Sebagai putri kesayangan dari keluarga bangsawan Montclair, Lady Aurelia selalu mendapatkan apa pun yang ia inginkan. Namun, watak keras kepalanya membawa petaka saat ia jatuh cinta pada sang Raja. Demi mewujudkan keinginannya, keluarga Montclair terpaksa merelakan putri tercinta mereka masuk ke istana—bukan sebagai ratu, melainkan hanya sebagai seorang selir.
Kehidupan istana ternyata tak seindah impian Aurelia. Dinginnya sikap Raja dan kekejaman kompetisi antar-selir menghentikan langkahnya secara tragis. Ia tewas terbunuh di tangan selir lain, sementara Raja yang dijunjungnya bahkan tidak sudi melirik jasadnya.
Namun, takdir memberinya kesempatan kedua.
Aurelia terbangun kembali di hari keduanya sebagai selir. Terbangun dari kematian membawa rasa sakit yang membakar sekaligus dendam yang membara. Keras kepala yang dahulu membinasakannya, kini berganti menjadi ambisi yang mematikan. Aurelia bertekad: ia tidak akan mati sia-sia untuk kedua kalinya.
Satu per satu, para selir yang mengh
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Klarina_za29, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Dibalik Penolakan!
Marta yang berdiri di belakang Aurelia menahan napasnya rapat-rapat. Undangan untuk menghabiskan malam di kamar peraduan Raja adalah sebuah kehormatan tertinggi yang selalu diperebutkan oleh seluruh selir di Istana Interior dengan cara apa pun. Kebanyakan wanita di istana ini akan menangis bahagia, sujud bersyukur, dan langsung terburu-buru merias diri jika menerima titah seagung itu dari sang penguasa tertinggi.
Namun, Aurelia tetap berdiri tegap. Wajahnya yang memikat bagaikan pahatan pualam terbaik sama sekali tidak menyiratkan kejutan, kegirangan, ataupun rasa gugup.
"Sampaikan permohonan maaf hamba yang paling dalam kepada Yang Mulia Raja Julian," jawab Aurelia dengan suara merdu yang sangat halus, namun di dalamnya memancar ketegasan dingin yang tak tergerahkan. "Hamba merasa kurang sehat malam ini akibat kelelahan yang sangat usai menata seluruh berkas administrasi dan alokasi logistik Pavilion Selatan sepanjang hari. Hamba sangat khawatir kondisi hamba yang buruk dan tidak fit ini akan merusak suasana santap malam serta mengganggu kenyamanan Yang Mulia."
Kasim Kepala itu mendongak seketika, matanya membelalak lebar penuh ketakutan dan rasa tak percaya yang amat sangat. "L-Lady Aurelia... apakah Anda sungguh-sungguh dengan ucapan Anda? Ini adalah titah dan panggilan langsung dari Yang Mulia Raja!"
"Hamba sangat sadar dan yakin," balas Aurelia dengan menyunggingkan senyuman tipis yang amat anggun namun tak tersentuh. "Hamba hanya ingin memberikan kehadiran dan kondisi terbaik hamba di hadapan Yang Mulia pada Perayaan Musim Panas nanti. Mohon sampaikan permohonan maaf dan salam hormat hamba yang tulus kepada beliau."
Dengan tubuh gemetar dan hati berdebar kencang, sang Kasim Kepala membungkuk pasrah. Ia berbalik dan berjalan terburu-buru meninggalkan Pavilion Timur, tak pernah membayangkan dalam hidupnya bahwa ada seorang selir yang berani menolak panggilan peraduan sang Raja secara langsung.
Sementara itu, di dalam ruang kerja Istana Utama yang megah, Raja Julian sedang duduk di kursi kebesarannya. Laporan-laporan militer dan anggaran kerajaan menumpuk di mejanya, namun pikiran sang Raja terus melayang membayangkan kehadiran Aurelia yang makin hari makin memikat.
Ketika pintu ruang kerjanya terbuka dan Kasim Kepala masuk dengan wajah pucat pasi, Julian meletakkan pena emasnya.
"Di mana Aurelia?" tanya Julian dengan suara bariton rendah yang berwibawa, matanya yang kelam menatap tajam ke arah utusannya.
Kasim itu langsung berlutut menyentuhkan dahinya ke karpet tebal. "A-ampunkan hamba, Yang Mulia! Lady Aurelia... beliau menyampaikan permohonan maaf yang terdalam. Beliau tidak dapat memenuhi panggilan Anda malam ini karena merasa lelah dan kurang sehat usai mengurus dokumen Pavilion Selatan."
Suasana di dalam ruang kerja yang luas itu seketika menjadi sangat hening dan mencekam. Para pengawal pribadi yang berdiri di sudut ruangan menahan napas, bersiap menghadapi ledakan kemurkaan sang Raja yang terkenal dingin dan tak tersentuh.
Julian diam terpaku di kursinya. Matanya menyempit, menatap sang kasim dengan intensitas yang mengerikan. "Dia... menolak undanganku?" bisik Julian, suaranya bergetar samar oleh rasa terkejut yang belum pernah ia rasakan sebelumnya.
"B-benar, Yang Mulia," jawab kasim itu gagap. "Beliau menyatakan ingin menjaga kondisinya agar berada dalam keadaan terbaik saat Perayaan Musim Panas nanti."
Julian terus menatap kosong ke depan selama beberapa saat. Namun alih-alih meledak dalam amarah yang menakutkan seperti yang diperkirakan semua orang, perlahan-lahan sudut bibir sang Raja terangkat. Sebuah tawa pelan—sebuah tawa rendah yang penuh dengan rasa tak percaya sekaligus ketertarikan yang amat mendalam—terlepas dari tenggorokannya.
"Menolakku... hanya karena alasan lelah mengurus berkas?" gumam Julian seraya terkekeh pelan, menyandarkan punggung gagahnya pada kursi ukir kerajaan.
Julian mengepalkan jemarinya di atas meja. Di dalam hatinya, ia menyadari betul permainan apa yang sedang dilancarkan oleh wanita Montclair itu. Aurelia tidak lagi seperti dulu—seorang gadis yang terus mengejar perhatiannya dengan mata berbinar memohon belas kasihan. Kini, Aurelia secara sengaja menarik diri, melangkah mundur tepat saat Julian mulai melangkah mendekat. Gadis itu dengan cerdik membiarkan sang Raja merasakan rasa penasaran dan penolakan yang membakar jiwa.
"Kau sungguh pandai memainkan perasaan orang, Aurelia," bisik Julian dengan tatapan mata yang berkilat oleh gairah seorang pemburu yang baru saja menemukan mangsa yang paling menantang dalam hidupnya. "Kau menolak kedatanganmu malam ini... tetapi kau tidak akan pernah bisa lari dariku saat Perayaan Musim Panas tiba nanti."
Di saat yang sama, di balik jendela Pavilion Timur, Aurelia berdiri menatap pendar pilar-pilar cahaya dari Istana Utama di kejauhan. Angin malam mengibarkan renda gaunnya saat senyuman kemenangan yang dingin mengembang di wajah cantiknya. Taktik menarik ulurnya telah bekerja secara sempurna.
Seorang pria seangkuh dan sekuasai Julian tidak akan pernah menghargai sesuatu yang didapatkannya dengan mudah. Dan dengan menolaknya malam ini, Aurelia telah memastikan bahwa fokus, gairah, dan perhatian sang Raja Julian kini sepenuhnya terkunci rapat hanya pada dirinya seorang.
Aurelia berbalik membelakangi jendela, membiarkan tirai beludru tebal menutup pandangannya dari kemegahan Istana Utama. Keheningan kamar tidurnya kini terasa begitu menenangkan, sebuah kontras yang kontras dibandingkan dengan kecamuk intrik politik yang sedang ia rakit di balik layar. Setiap pergerakan yang ia lakukan, mulai dari mengamankan Pavilion Selatan hingga menolak panggilan peraduan sang Raja, merupakan kalkulasi dingin yang telah ia perhitungkan hingga detail terkecil. Ia tahu betul bahwa di dalam gelanggang Istana Interior, cinta dan hasrat adalah senjata yang paling mematikan jika dipegang oleh tangan yang tepat.
Marta melangkah mendekat dengan sangat perlahan, membawa lilin lebah untuk memadamkan penerangan di sudut-sudut ruangan agar junjungannya dapat beristirahat. "Nona Muda," bisik Marta ragu, "apakah tindakan menolak Yang Mulia malam ini tidak terlalu berisiko? Bagaimana jika Yang Mulia beralih kembali ke Pavilion Barat atau berpaling kepada selir yang lain?"
Aurelia menyunggingkan senyum tipis yang sarat akan wawasan mendalam tentang tabiat seorang penguasa. "Pria seperti Julian telah mendapatkan segalanya sepanjang hidupnya, Marta. Segalanya disajikan di hadapannya sebelum ia sempat memintanya, termasuk wanita-wanita yang bersujud memohon sedikit perhatian darinya. Jika aku menyerahkan diri malam ini begitu saja, aku hanya akan menjadi salah satu dari sekian banyak selir yang mengisi malamnya lalu dilupakan esok hari."
Ia melangkah menuju meja riasnya, melepas perhiasan perak yang melingkar di lehernya satu per satu dan meletakkannya di atas kotak kayu cendana. "Dengan menolaknya secara halus, aku tidak hanya menanamkan rasa penasaran yang membakar di dalam pikirannya, tetapi juga menegaskan statusku sebagai sosok yang tidak bisa ia kendalikan sepenuhnya. Penasaran adalah benih awal dari kepemilikan yang obsesif. Mulai malam ini, dialah yang akan mengejarku, bukan sebaliknya."
Aurelia merebahkan tubuhnya di atas ranjang berkanopi sutra yang nyaman, menatap bayangan dedaunan di langit-langit kamar yang diterpa pendar lilin terakhir. Kehidupan keduanya ini tidak akan ia sia-siakan untuk menjadi sekadar bunga penghias dinding istana yang layu oleh belas kasihan sang Raja.
Ia akan menjadi pemain catur yang memegang seluruh kendali papan permainan, hingga saat Perayaan Musim Panas tiba nanti, mahkota yang diimpikan oleh Faksi Vance akan berpindah tangan secara mutlak ke atas kepalanya.
~ To Be Continue