Xiao Chen bukan jenius kultivasi. Di Klan Xiao, dia adalah "Sampah Abadi" - ranah kultivasinya stuck di Pemurnian Qi level 3 selama 1000 tahun. Karena itu, dia dibuang untuk menjaga Jurang Iblis, tempat paling hina di klan. Tidak ada yang tahu, Jurang Iblis itu adalah segel dunia, dan selama 1000 tahun Xiao Chen bertarung sendirian setiap malam melawan gelombang iblis yang tak berujung. Para iblis tidak takut pada Tetua Klan, mereka hanya takut pada satu nama: Xiao Chen.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon edwin setiawan, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Dua Murid Berebut Jadi Asisten & Mo Sha Belajar Menyeduh Teh
---
Sejak Su Lingtian kalah dan menjadi tukang sapu magang di bawah pengawasan Klan Xiao, Kota Batu Hitam punya pemandangan baru setiap pagi.
Jam 6 pagi, sebelum kedai buka, ada 3 kelompok tukang sapu yang bersaing siapa paling bersih dan paling tidak berisik.
Kelompok Klan Xiao yang dipimpin Xiao Tianlong dengan satu tangan, menyapu dengan gerakan pedang, sangat serius.
Kelompok Klan Su yang dipimpin Su Batian, menyapu sambil memungut sampah untuk dijadikan pupuk tanaman obat.
Kelompok Klan Giok Putih Utama yang dipimpin Su Lingtian dengan wajah masih lebam, menyapu dengan sangat pelan karena dia masih trauma dengan pedang kayu pengaduk teh.
Mo Sha, sebagai kepala keamanan kebersihan yang ditunjuk Bos Teh, duduk di tengah alun-alun dengan sapu yang patah karena kekecilan, mengawasi mereka bertiga seperti mandor galak. Jika ada yang berisik, dia akan menatap, dan tukang sapu itu langsung berbisik.
Warga Kota Batu Hitam bangun pagi bukan untuk beli sayur, tapi untuk menonton pertunjukan tukang sapu Nascent Soul dan Pembentukan Fondasi. Bahkan ada yang buka taruhan: hari ini sapuan siapa paling bersih?
Di dalam kedai, persaingan yang lebih kecil tapi lebih sengit juga terjadi.
Ling'er dan Su Qing'er berebut menjadi asisten nomor 1 Bos Teh.
Awalnya, Ling'er adalah asisten nomor 1 yang tidak tergantikan: dia yang menghitung kembalian, dia yang memarahi Tetua Api Merah, dia yang berani memegang pedang kayu pengaduk teh. Tapi sejak Su Qing'er datang dan memenangkan kompetisi menyeduh teh, posisinya terancam.
Pagi ini, jam 6.30, sebelum kedai buka, Ling'er sudah menyiapkan 3 toples daun teh yang sudah dia sortir semalam.
"Kak Qing'er, ini tugas Kakak hari ini: lap meja saja ya, jangan sentuh toples teh, nanti takarannya salah," kata Ling'er dengan nada kakak senior, walaupun umurnya lebih muda 3 tahun, tapi dia lebih lama jadi murid.
Su Qing'er yang memakai celemek goni kebesarannya, tidak mau kalah. "Tapi kemarin Bos Teh bilang aku boleh coba takar teh, Bos Teh bilang takaranku sudah lumayan, nilai 9!"
"Kemarin kan kompetisi! Hari ini kan jualan beneran! Kalau salah takar, pelanggan komplain!" Ling'er berkacak pinggang, mahkota uap di atas kepalanya bergetar karena emosi.
Su Qing'er juga berkacak pinggang, perban hitam di kakinya sudah dilepas karena sudah sembuh total. "Aku sudah sembuh! Aku bisa bantu angkat karung beras juga sekarang!"
Dua gadis itu saling menatap dengan tatapan persaingan murid perguruan, membuat Xiao Chen yang baru bangun dan keluar dari kamarnya di belakang kedai, menguap lebar.
"Berisik," katanya pelan.
Ling'er dan Su Qing'er langsung diam dan berdiri tegak seperti tentara.
Xiao Chen menatap mereka berdua, lalu menatap toples teh.
"Hari ini, kalian berdua jadi asisten. Tidak ada nomor 1, nomor 2. Ling'er bagian kasir dan hitung kembalian. Qing'er bagian seduh dan antar. Ganti tiap 2 jam. Adil?"
Ling'er dan Su Qing'er saling pandang, lalu mengangguk bersamaan. "Adil, Bos Teh!"
Mo Sha yang mengintip dari luar, berbisik pada dirinya sendiri, "Bos Teh pinter. Kalau tidak adil, nanti mereka berantem dan kedai berisik. Kalau kedai berisik, Bos Teh tidak bisa tidur siang."
Jam 7, kedai buka. Sistem baru langsung bekerja. 2 jam pertama, Ling'er di kasir dengan sangat galak menghitung kembalian, Su Qing'er mengantar teh dengan sangat hati-hati takut tumpah. 2 jam kemudian mereka tukar. Ling'er yang mengantar teh, jalannya lebih cepat, kadang hampir tumpah tapi tidak pernah tumpah karena dia sudah Pembentukan Fondasi setengah. Su Qing'er yang di kasir, lebih ramah, kadang memberi bonus 1 permen jahe untuk anak kecil.
Pelanggan suka sistem baru ini, karena mereka bisa melihat dua gadis cantik dengan gaya berbeda.
Siang itu, saat pergantian shift kedua, masalah baru datang dari pintu.
Mo Sha yang biasanya mengizinkan pelanggan masuk dengan anggukan, kali ini menghalangi pintu dengan tubuhnya yang 2 meter.
"Bos Teh! Ada yang mau masuk, tapi dia... dia bau iblis!"
Semua pelanggan di dalam kedai yang mendengar kata "bau iblis" langsung tegang, tangan mereka memegang gagang pedang.
Xiao Chen keluar dari belakang, membawa pedang kayu pengaduk teh, mengira iblis sisa jurang datang lagi.
Di depan pintu, berdiri seorang pria tua bungkuk dengan jubah hitam compang-camping yang lebih compang-camping dari jubah Xiao Chen, membawa karung besar di punggungnya. Wajahnya penuh luka bakar, matanya satu buta. Tapi dari tubuhnya, Mo Sha yang Raja Iblis bisa mencium bau iblis yang sangat pekat, tapi bukan bau iblis liar, tapi bau iblis yang sudah disegel.
Pria tua itu melihat Mo Sha, langsung berlutut ketakutan, karungnya jatuh.
"Raja... Raja Mo Sha... Ampun..."
Mo Sha mengerutkan kening, mencoba mengingat. "Kau... kau... tikus pengintai jurang 3000 tahun lalu? Si Kecil Hitam?"
Pria tua bungkuk itu mengangguk dengan air mata. "Ya, Raja! Saya Si Kecil Hitam! Iblis Tikus Tingkat 3 yang dulu Raja suruh jadi mata-mata di dunia manusia!"
Semua Tetua Nascent Soul di dalam kedai yang mendengar "Iblis Tikus" langsung berdiri dan mengeluarkan senjata.
Xiao Chen mengangkat tangannya, menyuruh semua diam.
"Jangan berisik," katanya.
Dia menatap pria tua bungkuk itu. "Kau iblis?"
Si Kecil Hitam mengangguk, lalu menggeleng cepat. "Dulu iblis, Tuan! Sekarang bukan! Saya sudah kabur dari jurang 100 tahun lalu, saya sembunyi di selokan Kota Batu Hitam, saya makan sampah, saya tidak makan manusia lagi! Saya... saya datang karena mencium bau Raja Mo Sha dan bau... bau Penjaga Jurang... Saya rindu!"
Dia membuka karung besarnya. Isinya bukan senjata, bukan mayat, tapi... botol-botol kosong, daun teh bekas yang dia pungut dari tempat sampah kedai, dan... sebuah buku catatan kecil yang lusuh.
"Saya... saya selama 30 hari ini, setiap malam saya pungut daun teh bekas dari tong sampah kedai Tuan! Saya seduh lagi di selokan! Tehnya enak! Saya jadi tidak ingin makan manusia lagi! Saya ingin belajar menyeduh teh! Bolehkan saya jadi murid sapu juga?! Saya bisa bersihkan selokan!"
Semua orang di alun-alun terdiam, menatap iblis tikus yang ingin belajar menyeduh teh.
Ling'er yang tadinya takut, melihat buku catatan Si Kecil Hitam, isinya penuh tulisan jelek tentang cara menyeduh teh: _Hari 1: Teh Bos Teh pahit tapi hangat. Hari 5: Teh Bos Teh bikin perut kenyang 2 hari. Hari 10: Saya tidak lapar makan manusia lagi kalau minum teh._
Ling'er tersentuh. Sebagai mantan pemulung, dia tahu rasanya makan sampah dan ingin belajar.
"Bos Teh," bisik Ling'er, "Dia... dia seperti aku dulu. Bolehkah dia..."
Xiao Chen menatap Si Kecil Hitam, lalu menatap Mo Sha.
"Mo Sha, kau kenal dia?"
Mo Sha mengangguk. "Kenal, Bos Teh. Dia tikus paling lemah di jurang, dulu sering dibully iblis lain, makanya saya suruh jadi mata-mata di selokan. Dia tidak pernah makan manusia, hanya makan kecoa iblis. Baik tikusnya."
Xiao Chen mengangguk, lalu menatap Si Kecil Hitam.
"Kau mau belajar menyeduh teh?"
Si Kecil Hitam mengangguk cepat sampai topinya jatuh. "Mau! Mau, Tuan Penjaga!"
"Peraturan Klan Kedai Teh nomor 1 apa?" tanya Xiao Chen.
"Jangan berisik!" jawab Si Kecil Hitam cepat, karena dia sudah 30 hari mengintip dari selokan dan hafal peraturan dari Ling'er yang berteriak.
"Peraturan nomor 2?"
"Bayar teh tepat waktu! Tapi saya tidak punya uang... saya bisa bayar pakai... pakai membersihkan selokan 1 tahun!"
Xiao Chen menatap karung botol kosongnya.
"Boleh. Mulai hari ini kau jadi murid kebersihan selokan. Tugasmu: bersihkan semua selokan Kota Batu Hitam, biar tidak bau. Dan setiap sore jam 5, kau boleh datang ke belakang kedai, Ling'er akan kasih kau daun teh bekas yang masih layak seduh. Jangan pungut dari tong sampah lagi, kotor."
Si Kecil Hitam yang mendengar itu, menangis. Iblis tikus 3000 tahun menangis di depan kedai teh karena diberi daun teh bekas yang layak.
"Terima kasih, Bos Teh! Terima kasih!"
Malam itu, setelah kedai tutup, ada pelajaran tambahan di belakang kedai.
Guru: Xiao Chen, duduk di kursi bambu.
Murid: Ling'er dengan mahkota uap, Su Qing'er dengan sendok kayu, Mo Sha dengan cangkir raksasa buatannya, dan Si Kecil Hitam yang duduk paling belakang di atas tutup selokan, dengan buku catatan.
Pelajaran hari ini: Cara menyeduh teh tanpa membuat berisik.
Xiao Chen menyeduh dengan sangat pelan, tanpa suara air, tanpa suara cangkir beradu. Hanya suara napas.
"Teh yang enak," kata Xiao Chen pelan, "Bukan teh yang rasanya keras. Teh yang enak adalah teh yang diseduh dengan tenang, jadi yang minum juga jadi tenang. Iblis suka berisik, manusia suka berisik, tapi teh tidak suka berisik."
Keempat muridnya, satu manusia setengah iblis, satu putri klan, satu Raja Iblis, satu iblis tikus, mengangguk bersamaan dengan sangat serius, mencatat di buku masing-masing.
Dan di atas Kota Batu Hitam yang sudah dibersihkan oleh 3 kelompok tukang sapu dan 1 iblis tikus selokan, bulan bersinar terang, tidak ada lagi kabut hitam dari jurang, hanya uap teh hangat dari kedai kecil yang masih menyala sampai jam 8 malam karena murid-muridnya masih latihan menyeduh tanpa berisik.