alia, gadis malang. kehidupannya yang menyakitkan setelah ibu tiri menjualnya, hamil tanpa suami di sisinya, kehilangan satu-satunya keluarga yang dimilikinya
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ewie_srt, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
sembilan belas
Ekspresi langit sangat jelas terlihat emosi, rahangnya mengeras dengan tatapan yang menghunjam. Ada sesuatu yang membara di dalam sana, hati langit rasanya terbakar panas. Gemeretak giginya terdengar, buku jemarinya memutih, langit mengepalkannya dengan keras.
Matanya masih menatap bara yang tertawa riang menggendong luka, putra alia. Wanita itu juga terlihat tersenyum indah, binar mata alia terlihat berbeda ketika menatap bara, hati langit cemburu, rasa panas yang membara di hati langit terasa sangat membakar, bola matanya menatap nyalang.
Langkah kakinya ingin melangkah mendekati mereka, ada sebuah perintah memaksa langit untuk menghampiri keduanya, namun entah mengapa langkah kakinya terhenti, ia menatap lamat kemudian memutar tubuhnya berbalik melangkah pergi.
Langit berjalan gontai menuju mobilnya yang terparkir tak jauh dari tempatnya berdiri tadi, cahaya yang memantul dari kilauan rambutnya yang basah, air yang jatuh di pelipisnya tak lagi langit hiraukan.
Ia menyugar rambut yang basah dengan sebelah tangannya kasar, langit berhenti di samping pintu mobilnya. Sebelum masuk ke mobil, kembali langit menoleh sekali lagi ke arah bara dan alia, ia tertawa, tawa terbahak yang keluar dari mulutnya terdengar tidak sesuai dengan air mukanya yang terlihat sangat marah.
Langit masuk ke dalam mobil setelah menghempaskan pintu, deru suara mobil langit meninggalkan suara dan asap tebal yang menarik perhatian alia dan bara yang menoleh bersamaan.
Kening alia berkerut, matanya menatap nanar asap mobil yang masih tertinggal.
'langit kah itu?' Batin alia dalam hati.
"Alia, saya sangat berharap jawaban baik dari kamu, tapi saya berjanji, saya akan sabar menunggunya" ujar bara menyadarkan alia yang masih terpaku menatap jalanan.
Senyum bara masih terkembang indah ketika alia menoleh menatapnya, alia terdiam. Tidak ada jawaban yang keluar sepatah katapun dari bibirnya, sampai mobil yang dikendarai bara menghilang dari halaman rumahnya, ia masih terpaku bingung dan kosong.
Sementara bara di dalam mobil, matanya melirik spion mobilnya dan melihat alia, wanita itu masih berdiri terpaku, wajah alia terlihat begitu kalut.
Dengan tenang bara menatap jalanan yang mulai di selimuti kegelapan, pantulan cahaya lampu lalu lintas di jalan yang basah membuat suasana terasa syahdu dan dingin.
Bara masih terbayang wajah alia yang berubah, setelah melihat kelebatan dan deru mobil yang mengganggu tadi. Bara yakin mobil tadi milik langit, ia merasa langit terlalu sering berada di dekat alia.
Entah mengapa bara merasa langit sedang mengincar alia, dan tentu itu membuat bara merasa sedikit was-was. Bara tahu bagaimana sikap dan tingkah laku langit jika berhubungan dengan wanita, dan terus terang bara tidak ingin alia menjadi korban berikutnya.
######
Langkah kaki alia tertahan, matanya menatap nanar ke arah pria yang sedang berdiri di depan lift, dengan kedua tangannya berada di dalam saku celananya.
Kaca mata hitam terlihat nangkring di wajah tampannya yang tiba-tiba menoleh ke arah alia yang berdiri terpaku. Ia hanya menoleh sekilas, tidak ada senyum atau sapaan seperti biasa, tatapannya kembali fokus menatap pintu lift yang belum terbuka.
Alia merasa lega dan dengan perlahan ia kembali melangkah dengan tenang, namun tiba-tiba terdengar suara kaki yang melangkah setengah berlari, alia ingin menoleh namun dorongan dan teriakan suara di belakangnya membuat alia sedikit terhuyung ke samping.
Mata alia membelalak lebar, terlihat clara dan beberapa wanita berlari dan menjerit kecil memanggil nama langit, yang terlihat tersenyum dengan menurunkan kaca matanya.
Alia hanya bisa mengelus dada melihat kelakuan mereka, perlahan ia berjalan kembali mendekati rombongan wanita yang berkerumun di sisi langit, seperti sebuah rombongan fans yang mengerubuti idolanya.
Pintu lift terbuka, dengan tenang alia masuk setelah rombongan fans langit masuk dan tetap mengerubuti pria itu. Alia merasa langit sedikit berbeda, pria itu sama sekali tidak menggubris keberadaannya, seakan alia tidak kasat mata. Namun entah mengapa alia merasa lega.
Ketika alia akan melangkah keluar, pria itu tiba-tiba memanggil namanya.
"Bu alia, tolong keruangan saya sebentar" perintahnya singkat tanpa senyum ke arah alia.
Namun masih sempat menjawil dagu clara yang terlihat menggelinjang kegirangan, alia menghembuskan nafasnya malas, tapi ia tetap mengikuti langkah panjang langit.
Di belakangnya masih terdengar suara centil clara yang merasa mendapatkan perhatian langit.
"Duduk..!" Perintah langit tanpa basa basi, menunjuk kursi sofa yang terletak di tengah ruangan, tepat di depan meja kerjanya.
Alia tanpa menjawab, duduk dengan posisi yang terlihat tidak nyaman.
"File yang kamu kirimkan ke saya kemarin, masih perlu di revisi ulang. Tidak layak disebut sebuah dokumen, apalagi yang mengerjakannya seorang manager" kata langit tegas dengan suara dingin, ia duduk di meja kerjanya menatap alia dengan tajam.
Mulut alia terperangah, selama ini atasan selalu menilai hasil kerjanya bagus, apalagi dokumen yang langit maksud itu, tidak sepenuhnya ia yang membuat. Alia hanya meneruskan bagian finishingnya yang isinya sudah di kerjakan bu wirda.
"Maksud bapak apa yah?" Tanya alia ingin meyakinkan, kernyitan mata alia terlihat heran.
"Itu pekerjaan bu wirda pak, saya hanya meneruskan bagian akhirnya saja."
"Heummm..dari yang saya pelajari tadi malam, masalah intinya belum begitu terfokus dengan baik. Tolong kamu atau bu wirda perbaiki lagi, sebelum di kirim ke saya" ujar pria itu masih terdengar dingin.
"Itu saja, kamu boleh keluar" perintahnya tanpa menatap alia.
"Baik pak," sahut alia singkat dan pergi meninggalkan langit yang mendongakkan kepalanya menatap kepergian alia dengan ekspresi yang sulit untuk di ungkapkan.
Alia terduduk di kursinya dengan helaan nafas yang terdengar berat, entah apa yang merasuki langit, pria itu seharian ini benar-benar bertindak seperti layaknya seorang pimpinan.
Alia merasa heran, namun itu cukup membuatnya lega. Hari-harinya akan kembali normal, mudah-mudahan langit tidak akan mengulah lagi.
"Alia.." panggil fandi mengejutkan alia yang sedang meluruskan pinggangnya yang terasa penat.
"Pak langit meminta tim kita hari ini untuk lembur, sepertinya pak langit sedikit personal ke tim kita yah, aku heran padahal sejauh yang aku tahu tim yang paling baik kinerjanya itu tim kita loh" keluh fandi dengan gaya slaynya, pria kemayu itu menarik kursinya merapat ke meja alia.
"Tadi aku dengar bu wirda dan pak langit sedang berdebat sengit di ruangan beliau."
"Apa maksudmu?" Tanya alia dengan raut wajah penasaran
Ia memutar kursinya menghadap ke arah fandi, alis mata alia naik sebelah, matanya menatap penuh tanya.
"Saat ini bu wirda di ruangan pak langit?" Desak alia memegang kursi fandi.
"Ihhhhh...aliaaa" teriak fandi terkejut dengan kemayunya.
"Kamu bikin kaget ihhh" ujarnya dengan sedikit centil.
"Jawab aku fandi!" Pinta alia tak sabar, kedua tangannya mencengkeram pegangan kursi fandi.
Matanya menuntut jawaban cepat dari fandi, fandi menganggukkan kepalanya. Terlihat pria kemayu itu tersentak kaget, melihat alia yang tiba-tiba berdiri melangkah pergi menjauhinya.
"Kamu mau kemana?" Tanya fandi sedikit teriak,
"Ke ruangan pak langit" sahut alia, langkah kakinya melangkah panjang menuju ruangan pimpinan utama.
"Tok..tok..."
Alia memberanikan diri mengetuk ruangan langit, setelah terlebih dahulu ijin dengan sekretarisnya.
"Masuk.."
Terdengar suara berat langit yang sedikit parau. Alia membuka pintu dengan hati-hati, namun dengan terkejut ia hampir berteriak, matanya di suguhi sebuah pemandangan yang sangat tidak layak.
Langit, pria itu sedang memangku seorang wanita yang duduk membelakanginya, terlihat langit sedang mencumbui wanita yang rambutnya terurai berantakan dengan kemejanya yang turun menunjukkan bahunya yang mulus, wajah langit terlihat menyeringai menatapnya di sela- sela rambut terurai wanita yang sedang mendesah manja itu.
Alia terkesiap, ia merasakan jantungnya tiba-tiba terhenti, tergagap alia meminta maaf dan berbalik memutar tubuhnya ingin pergi.
"Tunggu..." perintah langit masih dengan suara parau yang sudah di kuasai nafsu.
"Kamu ada perlu apa?" Tanya langit seraya bangkit dan meminta wanita yang dipangkunya merapikan pakaiannya sendiri.
Alia membuang pandangannya jengah, wanita yang sedang birahi itu ternyata clara, yang dengan tidak tahu malunya menatap alia tanpa ekpresi apapun.
"Tinggalkan kami" perintahnya pada clara yang terlihat sangat keberatan, namun tak sanggup menolak, suara berat namun datar milik langit memang sulit untuk dibantah.
"Ada perlu apa?" Tanya langit setelah hanya ia dan alia yang berada di dalam ruangan. Alia masih menetralkan jantungnya yang berdetak tak karuan.
"Apa maksud bapak meminta tim pemasaran lembur hari ini?, apakah karena kesalahan yang saya buat?" Tanya alia memberanikan diri menatap langit yang berdiri menjulang di hadapannya dengan kedua tangan yang berada dalam saku celananya.
"Bagus kalau kamu tahu" jawab langit singkat dan dingin,
"Tadi juga sudah saya jelaskan kepada direktur tim kamu untuk lebih profesional lagi"
"Pak langit..yang tidak profesional di sini adalah anda, kenapa anda melampiaskan kepada seluruh tim, jika kesalahan hanya terletak pada saya" tanya alia dengan tatapan nyalang menantang, kedua tangannya terlihat mengepal.
"Heummm.." gumam langit terlihat acuh, kakinya berjalan menuju jendela kaca, memandang keluar membelakangi alia.
"kalau kamu tidak terima keputusan saya dan mau protes, kenapa bukan kamu saja yang jadi pimpinan utamanya"
"Pak langit—"
"Alia.." sambar langit cepat memotong ucapan alia, ia memutar tubuhnya.
"Kalau kamu tidak mau seluruh tim menanggung kesalahan kamu, bagaimana kalau kamu yang mengerjakan dan menanggung tanggung jawab itu sendirian?" Tanya langit masih tetap pada posisinya, ia menawarkan sebuah solusi kepada alia.
"Apa yang harus saya lakukan?" Tanya alia dengan suara sedikit bergetar, hatinya merasa cemas, ia merasa seakan langit menyiapkan sebuah jebakan untuknya.
Langit membalikkan tubuhnya, memutar menghadap alia yang berdiri kaku di dekat pintu.
"Berkencanlah denganku sehari saja" jawab langit diiringi senyum yang entah mengapa di mata alia terlihat tulus.
Bersambung...