Zivara Amaira adalah gadis yatim piatu yang tinggal bersama paman dan bibinya. Tempat yang seharusnya menjadi perlindungan justru berubah menjadi luka. Sebuah fitnah yang direncanakan oleh sepupunya membuat Zivara harus pergi. Tanpa diberi kesempatan membela diri, Zivara diusir dan dipaksa menelan hinaan atas kesalahan yang tak pernah ia lakukan.
Di sisi lain, Arga Aksara Wisesa adalah pria dingin dan misterius, yang tak memikirkan cinta. Ia hanya fokus pada pekerjaan dan keponakan kecilnya yang harus kehilangan kedua orang tuanya akibat kecelakaan setahun yang lalu.
Dua jiwa yang berbeda dipertemukan oleh takdir. Namun masa lalu, ambisi orang-orang di sekitar mereka, dan rahasia yang perlahan terkuak mengancam kebahagiaan yang baru saja tumbuh.
Akankah cinta mampu menyembuhkan luka yang terlalu dalam, atau justru membuka pintu bagi pengkhianatan yang lebih menyakitkan?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ra za, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 3 Rencana Yang Berhasil
Zivara bergegas pulang, ia harus segera tiba dirumah sebelum Bibinya. Langkahnya dipercepat, Vara tidak boleh terlambat. Tadi sebelum keluar, bibinya berpesan agar makan malam disiapkan lebih cepat dari biasanya.
Begitu tiba di rumah, Vara tak sempat berlama-lama di kamar. Ia hanya meletakkan tas, lalu langsung menuju dapur. Ia tak ingin terlambat sedikit pun.
Saat Vara mulai memasak, rumah terasa begitu tenang. Tak terdengar teriakan bibinya, tak pula suara Kiran yang biasanya memerintah seenaknya. Bibinya masih di luar, seperti biasa berkumpul dengan teman-temannya. Kiran belum pulang dari kampus, sementara pamannya mungkin masih di kantor.
Untuk sesaat, ketenangan itu terasa menenangkan.
Sebelum satu pun anggota keluarga bibinya pulang, Vara telah menyelesaikan masakan. Ia berharap, untuk sekali ini, tak ada amukan. Tak ada bentakan. Tak ada luka baru.
Namun itu semua hanya lah angan-angan.
Baru saja Vara selesai menghidangkan makan malam, Serli pulang dan langsung memerintah tanpa basa-basi.
“Vara, cepat setrikakan baju Bibi dan pamanmu. Malam ini kami mau keluar.”
“Baik, Bi,” jawab Vara patuh.
Namun belum sempat ia beranjak, Serli kembali bersuara, “Kamu sudah selesai masak?”
“Sudah, Bi. Tadi Bibi pesan supaya disiapkan lebih cepat,” sahut Vara pelan.
“Ya sudah. Siapkan saja untuk Kiran. Katanya dia pulang bersama teman-temannya. Bibi dan pamanmu makan di luar,” ucap Serli datar, seolah semua itu bukan urusan Vara.
“Iya, Bi,” jawab Vara.
Ia pun mulai menyetrika pakaian bibi dan pamannya.
Tak lama kemudian, Kiran pulang. Ia tidak sendiri beberapa temannya ikut masuk ke rumah dengan tawa riang.
“Varaaa!” teriak Kiran memanggil.
Vara terkejut. Tanpa berpikir panjang, ia segera menghampiri. Ia lupa mematikan setrika yang masih menyala.
“Iya, Kiran. Ada apa?” tanya Vara terburu-buru.
“Buatkan aku dan teman-temanku minuman. Antar ke kamar,” perintah Kiran.
Belum sempat Vara menjawab, Kiran sudah melanjutkan dengan nada tak sabar, “Sekarang.”
Vara pun bergegas ke dapur. Ia membuat minuman sesuai permintaan Kiran, lalu mengantarkannya ke kamar tanpa mengingat pekerjaan yang tadi ia tinggalkan.
Baru saja ia keluar dari kamar Kiran, teriakan keras kembali menggema.
“Varaaaa!”
Darah Vara seakan berhenti mengalir.
Saat itu pula ia teringat, setrika.
Dengan tubuh gemetar, Vara menghampiri bibinya yang sudah berada diruang tengah. Serli berdiri dengan wajah merah padam, mengangkat baju yang hangus di bagian tengah.
“Kamu lihat ini!” bentak Serli. “Kamu ke mana saja, ha?!”
“Maaf, Bi,” ucap Vara gugup. “Tadi Kiran memanggil Vara untuk membuatkan minuman. Vara lupa mematikan setrikanya.”
“Lupa?” Serli tertawa sinis.
Tanpa peringatan, Serli mendekat dan menarik rambut panjang Vara dengan kasar hingga kepalanya mendongak paksa.
“Ampun, Bi… sakit,” rintih Vara sambil berusaha memegang tangan bibinya, berharap cengkeraman itu terlepas.
“Kamu tahu berapa harga baju ini?” bentak Serli penuh amarah. “Harga dirimu pun tidak akan cukup untuk menggantinya!”
Air mata Vara jatuh tanpa bisa ditahan. Ia terus memohon, menahan rasa sakit yang menusuk di kulit kepalanya.
Setelah puas melampiaskan amarahnya, Serli melepaskan rambut Vara dengan kasar. Namun belum cukup sampai di situ.
“Malam ini kamu tidak boleh makan,” ucap Serli dingin. “Kalau kamu berani melanggar, jangan salahkan aku kalau hukumanmu akan lebih berat.”
Vara hanya terdiam. Tubuhnya gemetar, matanya basah, bukan semata-mata karena ancaman bibinya. Tetapi karena luka yang terus dipupuk hari demi hari.
Malam semakin larut, namun Zivara belum juga mampu memejamkan mata. Ia meringkuk di ranjang lusuhnya, memeluk perut yang perih, menahan lapar sekaligus sakit, baik di tubuh maupun di hatinya. Akibat perlakuan dan kata-kata kejam bibinya sore tadi.
Sejak siang, tak siang tak sedikit pun makanan masuk ke perutnya. Sebenarnya, vara bisa saja membeli makanan di luar. Namun jika ketahuan, masalah baru pasti akan menunggunya. Zivara memilih menahan lapar, seperti yang sudah sering ia lakukan.
“Ayah… Ibu…”
Hanya dua kata itu yang mampu keluar dari bibirnya, lirih dan penuh luka.
Air mata kembali mengalir. Namun di balik rasa sakit itu, Zivara mencoba bertahan. Sampai ia bener-benar siap meninggalkan rumah ini. Dalam hatinya, ia yakin Tuhan tak mungkin kejam. Pasti ada rencana indah yang sedang disiapkan untuknya.
Perlahan, kelelahan mengalahkan rasa perih. Zivara pun terlelap.
Pagi kembali menjelang.
Tidak seperti biasanya, kali ini Zivara terlambat bangun. Ia terkejut saat suara ketukan keras menghantam pintu kamarnya.
Tok! Tok! Tok!
Zivara terlonjak.
“Ya Tuhan… aku kesiangan,” gumamnya panik.
Ia segera bangkit dan membuka pintu. Baru saja daun pintu terbuka, suara yang sangat ia kenal langsung menyambar telinganya.
“Enak sekali kamu! Jam segini masih tidur! Kamu tidak lihat ini jam berapa?!” bentak Serli sambil berkacak pinggang.
“Maaf, Bi…”
Hanya kata itu yang berani Zivara keluar dari mulut nya.
“Maaf, maaf! Cepat mandi dan siapkan sarapan!”
Zivara mengangguk, lalu kembali ke kamar. Ia membersihkan diri secepat mungkin. Meski tubuhnya masih lemah dan perutnya kosong, ia tak punya pilihan. Ia harus patuh.
Saat Zivara mulai menyiapkan sarapan di dapur, suara Kiran terdengar dari lantai atas.
“Mama! Mama!”
“Ada apa, Ran? Kok panik begitu?” tanya Serli sambil melangkah keluar kamar.
“Mama lihat jam tangan Kiran nggak?” tanya Kiran gelisah.
“Jam tangan yang mana? Jam tangan kamu kan banyak,” jawab Serli santai.
“Itu lho, Ma. Jam yang Papa belikan pas ulang tahunku kemarin,” ucap Kiran dengan nada meninggi.
Serli mengernyit. “Mama nggak lihat. Kamu yang simpan sendiri, kan?”
“Ia sih, Kiran simpan ditempat biasa, tapi sekarang hilang!” suara Kiran mulai terdengar kesal.
Sejenak Kiran terdiam. Lalu matanya menyipit, seolah baru menyadari sesuatu.
“Ma…” ucapnya perlahan, “cuma satu orang yang sering masuk kamar ku.”
Serli menoleh tajam. “Maksud kamu… Zivara?”
Kiran mengangguk mantap. “Pasti dia yang ambil.”
Tanpa menunggu lama, Serli dan Kiran melangkah cepat ke dapur. Zivara yang tengah mengaduk masakan terkejut saat Kiran berteriak.
“Zivara!”
“Iya, Kiran?” sahutnya gugup.
“Kamu ambil jam tangan aku, ya?” tuduh Kiran tanpa basa-basi.
Zivara terperanjat. “Tidak, Kiran. Aku tidak tahu apa-apa soal jam tanganmu.”
“Jangan bohong!” bentak Kiran. “Kamu pasti yang ambil!”
“Aku sungguh tidak tahu,” ucap Zivara dengan suara bergetar.
Namun Kiran tak peduli. Ia langsung berlari ke kamar Zivara, diikuti Serli. Tanpa izin, Kiran membongkar tas yang biasa dipakai Zivara ke kampus.
Dan seketika itu juga...
“Ini dia!” teriak Kiran sambil mengangkat sebuah jam tangan mahal.
Zivara membeku. Wajahnya pucat pasi.
“Itu… itu... Bagaimana jam tangan itu bisa ada didalam tas ku?,” ucapnya gemetar. “Aku tidak pernah melihat jam tangan itu, apalagi mengambilnya.”
"Ini buktinya, masih mau mengelak." Ucap Kiran masih menunjukkan jam tangan yang sudah diambil nya.
“Dasar pencuri!” maki Serli. “Sudah kami pelihara, masih berani mencuri, dasar anak tidak tahu diuntung."
Saat keributan memuncak, Roby baru saja turun dari lantai atas, dan langsung menghampiri mereka.
“Ada apa pagi-pagi ribut begini?” tanyanya heran.
“Papa!” Kiran segera menghampiri. “Jam tangan aku hilang, dan ternyata ada di tas Zivara!”
Roby menoleh ke arah Zivara, wajahnya mengeras.
“Papa, suruh dia pergi dari rumah ini,” pinta Kiran tegas. “Dia sudah berani mencuri.”
Serli menimpali tanpa ragu, “Anak seperti ini tidak pantas tinggal di rumah kita.”
Zivara tak membela diri lagi. Hatinya terlalu lelah. Dengan tangan gemetar, ia masuk ke kamar dan mengemasi barang-barangnya. Tak banyak, hanya pakaian seadanya dan beberapa berkas yang ia siapkan untuk mencari pekerjaan.
Beberapa menit kemudian, Zivara keluar dari rumah itu dengan langkah tertatih.
Tak ada yang menahannya.
Tak ada yang membelanya.
Dari balik pintu, Kiran tersenyum puas.
Rencananya berhasil.