Bukan salah Mika hadir dalam rumah tangga Naya sebagai orang ketiga. Karena hadirnya juga atas permintaan Naya yang tidak ingin punya anak gara-gara obsesinya sebagai model. Mika melawan hati dengan rela menerima tawaran Naya juga punya alasan. Sang mama yang sedang sakit keras menghrauskan dirinya untuk mendapatkan uang dalam jumlah besar dalam waktu singkat. Sedangkan Naya sendiri, karena rasa bersalah pada suaminya, dia rela mencarikan istri untuk si suami.
Bukan salah orang ketiga. Ini murni kisah untuk Mika, Naya, dan Paris. Tidak sedikitpun aku terlintas di hati untuk membela orang ketiga. Harap memakluminya. Ini hanya karya, aku hanya berusaha menciptakan sebuah karya dengan judul yang berbeda untuk kalian nikmati. Mohon pengertiannya. Selamat membaca. Temukan suasana yang berbeda di sini. Dan, ambil pelajarannya dari kisah mereka. Bisakah cinta segitiga berjalan dengan bahagia? Atau malah sebaliknya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rani, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab*4
"Mbak Naya. Maaf aku telat."
"Gak papa. Tapi, gara-gara kamu telat, kita harus ngebut deh ke bandara."
"Tenang saja, mbak. Saya bisa diandalkan kok."
"Hm, aku tahu itu, Sin."
Merekapun bersiap-siap masuk ke dalam mobil. Namun, tiba-tiba saja, langkah Sinta terhenti di saat kakinya sudah siap untuk menaiki mobil yang ada di depannya.
"Mbak."
"Ya?"
"Pak ... Paris, tidak mengantar mbak pergi ke luar negeri kali ini?"
Wajah Naya tiba-tiba berubah. Pertanyaan Sinta tiba-tiba membuat hatinya merasa tidak nyaman. Bagaimana tidak? Sejak kejadian kemarin, Paris tidak pulang walau sekejap pun. Naya juga sudah menurunkan sifat egoisnya dengan cara memberanikan diri untuk menghubungi sang suami. Tapi apa hasilnya, Paris tidak menjawab panggilan itu. Paris juga tidak membalas pesan singkat yang Naya kirimkan. Jangankan membalas, membaca saja tidak.
Sesakit dan sekecewa itu hati Paris terhadap Naya. Pria yang dulunya sangat menyayangi Naya. Yang tidak pernah sekalipun telat pulang hanya untuk makan malam bersama Naya. Yang selalu berusaha memahami Naya. Kini, pria itu benar-benar sedang menjauh gara-gara ulah Naya.
"Mbak."
Satu panggilan Sinta berhasil menyadarkan Naya atas apa yang Naya lamun kan. Wanita itupun sontak langsung membenarkan posisi duduknya.
"Tidak kali ini, Sin. Paris sedang sibuk. Jadi, nggak bisa antar aku."
"Ah, tumben, mbak. Biasanya-- "
"Jangan bicara lagi, Sinta. Ayo jalan sekarang! Kita sudah telat lho sebelumnya. Jangan lupa akan hal itu, oke?"
"Ah, iya mbak. Maaf."
Beberapa pertanyaan yang sebelumnya menyapa di benak Sinta, seketika sirna. Mereka segera meninggalkan kediaman mewah dengan halaman luas lengkap dengan taman juga kolam renang yang juga cukup luar. Kediaman yang sengaja Paris siapkan untuk wanita pujaan hatinya.
Sejak menikah, ini adalah kali pertama Paris tidak pulang. Naya sadar kalau ulahnya telah membuat luka hati Paris terlalu dalam. Namun, mau bagaimana lagi? Dia tetap tidak bisa mengubah keinginan hati. Dia inginkan mimpinya terwujud. Mimpi yang sejak kecil sudah ada dalam benak Naya. Menjadi model terkenal yang bisa melakukan pemotretan di luar negeri.
'Maafkan aku, Paris. Anak itu hadir di waktu yang tidak tepat. Jadi, aku terpaksa melenyapkannya.' Naya bicara dalam hati sambil melihat foto Paris yang ada di layar ponsel. 'Aku tahu kamu suka bayi. Aku tahu kamu suka anak-anak. Dan, aku tahu kamu sangat ingin punya anak. Tapi sekarang, aku tidak bisa. Karena aku harus mengejar mimpiku yang sudah ada di depan mata. Aku harap, lain kali kita masih punya waktu untuk memilikinya.'
....
Di apartemen Paris. Pria itu kini sudah jauh lebih baik dari pada kemarin. Pusingnya sudah tidak terasa lagi. Tubuhnya sudah pulih sepenuhnya.
Namun, tidak dengan hati. Hati yang hancur, tidak bisa di perbaiki dalam waktu dekat. Mana mungkin bisa sembuh dalam waktu singkat, karena luka yang ia derita sangat parah.
"Nay. Apa yang ada dalam pikiran mu sebenarnya?" Paris berucap dengan mata yang berkaca-kaca. "Kenapa, Nay? Kenapa kamu sangat tega? Dia adalah calon anak kita. Kenapa kamu singkirkan dia?"
Air mata Paris kembali jatuh. Luka kemarin, sungguh sangat menyakitkan. Dihancurkan di saat hati sedang bahagia, rasanya sungguh luar biasa.
"Aku benar-benar tidak ingin percaya bahwa dirimu terlalu tega. Tapi sayangnya, itulah kenyataannya, Naya. Kamu tidak hanya tega, tapi juga kejam."
Bunyi pintu kamar yang di ketuk dari luar seketika membuat Paris harus menyeka air mata. Dia pun berusaha keras untuk menyembunyikan luka hatinya dengan susah payah.
"Masuklah! Pintunya tidak di kunci."
Pintu itupun terbuka. Ramano langsung menampakkan dirinya dari balik pintu tersebut. "Pak Paris, saya sudah tahu siapa nama gadis yang menolong bapak kemarin malam."
Rama langsung menyerahkan dokumen ke tangan Paris. "Semua tentang gadis itu ada di sini, Pak. Silahkan lihat!"
Paris menerima apa yang Rama ulurkan. Namun, saat dia ingin membuka, ponselnya malah tiba-tiba berdering. Perhatian Paris seketika teralihkan.
"Ah, apa? Baiklah, aku ke sana sekarang."
"Rama. Kita harus kembali ke kantor. Ada sedikit masalah yang sedang terjadi."
"Baik, Pak."
Dokumen tentang Mika Paris letakkan di dalam laci nakas. Setelahnya, mereka meninggalkan apartemen dengan tergesa-gesa.
Sementara itu, Mika yang bekerja di kantor cabang perusahaan milik keluarga Paris mendapat pengaturan pemindahan. Dia harus dipindahkan ke kantor pusat karena di sana sedang kekurangan orang di bagian yang Mika kerjakan.
"Yah ... apakah saya benar-benar harus pindah, Pak?" Mika sedikit merasa berat hati. Dia mengeluh secara tidak langsung di depan atasannya.
"Maaf, Mika. Kantor pusat benar-benar sedang membutuhkan karyawan baru untuk mengurus pemasaran. Dan, kamulah satu-satunya orang yang cocok untuk berada di kantor pusat. Karena itu, saya terpaksa merelakan kamu, Mik."
"Hm. Kalau begitu, harus bagaimana lagi, Pak? Mau tidak mau, saya terpaksa pindah." Mika berucap dengan berat hati.
Atasannya langsung tersenyum. "Tenang saja, Mika. Di sana, kamu akan lebih beruntung lagi dari pada di kantor cabang. Kamu bisa bertemu dengan bos yang tidak pernah datang sekalipun ke kantor cabang. Otomatis, peluang kamu untuk bisa menduduki jawaban tinggi juga akan semakin besar. Dan gajinya, tentu saja akan semakin tinggi."