NovelToon NovelToon
Suamiku, Beban Atau Rumah?

Suamiku, Beban Atau Rumah?

Status: sedang berlangsung
Genre:Mengubah Takdir
Popularitas:364
Nilai: 5
Nama Author: Amoreiza Aneta

Menikah 15 tahun tanpa anak dan hidup susah dari nol ditemani Agus, Eda akhirnya lulus PPPK setelah 10 tahun jadi honorer. Bukannya bahagia, gajinya justru habis tersedot utang serta beban keluarga besar. Saat lelah mendera, Agus sang suami berubah dingin jika tak diberi uang rokok, bahkan tega mengungkit luka lama di atas ranjang. Di antara rasa kasihan dan putus asa, Eda dihadapkan pada pilihan sulit: bertahan dengan pria yang tak punya tempat pulang, atau pergi demi menyelamatkan kewarasannya?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Amoreiza Aneta, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Tuntutan Baru

Langkah Eda terasa makin berat. Gerimis di Kota Solo bertambah deras, membuat ujung rok seragam dinasnya basah kuyup dan belepotan cipratan lumpur gang. Sepatu pantofel hitamnya yang sudah menipis di bagian sol tak sanggup lagi menahan resapan air. Rasa dingin dan basah merembes langsung ke telapak kakinya, membuat jemari kakinya kebas.

Namun, rasa dingin di luar sana sama sekali tak sebanding dengan rasa dingin yang menghimpit dadanya.

Setibanya di perempatan jalan besar, Eda menyapu air hujan yang menetes dari dahi ke wajahnya. Sebuah angkot oranye berhenti persis di depannya. Tanpa membuang waktu, Eda naik dan langsung mencari tempat duduk paling pojok. Di dalam angkot yang pengap dan berbau kain basah itu, ia memeluk tas kerjanya erat-erat di atas pangkuan.

"SD Harapan Bangsa ya, Bu?" tanya sopir angkot melirik dari spion dalam.

"Iya, Pak," sahut Eda pelan. Suaranya serak, tenggorokannya makin terasa gatal dan panas.

Mobil melaju membelah jalanan Kota Solo yang mulai padat oleh kendaraan warga yang hendak berangkat kerja. Eda menyandarkan kepalanya di tepi kaca angkot yang berembun. Ia mengusap embun itu dengan ujung jarinya, menatap deretan toko dan pepohonan yang berlari cepat di luar.

Pikirannya kembali melayang ke peristiwa tadi pagi di teras rumah. Makian Agus, tatapan dingin ibunya, dan sikap masa bodoh Doni serta Rini. Selama ini Eda selalu berpikir bahwa dengan mengalah dan menuruti semua kemauan mereka, suasana rumah tangga dan keluarga besar akan jadi damai. Tapi nyata-nyatanya, makin ia mengalah, makin tebal pula tembok penderitaan yang dibangun orang-orang itu untuk mengurungnya.

Begitu sampai di depan gerbang SD Harapan Bangsa, hujan mulai mereda menjadi rintik-rintik tipis. Eda membayar ongkos angkot dengan lembar sepuluh ribu rupiah terakhir dari dompetnya.

"Pagi, Bu Eda. Lho, kok basah kuyup begitu?" tegur Pak Manto, penjaga sekolah, yang sedang menyapu genangan air di teras depan.

Eda menyunggingkan senyum tipis, berusaha tetap terlihat tegar. "Pagi, Pak Manto. Iya ini tadi kena gerimis di jalan, mantelnya lupa bawa."

"Aduh, buru-buru ke ruang guru saja Bu, dikeringkan pakai tisu atau kipas angin. Nanti bisa masuk angin lho," puji Pak Manto khawatir.

Eda mengangguk dan melangkah menuju ruang guru. Di dalam, suasana masih lengang karena jam pelajaran pertama belum dimulai. Eda duduk di kursi kerjanya, melepaskan sepatu pantofelnya yang basah, lalu mengeringkan kakinya dengan tisu toilet. Bajunya yang agak lembap terasa menusuk kulit, tapi Eda berusaha mengabaikannya. Ia membuka laptop, mencoba memfokuskan pikiran untuk memeriksa modul ajar dan kisi-kisi soal yang harus diselesaikan hari ini.

Namun, kedamaian di ruang guru itu tak bertahan lama.

Sekitar pukul sembilan pagi, saat Eda sedang jeda mengajar dan berada di ruang guru untuk merekap nilai anak-anak kelas empat, ponselnya di atas meja bergetar nyaring. Layar HP-nya menampilkan nama "Ibu".

Eda memejamkan mata sejenak, menghela napas panjang untuk menata emosi sebelum menggeser tombol hijau.

"Assalamu’alaikum, Ma. Ada apa?" sapa Eda selembut mungkin.

"Wa’alaikumsalam!" suara Ibu Ratna terdengar memburu di seberang telepon, tidak ada basa-basi sama sekali. "Ed, kamu ini di mana?!"

"Di sekolah, Ma. Ini Eda lagi jam istirahat mengajar."

"Kamu itu ya... tadi pagi bikin ulah sama suamimu, sekarang malah bikin pusing orang rumah!" omel Ibu Ratna tanpa memedulikan situasi Eda. "Iki lho, Mas Donimu tadi mau narik mobil sewaan, tapi ban mobilnya malah kempes dan halus. Bahaya kalau dibawa jalan jauh. Dia butuh uang empat ratus ribu buat ganti ban dua biji hari ini juga!"

Dada Eda seketika serasa dihantam beban ton-tonan. Matanya melotot menatap layar laptopnya yang masih menyala.

"Ma..." suara Eda gemetar, menahan tangis yang makin mendesak di tenggorokan. "Eda kan sudah bilang dari kemarin, uang Eda sudah habis tak tersisa. Tadi pagi Eda naik angkot saja pakai uang receh terakhir di dompet. Dari mana Eda punya uang empat ratus ribu, Ma?"

"Halah! Alasanmu itu selalu sama dari dulu!" potong Ibu Ratna galak. "Kamu itu guru PPPK, Ed! Masa simpanan atau tabungan sedikit saja tidak punya? Pinjam dulu ke koperasi sekolahmu atau ke teman gurumu di sana! Nanti kalau Mas Doni sudah dapet tarikan kan bisa diganti!"

Eda memegangi pelipisnya yang mulai berdenyut nyeri. Kepala rasanya mau pecah. Janji Doni akan mengganti uang selalu berakhir dengan angin lalu. Utang-utang lama yang digunakan Doni beberapa tahun lalu saja sampai sekarang masih Eda yang menanggung cicilannya ke bank lewat potongan gaji resmi setiap bulan.

"Eda tidak mau pinjam ke koperasi lagi, Ma," kata Eda dengan nada suara yang mulai mengeras dan tegas, meski air mata sudah menetes di pipinya. "Nama Eda di koperasi sekolah sudah penuh karena angsuran utang keluarga yang dulu. Eda malu sama Pak Kepala Sekolah dan teman-teman guru kalau harus utang-utang terus."

"Oalah, Eda! Kamu ini tega banget sama kakakmu sendiri!" bentak Ibu Ratna di ujung telepon. "Kalau Mas Doni tidak bisa kerja hari ini, terus anak istrinya mau makan apa?! Kamu mau lihat keponakanmu kelaparan?! Kamu ini makin hari makin sombong dan durhaka ya sama keluarga!"

Tut... tut... tut...

Panggilan diputus sepihak oleh Ibu Ratna.

Eda menyandarkan punggungnya di kursi kayu ruang guru. Ponsel di tangannya terasa begitu dingin. Kalimat durhaka dan sombong yang baru saja dilontarkan ibu kandungnya sendiri gaungnya terus berputar-putar di dalam kepala Eda, merobek-robek sisa keikhlasan yang selama lima belas tahun ini coba ia pertahankan.

Maya, rekan sesama guru yang duduk di meja sebelah, memperhatikan perubahan wajah Eda dengan raut penuh rasa iba. Maya melangkah mendekat, lalu meletakkan secangkir teh hangat manis di samping laptop Eda.

"Bu Eda... tidak apa-apa?" tanya Maya pelan, menyentuh pundak Eda dengan lembut. "Tadi saya tidak sengaja dengar. Ada masalah keluarga ya, Bu?"

Eda dengan cepat mengusap air mata di pipinya pakai ujung jilbab. Ia menatap cangkir teh hangat itu, lalu menatap Maya dengan pandangan yang rapuh.

"Bu Maya..." suara Eda terdengar terputus-putus. "Apakah salah... kalau seorang wanita ingin menyisakan sedikit saja uang gajinya sendiri buat menyambung hidupnya sendiri?"

Maya mendesah pelan, menatap Eda dengan tatapan prihatin yang mendalam. "Bu Eda, berbakti sama orang tua dan bantu keluarga itu memang baik. Tapi kalau sampai memeras dan mematikan diri sendiri... itu bukan berbakti lagi namanya, Bu. Itu pembiaran. Bu Eda punya hak penuh atas keringat Bu Eda sendiri."

Kata-kata Maya menancap dalam di sanubari Eda.

Eda meraih cangkir teh hangat itu dengan kedua tangannya yang masih agak gemetar. Asap tipis membumbung dari permukaan air teh. Di dalam ruang guru SD Harapan Bangsa yang hening itu, Eda menyadari satu hal yang teramat penting: kalau ia tidak segera mengambil sikap dan menarik garis batas yang tegas, orang-orang di rumah kontrakan itu tidak akan pernah berhenti memerasnya sampai ia benar-benar hancur tak berbekas.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!