Silahkan promosi sepuasnya 🤗🤗
Akia Syakayla Kanzha
Seorang gadis labil berusia 23 tahun, sangat nakal dan beringas. Mempunyai hobi balap motor liar dan suka tawuran jika ada seseorang yang melukai sahabatnya. Kemampuannya yang ahli beladiri mendukung sifatnya yang dingin dan arogan. Dulu dia bukanlah gadis yang dingin dan kejam, dulu dia sempat menjadi gadis yang ramah dan ceria. Namun semua itu runtuh dikala dia mendapati sang Ayah yang sedang bercinta dengan wanita lain di rumah nya sendiri disaat sang mama sedang dirawat dirumah sakit. Disaat bersamaan kekasihnya juga ketahuan selingkuh dengan sahabat nya sendiri bahkan sampai hamil diluar nikah. Hal itu yang membuat seorang Akia yang berhati lembut berubah menjadi gadis yang kasar dan dingin.
Suatu hari nasib malang menimpa gadis itu, sebuah kecelakaan besar saat sedang adu balap motor yang mengharuskan dia berada di kursi roda karena kakinya yang mengalami kelumpuhan. Hatinya hancur sehancur hancurnya. Impiannya seketika hilang, ingin dia menghibur diri sendiri. Dikala sedang sendiri telinganya mendengar suara sayup Azhan menggema dari sebuah masjid yang tidak jauh dari tempatnya. Seketika hatinya merasa tenang, suara itu seakan menghipnotisnya.
Dia jatuh cinta sekali lagi pada sang pemilik suara Azhan yang sangat merdu tanpa dia ketahui siapa pemilik suara tersebut.
Bagaimana kelanjutan kisah hidupnya ? Akankah dia bertemu dengan sang pemilik suara merdu tersebut ?Bagaimana jika dia tahu bahwa sang pemilik suara ternyata seorang mantan bos mafia yang sangat kejam ? Dan bagaimana juga jika diaa tahu bahwa sosok tersebut adalah anak dari pemilik sebuah pesantren yang terkenal ?
Ini karya pertamaku..jika ada kesamaan tokoh ataupun cerita itu diluar kuasa author. Dan cerita ini adalah real karya author ya.
Author asli~~ Utami wiwik
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nisharaa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Lumpuh
Dhafa masih terlihat mondar mandir didepan ruang UGD. Sesekali dia mengusak wajahnya yaang terlihat semrawut. Bahkan pria itu tidak memperdulikan kondisi tubuhnya yag masih penuh dengan bercak darah Akia.
"Fa..."
Pria itu menoleh, tersenyum kilas saat mendapati ketiga sahabatnya yang berjalan cepat kearahnya. Arumi menyodorkan sebuah papper bag kearahnya yang didalamnya berisi satu setel pakaian ganti untuk sahabatnya.
"Ganti baju loe, lihatlah loe terlihat sangat berantakan. Setidaknya jika Kia sadar, dia tidak melihat kondisi loe yang memprihatinkan." Ujar gadis itu pada pria didepannya.
Dhafa mengangguk lemah sembari tangannya terulur menerima paper bag dari tangan Arumi.
"Thank's .." Arumi tersenyum, tangannya yang mungil menepuk pelan bahu lebar pria itu.
"Jangan khawatir, kita semua akan selalu mendampingi sahabat kita. Kia gadis yang tangguh, dia pasti kuat menjalani cobaan ini."
Detik berganti menit dan terus berganti jam, namun belum juga ada tanda tanda dokter keluar dari ruang operasi. Bahkan Tuan Aryan pun sudah berada disana dengan raut wajah penuh penyesalan dan kesedihan.
Belum sempat pria itu meminta maaf pada putrinya, namun takdir berkata lain. Sungguh ini adalah peristiwa yang mengobrak abrik hatinya, hatinya hancur lebih parah melebihi hancurnya saat ditinggal mendiang istrinya.
Klek
Penantian yang sangat lama, namun terbayar dengan suara pintu terbuka dan menampakkan wajah lesu sang dokter. Gurat kelelahan dan frustasi terpancar jelas diwajahnya.
"Bagaimana keadaan putri saya dok ?"
Dokter yang berinisial dokter Jimmy itu nampak menghela nafasnya yang terasa berat. Matanya memandang sosok pria paruh baya yang sangat berpengaruh di negara nya itu.
"Maaf Tuan, mungkin penjelasan saya akan membuat anda syok, tapi bagaimana lagi karena memang itulah kebenarannya. Saya harap anda bisa mengendalikan diri." Ujar dojter tersebut.
Tuan Aryan ikut menghela nafasnya mencoba menenangkan hati dan perasaannya yang bergemuruh. Begitu juga dengan yang lainnya, hanya bisa diam dengan hati yang was was.
"Katakanlah Jimmy, saya akan mencoba menerimanya, apapun kabar yang akan kau ucapkan nanti."
Dokter itu membetulkan kacamatanya sebelum akhirnya membuka mulutnya.
"Karena benturan keras tubuhnya mengakibatkan banyak organ organ tubuhnya yang mengalami cidera. Namun tidak usah khawatir, karena kami sudah berhasil mengatasinya. Tapi benturan yang terjadi di kepala dan kedua kakinya sangat parah. Walaupun kami sudah mengeluarkan gumpalan darah di kepala nya, tapi cidera pada kedua kakinya ..." Sang dokter menghentikan ucapannya.
"Kenapa Jimmy ? Kenapa kau tidak melanjutkan kata katamu ?" Tanya Tuan Aryan dengan wajah ketar ketir.
"Maaf Tuan..kami sudah berusaha semaksimal mungkin, tapi karena cideranya terlalu parah, ada beberapa tulang kakinya yang remuk dan itu mengakibatkan nona muda mengalami kelumpuhan dikedua kakinya."
Jder
Bagai disambar petir di siang bolong, tubuh Tuan Aryan terhuyung seketika. Tubuh pria paruh baya itu hampir ambruk kelantai jika Dhafa tidak bergegas lari kearahnya.
Bukan hanya Tuan Aryan, tapi kedua gadis sahabatnya itu juga terlihat sangat histeris. Mereka saling berpelukan dengan tubuh yang sudah merosot dilantai. Tangis kesedihan karena kabar buruk yang menimpa sahabatnya.
"Tuan, ada satu hal yang harus saya sampaikan disini." Lanjut dokter itu setelah kondisi Tuan Aryan agak tenang.
"Katakan dokter." Suara Dhafa mewakili majikannya.
"Tolong jangan menampakkan wajah sedih ataupun membicarakan hal ini pada pasien. Jika pasien sampai mendengar dan tidak kuat untuk berpikir dan menerima keadaannya, saya khawatir jaringan sel otaknya tidak akan mampu menerima dan itu akan berujung fatal pada kondisi nona muda. Karena benturan keras dikepalanya mengakibatkan jaringan otak sebelah kiri mengalami kelemahan dalam menerima masalah ataupun daya pikir yang terlalu berat."
"Baik dokter kami akan menuruti apa yang dokter katakan." Ucap Dhafa.
"Baiklah, saya percaya pada kalian. Setelah pasien sadar, kami akan segera memindahkannya keruang perawatan." Ucap Dokter Jimmy.
"Tolong berikan ruang VIP untuk nona muda dokter." Sahut Dhafa pada sang dokter.
Dokter Jimmy mengangguk, lalu segera berpamitan untuk undur diri, karena ada pasien lain yang membutuhkan dirinya.
****
Sudah hampir sebulan berlalu semenjak peristiwa yang hampir merenggut nyawa Akia. Setelah sekian lama gadis itu dirawat dirumah sakit, hari ini Akia akhirnya bisa kembali pulang kerumah. Kondisinya semakin membaik, cidera di kepala nya sudah pulih, namun sesuai kata dokter, cidera dikakinya sangat parah, dan menyebabkan gadis itu mengalami kelumpuhan.
Ada yang berbeda dari gadis itu yang membuat Tuan Aryan dan juga para sahabatnya menjadi sedih. Sikap Akia berubah drastis semenjak gadis itu mengetahui jika kedua kakinya tidak bisa lagi kembali seperti semula.
Tidak ada ekspresi syok ataupun sedih, wajahnya tetap datar dan dingin. Bahkan gadis itu semakin membisu dan seperti enggan untuk berbicara. Yang dilakukannya setiap hari hanyalah duduk dengan pandangan matanya yang terlihat kosong.
Seperti hari ini, gadis itu tengah berada dihalaman depan dengan bantuan sebuah kursi roda. Disampingnya nampak dengan setia mbok Inem yang tengah membujuknya untuk memberinya makan.
"Non, mbok mohon..makan ya. Dari semalam non Kia belum makan." Bujuk wanita paruh baya itu dengan pandangan mata sedih.
"Aku nggak lapar mbok." Jawab Akia datar.
Mbok Inem menghela nafasnya yang terasa sesak. Tanpa dia sadari perempuan tua itu meneteskan airmata dan perlahan menjadi isakan kecil membuat Akia sontak berpaling padanya. Netranya yang kecil menatap heran wajah perempuan paruh baya itu.
"Kenapa mbok ? Kok nangis sih ?" Tanyanya.
"Mbok sedih non, karena mbok merasa gagal menjaga non. Mbok merasa tidak berguna, karena tidak bisa memberikan perhatian pada non." Isak Mbok Inem dengan tangisan sedihnya.
Akia tersenyum tipis, lalu memegang lengan perempuan yang sudah mulai keriput itu.
"Mbok pengen Kia nglakuin apa ?" Tawarnya, jujur melihat perempuan yang selalu merawatnya dari kecil menangis itu, membuat hati Akia ikut sedih. Terlalu besar rasa sayangnya pada orang yang dia anggap lebih dari sekedar pembantu itu.
"Mbok pengen Non makan ya, biar non ada tenaganya. Lihat, badan Non jadi kecil begini." Ujar Mbok Inem.
Akia akhirnya mengangguk perlahan pertanda menyetujui bujukan mbok Inem, membuat senyum perempuan itu terbit dibibirnya. Ada perasaan lega karena akhirnya gadis itu menerima bujukannya. Tidak sia sia usahanya tadi untuk berpura pura menangis.
Sepiring nasi yang tadinya masih penuh, sekarang sudah mulai terlihat habis tidak tersisa. Akia menatap wajah mbok Inem yang berubah ceria.
"Mbok senang ?" Tanyanya setelah meminum segelas air putih pemberian mbok Inem.
"Tentu saja mbok senang, akhirnya non mau makan juga. Seterusnya mbok ingin non selalu memperhatikan kesehatan non ya. Jangan membantah jika mbok suruh makan." Perintah Mbok Inem.
"Kia akan melakukan apapun yang mbok perintahkan, asalkan mbok senang. Makasih ya mbok sudah mau merawat Kia dan selalu menyayangi Kia selama ini. Kia sayang mbok." Ujar gadis itu sembari meraih tangan mbok Inem dan menempelkannya di pipinya.
Mbok Inem tersenyum, lalu dengan perlahan mengecup kening gadis itu dengan lembut.
"Non Kia sudah mbok anggap seperti anak sendiri. Jadi jangan sungkan jika non membutuhkan bantuan mbok ya. Kasih sayang mbok juga sangat besar pada non, sama besarnya seperti kasih sayang yang diberikan Nyonya buat non." Ujar Mbok Inem dengan penuh perhatian.
Mendengar ucapan Mbok Inem, spontan membuat Akia langsung meneteskan airmatanya.
"Kia rindu mama mbok. Waktu kecelakaan itu terjadi, Kia ngerasa kalo mama datang ingin menjemput Kia. Sejenak Kia merasa senang, namun akhirnya Kia kecewa, karena tiba tiba mama menghilang dan pergi jauh. Kia ingin ikut mama mbok." Isak gadis itu dengan hati yang pilu.
Mbok Inem dengan cepat meraih tubuh anak majikannya itu, lalu memeluknya erat. Perempuan itu ikut menangis, dia ikut merasakan kesedihan yang dialami oleh putri majikannya.
"Jangan menangis non, percaya sama mbok. Nyonya sudah bahagia diatas sana. Jika non sedih, mbok yakin Nyonya juga ikut sedih melihat non seperti ini. Non harus kuat, karena mbok yakin Non Kia adalah gadis yang kuat dan hebat."
Keduanya berpelukan dengan sangat erat, disertai tangisan pilu yang membuat siapapun yang mendengarnya akan ikut terbawa perasaan. Seperti halnya seseorang yang sedari tadi memperhatikan kedua wanita tersebut. Nampak tetesan airmata mengalir dari sudut matanya. Merasa tidak tahan, orang memutar mobilnya lalu pergi dari tempat itu.
TBC
gue udah beberapa kali baca tetep greget