NovelToon NovelToon
Cincin Palsu Sang Ratu Mafia

Cincin Palsu Sang Ratu Mafia

Status: sedang berlangsung
Genre:Roman-Angst Mafia / Action / Nikah Kontrak
Popularitas:452
Nilai: 5
Nama Author: Andri Komara

Ia hanya penjual sate.
dan Dia adalah Ratu Mafia
Sebuah cincin palsu menyatukan dua dunia yang seharusnya tak pernah bertemu.
Tapi pernikahan kontrak itu menyimpan rahasia yang bisa membuat mereka saling menghancurkan.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Andri Komara, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 22: Satu Detik

#

Bima tidak berteriak.

Ia sudah bergerak sebelum otaknya memberi izin. Dua langkah panjang melintasi gang, bahunya menghantam tubuh Wartini dari samping, dan keduanya jatuh ke dalam rumah sebagai satu gumpalan daster dan selendang.

Kaca jendela di atas pintu meledak.

Tidak ada bunyi tembakan. Hanya "tak" kering, seperti jari dipukulkan ke meja, dan serpihan kaca hujan di punggung Bima. Peluru menancap di dinding semen dekat kusen, tepat di tempat kepala Wartini berada sedetik lalu.

"Ibu!"

"Mas, aku..."

"Diam! Merunduk!"

Dari luar terdengar suara Alessia, satu kata, rendah, nyaris tanpa nada.

"Rico."

Lalu dunia pecah.

---

Tembakan pistol dari dapur belakang, tiga kali, cepat. Seseorang menjerit dari atap. Bunyi seng diinjak dan tergelincir, lalu benda berat meluncur jatuh dan menghantam jemuran, menyeret kain-kain basah sampai ke tanah gang.

Bima merangkak ke jendela, mengintip dari sudut bawah.

Alessia berdiri di tengah gang. Tidak berlindung. Pistolnya terangkat dengan dua tangan, lengannya lurus, wajahnya sama sekali tidak menunjukkan apa-apa. Orang berjaket hitam di bawah pohon sawo sudah berlari, tapi ia tidak menembak punggungnya. Ia menembak kakinya. Satu kali. Orang itu terguling dan helmnya terlepas, menggelinding ke selokan.

Alessia berjalan ke arahnya. Pelan. Setiap langkah sepatunya berbunyi di aspal basah.

Orang itu merangkak mundur, memegangi betis. Wajahnya muda, mungkin dua puluhan, penuh keringat dan ngeri.

"Nona... Nona, saya cuma disuruh..."

"Siapa?"

"Saya nggak tahu namanya, demi Tuhan..."

Alessia menurunkan laras sampai tepat di antara kedua mata laki-laki itu. Dari jendela, Bima melihat jarinya tidak gemetar. Tidak sedikit pun.

"Aku tanya sekali lagi."

"Orang tua! Orang tua yang rambutnya putih! Dia bilang..." Napas laki-laki itu putus-putus. "Dia bilang kalau yang keluar dari rumah itu perempuan, tembak. Kalau lelaki, biarkan. Cuma perempuan yang boleh mati."

Hening.

"Perempuan yang mana?"

"Ibu-ibu! Yang bawa selendang!"

Bima merasakan dingin menjalar dari tengkuk sampai pergelangan kaki. Ia menoleh ke Wartini di lantai, wajahnya pucat, selendangnya terlepas, matanya terbuka lebar menatap langit-langit.

Kenapa Wartini?

---

Pintu belakang dobrak. Rico muncul dengan darah di pelipis tapi berdiri tegak. "Atap bersih. Satu mati, satu kabur ke arah rel."

"Ambil yang ini," kata Alessia. "Hidup-hidup. Bawa ke ruko."

"Mbak, ada..."

"Nanti."

Ia berbalik. Pistol masih di tangan. Ia masuk ke rumah, melangkahi pecahan kaca, dan berlutut di samping Wartini. Bima belum pernah melihatnya berlutut di depan siapa pun.

"Bu," katanya, dan nadanya aneh, lembut dan tajam sekaligus. "Ibu pernah tinggal di Rumah Susun Pelabuhan Lama?"

Wartini menggeleng pelan. Tapi matanya bergerak, dan Bima melihatnya, hanya sepersekian detik. Itu bukan gelengan orang yang tidak tahu. Itu gelengan orang yang berharap pertanyaannya tidak pernah ditanyakan.

"Bu."

"Mas..." bisik Wartini. Suaranya kecil, seperti anak yang ketahuan. "Ibu... Ibu belum pernah cerita satu hal."

"Hal apa?"

Wartini memejamkan mata. Air mata pertamanya sejak kemarin mengalir menyusuri pelipis, masuk ke rambut.

"Waktu Dimas lahir," katanya, "bapakmu nggak ada di rumah sakit."

"Dia lagi kerja."

"Bukan." Napasnya patah. "Dia lagi di rumah lain. Rumah yang bukan rumah kita. Dan ada anak perempuan di sana, umur tujuh belas, yang waktu itu dititipkan ke bapakmu karena ayahnya nggak bisa jaga."

Alessia berhenti bernapas.

Bima menoleh pelan. Alessia masih berlutut, tapi seluruh tubuhnya mengeras, rahang, bahu, jari-jari yang masih menggenggam pistol. Matanya tidak lepas dari wajah Wartini.

"Ibu tahu siapa anak itu?" tanya Bima, nyaris tidak terdengar.

Wartini membuka mata dan menatap Alessia lurus-lurus, dan di wajahnya yang basah itu Bima melihat sesuatu yang bukan takut. Penyesalan. Sudah terlalu lama dipendam, sampai bentuknya berubah.

"Bapakmu bilang jangan pernah kasih tahu," katanya. "Dia bilang kalau anak itu tahu, dia akan ingat. Dan kalau dia ingat, mereka akan tahu bapakmu gagal."

"Gagal apa?"

"Menghapusnya sampai habis."

Di luar, jauh di ujung gang, terdengar bunyi mobil mendekat. Lebih dari satu. Mesinnya berat dan serempak, bukan mobil biasa.

Rico berlari masuk. "Mbak! Konvoi! Empat mobil, dari arah pelabuhan!"

"Bendera?"

"Tidak ada. Tapi plat..." Ia menelan ludah. "Plat nomornya diawali V. Itu plat keluarga."

Alessia berdiri. Sangat pelan. Ia menatap Wartini sekali lagi, lalu menatap Bima, dan untuk pertama kalinya Bima melihat wajah perempuan itu tanpa topeng apa pun. Hanya seseorang yang baru saja diberi tahu bahwa seluruh hidupnya adalah rumah yang dibangun di atas kamar yang dikunci.

"Keluarga Vieri," katanya. "Datang menjemputku."

"Itu bagus?" tanya Bima.

"Aku tidak memanggil mereka."

Empat mobil hitam berhenti serentak di mulut gang. Pintu terbuka bersamaan. Belasan pria berjas turun, tangan di balik jaket. Dan dari mobil paling depan, perlahan, seorang perempuan tua berambut putih disanggul turun dengan tongkat perak, cincin tipis di jari manis tangan kirinya.

Carla Vieri berjalan ke tengah gang. Semua pria menunduk saat ia lewat. Tidak ada yang bicara.

Ia berhenti di depan pintu rumah Pak Darto, menatap Alessia, lalu mengalihkan pandangan ke Wartini yang masih terbaring di lantai.

"Akhirnya," katanya pelan. "Kamu menceritakannya."

Ia mengangkat tongkat perak, dan seluruh barisan pria di belakangnya serentak mengangkat senjata.

Bukan ke arah Rico. Bukan ke arah Bima.

Semua laras itu mengarah ke Alessia.

"Maaf, Cucuku," kata Carla. "Malam itu bukan Giovanni yang memberi perintah di jalan tol."

Ia menurunkan tongkat.

"Aku."

1
tuti raniati
yaaah..udah makin penasaran kok nanggung Thor 🤭 tapi kadang ada lucunya buat senyum² sendiri
EVandri Beloved❤❤: tunggu up nya yaaa
total 1 replies
tuti raniati
Ceritanya bagus Thor, dari awal baca udah buat penasaran. Semangat berkarya Thor 👍🏻
EVandri Beloved❤❤: siap kak
total 1 replies
tuti raniati
Lanjut Thor
EVandri Beloved❤❤: in syaa allah Kak.. ditunggu lanjut an nya
total 2 replies
❤️❤️ Vandri Beloved ❤️❤️
ah tegangan tinggi ternyata...
EVandri Beloved❤❤: kek listrik ya 🤣
total 1 replies
❤️❤️ Vandri Beloved ❤️❤️
deuh malah ikutan tegang ah 😱😱
❤️❤️ Vandri Beloved ❤️❤️: siap 🤭🤭
total 2 replies
❤️❤️ Vandri Beloved ❤️❤️
kok dia bisa tau sampai se detail itu ya? gimana cara nya.. apakah dia pasang cctv di warung itu.?? 🤔🤔
EVandri Beloved❤❤: mungkin seperti otu🤭
total 1 replies
❤️❤️ Vandri Beloved ❤️❤️
seru teka tekinya mulai keluar tuh...
EVandri Beloved❤❤: 💪💪💪💪💪💪💪💪
total 1 replies
❤️❤️ Vandri Beloved ❤️❤️
wah siapa tuh... menarik kak.. baru bab 1 aja udah bikin penasaran... 👍🏼👍🏼☺️☺️
Ummi Adzkia
mampir Thor.... 👍
EVandri Beloved❤❤: silakan
total 1 replies
tuti raniati
Baru mulai baca udah penasaran Thor
EVandri Beloved❤❤: simak kelanjutan nya ya
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!