan menyerah begitu saja demi mendapatkan wanita yang sudah mencuri hatinya sejak bangku sekolah.
Generasi 8 klan Pratomo
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Hana Reeves, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Deploy
Cambre Woods
Amina melihat pohon-pohon tinggi di hutan yang dijadikan taman oleh Sean. Bahkan pria itu membuat trek untuk lansia dan disable agar bisa menikmati taman hutan itu.
"Aku selalu suka hutan yang rimbun ... Udaranya jadi segar. Katanya Belgia punya hutan di Kalimantan."
Akira mengangguk. "Iya benar. Oma yang membelinya tidak pakai uang negara ...pakai uang Oma sendiri.Awalnya cuma beberapa puluh hektar tapi setelahnya para pemimpin adat meminta kami membeli tanah yang lain karena oleh Oma tidak dipakai buat sawit atau apapun. Oma tanam pohon. Bekerjasama sama dengan ketua adat, ditambah Opa mengancam akan tembak di tempat pembalak liar, jadi kita beli tanah itu dengan bendera PRC Group serta AJ Corp. Uangnya langsung dialokasikan Opa dan Opa Hoshi waktu itu ke pembangunan tidak lewat negara karena banyak tikusnya."
"Tapi ada perhitungannya kan secara transparan?"
Akira menyipitkan matanya. "Kamu meragukan keluarga aku? Opa Jayde itu akuntan keluarga yang paling anti manipulasi data. Selisih satu sen pun dicari!"
Amina cekikikan. "Percaya deh!"
Akira dan Amina tiba di sebuah taman dengan rumput dimana banyak orang sedang menikmati libur. Ada yang bermain bersama anak-anaknya, anjing, teman atau pacar, bahkan ada yang sendirian sambil menikmati membaca buku.
Cambre Woods
"Yakin kita akan menikmati disini?" tanya Amina.
"Yakin lah." Akira pun meletakkan keranjang pikniknya dan membukanya. Pria itu mengeluarkan alas piknik dan Amina membantunya.
"My Prince!" seru beberapa orang disana menyapa Akira.
"Halo," senyum Akira.
"Enjoy My Prince!"
"Hartelijk dank ( terima kasih banyak/hangat )," balas Akira.
"Mereka tidak kepo?" tanya Amina sambil mengeluarkan kotak-kotak makanan.
"Disini Belgia, bukan Inggris yang paparazi nya nauzubillah!" jawab Akira.
Sejak jaman kakeknya Sean, istana sudah memberikan undang-undang perlindungan keluarga inti istana. Rakyat Belgia boleh menyapa keluarga istana yang berada di tempat umum tapi tidak boleh terlalu dekat.
"Kamu bawain apa ini?" tanya Amina.
"Makanan khas Indonesia. Oh, ini Omaku yang masak. Ini namanya urap atau trancam kalau di Solo. Lalu ini adalah ayam koloke, tempe goreng dan sambal." Akira membuka satu persatu kotak makanan itu. "Dan nasi, lalu es teh dan botol air mineral."
"Tampaknya enak! Eh, tempe goreng?" Amina menatap Akira. "Boleh aku coba?"
"Coba saja."
Amina pun mengambilnya dan memakannya. "Enak!"
"Mau aku ambilkan?" tawar Akira.
"Eh, jangan! Kamu pangeran, Akira. Harusnya aku yang mengambilkan." Amina berusaha mencegah Akira.
"Tidak apa-apa. Nasinya seberapa?" tanya Akira yang sudah mengambil piring kertas.
Amina tampak tersipu karena dia dilayani seorang pangeran!
"Akira ... Biar aku saja. Sudah, tidak apa-apa."
Akira hanya menatap sambil cemberut. "Seberapa, Mina?"
"Ish maksa! Dua eh ... Tiga sendok deh!"
"Cukup?" tanya Akira bingung.
"Kalau kurang kan bisa ambil lagi."
"Touché." Akira mengambil nasi, beserta dengan lauk pauknya lalu dia berikan ke Amina. Pria itu menolak saat dilayani gadisnya.
"Nanti saja kalau sudah tinggal bersama. Baru kamu layani aku ... Meskipun aku lebih suka melayani kamu, Mina," senyum Akira.
"Ya ampun Akira, kamu bisa saja membuat aku terharu ...."
"Aku kan suka membuat kamu terharu."
Amina tertawa kecil. Keduanya pun saling makan dan Amina memuji masakan Zinnia.
"Aku tidak menyangka kalau Queen Mother masih mau memasak di dapur istana dengan tangannya sendiri. Aku kira kalau sudah menjadi Queen Mother akan santai-santai saja," ucap Amina.
"Kamu tidak tahu saja bagaimana Omaku. Oma itu sangat aktif. Tidak bergerak saja macam kena flu. Begitu Oma sudah tidak menjadi Ratu, beliau lebih santai tapi tetap heboh di dapur. Mana Opa dan Daddy sangat suka masakan Oma. Kalau Mommy aku lebih suka buat kue atau roti, tapi kalau Oma suka masak. Tante ku, Alisha menurun bakat memasaknya dari Oma. Oh, apa kamu tahu, Daddy dan Oom Avaro itu jago masak lho!"
Amina melongo. "Serius?"
"Iya. Aku juga bisa masak. Di keluarga aku, baik pria maupun wanita bisa masak, pekerjaan rumah tangga dan pekerjaan tukang. Yaaaa setidaknya, tahu lah cara mengganti genteng dan wallpaper."
"Mengapa di keluarga kamu begitu?"
"Agar tidak ada budaya patriarki. Jadi saat kamu berumahtangga, kamu memperlakukan istrimu dengan baik," jawab Akira. "Role model aku adalah kedua orang tua aku dan Oma serta Opa. Daddy dan Opa itu tidak ragu ke dapur dan tidak ragu membantu pelayan istana kalau libur."
"Serius?"
Akira menatap gemas ke Amina. "Serius Minaaaaaa!"
Amina cekikikan. "Berapa lama kamu pergi Akira?"
"Belum tahu. Bisa tiga bulan, bisa enam bulan. Tergantung situasinya."
Amina menggenggam tangan Akira. "Berhati-hatilah. Memang benar kamu pangeran, kamu anggota angkatan Laut Belgia, tapi kamu juga terkenal, Akira. Justru karena gelar kamu lah kamu bisa jadi incaran."
"Tidak akan terjadi apapun, Mina."
"Just be careful, Akira. Capiche?"
Akira menatap Amina. "Apakah ini berarti kamu mau jadi kekasihku?"
"Belum. Aku masih harus meyakinkan diriku dulu." Amina memandang mata hazel Akira dengan sorot mata serius.
"Tapi, saat aku harus deploy, kamu datang ya!"
"Apa?"
***
Usai acara piknik di Cambre Woods, Akira dan Amina tidak pernah bertemu karena masing-masing harus menyelesaikan semua pekerjaannya. Hingga hari Rabu, Akira harus deploy dan Amina sudah dijemput oleh pengawal kerajaan. Gadis itu memakai gaun brokat bewarna ungu dan sepatu wedges warna khaki.
Amina agak sedikit gugup karena dia berada bersama anggota kerajaan meskipun berada di deretan belakang bersama dengan Amira. Jonah dan Imelda, pengawal keduanya berada di belakang dua gadis itu.
"Gaunnya mbak Mina bagus," puji Amira.
"Terima kasih Princess."
"Haaaiisshhhh! Panggil nama saja! Kan kamu pacar mas Akira. Jadi santai saja!" desis Amira dengan wajah judes.
"Ma ... maaf ...." Amina pun menunduk karena merasa membuat Amira marah.
"Nona Arafat, princess Amira memang dari orok wajahnya sudah judes. Jadi, jangan kaget!" bisik Imelda membuat Amina melongo.
"Imeeeelll ...." Amira melirik ke arah pengawalnya.
"Lho? Itu fakta!" eyel Imelda.
Dua gadis sebaya itu saling berpandangan tajam. Amina merasa tidak enak langsung dicegah Jonah.
"Biasa itu Nona Amina."
Amina hanya bisa meringis.
Kehadiran Amina diantara para anggota keluarga Kerajaan Belgia, tentu saja membuat banyak orang bertanya-tanya namun Arsyanendra dan Violet seolah pasang badan. Usai acara upacara pelepasan tim pasukan perdamaian, para anggota tentara dipersilahkan untuk berpamitan dengan anggota keluarganya. Akira tidak ketinggalan yang langsung memeluk ayah ibunya, opa dan Omanya serta Amira.
Saat mendekati Amina, Akira tanpa ragu memeluk pinggang gadis itu dan mencium bibirnya di depan orang banyak. Arsyanendra dan Sean hanya bisa menggelengkan kepalanya melihat keduanya.
***
Yuhuuuu up Sore yaaaaa
Thank you for reading and support author
Don't forget to like vote and gift
Tararengkyu