Bosan dengan kisah cinta biasa? Siap-siap dibuat gemas, terharu, dan ketagihan lewat kisah Hazelia!
Gadis muda yang super ceria, tengil, dan penyayang ini terpaksa menunda mimpinya demi menjadi office girl di perusahaan raksasa demi membiayai pengobatan sang ibu dan sekolah adiknya. Siapa sangka, ketidaksengajaannya menabrak sang CEO dingin, Tuan Mahrup, justru memercikkan benih cinta tak terduga!
Dari ruang pantry penuh gosip hingga diangkat menjadi asisten pribadi, Hazel harus menghadapi cemburu rekan kerja, tuduhan miring, hingga kembalinya masa lalu Sang Tuan yang penuh rahasia. Bisakah ketulusan gadis sederhana ini meluluhkan hati pria sekaku es dan melewati badai ujian cinta mereka?
Penasaran bagaimana kelanjutan hubungan beda kasta yang penuh drama dan kejutan ini? Yuk, baca selengkapnya dan ikuti liku-liku cinta Tuan Mahrup dan Hazel sekarang juga!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ragan Fian, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
OGMTM-20
...Tepat di bawah berkas yang bocor itu, tertera nama pengirim dan pemilik identitas digital yang menyebarkannya: HAZELIA VERLITA PUTRI.
Hazel terperanjat, matanya membelalak menatap namanya sendiri yang terpampang di layar monitor. Namun, sebelum kepanikan meluas, Mahrup bergerak secepat kilat. Jarinya menekan serangkaian perintah override pada keyboard khusus di bawah meja, memutuskan jalur peretasan internal dalam hitungan detik.
"T-Tuan... demi Allah, bukan Hazel yang kirim!" seru Hazel panik, suaranya bergetar hebat.
"Saya tahu," potong Mahrup cepat, menatap Hazel dengan tenang. "Seseorang memakai identitas digitalmu untuk menjebakmu. Tapi malam ini, kita tidak punya waktu untuk melayani jebakan murah ini. Ikut saya."
"K-ke mana, Tuan?"
"Makan malam bisnis penting dengan jajaran pimpinan Kusuma Group dan mitra asing. Kamu asisten saya, dan kamu harus ada di samping saya.
Satu jam kemudian, Hazel berdiri canggung di dalam ruang makan privat sebuah restoran fine dining bernuansa mewah di kawasan Jakarta Selatan. Lampu kristal menggantung megah, memantulkan pendar cahaya di atas meja panjang beratap marmer. Di sekeliling meja, duduk para petinggi bisnis berjas mahal dengan raut wajah kaku dan formal.
Hazel memegang erat iPad Pro di tangannya, berusaha menetralkan rasa gugup. Pakaian elegannya malam ini sangat anggun, namun atmosfer kaku para miliarder di ruangan itu sempat membuat napasnya tertahan.
"Selamat malam, Tuan Mahrup," sapa Pak Winata, klien utama asal Singapura yang terkenal sangat dingin dan sulit ditaklukkan. Matanya melirik ke arah Hazel.
"Apakah ini sekretaris barumu? Tampak sangat muda dan Cantik."
Mahrup menatap Pak Winata tenang, menyunggingkan senyum tipis yang berwibawa. "Ini Hazelia, Asisten Pribadi saya. Dia yang mengelola seluruh detail agenda penting saya."
Hazel membungkuk hormat. Berusaha mengusir rasa gugupnya, ia justru melempar celetukan dengan wajah tanpa dosa. "Selamat malam, Pak Winata. Senang bisa bertemu langsung. Tapi Pak, jujur perut Hazel dari tadi sudah konser keroncongan. Kita makan dulu yuk? Nanti Hazel traktir... tenang, Hazel ada modal dua ribu."
Keheningan mencekam di ruang makan privat itu langsung runtuh. Pak Winata,yang biasanya tak pernah mengumbar senyum pada rekan bisnis terpingkal-pingkal hingga menggelengkan kepala.
"Kamu ini ada-ada saja. Mau menraktir saya dua ribu? Bisa dapat kerupuk saja sudah syukur! Biar saya saja yang traktir kamu malam ini," sahut Pak Winata diselingi tawa, memberi isyarat agar Hazel duduk di sebelah Mahrup
."Luar biasa. Biasanya orang-orang di posisi kamu akan tegang seperti sedang diinterogasi polisi. Jujur Saya suka Orang yang seperti kamu, Hazelia."
Sepanjang jamuan makan malam berlangsung, kesederhanaan dan ketengilan positif Hazel justru menjadi senjata ampuh.
Saat diskusi bisnis mulai memanas dan tegang, celetukan polos namun cerdas dari Hazel sanggup memecah kebekuan udara. Ketelitian Hazel dalam mencatat poin-poin kesepakatan di iPad membuat Pak Winata terkesan luar biasa.
Mahrup memperhatikan setiap gerak-gerik Hazel dari samping. Dada sang CEO berdesir hangat. Untuk pertama kalinya setelah bertahun-tahun tenggelam dalam dunia bisnis yang dingin dan penuh kepalsuan, kehadiran Hazel membawa warna dan kehidupan baru yang begitu nyata.
"Penawaran kerja sama ini Saya setujui," tegas Pak Winata di akhir makan malam, menandatangani dokumen nota kesepahaman.
"Mahrup, kamu beruntung punya asisten sehebat dan setulus Hazelia."
Mahrup menatap Hazel yang tersenyum bangga dengan binar mata yang berbinar manis. "Ya... saya sangat beruntung memilikinya," Tegas Mahrup disertai senyuman tipis, jawaban yang membuat jantung Hazel berdebar kencang.
Namun, saat jamuan makan malam berakhir dan mereka melangkah menuju area lobi luar restoran untuk menunggu mobil jemputan, sebuah mobil sedan hitam berhenti mendadak di tepi jalan.
Pintu penumpang terbuka, dan Dion Kusuma melangkah keluar bersama Clarissa yang berpenampilan serba glamor. Clarissa menyunggingkan senyum licik, menatap Hazel dari ujung rambut hingga ujung kaki dengan pandangan merendahkan.
"Wah, wah... lihat siapa yang sedang bermain peran jadi asisten berkelas," sindir Clarissa dengan nada penuh racun, menyilangkan tangan di dada.
"Mahrup, kamu yakin mau mempertahankan cewek ini setelah melihat berkas jebakan yang dikirim ke seluruh direksimu jam lima sore tadi?"